
“Bibi harus mulai terbiasa ya, jangan sedih, mudah-mudahan sakit ibu cepat diatasi. Tenang saja, kan ada aku yang selalu ingat Bibi yang manis ini.” Andrea merangkul pundak Bi Cicih yang berwajah sedih.
Bi Cicih tersipu dibilang manis, di depan Gigit. Usapan tangan Gigit di bahunya kemarin masih terasa, lembut-lembut bikin geli, seperti ulat bulu berjalan di bahunya. Bi Cicih bergidik ketika ingat ulat bulu.
“Tapi kira-kira Ibu ingat tidak ya menggaji Bibi?” Bi Cicih bertanya sambil senyum-senyum, dengan wajah polos-polos pengen di jambak.
“Oh, kalau itu aku enggak tahu,” sahut Andrea buru-buru.
Ren dan Gigit tertawa melihat Bi Cicih misuh-misuh masuk ke dalam ruangan lagi.
“Jahat kamu, Ndre,” kata Ren.
“Sudah biasa,” sahut Andrea. Selanjutnya mimik wajahnya mendadak berubah, kabut tersirat di sana.
“Yakin saja, Ndre, Ibu akan baik-baik saja setelah operasi.” Ren menghibur Andrea yang terduduk lesu di pilar luar ruangan.
Andrea tersenyum kecut, ibunya menjadi sering lupa sesuatu. Dia tadi sudah ingat kepada Bi Cicih, sekarang tidak lagi.
“Aku juga belum tahu tentang operasi itu, karena Ua istri belum datang dari kampung. Aku rasa Ibu tidak punya uang, makanya dia tidak melakukannya sejak awal, malah menyembunyikannya dari aku.”
“Kamu belum bisa menghubunginya?” tanya Gigit.
Andrea menggeleng. “Belum, aku juga tidak tahu ada apa dengan mereka. Kaka sepupuku juga ikut-ikutan seperti ditelan buaya.”
“Apa perlu aku menyusulnya?” tanya Gigit.
Andrea melirik Gigit dengan pandangan lucu.
“Kamu tahu kampungnya di mana?”
“Ngga,” sahut Gigit. “Memang berapa jam kalau ke sana pakai motor?” tanyanya lagi.
“Pakai jalan tol saja enam jam, kalau pakai motor mungkin seharian, soalnya harus banyak istirahat di jalan nanjak mudun.”
“Waduh, jauh juga,” kata Gigit sambil garuk-garuk rambut, yang dijamin tidak gatal beneran, soalnya dia tidak pelihara ketombe.
“Sana susul!” Ren mencolek lengan Gigit dengan maksud mengejek. Gigit senyum-senyum meringis.
“Eh, tadi tidak terlambat, Ren?” Andrea bertanya, mengalihkan pembicaraan. Dia sedang tidak ingin membicarakan sesuatu yang membuatnya terlihat sedih terus.
“Tentu saja tidak, tapi hampir, karena kita kelamaan cari si Zay.”
“Terus ketemu di mana?”
“Di bawah ban serep.”
“Si Zay itu apa? Kucing?” Gigit penasaran.
“Keong,” sahut Ren. Gigit terkejut.
“Dia teman sekelas kita,” kata Andrea.
“Yang tadi kebelet pipis,” tegas Ren.
“Ooh, dia? Memang hilang?”
“Iya, setelah itu ketemu, sedang jongkok dekat ban serep, terus dia ngambek, karena belum sempat bertemu kamu, Ndre.”
“Oya? Duh, aku jadi kangen Zay.” Andrea memasang wajah konyol sambil memegang pipinya.
“Tapi kan tahu sendiri si Akri, dia menyeretnya masuk ke mobil. Akhirnya si Zay menyetir sambil marah-marah. Mobil di gas pol, sampai sekolah. Tapi Ada hikmahnya juga sih, jadi datang tepat waktu, meskipun anak-anak benjol-benjol, dan muntah-muntah dulu di gerbang.”
Andrea cekikikan dengan Gigit.
“Kamu enggak muntah?” tanya Gigit.
“Ngga, hanya jetlag sampai sore,” sahut Ren. “Makanya tadi aku hampir tidak jadi ke sini lagi, kalau saja Gigit tidak mengajak naik motor. Aku masih trauma kalau harus naik angkot.”
Perbincangan berlanjut pada cerita kelas mereka yang unik. Gigit baru tahu kalau kelas mereka itu banyak masalah, tetapi banyak lucunya juga. Membuat mereka asyik membahasnya.
Gigit dan Ren menemani Andrea sampai jam delapan malam.
“Terima kasih kalian sudah temani, dan menghibur aku ke sini.”
“Aku akan menginap di sini kalau saja besok tidak harus sekolah.” Ren memeluk Andrea dengan wajah menyesal.
“Aku mau saja sih menginap lagi di sini, tapi harus antar Nona jago karate ini pulang.” Gigit mengenakan jaketnya.
“Tidak usah, Git. Kamu juga kan harus sekolah besok, hari ini kamu sudah bolos kan. Aku tidak mau disalahkan orang tua kamu kalau kamu ada masalah di sekolah.” Andrea menunduk.
Gigit tersenyum. “Oiya, ada salam dari ayah dan ibuku, Ndre, mereka berdua juga berdoa untuk kesembuhan ibu kamu.”
Andrea mengangguk, terbit iri pada cowok itu di hatinya. Gigit dianggapnya sangat beruntung, punya orang tua sehat dan lengkap, begitu perhatian dan selalu terkesan hangat sebagai keluarga.
"Sampaikan maaf dan terima kasihku untuk mereka.”
“Maaf kenapa? Kayak lebaran saja.” Gigit tersenyum.
“Maaf telah menyandera anak mereka semalam.”
Gigit menggerak-gerakkan alisnya. " Oh itu, ga apa-apa. Penjahatnya kan cantik, mereka pasti maklum," seloroh Gigit.
"Hooeekk ...." Ren berlagak muntah.
Gigit memijit pundak Ren sambil tertawa. "Kenapa, ngidam?"
Ren melet-melet. "Mual, dengar lu ngegombal."
“Ya udah, kalau begitu, sudah siap ngebut di toang?” Gigit bertanya.
Ren menarik nafas. “Siapa takut? Ndre, kita pulang dulu, ya."
Andrea mengangguk.
Mereka berjalan beriringan, meninggalkan Andrea yang termangu di depan pintu ruangan. Berusaha keras tidak berpikir macam-macam kepada mereka, demi ketenangan hatinya.
__ADS_1
Dari jauh terlihat Gigit menyenggol Ren, lalu Ren mendorongnya. Mereka tertawa, dan bercanda tanpa mengajaknya.
Andrea memonyongkan bibirnya. Dia buru-buru masuk. Bi Cicih asik menonton televisi.
“Kenapa, Neng? Bibirnya kok maju tak gentar seperti itu?” Bi Cicih bertanya sambil makan biskuit. Suaranya pelan, takut membangunkan Yuli yang sedang tidur.
“Apa an sih, Bi?”
“Cemburu ya?” Bi Cicih meledek.
“Cemburu?”
“Bibi juga kalau pacar boncengan sama cewek lain, pasti cemburu.”
“Ih, Bi Cicih sotoy.”
“Tapi benar kan?”
“Ngga.” Andrea menjatuhkan bokongnya di sofa.
“Ah, masa.” Bi Cicih keukeuh meledek.
“Ya sudah kalau tidak percaya." Andrea monyong lagi. “Ua istri tidak muncul-muncul lagi,” lanjutnya, mulutnya semakin monyong.
“Kenapa ya, Neng? Jangan-jangan terjadi sesuatu di jalan.”
“Bibi jangan bilang seperti itu, aku kan jadi takut.”
“Terus kenapa atuh? Ua istri tidak mungkin lupa begitu saja dengan Ibu dan Neng, apalagi tahu Ibu sakit.”
“Aa Dodo juga susah dihubungi. Semoga mereka baik-baik saja,” kata Andrea, dia menguap.
Kondisi ibunya yang membaik mulai membuat rileks syaraf-syaraf tubuhnya. Dia menghampiri ibunya yang sedang tertidur pulas. Duduk di kursi di pinggir ranjang, lalu menyimpan kepalanya di sebelah tangan ibunya. Dia langsung tertidur.
Bi Cicih jadi tidak enak sendirian, meskipun ada di ruang VIP dengan fasilitas lengkap, tetap saja itu rumah sakit, menakutkan kalau sepi seperti itu.
Banyak cerita yang dia dengar tentang kejadian-kejadian seram di rumah sakit pada malam hari.
Dia buru-buru merebahkan tubuhnya di sofa, lalu menyelimuti dirinya dengan kerudungnya. Bayangan suster ngesot, dan suster keramas melintas. Bi Cicih mengerutkan tubuhnya.
Di jalan, Gigit membelokkan motornya ke sebuah gerobak roti bakar. Kota masih rame, lumayan untuk menikmati malam sebentar.
“Kamu lapar?” tanya Ren.
“Lagi pengen yang anget-anget. Kamu suka rasa apa?”
“Rasa yang selalu ada.”
“Eaakkk,” sahut Gigit.
“Coklat.”
“Mang, rasa kombinasi ya!”
“Kalau mau pesan kombinasi, kenapa juga tanya rasa kesukaanku?” Ren membuka helm, lalu turun dari motor.
“Aku sengaja pilih kombinasi, biar rasa yang ada tidak merasa tersisihkan.”
Mereka duduk di pilar jalan, menunggu roti bakar, sambil menikmati lalu lalang kendaraan.
“Tapi kamu punya rasa kesukaan kan?” tanya Ren.
“Ehmm, strawberry.”
“Berarti kamu termasuk suka PHP."
“Kok bisa?”
“Menyamaratakan rasa, padahal kan kamu sukanya sama strawbery, yang lainnya dipilih modal kasihan.”
“Terserah lah, aku mah hanya berbuat baik.”
“Sama roti bakar saja kamu baik, apalagi sama cewek kamu nanti.”
“Ada enggak kira-kira cewek dengan rasa kombinasi?”
“Kamu kira cewek jajanan!” Ren meradang. Diangkatnya helm tinggi-tinggi untuk mengancam Gigit.
Gigit minta ampun, sambil meringis, ngeri juga bercanda sama cewek jago karate.
“Jadi, kelas kalian itu aneh?" Gigit menanyakan lagi hal yang sempat diceritakan Ren ketika di rumah sakit.
“Begitulah, aneh, karena tidak ada guru yang betah menjadi wali kelas kita, kecuali Bu Anis.”
“Mendengar cerita kalian, sampai pernah ada kerasukan masal seperti itu, aku jadi berpikir, mungkin pengaruh letak sekolah juga.”
“Maksudnya?”
“Aku dengar, sebelum dijadikan sekolah, tempat itu dulunya sebuah kuburan kuno.”
“Ah, yang benar? Kok aku baru tahu.”
“Aku juga kata orang.”
“Kok aku jadi ngeri ya.” Ren memegangi kuduknya. Dia berpikir tentang makhluk gaib temannya Fany yang diceritakan Andrea.
“Hahahaa, kamu masih takut hal semacam itu?”
“Kamu tidak percaya? Makhluk gaib ada dalam Al-Quran, lho, Git.”
Gigit menerima roti bakar yang disodorkan pedagangnya. “Nih rasamu!” Dia memberikan sepotong roti kepada Ren. “Ini rasaku,” lanjutnya sambil menggigit roti bakar yang masih panas itu.
“Tidak ada rasa kita, nih?” Tukang roti bakar nimbrung.
“Kita? Kagakk, rasa kang roti pahit,” teriak Gigit.
__ADS_1
Tukang roti tertawa, sampai dicolek pelanggan yang ingin buru-buru dilayani.
“Heureuy wae!” Pelanggan itu cemberut.
“Eh, tadi sampai mana?” Gigit bertanya lagi.
“Dari tadi juga baru sampai sini,” sahut Ren.
“Maksud aku obrolan tadi.”
“Sampai makhluk gaib.”
“Oh, iya. Aku bukan tidak percaya, mereka ada kok, diciptakan Allah juga kayak kita. Hanya saja, kamu tidak usah takut sama yang begituan. Soalnya mereka juga takut kok sama kita.”
“Halahh, kamu kalau ketemu juga pasti lari.”
“Ooh, tentu saja ... iya.” Gigit cengengesan tampan.
“Ah, kamu mah, aku kira iya enggak takut.” Ren menggigit rotinya dengan arogan.
“Terus, setelah guru kamu kembali, kelas berubah?”
“Tadi sih lumayan terkendali, tidak terlalu mijah.”
“Mijah, memang kalian ikan kawin?”
“Yah, semacam itu, tanpa Bu Anis, gegerepekan.” Ren menggerak-gerakkan tangannya. “Itu semua berkat Andrea,” lanjutnya.
Gigit mengangguk-angguk. “Eh, Ren, kamu merasa enggak kalau dia itu beda?” Gigit bicara dengan mulut penuh roti bakar.
“Siapa?”
“Andrea.”
“Cieee ....” Ren malah meledek, suaranya mengecil terhalang roti bakar juga.
“Kok cie, kamu merasa enggak?”
“Maksudnya beda bagaimana? Penjahat cantik?” Ren menyenggol lengan Gigit. Gigit tersipu.
“Kamu tahu, aku bertemu dia itu secara tidak sengaja. Motorku tiba-tiba berhenti di depannya. Gak tahu lah, seperti ada kekuatan yang membuat motor aku berhenti pas di depannya.” Gigit mengingat lagi, lalu melanjutkan ucapannya, “terus, pagi itu, pas aku bertemu dengannya, motor aku tiba-tiba seperti ada tang mengendalikan, putar balik begitu saja dan berhenti di depannya. Aku rasa dia punya tenaga dalam.” Gigit menatap Ren.
Ren menghabiskan roti bakarnya, dia tidak terkejut dengan ucapan Gigit, karena sudah tahu, kalau itu semua campur tangan Dale, penjaga temannya itu.
“Itu mah perasaan kamu saja, Andrea mana punya tenaga dalam, mengeluarkan tenaga luar saja malas. Yuk, Git, sudah malam, nih!”
“Bukan begitu, aku aneh saja. Yang lebih aneh, kemarin ....”
“Kalau cerita terus, kita kapan pulangnya? Aku cewek lho, Git, bukan cabe,” potong Ren. Kalau tidak dipotong seperti itu, Gigit pasti akan lebih penasaran dengan Andrea. Ren takut keceplosan. Dia sudah berjanji untuk tidak membocorkan secret bodyguard dia ke siapa pun.
Gigit sedikit kecewa, dia berdiri untuk membayar roti bakar, meninggalkan rasa yang tersisa begitu saja.
“Tetap saja kan, memilih rasa yang tidak kamu suka hanya menyakiti mereka.” Ren keukeuh menyayangkan sikap Gigit tentang memilih semua rasa.
Gigit mengambil roti bakar yang masih ada tiga rasa, lalu menggantungnya di setang motor.
“Mungkin kucing tetangga mau.”
“Nah kan, ujung-ujungnya dikasih kucing.”
“Bagi-bagi rezeki.”
**
Andrea ada di sebuah jalan panjang, seperti tidak berujung, tetapi itu bukan toang, karena kiri dan kana jalan itu bukan sawah, melainkan hutan gelap dan sepi. Dia sendirian, berjalan perlahan, menyusuri jalan dengan hati tidak karuan.
“Aku di mana?”
Dia terus berjalan, kakinya telanjang, hatinya gamang. Yang dia lihat hanya ujung semu.
“Ibu ... Aa ... Ua!” dia memanggil. “Ayah ... Aki!” kali ini dia memanggil ayah dan kakeknya yang sudah tiada.
Tiba-tiba dia melihat seekor harimau sedang memandanginya dengan sorot mata lemah, dari ujung jalan. Sebuah belenggu terang melingkar di lehernya, seolah membuat harimau itu tidak berdaya.
Tiba-tiba di belakang harimau itu ada cahaya memanjang seperti sebuah sodetan, membentuk celah. Makin lama celah itu semakin lebar, berubah menjadi lubang menyilaukan.
Andrea menahan cahaya terang itu menerpa matanya.
Perlahan harimau itu memutar, mendekati lubang, seolah akan menuju ke sebuah dimensi lain. Harimau itu menolehnya, sorot matanya kini terlihat seperti sebuah penyesalan, atau ketakutan, atau mungkin minta pertolongan. Tetapi cahaya dari lubang itu menyedotnya, lalu menelannya dengan cepat.
“Dale!” seru Andrea, dia ingin menggapainya. Yakin bahwa itu adalah Dale. “Daleee!!” teriaknya lagi.
“Neng!” Bi Cicih menyentuh bahunya. Andrea membuka mata, dia mengangkat kepalanya dari samping ibunya, melihat jam di gawainya, tepat jam dua belas malam. Ternyata dia bermimpi.
"Sebaiknya Neng tidur di sofa, cukup kok berdua.” Bi Cicih menuntun Andrea ke sofa.
“Ibu tidak bangun, Bi?”
“Tidak, Neng, tidurnya nyenyak.”
Mereka berbaring beradu kaki di sofa. Andrea tidak bisa memejamkan mata lagi, teringat mimpinya.
“Apakah kamu baik-baik saja, Dal?” gumamnya. “Aku akan sangat menyesal kalau kamu tidak baik-baik saja,” gumamnya lagi di sela-sela kantuknya.
Bi Cicih bangun, melihat Andrea. “Si Neng mimpi lagi apa ya?”
“Iya,” jawab Andrea, dengan mata terpejam.
“Ooh ... Eh, kok nyahut." Bi Cicih terkejut, lalu kembali tidur.
Andrea membuka mata, dia teringat mimpinya tadi. Setelah yakin Bi Cicih pulas, dia duduk, mencoba memanggil Dale lagi.
Sampai tiga kali membaca mantra, Dale tidak mau datang. Dia yakin telah terjadi sesuatu pada Dale, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Andrea menyandarkan kepalanya ke sofa, memikirkan sesuatu, sampai akhirnya tertidur lagi.
bersambung
__ADS_1