My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 93 Anak Angon Saba Kota


__ADS_3

Karena menghadapi kasus yang menjeratnya, Andrea terpaksa menginap di rumah Tante Dina.


Tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, Yuli yang dihubungi Tante Dina terlihat senang, mengetahui anaknya berada di sana. Tempat yang dianggapnya aman untuk Andrea, daripada di rumah mereka.


“Jaga diri kamu baik-baik ya, Ndre. Menurut sama Tante Dina.”


“Iya, Bu. Ibu juga cepat sembuh ya. Biar cepat pulang."


Andrea menutup sambungan video call. Ada basah di sudut matanya, karena kangen dengan ibunya. Kejadian buruk yang menimpanya bertubi-tubi, telah menjadikan dia seorang gadis yang pandai menyembunyikan luka.


Tante Dina mengusap pundaknya. Andrea menyerahkan gawai Tante Dina.


“Biarkan Ibu tenang dengan pengobatannya. Jangan sampai tahu tentang ini.”


Andrea mengangguk. “Om Azi, ke mana, Tan?” tanyanya.


Tante Dina menyeruput teh panas di tangannya. Ada kerjap tidak biasa dari kelopak matanya.


“Dia sedang ke Malaysia.” Tante Dina tersenyum.


“Malaysia?”


Mendengar nama negara itu, Andrea jadi teringat dengan Gigit. Kenapa bisa kebetulan seperti itu?


“Sedang ada urusan, mungkin dengan bisnisnya.” Tante Dina bicara pelan, seperti untuk dirinya sendiri.


"Oh," ucap Andrea.


Ada resah di hatinya, kepergian Om Azi mengingatkannya pada Gigit. Kehilangannya ternyata akan sebesar itu. Tetapi, ada sedikit kelegaan di hatinya, Om Azi tidak ada.


Setidaknya, dia tidak harus merasa canggung di rumah itu. Benaknya tentang Om Azi, masih saja diliputi ketidaknyamanan.


“Kalau begitu, aku istirahat dulu, Tan.” Andrea beranjak.


“Iya, Ndre. Mari, Tante antar.”


Tante Dina membawa Andrea ke lantai dua rumahnya.


Kamar yang akan ditempatinya sangat besar, Andrea jadi ragu untuk masuk.


Apakah kamar ini sudah disiapkan Tante Dina untukku nanti? Aahh...


Andrea jadi merasa akan memasuki peti mati. Takut.


“Ayo, masuk, Ndre. Kamu tidur di sini.” Tante Dina menarik tangannya.


Andrea duduk di pinggir ranjang.


Tante Dina membuka lemari dan mengeluarkan selimut.


“Hari ini tentu sangat melelahkan. Kamu tenang saja, besok ada pengacara yang akan mengurus kasus kamu. Keluarga Sanjaya memang cukup berpengaruh di kota ini, jadi Tante siapkan pengacara yang berpengalaman juga. Atas rekomendasi Om Azi juga sih.”


“Terima kasih, Tante.” Andrea menunduk.


Tante Dina menaruh selimut di ranjang, lalu berdiri. “Selamat tidur, ya,” ucapnya.


Andrea mengangguk. Dari tadi kepalanya sudah seperti burung kutilang, terus saja mengangguk-angguk. Untung saja tidak sambil berbunyi tralala trilili.


Hari sudah sore ketika ada yang mengetuk pintu kamar. Andrea sendiri sedang termangu, ditemani Dale.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Ndre.” Tante Dina melongokkan kepala. “Lihat, siapa yang datang?”


Andrea melihat ke arah mereka yang muncul dari belakang Tante Dina.


Ren dan Zellina dadah-dadah.


Andrea meloncat dari tempat tidurnya. “Kaliaan!”


Mereka berpelukan, sudah seperti teletubbies beraksi.


“Kalian ngobrol saja, Tante ke bawah ya.”


“Iya, Tan, terima kasih.”


Ren dan Zellina mengangguk hormat kepada Tante Dina.

__ADS_1


Setelah Tante Dina turun, mereka kembali berpelukan.


“Ndre, aku senang sekali, kamu bebas.” Ren duduk di ranjang. Andrea mengikutinya.


“Iya, Ndre. Bagaimana di sana? tanya Zellina.


“Aduh, kamu jangan tanyakan itu, Zell, aku tidak ingin mengingatnya.”


“Mungkin dia ingin nyoba, Ndre.” Ren menyikut Zellina.


“Oh, tidak! Amit-amit ....” Zellina mengetuk-ngetuk nakas.


“Makanya, jangan kepo! Oiya, Ndre, ini aku bawa ponsel kamu.”


“Terima kasih, Ren.”


“Ndre, ada beberapa kali panggilan masuk dari nomor yang sama, kamu tahu siapa dia?”


Andrea membuka gawainya. “Aku tidak tahu, tadi pagi juga ada panggilan nomor baru, tetapi aku jawab malah diam saja.”


“Coba kamu panggil balik!” Zellina berseru.


“Yang mana?”


“Terserah kamu lah,” kata Ren.


Andrea mencoba memanggil balik nomor yang pertama, tetapi tidak tersambung. Lalu mencoba nomor yang kedua, tersambung, tetapi tidak diangkat.


Andrea menoleh kepada Dale yang sedang masih melihat pemandangan luar jendela. Dia agak aneh hari ini.


“Apa Neng?” Dale mengetahui Andrea sedang melihat ke arahnya.


“Telusuri!”


“Sayap, Neng!”


Dale raib.


“Kamu ngomong sama siapa, Ndre?” tanya Zellina.


"Berapa jam sih kamu di dalam sana? Sampai sudah akrab dengan tembok." Zellina mencibir.


"Zell ...." Ren mengingatkan.


Zellina cengengesan. Dia merangkuk pundak Andrea. "Kamu yang sabar ya, Ndre. Anggap saja ini ujian."


Andrea memeluk bantal. Ren dan Zellina ikut-ikutan. Mereka tidak ada yang bicara lagi.


Tidak lama kemudian, Dale datang.


“Itu nomor Asep, Neng.”


“Asep?” Andrea turun dari ranjang. “Asep temannya A Dodo?”


Dale mengangguk. “A Dodo juga ada sama dia.”


“Hah?”


“Kak Dodo?” Zellina ikut berdiri. “Kenapa dia, Ndre?” tanyanya. Dia kebingungan, Andrea tiba-tiba bicara sendiri menyebut-nyebut gacoannya.


“Aku akan menemuinya,” kata Andrea. Dia beranjak. Dia tahu, Asep adalah orang suruhan uaknya yang berusaha mencelakakan dia waktu itu.


“Ndre, ada apa?” tanya Ren.


“Ndre, oh my god, kenapa dengan Kak Dodo?” Zellina bertanya setengah menjerit.


Andrea menatapnya, tetapi tidak menjelaskan apa-apa, malah bergegas mengenakan jaketnya.


“Ndre!” Ren segera mengikutinya.


Ada drama apa lagi si Andre ini, kerjanya bikin orang kaget, pasti di sini ada si Lele, batinnya.


Mereka bertiga turun ke lantai bawah. Tante Dina melihatnya.


“Kalian mau ke mana?”


“Tante, aku permisi.” Andrea menghampiri Tante Dina.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana, Ndre?”


“Aku ada urusan, mungkin aku juga tidak jadi menginap di sini, Tan.”


“Tunggu, ada apa ini? Jelaskan dulu dong, Ndre!”


“Tapi aku buru-buru, Tan.” Andrea melangkah lagi, menuju pintu keluar.


“Kamu tidak bisa pergi seenaknya begitu, Ndre!” Suara Tante Dina meninggi. Andrea menghentikan langkahnya.


Ren dan Zellina ikut mematung. Tidak menyangka Tante Dina akan setegas itu.


“Kenapa, Tan?”


“Karena Tante yang sudah menjamin kamu dari kantor polisi. Kamu tanggung jawab Tante, Ndre.”


Andrea terdiam. Ren dan Zellina juga menunduk.


“Tante tegaskan sekali lagi, kamu tidak boleh ke mana-mana, sebelum semuanya beres,” lanjut Tante Dina.


“Tapi, Tan ....”


"Saat ini tidak ada yang lebih penting dari urusan kasus kamu, agar tidak semakin berat." Tante Dina bicara lagi. Dia memandangi Andrea, Ren, dan Zellina bergantian.


“Sebaiknya kalian pulang saja, Andrea butuh istirahat. Kasusnya belum selesai. Kalian belum bisa main ke sana kemari dulu. Tante harap kalian memahami itu.”


“Iya, Tante.”


Ren dan Zellina pamit pulang, dengan berjuta pertanyaan. Terutama Zellina, yang terus saja melihat ke arah Andrea. Dia khawatir dengan Dodo, kekasihnya.


Andrea kembali ke kamarnya, dengan. Perasaan dongkol. Tante Dina benar-benar sedang menggunakan kekuasaannya.


Malas banget aku jadi anaknya, otoriter! Batinnya berteriak. Andrea menjatuhkan bokongnya ke ranjang.


“Neng tenang saja, Aa Dodo tahu kok Neng ada di sini, dia akan ke sini, tadi kagok sedang makan.”


“Kenapa enggak bilang dari tadi, dodol!” Andrea melempar Dale dengan bantal.


“Lho, kok saya yang disalahkan. Neng yang main pergi saja.”


Andrea mencebik kesal. Gara-gara itu, dia kena semprot Tante Dina.


**


Di sebuah kamar kontrakkan. Asap rokok memenuhi ruangan. Dua bungkus nasi yang sudah habis masih terbuka lebar, menyisakan tulang ayam, sayuran mentah dan sisa sambal.


“Yakin mau ke sana sendiri, A?” tanya Asep. Sebatang rokok menyelip di tangannya. Bibirnya masih merah, kepedasan. Tidak ada tanda-tanda dendam di wajahnya, padahal beberapa hari yang lalu Dodo sudah menghajarnya.


“Iya. Terima kasih ya, sudah kasih tumpangan selama di sini. Kalau tahu sejak awal orang suruhan Mbu itu kamu, aku sudah pergi sejak dulu.” Dodo mengenakan jaketnya.


Dia sudah mengetahui di mana Andrea berada dari Dale yang tadi tiba-tiba muncul dari ponsel Asep.


Asep tersenyum. “Memangnya Mbu kamu kenal siapa lagi, selain pemuda-pemuda kampung. Dia menghubungi aku setelah tahu aku mau ke kota, dan menyuruhku memata-matai Andrea. Aku iya kan saja, biar dia percaya, padahal di sini juga aku mah kerja.”


“Terima kasih, Sep.” Dodo memegangi pundak Asep. “Uang yang dititipkan ke Bi Yayah juga sudah aku terima, dan sangat bermanfaat."


“Buat beli HP baru?” Asep tersenyum geli.


“Buat kabur santai.”


Asep tergelak. Sungguh beruntung kawannya itu, kabur dari rumah juga dengan bekal yang sangat besar, bisa menyewa kamar hotel.


“Sebenarnya, aku juga tidak mau mencelakakan adikmu, A. Tapi, Mbu ....”


“Aku tahu, Sep. Mbu pasti mengancam kamu juga ya? Kamu tenang saja, kalau Mbu menghubungi, bilang saja kamu tidak pernah bertemu aku. Agar keluarga di kampung juga aman.”


“Iya, A. Hati-hati ya, di sini kota, jangan ngebut-ngebut bawa motornya.”


Dodo meninju pelan bahu Asep. “Iya, tahu. Terima kasih lagi, sudah ingatkan tukang ngangon saba kota."


Asep tergelak.


Dengan mengendarai motornya Dodo pergi mencari alamat yang diberikan Dale tadi.


bersambung


*kagok \= tanggung

__ADS_1


__ADS_2