
Di kamarnya, Dodo melemparkan gawai yang dipegangnya.
“Kenapa aku jadi ingat terus?” gumamnya. Dia memejamkan mata, membayangkan kembali kejadian tadi subuh.
Ketika melihat Andrea ke kamar mandi, dia sengaja menyelinap masuk kamar. Sebenarnya hendak mencari ransel Andrea, memeriksa barang bawaannya.
Tidak dia sadari, di sana ada orang yang sedang tidur, berselimut, dan tanpa sengaja menduduki kakinya.
Suara cewek berteriak kesakitan, lalu duduk, mengucek matanya. Rambutnya terlihat begitu indah, walaupun baru bangun tidur. Dia terbengong, mungkin bingung. Wajahnya cantik sekali, seperti seorang Princes dari negeri dongeng. Lalu dia melihatnya, dan berteriak lebih kencang, diikuti temannya yang juga terbangun.
“Sumpah, cantik banget, ckck,” gumamnya lagi. Dia pernah dengar, ketika mau melihat kecantikan seorang wanita, lihatlah ketika dia bangun tidur, karena ketika itu kecantikan asli lah yang dia sajikan.
Dodo senyum-senyum sendiri. Baru pertama kali dia melihat cewek secantik putri dalam dongeng.
Barusan juga dia sempat mengintipnya dari jendela, cewek itu semakin terlihat cantik, dengan bando di rambutnya. Dandanannya juga elegan, seperti artis sinetron yang sering wara-wiri di televisi.
Dia seperti Princes, dan memang dia sudah menjadi Princes di hatinya kini.
Dodo membayangkan dirinya menjadi seorang Pangeran, naik kuda, membawa cinta, berkarung-karung.
Ibunya membuka pintu. Dodo yang sedang halusinasi langsung mengubah mimik wajahnya.
“Apa lagi, Mbu? Bela saja terus dia!” ketusnya. Bayangan bidadari raib, berubah menjadi sesosok bayangan kucing betina sedang menyeringai, Andrea.
Andrea telah membuatnya senewen. Semua yang dimiliki olehnya direnggut oleh adiknya itu.
Kalau datang ke rumahnya, ibunya pasti berubah, pasti menjadikan Andrea segalanya. Bahkan di depan matanya sendiri, seolah dia tidak ada artinya sama sekali.
“Do,” panggil ibunya. Dodo tidak menjawab, dia malah membaringkan tubuhnya ke kasur.
“Makan dulu, dari tadi kamu belum makan.”
“Tidak lapar.”
“Kamu jangan begitu kepada Andrea, dia itu adikmu.”
“Bukan.”
“Huss, tidak baik bicara seperti itu. Kasihan dia, ayahnya meninggalkan dia ketika masih sangat kecil. Siapa lagi yang menyayanginya selain kita. Mbu juga kan tidak punya anak perempuan, jadi wajar jika ....”
“Mbu, yang diomong itu terus. Aku bosan.” Dodo bangun, meraih jaketnya. Sudah ribuan kali dia mendengar kalimat itu dari mulut ibunya, bukan terbiasa, dia malah semakin panas hati.
Dia dan Andrea sama-sama sudah tidak punya ayah, kenapa ibunya hanya kasihan kepada dia saja.
“Kamu mau ke mana?” tanya ibunya.
“Cari angin.”
“Do, kalau si Neng mengajak Mbu ....”
“Mbu jangan mau, aku tidak mau Mbu jadi babunya. Kalau Mbu maksa, aku benar-benar tidak akan memaafkan Mbu." Dodo mengancam. Dia memakai jaketnya, lalu berjalan keluar kamar.
Tidak berapa lama, terdengar suara raungan motor Dodo. Bu Nisma duduk di ruang tamu, melilitkan syal ke lehernya, lalu menerawang ke luar pintu.
**
Andrea serius mengikuti arahan GPS dari gawai Gigit.
Lima ratus meter belok kiri.
Terdengar Nona Google memberitahu.
Ren dan Zellina asyik memainkan gawai masing-masing di belakang.
Terlihat wajah mereka sesekali merengut karena sinyal yang memang tidak stabil. Beberapa kali mereka mengacungkan gawai ke atas.
Dua ratus meter belok kiri
Nona Google bersuara lagi.
“Di depan belok kiri lagi, kalau melihat waktu, setengah jam lagi kita sampai.” Andrea memberi tahu Gigit.
Gigit menoleh. “Duo kesambet masih hidup?”
Andrea tertawa. Dia menengok ke belakang. Teman-temannya sedang menekuk wajah sambil melihat pemandangan luar.
“Heh, duo kesambet masih hidup?” Andrea mengulang ucapan Gigit.
“Ngga, dunia sudah kiamat, enggak ada sinyal.” Ren merutuk.
“Ngga ada sinyal?” Andrea memeriksa gawai Gigit. “Ada kok, nih GPS lancar-lancar saja.” Andrea menyodorkan gawai yang di pegangnya.
“Mana?” Ren menyodorkan kembali gawainya.
“Heh, duh ... Hilang ke mana?” Andrea terkejut.
“Sudahlah, kita jangan tergantung dengan internet juga. Nanti tanya-tanya kan bisa,” kata Gigit.
Di sebuah warung kopi mereka berhenti, membeli makanan dan minuman biar tidak kelaparan lagi seperti kemarin.
“Maaf, Pak. Ini jalan menuju air terjun ya?” Gigit bertanya kepada tukang warung.
“Bisa, tetapi lewat sini lebih jauh. Ada yang lebih dekat, seharusnya lewat belokan sebelum puskesmas tadi,” sahut tukang warung.
“Oh, begitu ya?” Gigit terlihat bingung. Dia sepertinya tidak melihat puskesmas sebelumnya.
“Pakai GPS, ya?”
“Iya, Pak.” Andrea merasa mendapat kejutan juga ketika tukang warung kenal GPS.
“Kalau pakai GPS memang selalu diarahkan memutar begini, tetapi ada jalan yang lebih dekat. Dari belokan itu hanya dua belokan lagi sudah sampai di pintu masuk," jelas istri tukang warung.
__ADS_1
“Wah, kita malah memutar, Ndre.” Gigit garuk-garuk hidung.
Andrea menghampiri, Ren dan Zellina mengikuti sambil rebutan sukro ketengan.
“Terus bagaimana?” tanya Andrea.
“Kalau menurut saya, sebaiknya balik saja lagi, kalau lewat sini malah kejauhan.” Tukang warung memberi saran, itung-itung bonus mereka sudah jajan banyak di warungnya.
“Ya sudah, kita putar balik saja," kata Andrea.
“Yakin?” tanya Gigit.
“Yang sudah jelas arahnya kan lewat sana. Kalau kita teruskan lewat sini, belum tentu juga tidak kesasar. Mungkin Tante Google tidak tahu ada jalan lain.” Andrea masuk ke mobil
“Iya, benar tuh, Andrea. Kita yang pasti-pasti saja,” kata Ren.
“He em, buat naik gunung jangan coba-coba. Nanti kayak kemarin, Andrea salah masuk pendakian.” Zellina menimpali. “Kita yang jadi korban,” lanjutnya.
"Sudah, Zell, jangan ingatkan aku sama yang kemarin, takut mual lagi." Ren memelas.
“Ya sudah, mari kita kemon.” Gigit pamit kepada tukang warung dan berterima kasih.
Mereka kembali menyusuri jalan, mencari puskesmas yang dimaksud tukang parkir.
“Itu, puskesmasnya!” Andrea menunjuk bangunan sederhana di depannya.
Gigit mencari belokan dan membelokkan mobil. “Pantas saja tidak kelihatan, tidak seperti puskesmas.”
Akhirnya mereka menemukan belokan itu. Jalannya kecil, memasuki perkampungan yang lumayan padat penduduknya.
Rata-rata rumahnya berada di bawah jalan, sehingga hanya atapnya saja yang kelihatan.
“Kita menanjak ya, Ndre?” tanya Ren, dia melihat-lihat ke luar.
“Kita dari kemarin juga menanjak, Ren,” sahut Zellina.
Terlihat beberapa motor menyalip.
“Wah, mereka juga mau ke sana kayaknya.”
Zellina melongokkan kepalanya ke luar kaca mobil.
“Iya, tadi kulihat juga ada banyak kendaraan masuk ke sini.” Gigit memerhatikan spion mobil. Ada dua motor yang tetap berada di belakang mereka sejak memasuki belokan. Mereka tidak mau menyalip seperti motor lainnya.
Gigit kenal motornya, itu milik Dodo. Tadi diparkir di teras samping.
“Ndre, kakak sepupumu itu kenapa?” Gigit yakin Andrea tidak menyadari kalau sedang dibuntuti kakak sepupunya.
“Kenapa bagaimana?” tanya Andrea.
“Dia tidak menyukaimu?”
“Iya,” sahut Andrea.
“Baik? Kamu bilang dia baik? Menyelinap kamar cewek begitu, dibilang baik," sengit Zellina.
“Kan dia enggak tahu ada cewek di sana.” Ren tetap seolah membela.
“Astaga, si Ren masih saja percaya sama cowok seperti dia. Nih, dengerin, sama saudaranya juga dia begitu, apalagi sama orang lain.” Zellina tetap tidak suka.
“Eh, jangan sembarangan, dia kakakku,” seru Andrea. “Dia bukan cowok seperti itu.” Andrea melempar permen kepada Zellina, lalu melanjutkan ucapannya, “dia begitu belum lama ini. Dulu dia sayang kok sama aku, kita selalu main bareng. Entah makan apa, dia jadi seperti itu sekarang.”
“Makan kecubung kali, Ndre.” Zellina menyahut.
“Kecubung?” Ren mengernyitkan alis. “Apa itu?”
“Kata orang, kecubung bisa membuat orang jadi gila.” Zellina menyeringai, sepertinya tidak menyukai Dodo sama sekali.
“Enggak, Zell. Dia cemburu. Selama ini Ua terlalu memanjakan aku. Dia tidak terima. Aku maklum sih, dia kan anaknya, aku hanya keponakan.”
“Tetapi seharusnya tidak seperti itu, kalian kan sudah bukan anak kecil lagi. Masa masih iri-irian.” Gigit melirik motor di belakangnya.
“Justru ketika masih kecil dia tidak begitu, enjoy saja kalau aku manja kepada Ua atau Aki. Memang sih, Ua juga lebih memanjakan aku setelah aku besar, dulu dia biasa saja. Aki yang lebih memanjakan aku.”
Gigit mangut-mangut, dia sedikit bingung dengan cerita Andrea. Curiga ada sesuatu yang terjadi di balik sikap Dodo. Itu bukan hanya cemburu karena berebut kasih sayang, tetapi lebih ke sebuah konflik keluarga, dan Andrea tidak menyadarinya. Tetapi itu masalah mereka, dia tidak berhak ikut campur.
Mereka sampai di atas, ternyata di sana sudah banyak kendaraan parkir.
“Wah, rame ya?” Ren membuka kaca mobil. Suasana di sana jauh berbeda dengan suasana di pendakian kemarin. “Mereka datang dari mana? Sepertinya dari tadi mobil kita sendirian saja. Jangan-jangan mereka ....”
“Apa? Jangan ngaco, Ren. Rame atuh, ini kan tempat wisata juga.” Zellina melihat plang selamat datang di depan mereka.
"Tapi kan sekarang bukan hari libur, Zell." Ren melihat berkeliling.
"Tidak semua pengunjung anak sekolah kali, Ren. Tuh lihat, tante-tante, om-om, dan kakek-kakek juga ada. Mereka bukan anak sekolah."
Ren memanyunkan bibirnya.
“Akhirnya kita sampai.” Gigit memarkir mobil sesuai arahan petugas parkir. Mereka langsung menuju loket. Membeli karcis masuk.
“Dua puluh ribu,” kata petugas loket.
Andrea membuka dompet. “Seorang?” tanya Andrea.
“Enggak, semuanya. Empat orang kan?”
“Oh, oke.”
“Seorang lima ribu?” bisik Ren. Andrea mengangguk. “Murah banget.”
“Ingin yang mahal, ke Trans Studio,” bisik Andrea lagi.
__ADS_1
Zellina dan Gigit sudah berjalan duluan ke dalam.
“Kamu alihkan perhatian Gigit dan Zellina, aku mau ambil air dari tiap air terjun.” Andrea meminta bantuan Ren.
Dia tidak punya waktu banyak untuk menghadapi banyak pertanyaan. Keegoisannya mendominasi lagi.
Setelah mendengar penjelasan seorang pengurus tentang tujuh air terjun di sana, Andrea segera menyelinap menuju satu per satu air terjun yang letaknya terpisah cukup jauh dari satu air terjun ke air terjun lainnya.
“Semoga ini yang dimaksud Dale,” gumamnya, sambil memasukkan sedikit air di air terjun pertama.
Ren mengajak Gigit dan Zellina swafoto di air terjun. Mereka sangat antusias, menyaksikan surga dunia yang tersembunyi di balik tebing-tebing tinggi. Merasakan kesejukan air yang jatuh bebas.
Walaupun hanya air yang jatuh.
Dari pancuran plafon rumah juga sering melihatnya, tetapi di sana mata mereka seolah tidak berkedip, takjub akan keindahan ciptaan Allah itu.
Zellina tidak mau beranjak dari tempat dia merendam kakinya. Percikan air terlembut seolah membentuk asap yang menyelubungi sekitar hutan.
“Nanti baju kamu basah, Zell, kita darurat pakaian,” seru Ren. Suaranya tenggelam oleh deru derasnya air yang jatuh.
Gigit menoleh kanan kiri. “Andrea ke mana?” tanyanya kepada Ren. Ren mengangkat bahu.
Gigit berjalan melihat rute yang ada di sana.
**
Andrea berusaha melewati jalan yang lumayan terjal dan licin seorang diri. Semakin dalam, hutan semakin lembap membuat tanah menjadi basah.
Dingin sudah tidak bisa dikatakan lagi, menusuk sampai ke tulang. Tetapi tidak menyurutkan langkah kaki Andrea untuk terus menuju air terjun ke dua.
Masih pagi, pengunjung lain belum ada yang sampai ke sana. Mereka masih asyik menikmati air terjun pertama yang memukau.
Sekitar setengah jam mendaki, telinganya mendengar suara gemercik air. Andrea menemukan air terjun kedua.
Di sana sudah ada beberapa tenda camping. Tampak juga ada beberapa orang yang sedang menikmati keindahan air terjun dengan berselimut mantel.
Andrea mengeluarkan botol dari ranselnya.
“Whats?” teriaknya. Air terjun pertama di dalam botol raib. Andrea mengeluarkan nafas berat. “Masa harus balik lagi,” gumamnya.
Dia memeriksa isi ranselnya, yang mungkin saja basah karena ketumpahan air. Tetapi semuanya kering.
Andrea mengambil air sebisanya dengan tangannya, botol kaca terisi lagi.
Andrea cepat-cepat melihat rute yang tertera di sana untuk menuju air terjun ke tiga.
Lumayan jauh, dia harus mendaki lagi.
Semakin ke dalam, hutan semakin sepi. Gemercik semakin mengecil terdengar.
Untuk menuju air terjun ke tiga, Andrea harus ekstra hati-hati ketika berjalan, karena jalannya semakin terjal.
Pada sebuah tanjakan kecil, tanpa sengaja dia menginjak batu yang hanya menempel di tepi tanah. Batunya jatuh terinjak, Andrea hampir terperosok kalau saja tidak ada sebuah tangan yang memeganginya.
“Git!” serunya.
“Keras kepala!” seru Gigit.
Andrea dibantu Gigit untuk naik. “Untung jurangnya tidak dalam.”
“Terima kasih, “ kata Andrea, sambil menepuk-nepuk kotoran di lututnya.
Gigit menemaninya mendaki. Mereka tidak banyak bicara. Gigit memberinya air mineral, Andrea meminumnya tanpa banyak bicara.
Mereka sampai di air terjun ke tiga. Surga tersembunyi itu semakin memukau. Gigit memotretnya beberapa kali.
Andrea kembali tercengang, ketika mendapati botol kaca yang dibawanya kosong lagi.
“Apa ini? Ke mana mereka?” Dia bicara sendiri. Gigit memerhatikannya.
“Kenapa?” tanya Gigit, mengagetkannya. Rambutnya basah.
“Enggak, hehe.” Andrea memasukkan botol ke dalam tas.
“Ndre,” panggil Gigit.
“Hmm ....” Andrea memandangi air terjun.
“Kamu berbuat syirik?”
Andrea menoleh dengan cepat ke arah Gigit.
“Maksudnya?” Sorot matanya tidak terima.
Gigit duduk di batu besar yang ada di sana. “Terserah kamu mau berbuat apa, Ndre. Aku tidak berhak untuk melarang atau mendukung. Kecuali melakukan perbuatan syirik, kamu tahu kan, itu perbuatan dosa.”
Andrea terdiam, dia merasa tidak sedang berbuat syirik atau menjadi musyrik.
“Aku juga tidak berhak untuk membuat kamu mendukung atau melarang.” Andrea berang. Seperti sedang dejavu, kejadian kemarin terulang lagi.
“Kita akan terus bertengkar seperti ini kalau kamu tidak menceritakan yang sebenarnya.” Gigit memandang lekat Andrea.
"Aku tidak punya banyak waktu, kamu balik saja lagi ke anak-anak."
Andrea berjalan, meneruskan mencari air terjun ke empat. Gigit menatapnya. Dia tidak bergeming dari tempatnya duduk.
Hutan semakin dalam, sepi dan gelap. Tidak ada lagi pengunjung yang dia temui. Untungnya air terjun ke empat tidak begitu jauh, letaknya dengan air terjun ke tiga hanya dipisahkan oleh dua jalan terjal. Begitu juga dengan air terjun ke lima, hanya dipisahkan satu tebing dengan air terjun ke empat.
Andrea kembali terkejut, ketika botol didapatkan kosong lagi. Dia jadi berpikir kejadian mistis telah mengeringkan botol kacanya.
“Berati benar, ini tujuh sumur yang dimaksud,” gumamnya. Tanpa memedulikan lelah dan sepi, dia berjalan menuju dua air terjun lainnya.
__ADS_1
Pohon menjulang seolah menjadi teman dalam perjalanannya, tidak dihitung binatang-binatang yang ditemuinya. Bahkan seekor lintah sempat menempel manis di celana jeans yang dipakainnya.
bersambung