My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 85 Kabar, Resah, dan Gelisah


__ADS_3

Andrea tancap gas dengan kencang, tetapi bapak pengendara motor besar itu lebih kencang, dia seperti ketakutan. Menjalankan motornya juga seperti dikejar setan, sesekali melihat ke belakang.


Untung saja jalanan sedang sepi, sehingga mereka melakukan semi trek-trekkan dengan lancar, dan aman.


“Dulale ...." Andrea lupa kalau lagi di atas motor, dia tidak bisa memejamkan matanya. "Duh, enggak bisa sambil baca mantra lagi,” sungutnya.


Dia menepi ke sisi jembatan. Memejamkan mata dan komat-kamit.


Akri datang, bersamaan dengan Dale, nangkring di atas besi jembatan.


“Kejar motor besar itu! Hentikan motornya!” teriak Andrea, sambil menunjuk motor yang hampir hilang.


“Sayap, Neng!” ujar Dale.


Dia cepat melesat mengejar motor yang ditunjuk Andrea.


“Iya tahu, terus kenapa lu malah berhenti?” tanya Akri.


Andrea tidak mengetahui ada Akri di sana. “Gue tunggu elu!” seru Andrea.


“Oh, Gue kira lu mau bunuh diri."


"Bunuh diri, enggak bersyukur banget dikasih hidup."


"Eh, memang lu tahu gue nyusul?” Akri keheranan.


“Tahu lah, kan motor ini juga ada spionnya. Sudah sih, lihat dia sudah ke sini!” Andrea menunjuk motor besar itu mundur ke arah mereka.


Pengendaranya pucat pasi ketakutan, motornya berjalan mundur. Berhenti pas di depan mereka.


Akri melongo. “Kok bisa?” gumamnya.


"Berubah pikiran, Pak?” tanya Andrea.


“Euhh, anu ... Euhh,” gugup bapak itu.


Andrea turun dari motornya. “Kenapa kabur, Pak?” tanyanya. " Saya cuma mau nanya, Bapak saudaranya Gigit?"


“Euhh, maaf. Saya tidak tahu nama pemilik motor ini.”


Andrea dan Akri saling pandang.


“Bapak nyolong?” Akri menatap tajam wajah bapak itu.


“Enggak ... Bukan, saya bukan pencuri.” Bapak itu semakin pucat.


“Terus, kenapa motor teman saya ada di Bapak?” tanya Andrea.


Bapak itu melihat Andrea dengan saksama. Mimik wajahnya terlihat penuh kejutan. “Neng ini, yang waktu itu diculik ya?”


Andrea dan Akri berpandangan. “Kok Bapak tahu?” tanya Andrea.


“Karena kamu meronta-ronta di hatiku, eakk!” Akri malah menggombal.


Andrea menggeplak bahunya.


“Apa an sih?” Andrea melotot. "Bapak tahu saya diculik?"


“Saya melihat Neng pingsan di mobil. Iya, betul, waktu itu, saya juga yang melapor kepada Pak RT dan warga lainnya.”


“Oya? Jadi saya harus terima kasih dong sama Bapak." Andrea melihat motor besar itu dengan seksama. "Tapi sebentar, ini kenapa motor teman saya ada pada Bapak?” Andrea masih penasaran. " Saya tahu betul, ini motor teman saya. Dan saya sedang kehilangan dia."


“Nahh, benar tuh, kenapa motor Power Ranger ini ada sama Bapak, Power Rangernya mana? Cat Women nanyain, nih." Akri cekikikan.


Andrea melotot ke arah Akri. "Diam dulu, Gundala!"


“Power Ranger? Cat Women?" Bapak pengendara garuk-garuk stang.


“Teman Nona ini!” seru Akri.


Bapak yang ternyata penjual kacang rebus berganti jadi garuk-garuk helm. Berpikir.


“Saya juga tidak tahu, dia menitipkan motornya kepada saya waktu habis menolong Neng ini, tetapi sampai sekarang tidak kembali mengambilnya. Sudah mau seminggu."


"Dia tidak mengambilnya?" tanya Andrea.


"Kalau diambil, mana mungkin saya pakai, Neng," sahut penjual kacang rebus.


"Bener itu, Neng, ah, si Neng mah." Akri ikut-ikutan.


“Katanya tidak mau cari,” gumam Dale, membuat Andrea semakin pusing.


“Diam kamu!” seru Andrea, keceplosan.


Akri dan bapak penjual kacang terkejut, tiba-tiba Andrea menyuruh mereka diam.


Andrea cengengesan. “Maaf, maksudnya, oh, begitu ya?”


"Jauh pisan, dari diam kamu ke oh begitu," gumam Akri.


“Sebenarnya, temannya ke mana, Neng? Saya juga menunggunya. Motornya menyempit-nyempiti rumah. Gerobak kacang rebus saya jadi tersisihkan.” Bapak itu malah curhat.


“Saya juga tidak tahu. Ya sudah, bapak pulang saja. Aku minta nomor kontak bapak ya,” kata Andrea.


Mata penjual kacang rebus melebar, diminta kontak oleh seorang cewek cantik. “Boleh, Neng.” Dia membereskan rambutnya.


Dale dan Akri mencebik.


Andrea mengambil kertas dan pulpen dari ranselnya. “Aku catat saja, ponselnya lagi diperbaiki.”


Bapak penjual kacang menyebutkan nomor kontaknya.


“Ditunggu ya, Neng!” katanya.


“Ditunggu apanya, Pak?”


Penjual kacang rebus memberi kode menelefon dengan jarinya.


“Hahh?” Andrea melongo.


Akri tertawa. “Iya, Pak, nanti Andrea menelefon. Bapak boleh pergi sekarang. Jagain motornya, kalau diberi amanat itu harus amanah, biar berkah. Motor orang dipakai jalan-jalan, bagaimana kalau kecelakan. Kalau Bapak yang cidera sih tidak apa-apa, tinggal ke rumah sakit. Coba kalau motornya yang cidera, Bapak harus ganti rugi, belum lagi ongkos rumah sakit, dobel kan ruginya." Akri bicara panjang kali lebar.


Penjual kacang rebus tersenyum malu. “Iya, ini juga mau pulang, tadinya saya mau beli kacang ke pasar, tetapi Mamah saya minta pulsa, jadi belok dulu mencari toko pulsa."

__ADS_1


Akri mengernyitkan dahi. "Mamah siapa?"


"Mamah saya," sahut penjual kacang rebus.


"Bapak manggilnya mamah?"


"Emak."


"Kok jadi mamah?" tanya Akri. Dia paling suka menyelidiki hal-hal seperti itu.


"Ngga tahu, mungkin emak saya lagi pengen dipanggil mamah." Tukang kacang rebus cengengesan.


"Emaknya punya ponsel, Pak?" tanya Andrea. Dia juga mulai mengerti arah pertanyaan Akri.


Penjula kacang rebus terdiam. "Enggak," sahutnya.


Akri dan Andrea menepuk kening masing-masing. Dale menepuk lalat yang lewat.


"Terus kenapa minta pulsa?" tanya Akri.


Penjual kacang rebus semakin bingung. "Iya ya, buat apa, kan tidak punya HP."


"Itu artinya Bapak tertipu," jawab Andrea dan Akri berbarengan.


"Waduh!" Penjual kacang rebus menepuk jidatnya sendiri.


"Yaelah, Pak, masih saja bisa tertipu. Untung saja sedikit kirim pulsanya. Lain kali, kalau ada yang SMS mamah minta pulsa, bilang saja Bapak tidak punya mamah, yang ada emak."


"Iya, terim kasih ya. Kalau begitu saya permisi.” Dia menstater motor, tetapi motor diam saja, ketika dia gas. Dia coba tarik gas dengan kencang.


Dale lupa melepaskan pegangannya, lalu dia buru-buru lepaskan.


“Aaaaaa ....” Tukang kacang rebus berteriak, motor yang dikendarainya melesat dengan cepat.


“Kenapa dia?” tanya Akri. “Ndre, motornya kayak ada yang bawa begitu tadi.”


“Kan dia yang bawa,” sahut Andrea. Dia kembali menaiki motornya.


“Pas mundur itu, masa bisa motor jalan mundur seperti itu tanpa menoleh.” Akri memandangi Andrea.


“Bisa lah, masa enggak bisa.”


“Seperti ada yang mengendalikan. Apa motor cowok lu punya jin?”


“Dia bukan cowok gue,” sahut Andrea. Dia menstater motornya. “Ayo, balik ke toko, aku butuh ponsel nih.”


“Bukan pacar tapi motornya dikejar-kejar. Punya hutang ya?” Akri masih penasaran.


Andrea tidak mengindahkan pertanyaan Akri, dia melajukan motornya.


Mereka kembali ke toko. Kebetulan ponsel Andrea juga cepat selesai di perbaiki, berkat pakai jalur kekeluargaan.


“Kenapa ini, Kri?” Andrea bertanya, sekedar basa-basi, karena sebenarnya dia tidak peduli gawainya rusak karena apa. Bagi dia, yang penting hidup lagi. Terlalu banyak kenangan di dalamnya.


“Ngga tahu, aku enggak tanya.”


“Ya sudah, berapa semuanya?” Andrea menyalakan gawainya.


“Mahal amat!” seru Andrea, melotot. "Kalau segitu mending beli baru," lanjutnya.


“Mau bayar, kagak?”


“Kagak!”


“Ya sudah, gitu saja repot.”


“Yang serius, dodol!”


“Memang mukaku kelihatan tidak serius?”


“Masa servis begini saja sampai sejuta.”


“Ahelah, bilang saja kagak bisa bayar.”


“Itu tahu.”


“Ya sudah saja, kenapa repot bayar segala.”


Andrea tersenyum. “Bilang dong kalau mau kasih gratis servis.”


“Siapa bilang? Aku kan minta sejuta.”


“Kriii ....” Andrea memelas.


“Iyaaa, masa iya gue tega minta bayar sama elu.”


Andrea mengacak-acak jambul Akri. “Thanks yaww!” Dia beranjak.


“Eh, mau ke mana?”


“Pulang.”


“Giliran dapat servis gratis langsung pulang.”


“Mau apa lagi?”


Terdengar banyak notifikasi masuk.


Andrea melihatnya. Chat terdahulu berjibun, chat grup sampai puluhan ribu. Terlihat juga ada beberapa chat dari Gigit. Andrea tidak buru-buru membukanya, dia terlalu gugup. Matanya mengerjap-ngerjap, sambil gelisah.


“Kenapa, lu?” tanya Akri, melihat perubahan pada wajah Andrea.


“Kagak, Ini grup apa pasar malam, rame banget?” gumamnya.


“Pasar burung. Kelas kita kan bercicit terus, kayak burung,” sahut Akri.


“Bahas apa sih?”


“Baca saja sendiri, panjat."


“Males,” sahut Andrea.


“Lu kan yang bikin trending topik akhir-akhir ini.”

__ADS_1


“Gue?”


“Iya lah.” Akri menghadap ke Andrea. “Pertama, polisi, kedua keluarganya si cowok tinggi, ketiga tante-tante cantik. Mereka cari lu ke kelas."


Alis Andrea bertautan. Kalau polisi dan keluarga Yadi, dia sudah memprediksi, kalau tante-tante cantik dia benar-benar tidak mengerti.


“Tante cantik?”


“Iya, yang waktu itu ketemu di rumah sakit.”


“Tante Dina?”


“Gue kagak tahu namanya, enggak kenalan, takut naksir.”


“Mau apa datang ke sekolah?”


“Mau belanja. Ya cari elu lah, dia tidak percaya lu pergi ke kampung, makanya ke sekolah, memastikan. Dia bilang lu pergi enggak bilang-bilang.”


“Lebay banget, sok perhatian.”


“Lah, kenapa? Bukannya dia keluarga lu?”


“Enak saja, bukan.”


“Terus?”


“Terus, gue mau pulang ....”


Andrea mengeloyor, keluar dari toko.


“Ndre, besok libur.” Akri nongol dari atas etalase.


“Sudah tahu.” Andrea berseru.


“Jalan-jalan, yuk!”


“Ogah!”


“Waduh, awas lu, gue enggak kasih gratis lagi!”


Andrea menjulurkan lidah.


“Dasar, cewek enggak punya akhlak, dikasih gratis, malah kabur.” Akri mengomel.


Andrea melajukan motornya dengan cepat. Dale mengikuti dari belakang.


Dia mengarahkan motornya ke arah kedai yang pernah dikunjunginya bersama Gigit.


Ada resah dalam dadanya, ketika mengetahui ada chat dari nomor Gigit. Dia takut. Takut sesuatu yang membuatnya lebih terluka.


Di kedai itu dia memesan dua gelas es jeruk. Dale ngiler, melihat minuman menyegarkan seperti itu.


Andrea belum mau membuka chat dari Gigit. Dia jengah dengan Dale, karena suka meledeknya.


“Kalau mau tinggal sedot saja, Dal. Asal jangan kelihatan orang.” Andrea melihat Dale sedang melet-melet.


“Sayap, Neng!” Dale duduk, dia menyedot es jeruk dari sedotan. “Euuuu ....” Dale bersendawa.


Andrea geleng-geleng kepala.


“Sudah?”


“Apanya, Neng?”


“Minumnya.”


“Sudah, kenyang.”


“Ya sudah, kamu pulang saja, jaga ibuku.”


“Sayap, Neng!”


Tring!


Dale menghilang.


Setelah Dale tidak ada, Andrea mencoba membaca chat dari Gigit.


Chat pertama,


Ndre, aku tulis pesan ini dengan hati penuh harap, kamu segera memperbaiki ponselmu, dan membaca ini.


Chat kedua,


Ndre, aku tulis pesan ini masih di kamar hotel, aku tidak berani ke kamar kalian, takut mengganggu.


Maaf, aku harus pergi. Ibuku memberi kabar, kami harus segera berangkat ke Malaysia


Chat ketiga,


*Jaga diri kamu, maaf*kan aku kalau membuatmu kecewa ...


Chat dikirim dengan waktu yang sama, pukul sebelas malam, waktu mereka menginap di hotel di Bandung.


Andrea melihat waktu terakhir Gigit online pada akunnya. Waktunya juga sama, malam ketika mereka masih Bandung.


“Berarti dia tidak pernah online lagi.” Andrea mendesah.


“Gigit,” gumamnya. Seketika ada perasaan yang kosong dalam dadanya, seperti ketika dia kehilangan ayah dan kakeknya sebagai sandaran jiwa.


Gigit pasti punya alasan melakukan semua itu. Dia meminta maaf, walaupun tidak pernah melakukan kesalahan terhadapnya.


Andrea jadi resah, mungkin sikapnya membuat cowok itu merasa bersalah.


Andrea menekuri gelas jus jeruk di depannya, dia merasa frustrasi, ditenggaknya jus sampai kandas.


bersambung


Happy reading


Terima kasih yang selalu setia membaca di sini.


Jangan lupa tinggalkan jejak, dengan klik like, comen, vote, dan rate yaa ...

__ADS_1


__ADS_2