
Seusai salat magrib, Gigit menjalankan motornya menuju ke Cafe Family. Hanya tempat itu yang bisa dia datangi, untuk mencari tahu di mana Yadi.
Dia menanyakan Atang kepada seorang pegawai di sana.
Kebetulan sekali, ada seorang pemandu lagu yang mengenal Atang. Tidak heran, karena Atang sering karaoke di sana.
Ternyata Atang adalah seorang penjaga toko alat-alat olah raga.
“Kalau tidak salah nama tokonya Zaman Sport. Bilangnya sih, dia itu salah satu orang kepercayaan pemilik toko. Kakak ada keperluan apa sama dia?"
Gigit tersenyum. “Ada sedikit urusan.Terima kasih infonya.”
“Sama-sama, Kak.” Gadis pemandu lagu itu juga tersenyum manis.
Gigit segera melajukan motornya dengan cepat ke ruko yang dimaksud.
Ruko dua lantai tampak sepi, ruangan lantai bawah sepertinya dimatikan semua, yang terlihat menyala satu ruangan di lantai atas. Menandakan bahwa ruko itu ditinggali.
Sekeliling ruko terlihat sepi, karena memang sudah malam. Di pinggirnya ada sebuah warung kecil, juga sudah tutup. Meskipun ada di perkotaan, daerahnya seperti kurang strategis untuk dijadikan sebuah tempat bisnis. Tidak seperti daerah lain yang masih ramai lalu lalang orang dan pedagang, meskipun sudah malam.
Gigit mengamati dari seberang jalan, bersandar pada motornya yang diparkir di balik pohon palm besar. Memikirkan sebuah cara, untuk mencari tahu siapa yang ada di dalam ruko.
Untuk menyamarkan diri, Gigit memasang kupluk sweater yang dipakainya. Sudah setengah jam dia berada di sana, tidak ada pergerakan apa-apa, selain dia bergerak sendiri menghalau nyamuk-nyamuk yang mulai mengerubungi tubuhnya.
"Kamu di mana sebenarnya, Ndre?" Dia bertanya kepada dirinya sendiri. Rasa takutnya menyergap. Tiba-tiba dia takut Andrea kenapa-kenapa, dan dia tidak bisa menemuinya lagi.
Tidak lama gawainya bergetar. Ren menelefon.
“Kamu di mana?” tanya Ren di seberang telefon.
“Di depan toko Zaman Sport.”
“Aku menyusul.” Ren menutup sambungan telefon.
Gigit kembali mengamati ruko di depannya. Seorang tukang kacang rebus lewat mendorong gerobak.
Gigit memberhentikannya. Lumayan untuk menghalau sepi, atau kalau boleh nyamuknya sekalian.
“Kacang, Mang!”
"Mangga, A." Tukang kacang berhenti. Mengambil kertas koran, lalu dijadikannya wadah dengan bentuk kerucut.
“Satu saja?” tanya tukang kacang.
“Dua boleh?”
“Ya boleh atuh, masa enggak boleh.” Tukang kacang tersenyum, lalu menyendok gunungan kacang yang mengepul di gerobaknya. Rejeki pertama malam itu, ketika gerobaknya baru saja keluar kandang.
“Mang, sering lewat sini?” tanya Gigit, dia sengaja mengajak tukang kacang itu bicara, dari tadi dia kesepian, resahnya tidak kunjung mereda.
“Sering, rumah Mamang kan di sana.” Dia menunjuk sebuah gang kecil tidak jauh dari tempat mereka sekarang.
“Ooh, orang sini? Kalau begitu tahu dong toko olah raga di sana masih buka atau enggak?” tanya Gigit.
“Maksudnya?” Tukang kacang bingung, karena jelas toko itu tutup saat ini, karena sudah malam.
“Masih jualan enggak?” tegas Gigit.
Tukang kacang menyerahkan sepincuk kacang kepada Gigit, lalu mulai membuat bungkus yang lain.
“Ooh, masih, tetapi tidak setiap hari. Di sini sepi, kurang laku sepertinya."
"Berarti sepi juga tetap bertahan ya?"
"Oh jelas lah, pemiliknya juga orang kaya. Kuat modal."
Gigit menerima satu pincuk lagi, dia simpan dua pincuk kacang rebusnya di jok motor.
“Berapa, Mang?”
“Sepuluh ribu.”
Gigit menyerahkan uang lima puluh ribuan kepada tukang kacang.
“Wah, belum ada kembalian. Mamang tukar dulu ya ke warung sana ya." Tukang kacang menunjuk sebuah warung di ujung jalan.
“Boleh, Mang.”
Gigit mengambil bungkusan kacangnya, lalu duduk di atas motor.
“Nitip gerobak ya,” kata tukang kacang.
“Iya, tenang saja, Mang."
Tukang kacang berlari untuk menukar uang. Gigit mulai membuka kacang rebus. Bertepatan dengan itu sebuah mobil mewah berhenti di depan ruko.
Gigit cepat-cepat turun dari motor. Dia mengawasi mobil itu, sambil mengaduk-aduk kacang di gerobak. Dia pura-pura jadi tukang kacang rebus.
Pengemudinya tidak kelihatan karena gelap.
Gigit meninggalkan gerobak dengan gunungan kacangnya. Dia menyeberang jalan dengan cepat.
Setelah sampai di seberang, dia menghampiri belakang mobil.
Pengemudinya terdengar menelefon, lalu rolling door ruko terbuka. Mobil bergerak perlaham untuk masuk.
Gigit mengendap-endap di belakang mobil. Dia mengikuti mobil yang masuk ke dalam ruko, lalu menyelinap ke samping mobil, tanpa diketahui siapa pun, termasuk tukang kacang rebus.
“Malah pergi, ini kembaliannya belum.” Tukang kacang yang sudah kembali bergumam, sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Ke mana dia?" gumamnya lagi, dia mengusap-usap motor Gigit, lalu naik untuk duduk. Dia bermaksud menunggu saja di sana.
Rolling door menutup. Lampu mobil mati, seiring berhentinya mesin mobil. Ruangan menjadi gelap.
Seorang cowok keluar dari dalam mobil, dia berjalan menuju temannya yang menunggu di ruangan lebih terang.
“Bagaimana?” tanya cowok itu.
“Beres, Bos.”
__ADS_1
Suara langkah kaki menaiki tangga. Mereka menuju lantai dua.
Gigit keluar dari persembunyiannya, setelah yakin aman, dia mengikuti mereka, menuju lantai dua.
Terdengar beberapa orang berbincang, sesekali mereka tertawa.
“Sekarang kita berhasil, Bos,” kata seseorang. Suaranya seperti tidak asing lagi bagi Gigit. Dia mengintip dari celah pintu yang tidak ditutup rapat.
Tangannya mengepal ketika melihat jelas cowok yang membawa mobil itu, dia cowok yang pernah dilihatnya bersama Andrea di depan sekolah.
“Yadi Sanjaya,” gumamnya. Gigit berusaha menahan diri sambil memikirkan sesuatu.
“Di mana dia? Kalian tidak macam-macam kan?” tanya Yadi.
“Di kamar. Tenang, Bos, singa hanya dilumpuhkan sebentar, nanti juga siuman.” Terdengar dua orang tertawa.
Gigit tidak bisa melihatnya karena pandangannya terbatas, terhalang pintu.
“Diam kalian! Awas kalau gua lihat luka lecet sedikit pun!” bentak Yadi.
“Ngga, Bos, lihat saja sendiri.” Seseorang menjawab.
Yadi membuka pintu sebuah kamar.
“Masuk saja, Bos, eksekusi!” kata salah satu dari mereka.
Gigit membuka pintu lebih lebar dengan pelan. Bau minuman keras menyeruak.
Kini terlihat jelas Si Atang ada di sana, sedang menenggak minuman.
Yadi berdiri di mulut pintu, memandangi ke dalam ruangan.
“Jangan ragu-ragu, Bos! Apa perlu dikasih contoh?” Atang berdiri, rupanya dia sudah mulai mabuk.
Yadi mencengkeram leher baju Atang, lalu mendorongnya ke tembok. “Jangan macam-macam, berani menyentuhnya, lu gue kuliti!” gertak Yadi.
Atang cengengesan. “Santai, Bos. Jangan emosi. Dia terlalu muda buat saya, masih rata. Saya sukanya yang montok.” Atang tertawa.
Yadi melemparkannya ke lantai.
Gedebuk!
“Dasar mesum!” bentak Yadi.
Atang mengerang, temannya menolongnya duduk.
"Bagaimana dengan ponselnya?" tanya Yadi.
Atang dan temannya terlihat kebingungan. "Ini, Bos, tasnya dia." Atang melemparkan tas Andrea kepada Yadi.
"Dasar stupid! gue butuh ponselnya, Bego!"
"Iya, mungkin ada di sana, Bos," kata Atang.
Yadi memeriksa ransel Andrea dengan kesal. Tidak lama dia lemparkan lagi kepada Atang. "Stupid kabeh! Tidak bisa diandalkan," geram Yadi.
"Tidak ada, Bos?" tanya temannya Atang. Dia mencari-cari ponsel di dalam ransel. "Ngga ada ya," lanjutnya.
Atang dan temannya saling sikut.
"Tetapi kita masih dibayar kan, Bos?"
"Duit saja paling getol, kerjaan gatot!" umpat Yadi lagi.
“Gue membayar kalian sampai di sini, selanjutnya biar dia gue urus sendiri.” Yadi melemparkan amplop cokelat ke meja.
Atang dan temannya berbinar ketika membuka amplopnya. Beberapa gepok uang mereka keluarkan.
Yadi keluar dari kamar, dia membopong Andrea yang belum sadarkan diri.
“Andrea,” desis Gigit. Dia segera membuka pintu lebar-lebar. Tidak bisa menahan emosinya, melihat Andrea tidak sadarkan diri seperti itu.
Yadi, Atang dan temannya terkejut.
“Heh!! Siapa, lu?” bentak Atang. Dia mau bangun, tetapi malah limbung, dia jatuh lagi. Temannya membantu dia berdiri.
Yadi menatap Gigit dengan sorot mata geram. Cemburu dan kesal bersatu padu. "Jangan ikut campur!" bentaknya.
“Jadi begini kelakuan cowok populer di sekolah?” Gigit menghidupkan video pada gawainya, merekam mereka. "Bagaimana kalau gue bikin siaran langsung dari sini."
“Apa-apa an, lu?” Yadi berlari menabrak Gigit dengan tubuh Andrea.
Gigit terpental, gawainya juga ikut terjatuh, tetapi dengan cepat bangun lagi dan mengambil ponselnya.
Dia berusaha merebut Andrea yang masih tidak sadarkan diri dari bopongan Yadi. Mereka jadi rebutan tubuh Andrea. Seperti dua orang memperebutkan bungkusan sembako.
“Serahkan dia!” teriak Gigit.
“Minggir!” teriak Yadi, dia menendang Gigit.
Gigit kembali terpental ke tembok.
“Bodoh! Kenapa kalian bengong saja, bereskan dia!” Yadi berteriak kepada Atang dan temannya yang masih memegangi amplop uang.
Gigit berlari, dia lebih gesit dari Yadi yang keberatan membopong Andrea.
Yadi berusaha menghalau Gigit dengan menggunakan kaki Andrea. Gigit menghindar, kasihan kepada Andrea, dia pasti akan kesakitan jika kakinya mengenai tubuhnya.
Yadi cepat-cepat menuruni tangga. Gigit mengejarnya, tetapi sebuah bogem menghantam pundaknya, dia terjatuh dan pingsan.
Yadi cepat-cepat menidurkan Andrea di jok belakang. Dia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin.
“Buka!” perintahnya.
Teman Atang segera turun, lalu buru-buru membuka rolling door.
Rolling door terbuka, dia terkejut, beberapa orang berdiri di sana.
__ADS_1
“Siapa kalian?”
“Mana teman kami?” Ren memasang kuda-kuda. Dia datang bersama tukang kacang rebus, RT setempat, dan bapak-bapak lainnya.
“Teman kalian yang mana?” tanya temannya Atang.
Zellina masuk ke dalam tanpa permisi. “Git, Gigit!” teriaknya.
Dia melihat ke dalam mobil. “Kak Yadi!” teriak Zellina.
Yadi yang sudah siap menyetir, segera mematikan mesin. Dia turun dari mobil.
“Kalian sedang apa di sini?” tanyanya.
“Mana Gigit?” Zellina balik bertanya.
“Gigit? Siapa Gigit?” Yadi berlagak bingung.
Yadi tampak gugup ketika Ren membuka pintu mobil belakang.
“Andrea?” teriaknya. “Ya Allah, Ndre, kamu kenapa, Ndre?” Ren berteriak melihat Andrea tidak sadarkan diri.
Zellina menghampiri. “Andrea, dia kenapa Ren?” Zellina menangis panik.
Yadi salah tingkah, dia tidak bisa ke mana-mana karena bapak-bapak yang dari tadi diam saja, sekarang telah dengan sigap memegangi tangannya.
“Apa-apaan, ini? saya tidak melakukan apa-apa.” Yadi berusaha melepaskan diri.
Atang yang mendengar ribut-ribut segera turun, dia dan temannya juga dipegangi.
“Jadi benar, Kak Yadi yang menculik Andrea?” Ren menghampiri dan menatap tajam Yadi.
“Itu, mereka yang melakukannya,” lanjut Yadi sambil menunjuk Atang dan temannya.
“Terus, kamu yang menyelamatkannya? Pahlawan? Katakan itu nanti di depan polisi!” kata Ren. Dia mengeluarkan ponsel Andrea dari dalam sakunya. “Aku punya buktinya,” lanjut Ren, tangannya mengacungkan gawai Andrea yang sekarang berada di tangannya.
“Sudah, nanti bicaranya di pos polisi,” kata salah seorang bapak-bapak.
Yadi membuang nafas kesal.
“Gigit, di mana dia?” Zellina yang masih memegangi Andrea bertanya kepada Ren.
Ren berlari ke dalam, disusul Pak Supri. Mereka melihat Gigit telungkup di atas tangga.
“Git, kamu tidak apa-apa?” Ren dan Pak Supri membangunkan Gigit.
Gigit sadar, dia meringis kesakitan sambil memegangi pundaknya.
"Kalian datang?"
"Aku kan sudah bilang akan menyusul," sahut Ren
“Bagaimana Andrea?”
“Syukurlah kamu cepat sadar. Andrea di bawah, belum sadar. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."
Gigit dipapah Ren dan Pak Supri turun ke lantai bawah.
“Selanjutnya bagaimana ini?” tanya seorang bapak yang masih memegangi Atang.
“Bawa saja ke kantor pos, Pak RT,” kata tukang kacang rebus.
“Kantor pos?” tanya Pak RT.
“Eh, maksud saya ke pos polisi.” Tukang kacang cengengesan.
“Pos polisi, kayak mau ditilang saja.” Pak RT geleng-geleng kepala. “Bagaimana, Neng?” tanya Pak RT kepada Ren.
“Terserah bapak saja, kami akan membawa teman-teman saya ini ke rumah sakit dulu,” kata Ren. "Bisa tolong angkat ke mobil yang di sana?"
“Baiklah. Pak, tolong Neng yang pingsan dipindahkan ke mobil di depan,” perintah Pak RT kepada salah seorang bapak yang menganggur, dia dari tadi hanya menonton saja sambil makan kacang, dapat malak dari tukang kacang rebus.
Bapak itu segera menolong Ren membopong Andrea ke dalam mobil Zellina. Zellina dan Pak Supri memapah Gigit yang masih sempoyongan.
Pak RT dan yang lainnya menjaga tiga bandit kagok.
“Bapak-bapak, terima kasih atas bantuannya.” Ren berpamitan.
“Iya, kalian urus dulu teman kalian, biar mereka kami yang urus,” kata Pak RT.
Ren segera masuk ke dalam mobil.
“A, ini kembalian!” Tukang kacang rebus berteriak. Dia mengetuk kaca mobil.
Gigit membukanya. “Apa, Mang?”
“Ini, kembalian kacang rebus.” Tukang kacang mengeluarkan uang dari sakunya.
Gigit malah mengambil dompetnya. Dia mengambil dua lembar uang seratus ribuan dan menambahkannya ke dalam tangan tukang kacang.
“Buat Mamang saja, sekalian aku nitip motor di rumah Mamang ya, besok aku ambil.” Gigit baru teringat motornya yang masih ada di sana, bersanding dengan gerobak kacang rebus.
Tukang kacang berbinar, dua bungkus kacang rebusnya dibeli seharga dua ratus lima puluh ribu.
“Siap, A. Motornya saya jagain,” sahut tukang kacang rebus.
“Terima kasih ya, Mang.” Gigit menyandarkan punggungnya, bahunya masih terasa ngilu. Mobil meluncur meninggalkan TKP, diiringi tatapan gembira tukang kacang.
Pak Rt dan yang lainnya membawa Yadi dan anak buahnya ke pos satpam terdekat. Mereka menelefon polisi.
“Sebentar Pak, boleh kan saya menelefon orang tua saya?” tanya Yadi.
“Silakan, itu lebih bagus, biar mereka tahu perbuatan kamu. Masih muda sudah belajar jadi mafia," kata Pak Rt.
Yadi melirik Atang dan temannya.
“Bodoh!” gumamnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama dua mobil dengan pelat mobil polisi datang. Dua orang berseragam turun, membawa Yadi terpisah dari Atang dan temannya. Barang bukti mereka bawa dari TKP.
bersambung