
Diajari hantu. Begitu kata isi hati Andrea saat ini. Hantu Restu telah membuatnya sadar, untuk lebih berpikir jernih dalam melakukan sesuatu.
Dari kemarin dia sudah bertindak seenaknya kepada teman-temannya. Padahal, mereka yang telah berusaha menolongnya dari sekapan Yadi. Kalau tidak ada mereka, entah apa yang akan terjadi kepadanya saat itu.
Selama ini aku selalu berpikir kalau hanya Dale yang mampu menjadi penjagaku, padahal tanpa dia, hidupku juga beruntung, karena mempunyai sahabat seperti mereka.
“Git, kita pulang saja dulu ke rumah uak aku.” Andrea bicara pelan.
Gigit menoleh dari jok depan.
“Kamu yakin?” tanya Gigit. “Katanya mau ke air terjun.”
“Masih ada waktu sehari lagi, besok pagi saja.”
“Jadi, kita ke mana sekarang, Neng?” tanya Pak Supri yang juga sudah terlihat lelah. Andrea jadi semakin merasa bersalah.
“Ke jalan provinsi lagi, Pak. Dari sana kita terus lurus. Pak Supri tahu daerah Babakan?”
“Tahu, Neng.”
“Kampung Ua di sana.”
“Siap, Neng.”
Azan magrib berkumandang. Di masjid besar kota kabupaten mereka berhenti, untuk salat dan istirahat sambil mengisi perut.
Ren dan Zellina sudah tidak mengeluh lagi. Mereka terlihat semakin membaik, walaupun belum punya nafsu makan.
“Aku belikan cilok saja ya, kalian kan suka.” Andrea merayu Ren dan Zellina yang terduduk lesu di dalam restoran, memandangi makanan yang tersaji.
“Cilok pedas enak dan segar sepertinya,” kata Andrea lagi.
Ren melirik. “ Memang ada?” tanyanya. Mendengar cilok, dia sedikit tergoda.
“Ada dong, sebentar, aku cari di luar.” Andrea pergi ke luar. Dia pergi ke tempat biasa dia jajan kalau sedang liburan.
Kota ini adalah kota kecil, hampir semua tempat jajanan dia hafal. Dulu dia sering bermain ke sini diajak kakeknya bersama Dodo.
Tidak memakan waktu lama, Andrea sudah datang dengan dua kantong besar cilok.
“Banyak amat,” kata Gigit.
“Biar puas,” sahut Andrea. “Cilok di sini berbeda, lebih enak dari cilok yang ada di sekolah. Coba saja, pasti ketagihan.”
Ren tergoda juga oleh promosi Andrea, dia mulai memakan cilok yang merah dan panas, terlihat menyegarkan di hawa dingin sepergi itu.
Dan promosi Andrea berhasil, Ren kembali menusuk cilok ke dua. Zellina ikut mencicipi, sampai akhirnya keduanya menikmati cilok yang panas dan pedas itu. Mulai lupa dengan mi goreng hantu yang selalu membuatnya mual jika mengingatnya.
Tadi mereka selalu membayangkan, jika mi yang mereka makan itu adalah cacing, jadinya mual terus.
“Benar, Ndre, ciloknya enak.” Ren bicara sambil menggigit tusukan ke empat aci berisi daging cincang itu.
“Akhirnya, ada sinyal juga.” Zellina kegirangan. Dia membuka pesan yang masuk ke gawainya. Tidak berapa lama ponselnya bersuara lucu, nut ...nut ... Wajah Zellina merengut.
“Kenapa?” tanya Ren.
“Baterai habis,” katanya.
Ren tertawa. “Sudah sih, lupakan dulu media sosial sejenak. Nikmati liburan mendadak ini.”
“Kulihat grup ramai, ada apa ya?” tanya Zellina.
"Masa?" tanya Ren.
Andrea tersenyum melihat kedua sahabatnya itu mulai sehat. Wajah mereka mulai berdarah lagi, segar.
Ren membuka gawainya. Dia memeriksa grup chat kelasnya. “Kita dicari polisi!" seru Ren.
Zellina terkejut. “Kenapa?” dia merebut gawai yang dipegang Ren.
“Pasti soal Yadi.” Gigit ikut bicara.
“Bagaimana ini, apa kita akan ditangkap?” tanya Zellina.
“Enggak lah, Zell. Ditangkap karena apa? paling jadi saksi.” Andrea menimpali.
“Aku enggak mau.” Zellina merengek.
“Kalau enggak mau, baru ditangkap.” Ren menakut-nakuti. Zelllina semakin ketakutan.
“Pak Supriiii ....”
“Ck, Zell! Kebiasaan deh, bikin kuping orang pengeng!” seru Ren.
Pak Supri yang sedang menyeruput kopi di meja lain segera menghampiri.
“Ya, Non?”
“Aku tidak mau diperiksa polisi.”
“Polisi?”
“Iya, Pak Supri saja ya,” perintahnya.
“Iya, Non, siap!”
Andrea dan Ren geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zellina.
“Pak Supri merangkap pengacaramu, Zell?” tanya Andrea.
“Apa saja juga bisa,” sahut Zellina.
“Bi Cicih kirim pesan beberapa kali, Ndre. Sebaiknya kamu hubungi dia, dari kemarin dia khawatir. Sepertinya ibumu juga."
Andrea menghidupkan gawai yang dia matikan sejak dari rumah. Tetapi tidak mau menyala.
“Ponsel aku mati.”
Ren memeriksanya, retak rambut kusut terpampang nyata pada layarnya.
“Mungkin terbentur waktu jatuh kemarin. Atau kena air, soalnya aku temukan ponsel ini di parit kecil dekat trotoar.”
Andrea mencoba menyalakan lagi, tetapi tidak mau menyala. "Waktu pertama aku mu diculik juga udah retak sih, tapi masih bisa dipakai. Sekarang parah retaknya."
"Minta ganti rugi tuh sama Yadi!" Zellina mendengus. Perasaannya sekarang berubah sembilan puluh sembilan persen kepada Yadi. Menyebutnya juga tidak pakai Kakak lagi seperti kemarin.
__ADS_1
"Ck, jangan! Nanti malah lebar lagi masalahnya," sahut Ren.
Gigit menatap Andrea. “Pakai punyaku.” Gigit memberikan gawainya.
"Boleh?" Andrea berbinar.
Gigit mengangguk tampan, Andrea menerimanya, lalu menghubungi nomor Bi Cicih dari Ren.
Terdengar nada dering pribadi, dangdut koplo panturaan. Andrea goyang jempol.
**
Pukul sepuluh malam, mereka sampai di rumah Bu Nisma.
Andrea menyuruh Pak Supri untuk memarkir mobil di halaman luas tanpa pagar, di bawah pohon jambu air, dekat kolam kering.
Andrea mengetuk pintu rumah besar milik almarhum kakeknya itu. Teman-temannya menunggu di tembok teras dengan wajah lelah dan kedinginan. Sehari semalam mereka bertualang, rasanya sudah rindu dengan bantal dan selimut hangat.
“Assalamualaikum, Ua, Aa!” panggil Andrea.
Tok! Tok! Tok!
Dia kembali mengetuk pintu.
“Sepi sekali, Ndre. Seperti daerah tidak berpenghuni.” Ren melihat kiri kanan.
“Ini kampung, mereka rata-rata sudah tidur.” Andrea menjawab.
Terdengar pintu dibuka. Seorang perempuan paruh baya keluar, dengan wajah bantal. Gamis yang dipakainya terlihat hangat.
“Uaaa ....” Andrea menubruk Bu Nisma, lalu memeluknya.
“Neng? Ya Allah, Andrea ada di sini?”
Bu Nisma melihat Andrea dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Ya Allah, maafkan Ua, Geulis, maafkan Ua ....” Bu Nisma kembali memeluk Andrea. “Bagaimana ibumu?”
Andrea memandangi wajah uaknya, tidak mungkin dia menceritakan keadaan ibunya sekarang.
“Ua sehat? Maaf, Andrea tidak tahu kalau Ua juga sakit.” Andrea tidak melihat wajah sakit pada Bu Nisma.
Bu Nisma tersenyum, seperti biasa dia membereskan rambut Andrea yang acak-acakan di bahu. “Alhamdulillah, Ua sudah mendingan.”
Mereka berpelukan lagi.
Andrea tidak mau melepaskan pelukannya di tubuh Bu Nisma, dia terlalu membutuhkan itu. Sampai lupa di sana ada teman-temannya yang hanya bisa terdiam melihat kemanjaan Andrea kepada uaknya.
“Ini siapa?” Bu Nisma melihat ke arah mereka.
Andrea juga baru menyadari, kalau dia datang rombongan.
“Oh, aku lupa. Kirain kalian menghilang kayak kelompoknya Zigonk tadi,” kata Andre, sambil senyum-senyum.
Ren mendelik. “ Hmm, sudah sampai saja, lupa dengan kita.”
Andrea meloncat, dia memeluk Ren. “Iya maaf. Ua, ini teman-teman aku, kelelahan dan kedinginan, tolong ditampung."
Bu Nisma terkekeh melihat Ren dan Zellina cemberut.
“Saya Zellina.”
“Saya Gitara.”
Bu Nisma menyalami mereka dengan ramah. Senyum keibuannya membuat mereka nyaman. Kecantikannya juga masih terpancar, meskipun usianya sudah senja. Pantas saja Andrea sering memuji dia.
“Panggilnya Ua saja, seperti Andrea, ya!"
“Baik, Ua,” jawab Ren.
“Kalau U a ini ....”
“Ua, Zell, bukan u a,” protes Ren. "Tanpa spasi."
“Oh iya, disatukan ya? Kalau Ua ini siapanya Andrea?” tanya Zellina.
“Ua aku lah,” sahut Andrea.
“Maksud aku ... Ehm ... bagaimana ya tanyanya.” Zellina garuk-garuk kuping.
"Ua ini kakaknya ayah aku Zell," ujar Andrea.
“Ua itu sama dengan Bude, Zell” Ren menjawab. Di tahu Zellina keturunan Jawa, jadi belum paham silsilah Sunda, meskipun tinggal di tatar Sunda.
“Oh, begitu? Kalau Bude aku juga tahu, dan punya banyak.”
“Kalau aku hanya satu, ini doang, makanya harus dijaga, hehe.” Andrea meraih tangan Bu Nisma. “Kita tidak disuruh masuk Ua?”
“Ya Allah, Ua sampai lupa, ya atuh sini masuk, dingin. Eh, itu siapa?” Bu Nisma menunjuk Pak Supri yang berdiri di bawah pohon jambu air.
“Itu, Pak Supri. Pak, sini masuk! mau jadi penunggu pohon jambu?” tanya Andrea.
Pak Supri maju ke depan. “Bu,” hormatnya kepada Bu Nisma.
“Pak Supri ini juga dari sini, Ua," kata Andrea
“Oh iya? Dari mana?”
“Kawali, Bu.”
“Ooh, caket atuh.”
“Sumuhun.” Pak Supri terbungkuk-bungkuk mengiyakan, lalu menghadap ke Zellina.
”Non, kalau boleh, saya mau menginap di kampung saya saja, sekalian menengok Emak. Biar mobil mah saya tinggal saja di sini. Kalau tahu Non ada keperluan, tinggal telfon saja." Pak Supri bicara dengan ragu-ragu kepada Zellina.
“Oh, begitu? Pak Supri mau tinggalin aku?” Zellina merengut.
“Itu juga kalau boleh, Non.” Pak Supri terlihat tidak enak hati.
“Sudah tidak apa-apa, Zell. Kamu juga kan enggak sendirian. Kasihan Pak Supri, kangen sama orang tuanya.” Andrea memegang bahu Zellina yang monyong, manjanya tiada dua.
Pak Supri menunduk. "Tidak apa-apa, Neng. Saya di sini saja."
Ren dan Gigit melihat Zellina. Mereka menyesal ketika mengetahui rasa ketergantungan Zellina pada Pak Supri sangat tinggi.
__ADS_1
"Kamu aman, Zell, meskipun tanpa Pak Supri, kan ada Pak Gigit," seloroh Gigit.
Ren tertawa tertahan.
“Iya, Kawali dekat kok, masa sudah dekat tidak mampir. Pasti emak sama bapaknya Pak Supri juga kangen.” Bu Nisma ikut membujuk Zellina.
“Kamu kan sama kita, Zell. Satu malam berpisah sama Pak Supri sampai segitunya,” kata Ren. "Sama mama papa kamu juga berpisah berbulan-bulan kamu masih hidup," lanjutnya
Andrea mencubit pinggang Ren, untuk menyuruh Ren diam. Kalau Zellina sudah monyong begitu, manjanya kumat, berabe, semua orang jadi bulan-bulanan dia.
“Ya sudah, tapi besok ke sini lagi ya!” Akhirnya Zellina mengizinkan. Semua bernafas lega.
“Siap, Non. Jangan khawatir.” Pak Supri semringah. “Den, nitip kunci mobil mana tahu diperlukan.” Dia segera menyerahkan kunci mobil kepada Gigit, takut Zellina berubah pikiran.
“Kan saya sudah bilang, saya bukan Pak Raden,” kata Gigit. “Terus Pak Supri ke sana pakai apa?”
“Tenang saja, Den, eh ... Git, banyak ojek di depan.”
“Ooh, ya sudah. Hati-hati ya, Pak.”
Pak Supri berpamitan, dia senang sekali mau bertemu ibu dan sanak keluarganya. Sudah lama dia tidak pulang kampung.
“Ayo masuk, dari tadi tidak jadi masuk.” Bu Nisma menggiring mereka seperti bebek masuk kandang. “Kalian istirahat dulu, sudah malam.” Bu Nisma berjalan mau menunjukkan kamar untuk mereka.
“Ua,” kata Andrea.
“Iya, Geulis?” Bu Nisma berbalik.
Andrea ragu-ragu untuk bicara. “Ua istirahat saja, biar aku urus mereka. Ua kan baru sembuh.”
“Ya sudah kalau begitu.” Bu Nisma masuk ke kamarnya.
Seperti biasa, Andrea memilih kamar kakeknya. Walaupun masih banyak kamar kosong, tetapi Andrea mengajak Ren dan Zellina untuk tidur bersama di sana. Untuk Gigit, tentu saja di kamar sendiri, bersebelahan dengan kamar Dodo.
“Ini kamarku kalau sedang liburan di sini.” Andrea meloncat ke ranjang, dia langsung merebahkan diri. "Banyak kenanganku bersama kakek di rumah ini." Andrea menerawang.
Ren dan Zellina melihat sekeliling kamar yang lumayan nyaman itu. Isinya masih memakai furnitur jaman dulu, dari kayu jati yang terlihat kokoh. Barang pajangan juga terlihat antik. Menandakan kakek Andrea dulunya seorang yang berada.
Melihat barang-barang antik, Ren jadi teringat secret bodyguard utusan kakeknya Andrea.
“Ndre, si Lele ....” Ren tidak meneruskan ucapannya.
Andrea melirik Zellina yang sedang mengeluarkan alat-alat mandinya yang baru dibelinya di mini market tadi.
“Ndre, aku mandi dulu.” Zellina melihat sekeliling kamar.
“Yakin mau mandi?” tanya Andrea.
“Setidaknya cuci muka, dan gosok gigi.”
“Dari ruang makan kamu belok kanan, di sana kamar mandinya.”
“Di luar kamar? Oke, never mind.” Zellina membuat bolongan dengan jarinya.
Setelah Zellina keluar, Ren kembali bicara dengan Andrea.
“Dari kemarin aku mau tanya, si Lele masih ada kan?” tanya Ren.
Andrea membuang nafas. “Itulah, maksud aku ke sini juga demi dia. Dale tertangkap, dan ditawan musuhnya.”
Ren mengernyitkan dahi. “Kok bisa?”
“Kemarin dia menyadarkan ibuku, kekuatannya terkuras. Dia tidak berdaya ketika ada yang menangkapnya. Aku butuh dia, Ren. Aku harus membebaskannya.” Andrea menekur.
"Tentu saja, kita semua butuh dia, mamaku juga." Ren ikut menekur. "Kamu tahu cara membebaskannya?"
Andrea mengangguk. "Lyla yang memberi tahu."
"Lyla?"
"Jin tusuk konde Bu Anis."
Ren terbelalak. "Kamu bertemu dia?"
"Shttt ... Ternyata dia cantik sekali, Ren, kayak artis Korea."
"Wahh ...." hanya itu yang bisa Ren katakan.
"Lyla membawa pesan, aku bisa membebaskan Dale, dengan air tujuh sumur dari gunung di selatan tanah Sunda."
“Jadi, itu sebabnya kamu tega meninggalkan Ibu di rumah sakit? Demi si Lele?"
Andrea mengangguk pelan. “Tetapi bukan itu saja, aku juga harus bicara dengan Ua.” Dia mengeluarkan kertas lecek yang berisi surat perjanjian Tante Dina dan Om Azi.
“Aku takut, Ren," lanjutnya.
Ren menutup mulutnya ketika tahu isi perjanjian itu. “Ibumu sudah berpikir sejauh ini?”
“Aku tidak mau jadi anak mereka, tetapi ini sudah di sahkan hukum, Ren. Lihat, ada tanda tangan pengacara juga. Aku tidak mau ibuku meninggal, Ren.” Andrea mulai menangis.
Ren memeluknya.
“Sudah, Ndre, sekarang kamu tinggal bicara dengan Ua. Aku yakin dia punya solusinya.”
Andrea menyusut air matanya, karena Zellina masuk. Dia menggigil kedinginan padahal hanya cuci muka doang.
"Giliran kamu, Ren," kata Zellina dengan gigi gemeletuk.
“Aku mau mengabari Papa dulu, sama anak-anak.” Ren menyimpan kertas surat perjanjian ke dalam tas Andrea.
“Ya sudah, aku ke kamar Ua dulu. Kalau mau cari baju, banyak bajuku di lemari, kalian pakai saja.”
Andrea keluar kamar. Dia menuju kamar Bu Nisma. Tetapi dilihatnya beliau sudah tidur. Andrea tidak ingin mengganggunya.
Dia tidak jadi masuk, menutup kembali pintu kamar Bu Nisma. Bertepatan dengan itu, Gigit juga keluar dari kamar depan.
“Belum tidur, Ndre?” tanya Gigit.
Andrea menggeleng. Dia mengamati penampilan Gigit. “Aku carikan baju buat kamu.”
Andrea berjalan menuju kamar Dodo. Dia mengacak-acak lemari Dodo. Sebuah kaos dan celana trening tebal dia berikan kepada Gigit. “Pakai nih, punya sepupu aku.”
Gigit menerima baju dari Andrea. Andrea berjalan ke kamarnya, tetapi Gigit menarik tangannya. Jantung Andrea berdegup kencang. Membayangkan, cowok itu mengajaknya mengendap-endap di malam sunyi.
bersambung
__ADS_1