My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 79 Rahasia Besar


__ADS_3

Mang Ohen memeriksa obat yang diberikan Bu Nisma.


"Saya apakan ini, Juragan?" tanya Mang Ohen.


"Makan!" seru Bu Nisma. "Kamu kan yang beli, kamu juga yang harus lenyapkan. Dasar tidak berguna, semua tidak ada yang diandalkan. Aaargghh!" Bu Nisma melonggarkan syal di lehernya. "Aku tidak sudi, sedikitpun harta ayahku dimbil anak itu."


Mang Ohen menunduk. Diremas-remasnya kantong obat di tangannya.


Bu Nisma membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam mobil, diikuti Mang Ohen yang meringis-ringis menahan perut. Wajahnya seperti tertekan, harus mendampingi Bu Nisma. Mereka segera pulang. Dodo bersembunyi di balik pohon karet.


Banyak pertanyaan dalam benaknya, setelah mendengar dan melihat ibunya bersama Mang Ohen, lelaki tua yang sudah lama bekerja di keluarganya.


Tindak-tanduk ibunya sangat berbeda dari biasanya. Dodo merasakan keganjilan yang sangat besar.


Lama dia melamun di kebun karet peninggalan kakeknya itu.


Selama ini dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak tahu apa yang telah dilakukan ibunya di belakangnya. Ibunya mengurus semuanya sendiri, tanpa pernah memaksanya untuk terlibat.


Kemarin ibunya pernah mengeluh, tidak bisa mengurus peninggalan kakeknya itu sampai mengancamnya untuk menjual semuanya di depan Andrea, dan ibunya.


Tetapi rupanya itu hanya gertak sambel, karena semuanya masih tetap utuh. Ibunya juga tidak pernah membahasnya lagi dengan dirinya.


Sebenarnya siapa yang dimaksud ibunya? siapa yang akan merebut hartanya?


Andrea?


Bukankah dia memang mempunyai bagian dari harta kakeknya itu?


Berbagai pertanyaan muncul di kepala Dodo, dia jadi pusing sendiri.


Kalau benar maksud ibunya itu Andrea, Dodo sangat menyesal. Padahal, selama ini dia sudah menyalahkan Andrea dan ibunya yang dianggap ingin enaknya saja, tidak mau mengurus peninggalan kakeknya.


"Aku harus minta penjelasan dari Mbu." Dodo bergumam.


Ibunya sedang asyik menyulam ketika dia datang. Kaca mata plus bertengger di hidungnya. Dia terlihat santai, seolah tidak pernah ke mana-mana, dan tidak terjadi apa-apa.


“Do, kamu dari mana?” tanya Bu Nisma. Melihat sepatu anaknya yang kotor, seperti habis berjalan dari tanah basah.


Dodo terdiam, dia membuka sepatunya. Bu Nisma pandai sekali berakting, dia terlihat tidak mengetahui apa yang terjadi pada Andrea dan teman-temannya. Padahal Dodo mendengar sendiri, dia membicarakan mobil yang diperbaiki bengkel.


“Dari belakang,” sahut Dodo.


“Belakang mana?” alis Bu Nisma bertautan.


“Kebun karet belakang.”


Bu Nisma sedikit terkejut, tetapi dia tidak perlihatkan berlebihan.


“Tumben, biasanya kamu paling anti main ke kebon.” Bu Nisma meneruskan menyulam.


Dodo tidak menjawab, dia mengeloyor masuk ke dalam rumah. Dia tahu ibunya pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Andrea. Dia jadi bingung sendiri, apa yang harus dia lakukan untuk mencari tahu semuanya.


Dia tidak mungkin langsung menuduh ibunya begitu saja tanpa bukti yang jelas. Sedangkan dia hanya menduga-duga saja.


Ibunya sangat menyayangi Andrea, seperti kepada anaknya sendiri, masa tega membuatnya nyaris celaka.


Dodo melirik kamar kakeknya. Dia membuka pintunya, lalu masuk. Dodo merebahkan tubuhnya di ranjang kakeknya itu.


Banyak sekali kenangan dia bersama kakeknya, karena sejak kecil dia bersamanya. Sedangkan Andrea hidup di kota, kedekatan dengan kakeknya tentu tidak sebanyak dia.


Andrea, dia sebenarnya sangat menyayanginya. Sifatnya yang manja dan kekanakannya dulu tidak menjadi masalah.


Tetapi semua berubah ketika cemburu merasukinya. Entahlah, kenapa dia harus secemburu itu kepada Andrea sekarang.


Mendengar namanya seperti mendengar seorang pengacau bagi kehidupannya.


Dodo mengusap kasur yang sempat ditiduri Zellina juga. Gadis itu kini sudah jadi pacarnya, bahkan mungkin telah jadi belahan jiwanya.


Dia tidak membayangkan jika mobil itu benar-benar masuk ke jurang.


Dodo bangun, duduk di tepi ranjang. Menekuri lantai, lalu menutupi wajahnya dengan tangan.


“Akh!” geramnya.


Dia teringat percakapan ibunya dengan Mang Ohen. Jelas sekali ibunya memberikan obat anti mabuk kepada Mang Ohen. Dia jadi curiga Pak Supri meminum itu sebelum menyetir, dan itu akan jadi kesalahan Pak Supri, seandainya mobilnya benar-benar masuk jurang.


Dodo bangkit, menemui ibunya yang sekarang sedang menyeduh teh di dapur.


“Do, mau teh? Udara dingin pisan Mbu kedinginan.” Bu Nisma membenarkan letak syal di lehernya.


Dodo ragu untuk bertanya. Dia mengambil gelas, menuangkan air putih dan meminumnya. Walau bagaimana pun dia ibunya, tidak mungkin dia menuduhnya macam-macam.


“Aku pergi dulu, Mbu.”


“Ke mana?”


“Mbu istirahat saja, di luar dingin.”


Dodo berlalu. Bu Nisma menghisap uap teh aroma melatinya dalam-dalam.


Terdengar raungan motor Dodo, berlari menjauh.


Dodo menemui Mang Ohen, pengelola kebun sekaligus orang kepercayaan ibunya.


Mang Ohen sedikit terkejut melihat Dodo di rumahnya. Mobil pick up milik ibunya ada di sana.


Mang Ohen terlihat kurang sehat, wajahnya pucat dan lesu.


“Den Dodo, ada apa?” tanyanya. Selama ini anak majikannya hampir tidak pernah mau mengurusi apa pun, hidupnya hanya untuk dirinya sendiri. Makan, minum, buang hajat, dan main. Selayaknya anak juragan.


“Ada perlu dengan Mang Ohen.”


“Oh, mari silakan duduk,” ujar Mang Ohen.


Dodo masuk ke teras rumah Mang Ohen.

__ADS_1


“Mang Ohen tahu mobil yang membawa Andrea remnya blong?” Dodo langsung ke pokok masalah. Dia sudah bingung harus bagaimana.


“Uhukk! Uhukk!!” Mang Ohen mengelus dadanya. Pertanyaan Dodo langsung membuatnya drop, menaikkan asam lambungnya, yang selama ini dia jaga dengan tidak memakan makanan pedas dan asam.


“Kenapa, Mang?” tanya Dodo, melihat Mang Ohen menahan nyeri di perut sambil terbatuk-batuk.


“Euh, asam lambung Mamang beberapa hari ini sedang kambuh, Den.” Mang Ohen bernafas berat.


Dodo tersenyum sinis, dia merasa Mang Ohen sedang mencari alasan. “Asam lambung itu obatnya antimun, Mang?” tanyanya.


Mang Ohen semakin meringis. Menahan sakit di lambungnya, dan sesak di dadanya.


Istrinya keluar. “Bapak kenapa?”


“Tidak apa-apa, hanya sakit perut,” sahut Mang Ohen.


“Mang Ohen sudah seminggu ini sakit, Den. Dia tidak mau diajak berobat,” kata istrinya.


Melihat istrinya yang khawatir, Dodo jadi kasihan dan tidak enak. Mang Ohen benar-benar sakit. Setelah beberapa lama, dia berdiri.


“Kalau begitu sepertinya Mang Ohen butuh istirahat, saya permisi saja.”


Dodo melangkah pergi.


“Den, tunggu sebentar.” Mang Ohen memanggilnya. Dia menghampiri Dodo dengan dituntun istrinya. “Emak ke dalam saja, Bapak tidak apa-apa,” kata Mang Ohen kepada istrinya.


Istrinya menurut, dia masuk ke dalam, dengan wajah khawatir.


“Sebaiknya Mamang istirahat saja,” kata Dodo. "Nanti aku balik lagi."


Mang Ohen mengajak Dodo duduk.


“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya ceritakan. Ini tentang Juragan istri.”


Sepertinya Mang Ohen ingin meringankan beban pikirannya.


Dodo menekur, sudah menduga ini semua ada hubungannya dengan ibunya.


“Kenapa, Mang?”


Mang Ohen tidak segera bicara, dia seperti berat.


“Sebenarnya, beliau sedang merencanakan untuk menghabisi semua keluarga Juragan Danu.” Mang Ohen bicara pelan, dia juga menyebut nama ayahnya Andrea.


Dodo mengernyitkan dahi. “Kenapa?”


Akhirnya Mang Ohen menceritakan semuanya kepada Dodo, dia merasa tidak bisa memendam itu seorang diri, sampai akhirnya sakit seperti itu. Dia stres, dan sakit maag.


Mang Ohen akhirnya menceritakan sebuah rahasia besar yang selama ini dipendamnya.


Dari awal dia tidak setuju dengan tindakan Bu Nisma, tetapi dia malah diancam.


Menurut Mang Ohen, kakeknya Dodo ternyata mempunyai harta yang sangat banyak. Bukan hanya perkebunan, sawah, dan pabrik karet. Tetapi juga simpanan emas batangan yang dia peroleh dari leluhurnya. Berkilo-kilo beratnya.


Setelah ditelusuri oleh Bu Nisma, harta itu ternyata diturunkan kepada Danu, anak laki-lakinya. Karena menurut aturan keluarganya, yang berhak menyimpan harta itu adalah anak laki-laki.


Bu Nisma tidak terima, karena yang mempunyai anak laki-laki itu dirinya, sedangkan almarhum adiknya itu mempunyai anak perempuan. Andrea.


Tetapi pihak notaris, tidak bisa begitu saja menyerahkan harta itu, karena yang berhak mengambil harta itu hanya Danu, atau ahli warisnya. Itu juga jika dia sudah berumur tujuh belas tahun.


Dalam keluarga mereka mungkin ada peraturan yang berhak memegang harta itu adalah anak laki-laki, tetapi dalam peraturan hukum, genre tidak menjadi acuan. Tetapi, yang lebih berhak untuk mengambil harta itu tetap Andrea, karena dia keturunan langsung Danu.


“Mamang tahu dari mana?” tanya Dodo.


Mang Ohen menerawang. “Mamang sudah menjadi badega Juragan Karsijan sejak kecil, Den. Juragan juga yang mengajarkan saya menyetir, dan selalu mengajak saya untuk bertemu notaris itu.”


Dodo tidak terkejut, tetapi dia diam saja, bingung harus berkata apa.


“Sebelum Juragan Danu meninggal, masalah ini juga sudah muncul. Bu Nisma bahkan sempat marah kepada ayahnya. Sampai Juragan Danu mengalah, dia bilang tidak menginginkan harta itu, demi kedamaian kakak dan ayahnya. Tetapi Juragan Karsijan tetap tidak mau menyerahkan harta itu.”


“Kenapa Aki sampai tidak mau memberi sedikit pun hartanya kepada Mbu, apa ada hubungannya dengan ayah aku, Mang?” tanya Dodo.


Dia memang tidak mengenal ayahnya, karena meninggal ketika dia masih dalam kandungan, dan itu ada hubungannya dengan Dale.


Mang Ohen menunduk. “Iya, Den. Ayah Aden dulu pernah berusaha mencuri harta itu, dan ibu Aden membantunya.”


Dodo mengusap wajahnya, jadi jelas sekarang, siapa yang tamak.


Selama ini dia dibutakan oleh perlakuan ibunya kepada Andrea, seolah sengaja membuatnya cemburu, dan membenci adiknya itu.


Pikirannya telah diracuni, dan dijadikan siasat, agar Andrea dan dirinya jauh, tidak akur, bahkan mungkin biar Andrea tidak berlama-lama di sini. Apalagi saat ini umur Andrea menjelang tujuh belas tahun.


Tetapi Andrea adik yang baik, dia tetap menyayanginya, walaupun selalu dibuat kesal oleh perlakuannya.


“Mamang sebenarnya sudah lama memendam ini sendirian, bingung harus bagaimana. Kemarin, Juragan istri sudah melampaui batas. Dia menyuruh Mamang membereskan Neng Andrea, tetapi Mamang tidak mau. Beliau malah menyuruh orang lain.”


“Siapa?”


Mag Ohen terdiam sejenak. “Asep.”


“Hah? Jadi? Kejadian di gunung itu suruhan Mbu?"


Mang Ohen mengangguk.


“Asep sebenarnya mau mengutak-atik mobilnya waktu masih di gunung, tetapi teman Neng Andrea datang. Mereka memukulinya karena dia menegurnya."


"Pak Supri?" tanya Dodo.


"Supri itu siapa, Den?" Mang Ohen benar-benar tidak tahu siapa Pak Supri. Karena selama ada Andrea, Mang Ohen dan Bi Ecin dilarang datang Bu Nisma.


"Dia sopir yang membawa mobil temannya Andrea."


"Oh, jadi dia namanya Supri. Iya, Den. Juragan istri mencampurkan dua butir antimun ke dalam kopinya. Saya awalnya tidak tahu obat itu untuk apa," sesal Mang Ohen.


Dodo menghempaskan punggungnya ke kursi kayu teras Mang Ohen. Dia sudah menduganya, Pak Supri over dosis.

__ADS_1


"Mudah-mudahan dia tidak apa-apa," gumam Dodo. Kalau terjadi apa-apa dengan sopirnya, kasihan Zellina kekasihnya.


"Ibu Aden sudah persiapkan semuanya matang-matang, jika mobil itu benar-benar mengalami kecelakaan, tentu sopirnya yang akan disalahkan, karena meminum obat tidur."


Pintar sekali ibunya itu. Tetapi dia tidak tahu, kalau Andrea mempunyai seorang penjaga yang setia. Akan senantiasa menjaganya dari segala macam bahaya.


Dodo berdiri. “Aku permisi, Mang.”


“Den Dodo mau ke mana?”


“Pulang.”


“Den,” panggil Mang Ohen.


Dodo memandangi wajah orang kepercayaan dari sejak kakeknya masih hidup itu. Ada khawatir di sana, juga lelah.


“Mang Ohen tidak usah khawatir, aku akan melindungi Mang Ohen sekeluarga.”


"Terima kasih, Den. Mamang lega, Den Dodo bisa mengerti. Mamang yakin, Den Dodo akan selalu melindungi Neng Andrea juga."


"Dia adikku, Mang."


Mang Ohen tersenyum, lalu membungkuk.


Dodo melajukan motornya dengan cepat, dia akan menemui Asep. Pantas saja sejak pagi ibunya melarang dia menemuinya, ternyata mereka ada urusan duluan.


Brakk!!


"Kehed!" Seseorang mengumpat dari dalam warung kecil yang selalu dijadikan markas oleh Dodo dan teman-temannya. Dia kaget, karena tiba-tiba pintu warung ditendang seseorang sari luar.


"Eh, Bos!" Nceng yang mengumpat. "Kirain siapa," lanjutnya, dangan wajah ketakutan.


"Mana si Asep?" tanya Dodo.


Nceng menunjuk Asep yang sedang duduk ditemani pacarnya. Mereka sedang cekikikan sambil makan bakso.


"Banyak duit, euy?" tanya Dodo dari belakangnya.


Asep menoleh. "Eh, Bos." Asep berdiri.


Belum sempat dia berdiri tegak, kepalan tangan Dodo mendarat di wajahnya.


Bukk!!


Asep terjengkang sambil memegangi mulutnya. Bibirnya berdarah. Pacarnya menjerit, menjauhi mereka.


Dodo menatapnya. Meja tempat mereka makan diangkat dan dibanting oleh Dodo.


Pemilik warung tidak berbuat apa-apa, karena tahu, Dodo pasti akan menggantinya. Dia sudah tahu sifat Dodo.


"Tenang, Bos, aya naon ieu?"


"Maneh bohong!" teriak Dodo.


"Bohong apa?" tanya Asep, dia memohon agar Dodo tidak memukulnya lagi.


Nceng dan Ujang yang ada di sana hanya bisa terdiam, melihat bos besarnya mengamuk.


"Dibayar berapa kamu sama Mbu?" tanya Dodo.


Asep menunduk, dia masih memegang-megang mulutnya yang kena tonjok.


"Aa sudah tahu?"


Dodo ingin kembali melayangkan tinjunya, tetapi Ujang dan Nceng memegangi tangannya.


"Kita minta maaf, A. Sebenarnya Asep sudah menolak, tetapi Mbu memaksa." Nceng membela Asep.


"Kamu juga ikut?" berang Dodo.


Nceng menggeleng. "Saya tidak tahu, si Asep baru cerita tadi."


"Kamu?" Dodo menatap Ujang.


"Tidak tahu juga, sama kayak Nceng." Ujang ketakutan. "Saya kira, Asep benar naksir sama Neng Andre," lanjutnya.


Dodo tidak tahu harus percaya atau tidak kepada mereka, yang jelas dia sekarang sudah seperti orang bodoh, dibohongi teman-temannya sendiri.


"Aku peringatkan kalian, lihat saja, kalau sampai ada yang lecet pada kulit adikku!" Dodo berbalik, melangkah ke luar.


"Sebaiknya Aa peringatkan Mbu Aa, dia akan melakukan apa saja kepada Neng Andrea." Asep bicara. Terdengar seperti tantangan bagi Dodo.


Dodo kembali menatapnya. "Jangan pernah ikut campur dengan urusan keluargaku! Awas kamu, Sep!" Dia tidak menerima juga jika ada yang berani menjelek-jelekkan ibunya.


Asep kembali menunduk. Dodo keluar, membanting pintu warung lagi, sampai engselnya copot.


"Si Aa mau ganti enggak ya?" tanya Bi Yayah. Dia melihat Dodo pergi begitu saja dari warungnya, tanpa mau memberi ganti rugi seperti biasanya.


"Nih, aku yang ganti, Bi." Asep menyodorkan dua gepok uang ke Bi Yayah. Dia merasa uang yang diterimanya tidak akan membuatnya tenang.


"Ambil yang Bi Yayah butuh, selebihnya nanti berikan kepada A Dodo."


Asep menyambar jaketnya, menghampiri pacarnya dan pergi dari sana dengan lesu.


Dia sudah mengira ini akan terjadi, dan sudah siap jika persahabatan mereka akan tiba-tiba hancur lebur.


"Sepertinya aku jadi ke kota, Neng." Asep menatap wajah pacarnya. Pacarnya balik menatap dengan mimik wajah menyesal.


bersambung


* kebon \= kebun


* pisan \= banget


* aya naon ieu \= ada apa ini?

__ADS_1


__ADS_2