My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 72 Ritual Pembebasan


__ADS_3

Di puncak gunung.


“Sudah bisa menghubungi pengelola?” tanya Andrea kepada tiga orang pendaki yang bersamanya saat ini.


Dari tadi dia mendengar suara dari dasar jurang. Seperti rintih kesakitan seorang perempuan.


Andrea sengaja menunda perjalannya, demi menolong dia yang mungkin saja terperosok, dan tidak ada yang mengetahuinya. Untung saja ada tiga orang itu lewat.


Dia sendiri diburu waktu, satu air terjun lagi yang harus didatangi. Dikeluarkannya botol kecil dari ranselnya, lalu digenggamnya.


“Sudah, mereka akan datang, tenang saja,” kata salah seorang dari mereka.


Andrea yang meminta salah satu dari mereka menghubungi pengelola tempat itu, karena ponselnya mati.


Seorang lagi turun dengan merayap-rayap di tebing, mencoba melihat lebih dekat ke dalam jurang.


“Terlalu dalam,” ujarnya. Suaranya menggema.


Teman-temannya segera membantunya lagi untuk naik. Terlihat batu-batu kecil berjatuhan karena terinjak, suaranya terdengar sampai ke atas.


"Uuhh ...." Suara itu terdengar lagi.


“Kalian mendengarnya kan?” tanya Andrea, dengan mata melebar. Dia yakin itu suara perempuan.


Mereka berpandangan, lalu mengangguk. “Ooh, iya, dengar kok." Mereka berkata berbarengan.


"Tetapi, yakin itu manusia?” tanya salah satunya, kepada temannya.


"Jangan-jangan ...." Seorang lagi bicara sambil menyipitkan mata. Andrea ikut-ikutan menyipitkan mata.


“Aah, tidak mungkin, masa siang-siang begini ada hantu berkeliaran."


"Atau jangan-jangan itu rintihan nikmat.”


Mereka tertawa.


“Heh! Jadi begini kelakuan pendaki? Mana jiwa penolong kalian? Tidak pernah ikut Pramuka? Bagaimana kalau dia saudara kalian?" Andrea bicara sengit, dia yang lumayan lelah emosi juga mendengar senda gurau mereka.


“Waduh, santai, Neng geulis. Yang datang ke sini juga banyak yang bawa pacar, tidak heran kalau sesekali ada yang cari kesempatan, di sini kan sepi.” Pendaki yang mengatakan ‘rintihan nikmat’ itu menggerak-gerakkan alisnya, sambil tersenyum.


Andrea tersenyum sinis, tidak menyangka mereka ternyata berotak mesum.


“Atau jangan-jangan, kamu belum pernah punya pacar ya?” dia menghampiri Andrea, mencoba ingin menjawil Andrea.


“Jangan kurang ajar ya!” hardik Andrea.


“Ya belum atuh, lihat saja naik gunung juga sendirian.” Temannya ikut menggoda. "Ditemani botol," ucapnya lagi.


Pendaki otak mesum itu semakin mendekati Andrea dengan senyum-senyum tengil.


Andrea memperhatikan mereka, sepertinya bukan orang-orang terpelajar. Dia takut juga, dan mundur beberapa langkah.


“Galak juga. Tapi tidak apa-apa, Aa suka cewek galak.”


“Heh! Berani satu langkah lagi, aku teriak,” gertak Andrea.


“Oh, kalau satu langkah Aa tidak berani, nanti Neng masuk jurang, tetapi kalau satu ciuman Aa pasti berani.”


Dia menengok kepada teman-temannya. Temannya di belakang tertawa-tawa. Andrea sendiri sudah mentok melangkah, karena dua jengkal lagi kakinya menginjak jurang.


Pendaki mesum itu semakin dekat. Andrea bersiap untuk menubruknya. Dalam keadaan terjepit seperti itu membenturkan diri pada lawan akan lebih baik, daripada mati konyol jatuh ke dalam jurang.


“Ndre!”


Sebuah teriakan mengejutkan mereka. Ketiga pendaki itu mundur, lalu cepat-cepat pergi dari sana.


Andrea sangat lega, karena yang datang Dodo dan pengelola wisata, dengan alat-alat mendaki di pundak.


“Aa,” panggil Andrea lagi.


Dia berjongkok lemas. Bersyukur Dodo datang tepat waktu.


Ketika sedang berjongkok itu, dia mendengar rintihan lagi, lalu mencoba menengok dari bibir jurang untuk memastikan.


Tetapi sayang, tanah yang dipijaknya tidak stabil. Kakinya menginjak tanah yang gembur dan terperosok.


"Aaaaaaaahhhh ....." Andrea merasakan tubuhnya seperti melayang di udara. Bayangan ibunya, Gigit, Ren, dan Zellina muncul silih berganti. Dia merasa akan mati di dalam jurang. Tetapi dia masih ingat pada botol di genggamannya.


Digenggamnya lebih erat.


“Ndreeeee!!!” Teriakan Dodo terdengar nyaring di telinganya.


Andrea merasakan beberapa kali tubuhnya membentur sesuatu, lalu berguling ke bawah. Badannya tersangkut, kepalanya juga terbentur sesuatu yang keras. Lalu akhirnya berhenti, setelah punggungnya menghantam tanah.


Andrea masih sadar ketika terdengar teriakan dari atas, tetapi dia tidak bisa mengangkat kepalanya. Botol tetap digenggamnya erat-erat, demi Dale.


Tiba-tiba semuanya gelap, dia tidak sadarkan diri.


“Biar aku yang turun. Dia adikku!” kata Dodo dengan suara gemetar.


"Bisa mendaki?" tanya pengelola.


Dodo tidak menjawab, dia mengambil tambang, memakai sabuk pengaman dan mengaitkan tali gantung.


Mereka segera mengikat tambang dan membantu Dodo turun.


Untung saja Andrea jatuh tidak sampai ke dasar jurang, sehingga mereka masih bisa melihat tubuhnya dari atas.


Dodo turun melewati batuan cadas, dan sampai dengan cepat. Entah apa yang mendorongnya bisa senekat itu, karena dia sama sekali tidak berpengalaman mendaki. Kalau naik motor dia jagonya, di jalanan lengang apalagi.


“Ndre, kamu masih sadar?” tanyanya. Tangannya gemetar, melihat darah di kepala Andrea.

__ADS_1


"Ndre, sadar, Ndre!" serunya lagi.


Andrea akhirnya sadar, dia mendengar kembali suara Dodo.


“Aa,” lirihnya.


“Alhamdulillah kamu masih sadar. Tenang, Ndre, ada Aa di sini.” Dodo memeluk Andrea. Meskipun kesal, dia tetap adiknya, tidak mungkin tega melihat dalam keadaan seperti itu.


Mereka berpelukan. Dodo melihat ke dasar jurang. Tanah tempat mereka berada sangat riskan untuk longsor lagi. Dodo berusaha untuk mencegah Andrea melihat ke bawah.


"Kamu tetap begini, jangan melihat ke bawah. Kita ada yang bantu kok, kamu tenang saja." Dodo berusaha membuat suasana agar tidak panik, padahal dia sendiri ngeri melihat kedalaman jurang di bawahnya. Sewaktu-waktu bisa menelan mereka tanpa mengunyahnya dulu.


“Aa ... maafin ... aku, selalu ... bikin ... kesal.” Andrea bicara lirih dan terbata, matanya terpejam.


Dodo mengusap kotoran di pipi Andrea.


"Aa ... mau ... maafin ...aku?" Andrea bicara lagi, suranya melemah.


“Sudah, Ndre. Kamu jangan banyak omong dulu.” Dodo tidak suka melihat adiknya seperti sedang dalam melepaskan ujung nyawa.


Dodo mendongak ke atas. Harapannya sangat banyak kepada orang-orang di sana.


“Turunkan tambang!” teriaknya. Suaranya menggema, memantul pada tebing.


Orang-orang di atas segera menghubungi rekan yang lainnya, meminta bantuan membawa peralatan lainnya.


“Tunggu! Kalian bertahan, kita sedang memanggil bantuan," teriak mereka. "Jangan banyak bergerak dulu!" lanjut mereka.


Dodo memandangi wajah Andrea yang pucat. Di khawatir dengan luka di kepalanya. “Ndre, kamu pusing?”


Andre mengangguk. Dia membuka mata. “Aa ... maafkan ... aku.” Andrea kembali meminta maaf.


"Tidak ada yang harus dimaafkan, Ndre. Kamu tidak salah apa-apa sama Aa."


Andrea tersenyum kecil, sambil menahan sakit. Dia senang, Dodo masih peduli padanya, masih menyayanginya.


“Ndre. Sebenarnya kamu sedang apa di sini?" Dodo melihat botol kecil yang dipegang Andrea. "Kamu, diapain si Dale?" tanya Dodo.


Dodo tahu botol itu milik kakeknya, pernah dipakai ritual kakeknya di puncak ini juga. Tetapi dia tidak tahu ritual apa.


Andrea membuka mata sedikit, menatap Dodo dengan wajah heran. “Aa ....”


Dodo sedikit gugup. Dia mendongak lagi ke atas.


Akhirnya mereka tidak ada yang bersuara. Andrea merasa sangat nyaman berada dalam pelukan kakaknya itu.


Andrea tidak menyesal harus jatuh ke jurang, karena akhirnya dia menjadi tahu, selama ini Dodo hanya ngambek biasa. Dalam hati kecilnya, dia tetap Dodo yang dulu, yang selalu menyayanginya sebagai adik sendiri.


Dari tebing mereka melihat matahari sudah menggelincir ke barat. Warnanya kemerahan, senja sebentar lagi tiba.


Belum ada tanda-tanda mereka memberikan tambang. Dodo dan Andrea diam tidak bergerak.


“Aa, kenal Dale?” tanya Andrea. Suaranya semakin lemah. Sakit di kepalanya semakin parah.


Dodo tidak menjawab.


Andrea membuka telapak tangannya, memandangi botol keramat itu. “Satu air terjun lagi ... Dale bisa bebas. Aa ... tolong aku, aduuhh ....” Andrea mengerang sambil memegang kepalanya.


“Kamu menemukan ini di mana?”


“Bersama ... gembok.” Andrea menjawab dengan mata terpejam. Dia merasa sangat pusing.


"Dale, sedang di tawan ... tentara kerajaan," lirih Andrea lagi.


Andrea menggenggam botol kaca itu.


Dodo tidak menyangka akan jadi begini. Jin itu dia selundupkan untuk mengganggu Andrea di kota, biar adiknya itu menderita, dan tahu rasa.


Rupanya, mereka malah berteman. Buktinya, Andrea berusaha keras menyelamatkan jin itu.


“Ndre,” panggil Dodo. Andrea masih terpejam.


“Aa ... aku ... harus ... selamatkan ... Dale, aku ... butuh dia.”


“Dia tidak mengganggumu?”


Andrea menggeleng lemah. “Dale menjagaku ... selamatkan Ibu. Dia juga ... harus selamatkan guru aku."


Dodo menekur, dia menatap wajah Andrea yang terpejam kesakitan.


“Woyy! Kami akan turunkan tambang!” teriakan dari atas menggema di jurang. “Kalian berlindung!” teriaknya lagi.


Dodo melindungi Andrea dengan merapatkan tubuhnya ke tebing, takut ada material yang jatuh dari atas.


Tambang mengulur, Dodo segera menerimanya. Dia memakaikan sabuk pengaman dan tali gantung kepada Andrea.


Keringat bercucuran dari tubuh Dodo. Andrea tidak berdaya, dia merasa tubuhnya tidak bertenaga. Dodo menggendongnya di punggung, walaupun Andrea juga memakai tali gantung.


“Ayo, Ndre. Aa dampingi kamu.” Dodo mendongak ke atas lagi. “Kami sudah siap!” teriaknya.


Dengan bersusah payah, Dodo dan Andrea berhasil naik. Mereka ditolong oleh beberapa orang.


Andera dibaringkan di atas tandu. Dodo terduduk lemas, baju dan celananya kotor.


“Aa,” lirih Andrea.


Dodo segera melepas peralatan yang menempel di tubuhnya.


“Sudah, Ndre, kamu aman.”


“Aku mau bebaskan Dale,” lirih Andrea, dia berusaha untuk bangkit, tetapi ditahan Dodo.

__ADS_1


"Kamu jangan nekad, kamu harus mendapat perawatan, Ndre." Dodo bicara dengan terangah.


"Tapi, A ...."


Dodo mengambil botol kecil yang digenggam Andrea. "Biar Aa saja," ucapnya.


Andrea menangis terharu. Tidak menyangka Dodo begitu banyak berkorban untuknya.


"Terima kasih, Aa ...."


"Kamu sekarang kembali ke bawah, jangan banyak pikiran." Dodo menggenggam tangan Andrea.


“Bagaimana dengan suara dari dasar jurang?” tanya salah satu penolong. “Kamu benar mendengarnya?” tanyanya kepada Andrea.


Andrea mengangguk lemah. Dia memang tadi mendengarnya, sebelum terjatuh. Tetapi ketika di bawah tadi, dia tidak mendengar apa-apa.


“Sebaiknya kita cari dia juga, sebelum malam.” Salah seorang pengelola memakai peralatan panjat tebing.


“Bagaimana dengan adik saya?” tanya Dodo.


“Kita akan membawanya turun segera.”


“Kalau begitu saya titip dia,” kata Dodo.


Petugas itu mengangguk. Dia segera mengevakuasi Andrea dengan menandu.


Dodo memandangi Andrea sampai jauh. Dia menggenggam botol kaca, lalu berlari mendaki ke puncak lebih tinggi.


Orang-orang di sana hanya bisa melihatnya dengan heran.


Pencarian suara dari dasar jurang tidak membuahkan hasil. Mereka akhirnya menghentikan pencarian, dan menganggap itu hanya halusinasi Andrea saja.


"Sepertinya dia ditarik," kata salah satu dari mereka. Maksud perkataannya dimengerti oleh teman-temannya. Mereka sedikit merinding.


"Bisa jadi."


"Dia sendirian?"


"Sepertinya begitu. Untung kakaknya datang. Nekat dia, turun tanpa peralatan yang benar."


Mereka membereskan peralatan dan segera pulang.


Senja tiba, suasana sudah semakin gelap, tetapi Dodo tidak menghentikan langkahnya untuk sampai di air terjun ke tujuh.


Letih seusai panjat tebing, tidak dia hiraukan. Beberapa kali kakinya terantuk batu dan akar pohon, Dodo tetap berjalan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Andrea, jika Andrea tetap nekat pergi ke sana sendirian.


"Keras kepala," gumam Dodo.


Akhirnya dia sampai di air terjun ketujuh. Lalu cepat diambilnya sebotol air.


Dodo mengangkatnya tinggi-tinggi, dia pernah melihat kakeknya melakukan itu.


Waktu itu, dia ikut ke air terjun ini dengan membonceng sepeda motor kakeknya. Dia disuruh mandi dan menunggu di air terjun pertama.


Diam-diam, dia mengikuti kakeknya. Itulah mengapa dia menjadi tahu kalau kakeknya punya sebuah gembok dan botol itu. Dan juga Dale, jin konyol yang pernah juga jadi teman hari-harinya.


Air dalam botol kaca menyurut, lalu hilang tanpa bekas. Dodo juga baru mengetahui itu.


“Den,” panggil seseorang. Dodo terperanjat.


"Silaing?" tanya Dodo.


“Terima kasih.” Dale merunduk, dengan merapatkan kedua tangannya. Seperti seorang yang menyembah.


“Rupanya kalian malah berteman,” gumam Dodo.


Dia berbalik, berjalan pulang, meninggalkan Dale begitu saja.


"Den," panggil Dale lagi, dia sudah ada di sampingnya.


"Aku bukan juraganmu lagi, kenapa masih mengikuti aku?"


"Terima kasih, sudah menolong saya. Meskipun Aden bukan juragan saya lagi, saya tetap hormat kepada Aden."


Dodo mempercepat langkahnya, hari sudah gelap.


"Aden marah sama saya?" Dale mulai cerewet.


"Iya," jawab Dodo.


"Marah kenapa?" tanya Dale lagi. Jin tampan itu tidak tahu kesalahannya sendiri, sehingga mantan juragannya itu menggembok dia lagi.


Dodo tidak menjawab. Dia tetap melangkah dengan lebar.


"Kenapa dandanan kamu jadi seperti itu?" tanya Dodo.


"Ini Neng Andrea yang suruh, saya mana bisa menolak."


"Tentu saja, kamu harus menuruti semua perintahnya. Ya sudah sana, temui dia!"


"Saya masih kangen sama Aden." Dale mesam-mesem. "Kangen main kelereng, dan ngerjain teman-teman Aden."


"Ck, aku sudah besar. Sana cepat temui Andrea, dia membutuhkan kamu."


"Neng Andrea kan tidak manggil," jawab Dale.


Dodo lupa, Dale sekarang tidak akan menuruti perintahnya. Dia akan menurut kalau Andrea yang bicara. Dodo membiarkan makhluk itu melakukan apa saja sesuka hatinya. Termasuk, mengambil buah apa saja yang ditemui sepanjang jalan.


bersambung


Silaing \= Kamu

__ADS_1


__ADS_2