
Tintiiin!
Suara klakson motor mengalihkan Andrea dari cakwe pedas yang sedang dinikmatinya. Andrea memberi isyarat kepada ibunya untuk menunggu sebentar.
“Pulang duluan ya. Aku dijemput ibuku.” Andrea menepuk bahu Ren.
Ren yang sedang mengantre di tukang cilok melihat ke arah Yuli. Meninggalkan sejenak kerumunan penggemar cilok untuk menyapa ibunya Andrea.
“Tante ….” Ren mencium tangan Yuli.
“Pulang sama siapa, Ren?”
“Biasa, ojek, Tan, ini udah order.” Ren mengacungkan gawainya.
“Ooh, kalau gitu kita duluan ya.”
“Iya, hati-hati, Tan, Ndre!”
Andrea dan Yuli segera berlalu dari hadapan, Ren. Ren memandangi mereka dengan tatapan sedih. Dia sedih bukan untuk mereka, tetapi untuk dirinya sendiri.
Dia punya orang tua yang lengkap, keduanya masih hidup, tetapi mereka seperti tidak ada. Berbeda dengan Andrea, meskipun tinggal punya ibu, tetapi dia kelihatannya seperti masih mempunyai orang tua lengkap. Bahagia-bahagia saja.
“Mang, cilok!” panggilnya, kerumunan sudah lengang. Tukang cilok semangat melayani.
Ren segera menghampiri dan membayar. Butir demi butir cilok sudah dikunyahnya, ojek online yang dipesan belum juga muncul. Ren memeriksa gawainya, ternyata pesanannya cancel.
Order online kadang tidak menjamin selalu bergerak cepat seperti di iklannya.
Seekor kucing kampung lewat di depannya. Ren jadi teringat acara Zellina besok. Dia berjalan gontai. Sesekali melihat gawai, orderan belum ada yang ambil. Wajahnya makin merengut, kusut, serupa cucian kering belum disetrika.
**
“Dulale Dulale westin wergan wesma werma.” Andrea mencatat mantra itu di telapak tangannya. Membacanya berulang sampai hafal. Sejak di sekolah mantranya selalu saja terbalik ucap. Kalau ngga werma dulu, wergannya yang lupa kesebut.
"Repot amat sih bikin mantra, bukannya yang singkat aja." Andrea merutuk sendiri.
Dia memejamkan mata sambil bersila di kamarnya. “Dulale Dulale westin wergan weww … Eh, salah.” Andrea beringsut, membuka pintu. Melongokkan kepala, takut ada yang mengetahui aksinya.
Setelah merasa aman dia menutup pintu, menguncinya dengan pelan.
“Dulale Dulale westin … wergan … wesma … werma,” gumamnya sambil memejamkan mata. Hening, tidak ada yang datang. Cecak di dinding kamarnya juga terdiam.
“Oiya, lupa.” Andrea menepuk keningnya sendiri. Dia lupa menyimpan jempolnya di hidung.
Dia mulai lagi, memjamkan mata kali ini dengan jempol di hidung. “Dulale Dulale westin wergan wesma werma ….” Andrea menjentikkan jempolnya.
“Neng ....” Dale memanggilnya.
Andrea membuka mata, lalu beringsut lagi merapat ke dinding.
“Neng manggil saya?”
“Eh, euhh … I … iya,” jawab Andrea gugup. “Coba mantra,” lanjutnya.
Dale ngangguk-angguk.
“Ooh ….”
“Ngga apa-apa kan?”
“Ya ngga apa-apa atuh, Neng. Saya malah senang, berarti Neng sudah percaya sama saya.”
“Enak saja, aku hanya percaya sama Allah, Tuhan."
“Oh, gitu ya?” Dale cengar-cengir. "Bagus itu," lanjutnya.
Andrea sudah mulai yakin, dirinya bisa menerima keberadaan Dale. Dia berusaha untuk tidak takut lagi.
Sebenarnya Dale jin yang menyenangkan, orangnya polos dan lucu. Selain itu dia juga tidak seperti kebanyakan jin yang Andrea tahu dari film-film, datang berasap dengan wajah seram, rambut separo, item, gendut, tua, atau cebol. Jauh banget.
Dale itu ganteng, dandanannya walaupun jadul tetapi rapi. Pangsi hitamnya bersih, Dale juga pakai sendal yang talinya sampai ke atas pergelangan kaki, seperti sendal pendekar. Rambutnya lurus rapi dihiasi ikat kepala dari kain, seperti iket kepunyaan kakeknya. Kulitnya sawo matang.
Badannya juga ramping, kalau bukan sesosok jin mungkin Andrea juga bakal naksir, karena kalau dilihat-lihat wajah Dale mirip dengan artis favoritenya, Fedilo Nurilo.
“Eh, ceritain dong tentang kamu,” kata Andrea. Dia berdiri, lalu duduk di kursi belajarnya.
“Cerita apa, Neng?”
“Apa saja, asal-usul kamu gitu.”
“Ooh, panjang ceritanya enggak apa-apa, Neng?”
“Sepanjang apa sih?”
“Yaa, sepanjang umur saya.”
“Memang umur kamu berapa tahun?”
__ADS_1
Dale menghitung dengan jari-jarinya. “Seribu lima ratus tahun, kurang lebih ....”
“Busyet.” Andrea menutup mulutnya. “Kamu ketemu kakek umur berapa tahun?”
“Kurangi saja lima puluh tahun, saya bertemu Juragan sekitar lima puluh tahun yang lalu, ketika Juragan masih muda.”
“Kok kamu keliatan masih muda?”
“Memang usia segitu di negeri saya mah masih muda, Neng.”
Andrea mengetuk-ngetuk meja belajarnya, dipandanginya Dale, sekarang dia yakin, Dale bisa menjadi teman. Buktinya dia nyaman.
“Kamu lapar enggak? Oiya, makanan kamu apa? Kemenyan?”
Dale tertawa. “Neng mah menyamakan saya dengan jurig jarian. Ya enggak atuh, saya makannya buah-buahan. Banyak di hutan, tidak usah masak, hemat BBM.”
Andrea mengangguk-angguk, pantas saja wajah Dale cerah berseri tanpa minyak, wajah khas vegetarian.
Eh, dia itu Jin apa kalong ya? Batin Andrea.
Wangi ayam goreng menyeruak. Andrea mendadak lapar. “Aku lapar, bentar ya. Jangan kemana-mana!”
“Siap, Neng.”
Andrea beranjak. Perutnya memang sedang lapar, karena sekarang saatnya makan malam. Dia keluar kamar, menuju meja makan.
“Tumben, belum dipanggil sudah muncul,” ledek Yuli sambil menyimpan ayam goreng ke piring.
“Lapar.” Andrea segera menata makanan di piring. “Aku makan di kamar ya, Bu.”
“Lhoo, Ibu makan sendirian dong.”
“Maaf ya, aku butuh privasi.” Andrea segera masuk kamar, setelah sebelumnya mengambil sebuah pisang dan sebuah apel.
Yuli geleng-geleng kepala. “Kalau begitu, tidurnya juga jangan numpang lagi.” Yuli berteriak.
“Gimana nanti,” seru Andrea dari dalam kamar.
“Nih!”
“Waaah, terima kasih, Neng. Jarang-jarang saya makan ini.” Dale yang masih berdiri di kamarnya terlihat semringah.
“Memang selama ini makan apa? Duduk dong, kamu enggak pegal berdiri terus?”
Dale duduk di karpet.
“Ngga apa-apa, Neng, saya enak begini.” Dale mengupas pisang dengan kaki ditekuk sebelah, sebelah lagi selonjor. “Dihutan buah yang ditemui paling manggis, sawo, salak, duku, kedondong, kalau lagi beruntung makan durian.”
“Wuiihh, jangan-jangan itu bukan di hutan, kebun orang, hahaha ....” Andrea tertawa.
“Ndre!” Yuli memanggil.
Andrea mendekap mulutnya. Dia menyuruh Dale untuk sembunyi. Dale menurut saja, dia masuk ke kolong, tapi kemudian keluar lagi.
“Saya enggak akan kelihatan sama orang lain, Neng," bisiknya.
Andrea termenung. “Ooh,” bisiknya juga. “Apa, Bu?” teriaknya.
Yuli membuka pintu, ditangannya ada segelas air minum. Andrea sedang asyik makan sambil melototi gawai di antara buku-buku sekolahnya.
“Kamu tertawa kenapa?”
“Ooh, ini.” Andrea menunjuk video dari youtube.
“Ibu kira sama siapa.” Yuli masuk, menyimpan air minum untuk Andrea. “Malam ini tidur di sini?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Yakin, Ibu senang kan? Direcoki anaknya beberapa malam saja enggak boleh.”
“Gerah, Ibu enggak bisa tidur.” Yuli beralasan.
“Alah, tidur Ibu sampai kerek begitu, bilang enggak bisa tidur.”
Yuli mengacak-acak rambut Andrea. “Selesai makan, cuci piring, gosok gigi, ibu mau tidur. Itu kulit pisang buang ke tempat sampah! Kamu kok simpan buah di lantai sih, Ndre?” Yuli menunjuk kulit pisang dan apel di lantai.
“Iya, lupa.”
“Jangan mengendap-endap ke kamar Ibu, Ibu akan kunci.”
“Iiihh, Ibuuu ....”
Andrea tidak bisa terus merengek karena ibunya sudah berjalan keluar kamar.
Sekilas melirik punggung ibunya, bahunya kelihatan sedikit berbeda, ada lelah di sana.
__ADS_1
Dale yang mulai menggigit apel ikut melihat Yuli.
“Kenapa, Neng?” tanyanya, ketika melihat Andrea termenung.
“Ngga apa-apa. Aku kasihan melihat Ibu. Sendirian bekerja demi keluarga ini.”
“Ibu Neng hebat atuh, Neng harus mencontoh kerja kerasnya. Neng harus jadi orang sukses lebih dari ibu.”
“Ah, aku malah malas sekolah, biar enggak usah meneruskan kuliah, kan Ibu jadi tidak usah mikirin biaya.”
“Lhoo, justru kalau Neng tidak sukses, bagaimana dengan masa tua ibu Neng nanti?”
Andrea menatap Dale, merasa apa yang diucapkan jin itu benar juga.
Selama ini dia suka menyepelekan sekolah, karena tidak ingin sekolah tinggi. Tetapi dia tidak memikirkan masa depannya, ibunya juga tentu akan semakin tua dan pensiun. Dia yang harus bertanggung jawab dengan hidup beliau.
“Yaahh, mau bagaimana lagi, aku terlanjur malas. Dapat teman sekelas juga pemalas semua. Ikuti pelajaran asal-asalan. Nilaiku pas-pasan, Dal. Melanjutkan juga hanya akan membuang-buang biaya doang. Kasihan kan ibuku."
“Untuk belajar, tidak ada kata terlambat, Neng. Percayakan sama Dale, Neng Andre mau nilai seperti apa?”
Andrea melebarkan matanya. “Kamu bisa membantu aku?”
Dale mengangguk.
“Aah, PR matematika waktu itu juga salah semua.”
“Saya tidak tahu harus menyontek yang mana.” Dale garuk-garuk.
“Kamu nyontek?”
“Iya.”
“Duhh, ternyata bantunya nyontek.” Andrea sekarang yang garuk-garuk kepala. “Eh, ngomong-ngomong kamu nyontek dari siapa PR kemarin?”
“Dari teman Neng yang suka gigiti pulpen.”
“Ooh, pantas saja, si Inzel.”
Ingat Zellina Andrea menepuk keningnya. “Aku lupa besok ada acara ulang tahun," seru Andrea. Dia buru-buru mencari sesuatu di laci.
“Cari apa, Neng?”
“Kado, apa ya kira-kira?”
“Ini aja, Neng.” Dale memegang sepasang sepatu kaca.
Andrea terbelalak, sepasang sepatu Cinderella terlihat berkilau. Dia mengambil dan memadanginya, lalu tertegun.
"Masa sepatu kaca?"
“Ngga cocok ya, Neng? Kalau begitu ini.” Dale meyodorkan tiara, mahkota bersusun tiga.
Andrea mundur-mundur, seperti melihat hiasan kepala seorang ratu.
Dale mengeluarkan gaun none Belanda.
Andrea menggeleng.
Kemudian Dale berpikir, mulutnya manyun-manyun.
“Sudah, Dal. Ngga usah! Yang ulang tahun bukan seorang putri, tetapi kucingnya,” kata Andrea.
“Ooh,” sahut Dale.
Andrea memandangi barang-barang antik di ranjangnya.
“Dal, bisa bawa lagi barang-barang itu?” tanyanya pelan, takut membuat Dale tersinggung.
“Siap, Neng!” Dale menghilangkan barang-barang jadulnya, lalu tersenyum kepada Andrea.
“Biar aku beli saja besok, di minimarket.” Andrea cengengesan. “Aku ngantuk, sebaiknya kamu pergi saja.”
“Siap, Neng.” Dale raib dari hadapan Andrea.
“Huhh!” Andrea membuang nafas. “Barang-barang jaman dulu banget, jangan-jangan punya Ratu ...." Andrea tidak melanjutkan gumamnya, dia jadi sedikit merinding.
Jam di dinding menunjuk ke angka sembilan, rumahnya sudah sepi, ibunya pasti sudah tidur.
Setelah cuci piring dan bersih-bersih Andrea mengendap-endap di depan kamar ibunya, mendorong hendel pintu. Dikunci.
“Haduuuhhh ...,” lirihnya, lalu kembali ke kamarnya, berbaring dan berselimut sampai kepala.
“Ibu tega banget,” gumamnya. Baru sebentar keringat membanjiri tubuhnya. Dibukanya selimut, lalu melihat langit-langit kamarnya.
“Kenapa takut, dia kan ganteng.” Andrea senyum-senyum sendiri. “Anggap saja aku punya pengawal. Pengawal rahasia, secret bodyguard," gumamnya lagi.
terima kasih sudah membaca, jangan lupa dilanjut ke episode selanjutnya yaa
__ADS_1
ditunggu jejak dan sawerannya 😁😁