
Pagi Ren kurang menyenangkan, berulang kali dia membaca pesan yang dikirim Gigit subuh tadi. Gaduh kelasnya tidak dia hiraukan.
Dia membayangkan bagaimana sedihnya Andrea sekarang. Sebagai sehabat, dia menyesal tidak ada di dekatnya, ketika dia mendapat musibah.
Padahal, selama ini Andrea yang selalu ada untuknya ketika dia sedang terpuruk, sampai akhirnya keterpurukan itu perlahan sirna, itu juga berkat Andrea.
Sebenarnya hari ini aku ingin sampaikan berita baik tentang mamaku, Ndre, kamu malah tidak ada. Ren membatin.
"Reeeen! Tolong aku!" Zainal memekik, kaos kakinya dipakai mainan oleh geng Akri. Tetapi teriakannya tidak terdengar oleh Ren, dia benar-benar sedang memikirkan keadaan Andrea, sahabatnya.
Salsa yang baru selesai menjadi objek video Rani dan Dewi menghampiri Ren.
“Hai Ren, Andrea belum datang? Tumben banget, kemana dia?"
Ren memperlihatkan pesan di gawainya. “Dia tidak masuk hari ini, ibunya masuk rumah sakit.”
“Sungguh? sakit apa?” Salsa membaca pesan.
“Belum tahu, aku tidak bisa menghubunginya. Aku kasihan sama dia, di sini kan mereka tidak ada saudara.”
"Terus ini pesan dari siapa?" Salsa membaca pengirim pesan. "Gigit? Namanya kok Gigit, dia siapa?" Salsa mengernyitkan dahi.
"Dia temannya, temanku juga sih. Anak SMU Negeri." Ren merebut gawainya dari Salsa.
"Ooh, lucu banget namanya, Gigit. Hrrggh ...." Salsa menirukan suara anjing marah.
"Gimana dong, Sa, aku kasihan sama Andrea, dia pasti sedih sekali." Ren terlihat resah.
“Ya sudah, kita ke sana saja,” ajak Salsa.
Zellina yang mendengar percakapan mereka dari bangkunya pura-pura tidak peduli, dia meneruskan menggigiti kuping pulpen hello kitty kesayangannya sambil mendengarkan musik.
“Aku sudah kena peringatan, tidak bisa izin ketika pelajaran berlangsung.” Ren memijit keningnya.
“Oh, iya ya. Terus bagaimana dong?”
Ren mengangkat bahu. Dia berdiri untuk memberi tahu teman-temannya.
“Mohon perhatiannya teman-teman, please. Hari ini teman kita, Andrea, mendapat musibah. Ibunya masuk rumah sakit dan sekarang mengalami koma.”
Kelas menyepi perlahan. Sebandel-bandelnya mereka, tetap punya hati. Sedih juga mendengar sahabat mereka sedang ada dalam kesulitan.
“Sejak kapan?” Joni bertanya. Dilemparkannya kaos kaki Zainal kepada yang punya. Zainal misuh-misuh.
“Aku mendapat kabar subuh tadi, sepertinya dibawa semalam.”
“Kita ke sana.” Akri berdiri.
“Aku ikut.”
“Gue juga.”
“Iya, yuk!”
“Lets go!”
“Cuss ....”
“Ke mana?” Zainal yang sedang mengenakan kaos kaki menegakkan punggungnya, persis bebek ketemu pasukan.
Ren segera menghentikan mereka yang sudah bersiap pergi.
“Sebentar! Kalian tidak bisa seenaknya ke sana rombongan begini. Rumah sakit jauh dari sini, tidak akan bisa semudah itu diizinkan guru piket.”
“Kenapa? Itu mah elu kali, pernah ketahuan bolos.” Akri tersenyum sinis.
Ren cemberut. “Gue, tidak bermaksud bolos.”
“Terserah, lu.” Akri membentak.
“Lagian sekarang kan pelajaran matematika, Bu Raisa tidak akan masuk meskipun disogok duit miliaran,” kata Joni.
“Ya iyalah, siapa yang mau menyogok sebesar itu,” sahut Dewi, dia segera memasang kameranya.
“Gaes, aku salut dengan empati kelas ini ketika mendengar salah satu teman kami ada yang kena musibah, ramai-ramai ingin menengok, meskipun yaah ... bisa jadi, hanya modus. Tetapi, aku salut dengan kekompakan kelasku. Semoga ibunya Andrea cepat sembuh. Buat Andrea, tetap semangat, badai pasti berlalu, we miss you, Ndre.” Dewi menyiarkan langsung videonya di akun media sosial miliknya.
“Dew ... Aku rasa tidak perlu deh,” kata Ren.
“Aku atur pemirsanya kok, Ren,” sahut Dewi.
“Iya nih, Dewi, tidak izin dulu ke Andrea.” Salsa ikut bicara.
"Iya, itu bisa melanggar kode etik, Dewiiii ...." Zainal sok pintar.
“Iya, sori, aku hapus? tetapi sudah terlanjur banyak mata dan jempol nangkring nih,” sesal Dewi.
Teriakan, “uh.” Menggema di kelas, tutup pensil dan remasan kertas bekas gorengan berterbangan ke arah Dewi dan Rani.
Brakk! Brakk!!
Tiba-tiba suara pintu digebrak. Semua seperti mengenal suara itu, lalu bareng-bareng melihat ke arah pintu.
“Bu Anis?” hampir semuanya mengatakan itu, termasuk Ren.
“Assalamualaikum,” salam Bu Anis, berjalan tegak membawa leher jenjangnya. Suara hak sepatu dan jidar kayunya susul menyusul di lantai kelas. Kilatan tusuk konde kembali menerangi kelas pagi itu.
“Wa alaikumsalam.” Anak-anak menjawab serentak. Mereka beringsut pergi ke tempat duduk masing-masing.
__ADS_1
Fany menurunkan komiknya, memandang heran kepada Bu Anis dan cepolnya. Dia melirik bangku kosong di sebelahnya, lalu geleng-geleng kepala. “Lebay,” gumamnya.
“Nah, hari ini saya kembali. Kalian suka?” Bu Anis memandang kelas berkeliling, anak-anak didiknya tidak bersuara.
Pandangannya berhenti ketika matanya melihat Ren. “Mauren, apakahn teman-teman kamu suka? Kenapa mereka diam saja?”
“Tentu saja, Bu. Kami semua senang Ibu kembali." Ren berdiri lalu bicara kepada teman-temannya, “teman-teman, bukankah ini yang kita inginkan?”
Kelas mengangguk, masih tanpa suara, semua masih terkejut. Ren kembali duduk dengan wajah rikuh.
Andrea tidak ada, aku yang kena deh, rutuknya dalam hati.
“Bagus. Saya hanya memastikan, kehadiran saya di kelas ini lagi bukan karena keinginan Mauren dan Andrea saja yang beberapa kali datang ke rumah, untuk membujuk dan memohon kepada saya. Sekarang kalian siap belajar lagi?”
“Siap, Buuuuu ....” Kali ini sekelas menjawab serempak. Ren lega.
“Bagus.” Bu Anis mengeluarkan buku absen. “Andrea,” panggilnya.
Ren menunduk. “Andrea tidak hadir, Bu.”
“Kenapa?” Bu Anis mengernyitkan dahi, baru menyadari muridnya hilang satu.
“Izin menjaga ibunya, semalam koma, sekarang di rumah sakit.” Ren semakin menunduk, dia sedih, Andrea tidak menikmati momentum ini, hasil dari perjuangannya membujuk Bu Anis. Harusnya dia ada di sini, menikmati jerih payahnya, karena Andrea adalah orang yang paling berusaha keras ingin Bu Anis kembali lagi ke kelas ini.
Bu Anis menarik nafas panjang. “Baiklah, nanti hal itu kita bicarakan lagi.” Dia segera melanjutkan mengabsen.
Kelas tertib, belajar seperti sebelumnya, meskipun harus diselingi gelegar jidar di papan tulis, ketika ada yang tidak bisa menjawab pertanyaan. Walaupun begitu, dalam hati mereka senang, guru kesayangan kembali pulang.
Bu Anis beberapa kali melemparkan pandangan pada jendela kaca, kelebat resah terpancar dari netranya. Sawah yang luas membentang, terlihat lengang, si empunya tidak datang.
**
Di rumah sakit.
“Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” Andrea menyongsong dokter yang keluar setelah melakukan visit ke ruang ibunya.
Dokter memandangi Andrea. “Kerabat yang lain tidak datang?”
“Belum, Dok, mungkin ua saya masih di perjalanan, terkena macet.”
“Kondisi Bu Yuli cukup mengkhawatirkan, sebaiknya segera dilakukan operasi pengangkatan tumornya.”
“Lakukan saja, Dok, saya mohon, jika itu demi kesembuhan ibu saya,” rengek Andrea.
Dokter menarik nafas dalam-dalam. “Sayangnya itu juga belum menjamin, posisi tumornya sedikit rumit, jadi kami harus dapat persetujuan mutlak dari keluarga pasien yang sudah dewasa, kamu masih di bawah umur. Dan, kami juga harus menunggu dokter ahli yang sekarang masih ada di luar negeri.”
“Jadi bagaimana dengan ibu saya?” Andrea putus asa. Kristal di matanya terbentuk lagi.
“Kita hanya bisa menunggu dokter ahli datang. Ehm, selain itu, saya juga mau menyampaikan, biaya yang harus disediakan juga cukup besar. Ini harus dirundingkan dengan keluarga dulu, ya!” Dokter mengusap pundak Andrea.
“Berapa biayanya, Dok?”
Dokter meninggalkan Andrea dan Gigit. Di belakangnya perawat mengikuti.
“Aku ke bagian administrasi dulu, Git.” Andrea bergegas.
“Aku temani.”
Mereka menuju bagian administrasi.
“Berapa, Pak?” Andrea bertanya sekali lagi, karena tidak percaya dengan nominal biaya yang pegawai bagian administrasi sebutkan.
“Duaratus lima puluh juta.”
Andrea mendadak lemas, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?
Gigit mengajaknya duduk.
“Sudah, Ndre, soal itu nanti bisa dibicarakan sama saudara kamu.”
Andrea resah menunggu kedatangan Bu Nisma.
“Kalau dihitung perjalanan, seharusnya dia sudah sampai sejak tadi."
“Kamu tidak bisa menghubunginya?”
“Ponsel aku mati dari semalam kan, Git. Aku lupa bawa charger.”
Gigit termangu, wajahnya juga tampak menyesal. Bukan menyesali dirinya yang belum bisa pulang, dia lebih khawatir dengan Andrea yang tidak bisa tenang. Sedangkan dokter tidak bisa memutuskan apa-apa, karena harus menunggu dokter ahli, juga belum ada keluarga pasien yang lebih dewasa.
Mereka hanya bisa menunggu kedatangan Bu Nisma.
“Kalau begitu, aku pulang dulu ke rumah Om yang ada di dekat sini. Ambil charger, kebetulan ponsel aku juga lowbat.”
Andrea mengangguk, dia sungguh sedang berputus asa, menunggu uaknya datang dengan segera, agar bisa meringankan bebannya.
Gigit pergi diiringi tatapan gelisah. Cowok itu satu-satunya teman saat ini, dia berharap semoga Gigit cepat kembali. Dia takut menghadapi ini sendirian.
**
“Neng.” Seseorang memanggil, Andrea buru-buru berdiri. Ada sedikit lega di hatinya ketika melihat wajah Bi Cicih muncul.
“Bi, Bibi ....” Andrea memeluknya dengan penuh haru.
"Bibi kenapa lama sekali? Aku takut ada apa-apa dengan Ibu, Bi.” Andrea menangis di depan Bi Cicih.
Bukannya meredakan tangis Andrea, Bi Cicih malah ikut menangis. Meraung-raung, sehingga ada seorang perawat yang menegurnya.
__ADS_1
“Sebaiknya Anda tenang, pasien butuh istirahat.”
Bi Cicih mengecilkan volume tangisnya, tetapi air matanya masih mengalir deras, membuat Andrea menjadi semakin sedih. Bi Cicih menangisi ibunya seolah sudah meninggal saja.
“Sudah dong, Bi, aku jadi sedih lagi.”
“Habisnya Bibi sedih, Neng, kenapa Ibu sakit tiba-tiba, padahal kemarin sore masih sehat.” Bi Cicih bicara di sela tangisnya.
“Saudara Neng belum datang dari kampung? Kata Pak RT, mereka mau datang.” Bi Cicih melihat-lihat ruang tunggu.
Andrea menggeleng. “Belum, Bi, aku tidak bisa menghubungi Ua istri. Ponsel aku mati.”
“Pakai punya Bibi saja, Neng!” Bi Cicih mengeluarkan HP antik dari dompetnya.
“Nomornya ada di ponsel aku, Bi. Mungkin sebentar lagi, perjalanan dari kampung kan jauh.”
Bi Cicih menyimpan HP jadul kepunyaannya. “Neng sudah makan?”
“Sudah tadi makan roti.”
“Semalam Neng sama siapa?”
“Ada teman menemani.”
“Syukur atuh. Neng yang sabar ya, Ibu pasti sembuh.” Akhirnya Bi Cicih mengeluarkan kata-kata yang sedikit menghibur. Tangisnya sudah hilang, berganti ingus yang membuatnya repot.
Andrea mengangguk, dia bersyukur Bi Cicih datang. Setidaknya ada seseorang yang dekat dengannya menemani, dia jadi tidak merasa sendiri. Biar Bi Cicih riuh dengan cerewet dan ingusnya, bagi Andrea itu adalah anugerah.
“Bibi naik apa?” tanya Andrea.
“Angkot. Mana di angkot sendirian, Bibi dibawa ngebut sama sopir, untung tidak ngacleng di toang.” Bi Cicih misuh-misuh.
Sudah jadi cerita lama, angkot sering ngebut di jalan toang. Tentu saja, di sana tidak akan ada penumpang berdiri menyetop.
Ketika perawat masuk, Andrea izin ikut masuk, untuk sekedar menyentuh tangan ibunya dan memberi kekuatan. Itu sudah membuatnya terhibur.
Gigit datang, sudah berganti pakaian. Dia juga tidak lupa membawa makan untuk Andrea.
“Oh, jadi yang semalam menemani, Neng Andrea itu dia?” bisik Bi Cicih.
Andrea mengangguk.
Gigit melihat ke arah mereka.
“Sebaiknya kamu makan, Ndre.”
“Iya, Neng, makan dulu. Roti tidak akan membuat Neng kuat, itu hanya tepung yang dikembungkan. Neng harus makan nasi. Biasanya kan Neng sarapan nasi goreng banyak banget.” Bi Cicih nyerocos, membuat Andrea jengah di depan Gigit, mana bawa-bawa makan banyak lagi.
Gigit tersenyum geli. “Jadi, kamu makannya banyak ya?” bisiknya.
Mulut Andrea mengerucut. “Pantas saja, berat,” bisik Gigit lagi.
Andrea melotot. “Kamu ngapain aku?” Dia meraba-raba tubuhnya, menyangka semalam Gigit mengangkat-angkat dia ketika tidur.
“Apa? Kamu berat ketika aku bonceng.” Gigit tersenyum, melihat Andrea tersipu. “Gitu dong tersenyum, kan manis,” lanjut Gigit.
Andrea menerima kotak makan dari Gigit. Bi Cicih melirik sambil tersenyum kecil.
**
Ponsel Andrea sudah bisa digunakan, deretan pesan dari Ren diabaikan, dia mulai menghubungi Bu Nisma. Tetapi tidak tersambung, begitu juga dengan nomor Dodo.
Andrea tidak menyerah, dia terus menghubungi mereka, tetapi usahanya sia-sia.
“Ada apa dengan mereka?” Andrea mulai resah lagi.
“Ada nomor lain yang bisa dihubungi, Ndre?” tanya Gigit.
Andrea menggeleng. “Tidak ada.”
“Sebaiknya kamu hubungi juga kantor ibumu,” saran Gigit.
Andrea buru-buru mencari nomor Tante Dina, atasan ibunya. Dia mengabarkan keadaan ibunya.
Tante Dina segera menemuinya ke rumah sakit.
“Tante,” keluh Andrea, dia menyandarkan kepalanya ke pundak Tante Dina, ketika menemuinya di ruang ICU. Dia merasakan pelukan ibunya pada tangan Tante Dina. “Aku takut,” lirihnya.
“Kamu tenang ya, Ndre. Ibu kamu akan baik-baik saja.” Tante Dina mengusap kepala Andrea. “Kamu tidak usah takut, Ibu kamu itu wanita yang sangat kuat. Buktinya dia masih bisa bekerja meskipun dalam keadaan sakit. Tante yakin, dia juga bisa melewati ini.”
“Tante tahu ibu sakit?” Andrea menatap mata Tante Dina.
Tante Dina menggeleng. “Tante tidak tahu, tetapi sempat curiga juga, karena Yuli sempat pingsan di kantor. Yahh, begitulah ibumu, dia tidak pernah mengeluh, seperti yang Tante bilang, dia itu wanita yang tangguh.”
Andrea kembali memeluk Tante Dina, mereka sama-sama melihat Yuli dengan pilu dari kaca pintu.
Gigit dan Bi Cicih terharu melihat Andrea yang sangat membutuhkan sosok seorang ibu.
Gigit jadi teringat ibunya, tanpa sadar dia memegangi bahu Bi Cicih, dan ingin memeluknya. Bi Cicih tersenyum, bahunya dipegangi cowok ganteng, dia mengusap-usap tangan Gigit.
Ketika sadar, Gigit memekik. Bi Cicih ikut memekik, karena terkejut. Andrea dan Bu Dina melihat mereka dengan heran.
"Kamu Gitara, kan?" tanya Tante Dina, tersenyum ke arah Gigit.
"Betul, Tante." Gigit juga tersenyum.
Tante Dina masih merasakan sesuatu dengan Gigit, entah apa.
__ADS_1
bersambung