
Mobil meluncur dengan cepat di jalan pegunungan. Pak Supri bersemangat membawa mereka pulang. Apalagi jalanan juga masih lengang, belum banyak kendaraan di sana.
Langit cerah, udara pagi sangat segar, tetapi di dalam mobil sepi, semuanya tidak ada yang bicara. Hanya lagu Say So dari Doja Cat yang berkolaborasi dengan Nicki Minaj, terdengar mengalun dari gawai Zellina.
“Katanya Non mau tidur,” kata Pa Supri.
Zellina tetap memandangi jalan, bicara dengan hatinya saja. Sampai di wilayah menurun, suasana di dalam mobil masih sepi. Semua dengan pikiran masing-masing.
Tidak berapa lama Ren mulai terusik dengan suasana perutnya. Jalanan menurun dan berkelok mulai membuatnya mual.
"Kamu kenapa, Ren?" tanya Andrea.
Ren menggeleng, dia sedang tidak mau bicara, takut muntah tiba-tiba kalau mulutnya terbuka.
Pak Supri menguap. Dia menggelengkan kepalanya. Kantuk menyerang tiba-tiba. Padahal seumur hidup dia menjadi sopir, jarang mengantuk pagi-pagi, karena selalu menjaga tidurnya.
Gigit merasakan gelagat tidak beres ketika melihat Pak Supri menguap, sedangkan jalan yang sedang mereka lalui masih di daerah pegunungan. Kanan kiri jalan tebing, dan jurang yang dalam.
“Pak Supri oke?” tanya Gigit.
“Oke, Den. Eh, Git,” sahut Pak Supri.
“Benar, nih? Kalau misalnya capek, biar aku gantikan.”
“Oh, enggak, Kok. Masa baru jalan sudah capek. Gigit tenang saja, saya sudah tahu jalanan ini.” Pak Supri tetap percaya diri.
“Oh, ya sudah.” Gigit menyenderkan kembali kepalanya ke jok. Dia memejamkan mata, menikmati perjalanan dengan santai.
Andrea yang duduk di sebelahnya melirik. Tidak ada sedikit pun kata terucap untuknya sejak mereka bangun. Padahal semalam telah terjadi sesuatu yang hampir saja mengubah hubungan persahabatan mereka entah jadi apa. Mungkin akan berlanjut kepada hubungan pacaran, atau malah terputusnya hubungan persahabatan mereka.
Andrea tidak mengerti dengan sikap Gigit. Dia sepertinya punya rasa, tetapi seperti tidak. Atau kejadian tidak terduga mereka beberapa kali ini hanya terbawa suasana saja?
Andrea memejamkan mata, di kepalanya banyak sekali yang harus dipikirkan.
Tiba-tiba mobil bergoyang ke kiri.
Tidiiiidd!!
Suara klakson dari mobil di belakang terdengar nyaring.
“Pak!” Gigit berteriak.
Pak Supri tampak terperanjat. Dia membelokkan setir ke kanan. “Astagfirullah,” gumamnya.
Pak Supri menggeleng-gelengkan kepala lagi. Wajahnya tampak lesu, kedua matanya merem melek.
“Pak Supri mengantuk?” tanya Zellina, dia juga kaget ketika mobil hampir saja ditubruk mobil lain yang menyalip.
Pak Supri tampak kembali menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak tahu, Non. Mata saya tiba-tiba berat sekali.” Pak Supri kali ini mengeluh.
“Ya sudah, Pak Supri minggir dulu, biar aku yang bawa mobil,” kata Gigit yang mendengar percakapan Zellina dengan Pak Supri.
"Iya, Pak. Minggir dulu saja, Pak Supri tidak tidur ya?"
"Tidur, Non. Tidak tahu, mata saya berat sekali." Suara Pak Supri semakin parau, dia benar-benar tidak kuat menahan kantuknya.
"Minggir saja, Pak!" seru Gigit.
“Iya,” sahut Pak Supri. Dia bermaksud menghentikan mobil, tetapi mobil tetap saja melaju. “Waduh!” serunya, dengan wajah gugup.
“Kenapa, Pak?” tanya Andrea.
“Ini, remnya blong!” Pak Supri menginjak-injak Rem, dengan wajah panik.
“Wah, bagaimana ini, Git, remnya blong!” Zellina berteriak-teriak.
Gigit melihat jalanan di depan, masih menurun dan berkelok.
Ren memegang tangan Andrea dengan erat. “Ndre, aku pusing?”
Andrea juga tidak bisa berpikir, dia terkejut dan ketakutan. Dia menggenggam tangan Ren yang dingin, wajahnha tampak pucat, bibirnya seputih kapas.
Zellina menjerit-jerit di depan, memanggil-manggil Pak Supri yang terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil membelalak-belalakkan mata.
Tiba-tiba Pak Supri menyenderkan kepalanya ke belakang.
Seperti kena sirep, Pak Supri malah tertidur.
"Pak Supriiiii!!" Zellina menjerit lagi, mengetahui Pak Supri tertidur.
“Pak! Pak Supri!” Gigit menepuk-nepuk pundak Pak Supri. Dia cepat memegang setir dari belakang. Andrea memberinya ruang untuk Gigit lebih nyaman mengendalikan setir sambil berjongkok.
“Pak Supri tidur, Git!” seru Zellina.
“Tidur apa pingsan?” tanya Andrea.
"Ngga tahu, dia tidak sadar!" seru Zellina lagi.
“Dulale Dulale ... Akh!” Mobil nyelonong ke kiri, Andrea tidak bisa berkonsentrasi membaca mantra.
Gigit berusaha sekuat tenaganya agar mobil tidak nyelonong ke tebing atau jurang.
Zellina tidak henti-hentinya menjerit, dia ketakutan sekali. Gigit sampai merasa budeg.
Ren terpejam, dia semakin mual.
“Dulale ... Dulale ... Westin ... Aaaa!!” Andrea berteriak, diikuti Zellina.
Mobil oleng ke kiri lagi, di depan juga ada turunan tajam. Mereka sudah seperti sedang bermain roller coaster. Saat itu di jalan hanya ada mobil mereka.
“Ndre, Bagaimana iniiii??” teriak Zellina.
“Tenang, Zell, jangan menjerit-jerit di telingaku” seru Gigit. Dia sedang kesusahan memegang setir.
“Aku takut, Git! Pak Supri banguuun!! Aku akan adukan ini sama Papaku! Papa, Mama, tolong akuu ....” Zellina mulai menangis. Dia menutup matanya dengan kedua tangannya.
Ren tidak bisa berkata-kata, dengan menahan mualnya, dia memejamkan mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi.
“Kak Marvel, tolong aku!” lirihnya, di pelukan Andrea. Dia meminta tolong pada kakaknya yang sudah tiada. Andrea jadi bingung dan merinding.
"Ren, tenang, kita akan baik-baik saja," bisik Andrea, dengan suara bergetar.
Dia berusaha memanggil Dale lagi, tetapi gerakan mobil yang kacau tidak bisa membuatnya berkonsentrasi.
__ADS_1
Mobil benar-benar menuju turunan tajam yang berkelok. Gigit tidak bisa apa-apa, kalau tidak segera mengerem, mobil akan labas ke jurang. Dia berusaha semaksimal mungkin mengendalikan setir.
Memang di sana ada pembatas, terus apakah mereka semua akan baik-baik saja kalau pembatas itu bisa menghentikan mobil untuk masuk jurang? Apa jadinya besi yang sedang meluncur, jika menghantam beton besar yang sedang terdiam.
Tetapi Gigit tidak punya pilihan lain, mumpung jalanan sedang tidak menurun, gasnya juga tidak terlalu kencang.
"Zell, mobilnya pakai airbag kan?"
"Iya, Git. Kenapa?"
"Kamu bersiap, berlindung. Kalian juga, Ndre, Ren. Aku akan bentukan ke pembatas!" seru Gigit.
"Git! Kamu yakin?" Zellina melotot, dia duduk paling depan.
Tetapi Gigit tidak sempat menjawab.
Semua mata yang ada di dalam mobil melotot, dan menjerit. Beton dan jurang menganga sudah ada di depan mereka.
“Aaaaaaa!!!!”
Lalu semuanya terpejam, menikmati perjalanan ke jurang, atau mungkin ke alam lain.
Perasaan mereka seperti sedang melayang, menuju sesuatu yang pasti akan menyakitkan.
Mobil berhenti.
Sepi, yang terdengar hanya bunyi mesin mobil.
Andrea membuka mata. Gigit sudah sedang melihat ke luar jendela mobil. Ren dan Zellina masih menutup wajah masing-masing.
“Alhamdulillah, kita selamat,” kata Gigit, dengan nafas memburu.
Mereka lolos dari ancaman maut.
Mobil berhenti tepat di depan pembatas jalan, tanpa menyentuh beton itu sedikitpun.
Bahu Andrea terkulai, dia melihat Dale di depan kap mobil, duduk di pembatas jalan, sambil menahan mobil dengan kedua kakinya. Tangannya mengupas salak.
Ren dan Zellina membuka tangannya. Mereka menyandarkan punggungnya ke jok dengan perasaan lega. Pak Supri masih tertidur pulas, mimpi indah.
Gigit keluar. Andrea mengikutinya, dia segera menghampiri Dale.
“Syukurlah, aku tadi kesulitan membaca mantra.” Andrea berbisik.
“Neng digigit nyamuk saja saya datang, Neng, hehe.” Dale menggigit salaknya.
Gigit memerhatikan Andrea dengan pandangan aneh.
Andrea menyadari itu, dia langsung menghampiri Gigit.
“Bagaimana, Git? Ada masalah apa pada mobilnya?" tanya Andrea.
“Sepertinya remnya benar-benar blong. Tetapi, kok bisa berhenti tiba-tiba begini ya?”
Gigit melihat-lihat kolong mobil.
“Kamu maunya kita terjun?” tanya Andrea.
Gigit menggaruk-garuk kepalanya yang tidak pernah gatal. Dia heran dan bingung.
Gigit membuka pintu mobil. “Pak! Pak Supri?” Gigit juga mencoba membangunkan Pak Supri. Tetapi Pak Supri tetap tidur, malah sampai mengorok.
“Sepertinya ada yang tidak beres dengan Pak Supri.” Gigit memeriksa pergelangan tangan Pak Supri.
“Tapi dia masih hidup kan?” tanya Zellina waswas.
Gigit mengangguk. "Masih kok, dia tidur."
Zellina masih penasaran, dia memegang leher Pak Supri. "Dia bukan kena serangan jantung kan?" tanya Zellina lagi.
Gigit mengangkat bahu. "Tidak tahu, aku bukan dokter, Zell."
"Ck ...." Zellina berdecak. "Ada apa lagi ini, sering sekali kita dapat masalah."
“Oekkk!” terdengar Ren muntah-muntah di samping mobil.
Andrea menghampirinya. Dia membawakan Ren minum yang dibawanya dari rumah.
“Kamu baik-baik saja, Ren?” tanya Andrea.
Ren geleng-geleng kepala.
“Neng Ren tidak minum antimun, Neng?” tanya Dale.
“Aku tidak punya," sahut Andrea.
“Ua istri tidak memberi?” tanya Dale.
“Ua istri? Memang Ua istri apotek? Andrea balik bertanya. “Aku tidak minta.”
Dale mengupas salak. “Semalam beliau beli banyak, kan.”
Andrea terkekeh, merasa lucu saja, jin seperti Dale kenal dengan merek obat untuk mabuk perjalanan.
Gigit mendengar Andrea tertawa.
“Kenapa, Ndre?” tanya Gigit.
“Masih sempat tertawa, kamu, Ndre?” tanya Zellina. Turun dari mobil.
“Ini, Ren, keluarkan semua sarapannya tadi.” Andrea mencari alasan.
Ren tidak menghiraukan semuanya, dia lebih fokus sama mual di perutnya.
“Kamu anggap itu lucu?” tanya Gigit lagi.
Andrea terdiam, dia telah salah memilih alasan.
“Sudahlah, kita kan selamat. Mendingan fokus cari bantuan.” Andrea menggosok-gosok punggung Ren. Melirik ke arah Gigit.
Kamu itu memang aneh, Git. Kadang membuatku melayang, tetapi kadang juga membuatku ingin menendang, gerutu batin Andrea.
Beberapa kendaraan ada yang sempat melihat keadaan mereka, tetapi tidak bisa membantu, selain memberi saran untuk memanggil bengkel.
“Bapak tahu nomor telefon bengkelnya?” tanya Gigit.
__ADS_1
“Tidak.”
Gigit menarik nafas berat. “Ya sudah, terima kasih, Pak.”
Pengendara mobil itu adalah yang ke sekian kali mereka berhentikan, dan tidak bisa membantu apa-apa.
Setelah menyamankan Ren di dalam mobil, Andrea kembali menghampiri Dale di pagar beton. Dia bicara berbisik. “Bagaimana? Apa yang bisa kamu lakukan?”
“Saya mah bisa melakukan apa saja, Neng.”
“Iya, tapi yang tidak membuat teman-temanku shock.” Andrea terlihat gemas dengan Dale.
Dale garuk-garuk bokong. Dia tidak ada ide.
Zellina menghampirinya. “Ndre, Pak Supri kenapa enggak bangun-bangun ya? Aku khawatir.”
“Dia suka begitu?” tanya Gigit, yang juga menghampiri.
“Enggak, aku belum pernah melihatnya seperti itu.”
Andera jadi ingat apa yang dikatakan Dale. “Apa dia minum obat anti mabuk ya?” tanya Andrea.
“Hah? Memang ada?” tanya Zellina.
“Ada, itu di minum untuk menghindari mabuk darat kayak Ren. Biasanya membuat mengantuk, apalagi kalau minumnya over dosis."
Zellina mengangkat bahu. Dia tidak tahu sama sekali dengan obat seperti itu.
"Kok kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Zellina.
"Soalnya Ua semalam membelinya." Andrea sok tahu, padahal dia juga dapat info dari Dale.
"Maksud kamu, Pak Supri minta sama Ua?" tanya Gigit.
"Bisa jadi."
Mereka bertiga termangu, dipinggir jurang, menghadap ke jalan, tidak tahu apa yang bisa dilakukan.
Tiba-tiba sebuah raungan motor terdengar mendekat. Zellina mendengarnya sejak dari jauh. Telinganya sangat mengenal suara motor itu.
Jantungnya berdebar, ketika melihat Dodo mendekat dari atas motornya.
Senyumnya terbit, ketika Dodo berhenti di depannya, membuka kaca mata hitamnya, dengan gaya yang sangat keren. Ranegade mah kalah.
Dodo menatapnya. Zellina merasa di sana hanya ada mereka berdua, dikelilingi bunga-bunga. Hatinya yang sempat beberapa saat gersang, kini bersemi lagi, lebih banyak bunga, menggunung, dan siap menenggelamkan mereka berdua.
Andrea dan Gigit melongo melihat mereka saling menatap.
“Uhukk!” Andrea terbatuk, tepatnya pura-pura batuk.
Zellina dan Dodo terkejut.
“Kak Dodo menyusul?” Zellina bertanya, menyembunyikan jengah dari Gigit dan Andrea.
Dodo turun dari motor. “Iya, ada yang tidak beres dengan mobilmu.”
“Kok, Kak Dodo tahu?” tanya Zellina lagi.
Andrea terkejut, dia cepat-cepat menghampiri Dodo. “Bikin ulah apa lagi, sih, A?”
Dodo mengernyitkan dahi. “Maksud kamu apa?”
“Mobil ini remnya blong! Aa tahu itu?” Andrea berteriak.
"Aa membuat ulah apa lagi? Mau menghentikan Zellina pulang? Atau mau membuat kita semua masuk jurang?" Andrea mengarahkan wajahnya ke dekat wajah Dodo.
Keduanya kini berhadapan wajah dengan mimik muka penuh amarah.
“Bisa tidak kalau bicaranya yang pelan?Makanya ini aku mau tolong kalian,” kata Dodo. Dia lebih bisa meredam emosi.
Andrea tersenyum sinis. “Menolong apa modus?”
“Ndre, sudah dulu. Kita dengar dulu penjelasan dia. Kamu emosi terus,” kata Gigit. Dia menarik tangan Andrea.
Dodo melihat Andrea dengan kesal. “Aku tidak tahu apa-apa, tadi tidak sengaja melihat tetesan minyak rem di halaman. Makanya aku ke sini, takut terjadi apa-apa dengan kalian.”
Andrea terdiam. Dia memunggungi Dodo, menghadap ke jurang. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Dodo.
“Benar, remnya blong, Kak. Pak Supri juga tertidur.” Zellina bicara.
Dodo melihat keadaan Pak Supri. “Sepertinya memang ada sabotase.” Dodo bergumam.
Gigit menghampirinya. “Apa ini ada hubungannya dengan teman-temanmu?”
Dodo menoleh. Dia tidak menjawab, malah merundukkan kepalanya, melihat ke kolong mobil, lalu berdiri lagi sambil membuka jaketnya.
“Kaka mau apa?” tanya Zellina.
Dodo tidak menjawab, dia menyimpan jaketnya di kap mobil, lalu masuk ke kolong mobil.
Zellina mengamatinya.
Tidak lama Dodo keluar. “Ada yang mengutak-atik remnya.”
Zellina menutup mulutnya.
“Sial!” kata Gigit.
Andrea juga mendengus kesal.
Dodo memakai jaketnya, lalu menghampiri Andrea.
“Terserah kalau kamu masih mau menuduh, laporkan saja ke polisi sekalian. Aku hanya ingin membantu, kasihan teman-teman kamu, mungkin sudah ingin pulang. Kalau kamu mah sudah ada si Dale. Mau nyungseb jurang juga bodo amat, asal sendirian." Dodo ngomel-ngomel tampan.
Andrea tidak menjawab. Dodo berlalu untuk menelefon bengkel.
Zellina menghampiri Andrea. “Sebaiknya kamu tidak main menuduh saja, Ndre. Kak Dodo yang menolong kita, masa iya dia juga yang ingin kita celaka.”
Andrea menekur.
“Kenapa Neng menuduh Aa Dodo?” tanya Dale.
Andrea semakin menekur. Orang lain saja yang baru mengenalnya tidak percaya Dodo melakukan itu, kenapa dia sebagai adiknya malah berpikiran seperti itu. Padahal Dodo juga yang telah menolongnya dari jurang, dan membantu membebaskan Dale.
Tidak lama orang bengkel yang ditelefon Dodo datang. Mereka segera memperbaiki mobil.
__ADS_1
bersambung