
Di sekolah.
Ren memanggil Andrea kembali, tetapi tidak tersambung. Dicobanya beberapa kali lagi, ponsel Andrea tidak aktif.
“Kenapa dia?” Ren mencoba mengirim pesan lewat WatsApp. Pesannya juga tidak dia terima.
Ren berjalan menuju kelasnya. Bu Anis baru saja dibawa pulang sopir dan asisten rumah tangganya, diantar tatapan para guru.
Berjam-jam Bu Anis tidak sadarkan diri. Dia seperti tertidur pulas. Pak Haris bilang tidak ada masalah dengan denyut nadi maupun tekanan darahnya.
“Ren, bagaimana dengan Bu Anis?” Salsa berlari menghampirinya.
“Sudah dibawa pulang. Keluarganya akan datang sari Jawa.”
“Syukurlah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan beliau. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah tadi baik-baik saja?” tanya Salsa.
“Entah, aku juga tidak tahu. Dia ujug-ujug jatuh tidak sadarkan diri. Eh, Sa, ada yang tahu rumah Pak Iwan di mana?”
Salsa berpikir sebentar. “Tidak tahu.”
“Kamu cari tahu ya, nanti kalau sudah tahu infokan ke aku. Aku ada perlu dengan dia.”
“Ada apa?”
“Nanti juga tahu.”
“Kamu itu, senangnya bikin kejutan. Please, jangan yang seram-seram lagi, aku takut.” Salsa bergidik.
“Ngga kok, ini kisah romantis.”
Mata Salsa melebar, seolah mengeluarkan emoticon love berkali-kali.
“Cinta-cintaan saja, kamu lebay.” Ren menarik rambut Salsa.
“Coba tanya si Fany, dia kan punya teman gaib, nyantet saja bisa kali.” Nada suara Salsa terdengar kesal. “Kamu lihat deh, di kelas dia sedang kena azab."
“Maksudnya?”
“Anak-anak sedang memberinya pelajaran.”
“Ck, kalian apa-apaan sih?” Ren berjalan cepat menuju ke kelasnya.
Sebenarnya dia malas berhadapan dengan Fany. Kejadian Bu Anis juga dia curiga ada hubungannya dengan dia, tetapi dia juga tidak mau ada tindakan main hakim sendiri di kelasnya.
Ren dan Salsa sampai, anak-anak menyambutnya, ingin tahu keadaan Bu Anis.
Ren tidak menjawab, dia memandangi teman-temannya yang masing-masing memegang bungkusan kacang bawang.
“Kalian lagi apa?” tanya Ren.
“Membersihkan kelas dari makhluk astral.” Dewi melemparkan sebutir kacang bawang ke arah Fany.
Fany menunduk, tidak melawan. Zellina yang sekarang lebih banyak diam, juga terlihat menunduk.
Isu Fany dan jin peliharaan telah diketahui sekelas, berkat celoteh Zain yang tidak bisa menjaga mulut.
Kalau biasanya diamnya penuh percaya diri, kali ini ada resah pada sorot mata Fany.
Dari sejak tadi teman-teman sekelasnya melempari dia dengan kacang bawang.
Maksud mereka adalah mengusir makhluk gaib di tubuh Fany.
Mereka tidak punya bawang putih, yang ada hanya baunya dari kacang bawang. Padahal tidak ada pengaruhnya kepada Fany, karena dia bukan vampir atau drakula.
Hanya Ibu kantin saja yang senang, kacangnya laris manis.
“Gaes,” lirih Fany, membuat kelas hening. “Maafkan gue,” lanjutnya. “Gue juga dikuasai.”
“Drama, Lu!” Akri melemparkan lagi sebutir kacang bawang, sebutir lagi dia makan.
“Teman-teman, kalian malah membuang-buang makanan. Mubadzir, tidak ada gunanya juga.” Bahu Ren terkulai, dia tidak mengerti dengan tindakan teman-temannya. Lempar kacang bawang, seperti sedang lempar jumrah.
“Daripada kita tidak melakukan apa-apa. Kita sudah mulai muak dengan tingkahnya.” Rani bicara dengan wajah marah.
Ren menghampiri Fany. “Lihat, Fan, akibat perbuatan lu, bukan hanya kita yang rugi, tetapi lu juga. Sekarang aku mau tanya, Bu Anis kenapa?” tanya Ren.
Fany tidak menjawab, dia memungut sebutir kacang bawang di dekatnya, lalu memainkannya dengan jarinya.
“Bu Anis ....” lirihnya.
“Bu Anis kenapa?” tanya Joni.
“Dia ... Sukmanya sedang dibawa."
Ren menatap Fany dengan wajah marah. Fany menunduk lebih dalam, rambut menutupi wajahnya. Kacang bawang masih dimainkan tangannya.
“Dibawa teman lu, kan?" tanya Ren. "Ke mana?"
Fany mengangguk. "Ke alamnya."
"Puas, lu?" Ren memegang dagu Fany, mengangkatnya agar dia bis melihat wajahnya.
“Teman-teman tidak salah, kamu memang keterlaluan, Fan.” Ren benar-benar kesal, tangannya mengepal.
“Suruh temanmu membebaskan Bu Anis!”
“Dia ... Dia tidak ada, sudah pergi.” Fany berkata lirih. Ren mengernyitkan dahi. “Bukan temanku lagi," lanjut Fany. "Dia marah, sama gue. Tidak bisa membantunya mendapatkan gebetannya." Suara Fany bergetar.
Ren melepaskan tangannya dari dagu Fany.
“Puas?"
“Jahat!”
“Kuntilanak!”
__ADS_1
“Harus di rukiah nih anak.”
“Tega banget, sudah bikin teman sekelas kesurupan, sekarang Bu Anis tidak sadarkan diri.”
“Dasar, setan kelas.”
“Gue kira iya, pintar.”
“Makan tuh, kemenyan!” Sebuah lemparan buku menghantam kepalanya.
Fany terjengkang.
Ren terkejut, die memang marah, tetapi bukan berarti akan membiarkan teman-temannya berbuat anarkis, dia segera meredakan kemarahan teman-temannya.
“Cukup! Kalian pelajar, bukan orang bar-bar!” teriak Ren. Sebagai ketua kelas, dia harus bisa mendamaikan kelas.
Suara-suara kesal masih terdengar. Fany tidak berkutik sama sekali. Dia tidak berdaya, kawannya raib entah ke mana, membawa sukma Bu Anis.
Sekolah kacau lagi. Sebagian guru ikut mengantar Bu Anis, jadi seluruh kelas dibubarkan sebelum waktunya. Kasak-kusuk mulai terdengar di mana-mana.
“Teman-teman, aku harap kalian tidak bertindak anarkis lagi. Kelas lain nanti akan tahu, dan bisa melakukan hal yang lebih buruk kepada Fany. Aku harap kalian bisa menutupi ini dari kelas lain. Bagaimana pun Fany teman kita, dan kita juga harus menjaga nama baik kelas.” Ren berpidato, sebelum mereka pulang.
“Teman? Mana ada teman membuat kita bodoh,” kata Akri.
“Akri, jangan terus membuat panas!” seru Ren. Dia menoleh kepada Fany.
“Semoga dengan kejadian ini, lu sadar, Fan. Kita semua adalah sama, siswa-siswa haus ilmu. Ingin nyaman belajar, ingin pintar, membanggakan orang tua dan guru.” Anak-anak tidak ada yang menyahut, mereka melihat ke arah Fany yang semakin menunduk.
“Sekarang guru kesayangan kita sedang terkena musibah, semoga ke depan tidak akan terjadi lagi hal seperti ini. Kita perkuat ibadah kita, simpan Allah dalam hati, perbanyak membaca ayat-ayat suci. Insyaallah kita semua akan dijauhkan dari makhluk-makhluk tidak kasat mata.” Ren menutup pidatonya.
Mereka pulang dengan suasana berbeda dari biasanya, seolah meresapi kata-kata Ren.
Ren juga bersiap pulang, dia membereskan bukunya. Zellina menunggunya di pintu.
“Mau numpang?” tanya Zellina. Ren menatapnya, belum yakin Zellina sudah berubah lagi kayak bunglon.
“Kamu kuntilanak?” Ren bertanya balik, keduanya terdiam, lalu tersenyum bersama-sama.
Ren menarik pulpen hello kity yang kupingnya sudah hilang semua dari saku baju Zellina.
Zellina terkejut, lalu merebutnya kembali dari Ren. Keduanya tertawa sambil kejar-kejaran, lalu berpelukan sambil menangis.
“Aku kangen seperti ini, Ren, maaf ya, aku terhasut.” Zellina menyusut air matanya.
Ren mengusap pipi Zellina. “Aku juga merindukan kita seperti dulu lagi, kompak, ceria, bertiga sama Andrea.”
“Iya, aku juga kangen dia. Kita sekarang ke sana, yuk!” Zellina menarik tangan Ren ke tempat parkir.
Tatapan-tatapan iri geng basketnya terlihat dari dekat lapangan basket.
Di tempat parkir geng Akri masih berkumpul. Mereka tampak termenung, seperti anak ayam kehilangan induknya.
“Kalian belum pulang?” tanya Ren.
“Yuk, aku diizinkan naik motor.” Zainal melonjak-lonjak senang.
“Kok bisa?” tanya Akri.
“Kan mobilnya tidak ada, dipakai mengantar Bu Anis.”
“Ya sudah, ayo!” Akri menaiki motornya, Zainal membonceng dengan senang hati.
Ren dan Zellina termangu, mereka baru sadar kalau pengaruh jin yang membuntuti Fany sangat besar kepada kepribadian mereka semua. Akri ternyata bisa peduli kepada Zainal, padahal selama ini mereka adalah dua orang penindas dan tertindas.
“Jadi, selama ini kita ada di dalam hasutan makhluk gaib ya?” tanya Zellina setelah mereka sudah ada di dalam mobil, meluncur menuju rumah sakit tempat ibunya Andrea dirawat.
Pak Supri terkejut. Dia mendengarkan obrolan mereka.
“Begitulah, Zel. Sebenarnya yang lebih tahu itu Andrea, dia yang pertama kali mengetahui semua ini. Dia juga yang berusaha untuk menghilangkan makhluk itu dari kelas kita.”
“Andrea indigo, Ren?” tanya Zellina.
“Tidak tahu, tetapi sepertinya iya.” Ren berusaha membuat Zellina puas, dia tidak mau bercerita banyak tentang Andrea.
“Pantas saja, dulu aku pernah melihat dia bicara sendiri.” Zellina menerawang.
“Aku menyesal, kalian itu sahabat aku paling baik, tetapi malah membenci kalian tanpa alasan yang jelas,” lanjut Zellina. Pak Supri meliriknya.
“Sudah, Zell, yang penting sekarang kamu sudah menyadari itu. Lagian, Andrea tidak pernah ada maksud menjadi saingan kamu. Dia kan yang mengusulkan kamu untuk ikut tim basket, itu artinya dia ingin kamu dekat dengan Kak Yadi.”
“Iya juga sih, aku tidak berpikir ke sana. Terlalu dibutakan oleh cemburu. Kalau kamu, Ren?” tanya Zellina.
Ren terkejut. “Aku? Kenapa kamu tanya aku? Kan kamu cemburunya sama Andrea.”
“Kata si Fany, kamu juga naksir Kak Yadi.” Zellina menengok Ren yang duduk di kursi belakang.
Ren mengalihkan pandangannya ke luar. “Tukang hasut begitu dipercaya.”
“Tidak apa-apa, kok, Ren. Sekarang aku sadar, tidak selamanya semua yang aku inginkan harus aku dapatkan. Aku belajar itu dari Pak Supri, iya kan, Pak?” Zellina melirik kepada Pak Supri yang tersenyum-senyum senang.
"Wahh, Pak Supri hebat, bisa membuat Princes manja menjadi Princes bijaksana." Ren tersenyum ke arah Pak Supri. "Bagaimana caranya, Pak?" tanya Ren.
Pak Supri melirik Ren dari kaca spion depan.
"Pak Supri setiap hari mengingatkan aku dan selalu mengajari aku tentang kebaikan.” Zellina yang menjawab.
"Oya?" tanya Ren.
"Petuah yang tidak pernah aku dapatkan dari Mama Papaku yang sibuk." Zellina menyunggingkan senyum kecut.
Ren dan Pak Supri terdiam.
“Saya tahu, Non Zellina itu sebenarnya berhati baik. Saya hanya membantu menolong agar Non tidak terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Saya juga tahu, Non sayang kepada Neng Andrea dan Neng Ren, makanya saya tidak setuju ketika Neng menyuruh Nuri untuk ....” Pak Supri tidak melanjutkan ucapannya, dia menutup mulutnya.
“Untuk apa, Pak?” tanya Ren.
__ADS_1
Zellina menunduk. Ren mengernyitkan dahi. “Sebenarnya, waktu itu, aku yang menyuruh Nuri, asisten Papaku, untuk menelefon kamu. Mengaku dari rumah sakit.”
“Jadi?”
“Iya, Ren. Maafkan aku ya, itu juga atas hasutan Fany. Ketika kamu dan Andrea pergi ke rumah Bu Anis, dia mengirim pesan kepadaku, agar kalian dapat masalah di sekolah." Zellina mengakui kesalahannya.
Ren kembali membuang pandangan ke luar, mengingat kejadian itu.
Hari itu dia merasa sangat kacau, lari tunggang langgang bersama Andrea ke klinik tempat Mamanya dirawat, dengan perasaan sedih. Tega sekali Zellina dan Fany. Mereka juga tidak memikirkan bagaima capeknya dia dan Andrea membersihkan toilet.
Tetapi hari itu juga menjadi hari penting dalam hidupnya, karena Andrea bisa melihat kondisi ibunya, dan memerintahkan si Dale, secret bodyguard miliknya untuk terlibat dalam pengobatan ibunya.
“Tidak apa-apa, Zell, aku maklum kok. Mamaku sudah mulai pulih sekarang.” Ren berusaha untuk melupakan perbuatan mereka. Entah kalau Andrea tahu.
Zellina menoleh. “Benarkah? Syukurlah.”
“Itu juga berkat Andrea.”
“Dia bisa menyembuhkan juga?” tanya Zellina.
“Ngga, dia hanya memberiku beberapa saran, dan sarannya sangat tepat. Ibuku berangsur membaik, dokter juga mengatakan kalau Ibuku bisa sembuh total, dengan pendampingan kami."
Zellina dan Pak Supri mengangguk-angguk, ikut senang. Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit. Mobil memasuki tempat parkir.
Ren yang sudah tahu lokasi, segera menggandeng tangan Zellina memasuki rumah sakit.
Ren mengetuk pintu ruangan.
Bi Cicih keluar dengan wajah senang. “Neng Andre ... Eh, kok bukan?”
“Kami temannya, Bi. Andrea belum datang?” tanya Ren.
Bi Cicih menggeleng. “Belum.” Dia keluar, mendorong Ren dan Zellina.
"Kenapa, Bi?” tanya Ren.
“Neng Andrea pulang dari sebelum siang, belum kembali lagi. Tadi bilangnya mau mandi doang, tetapi Bibi hubungi tidak diangkat-angkat.” Bi Cicih bicara dengan suara pelan.
“Mungkin masih di jalan, Bi. Soalnya tadi dia sempat hubungi aku, bilangnya masih di rumah.” Ren juga berbicara pelan.
“Tetapi Bibi kok khawatir ya, Neng.” Bi Cicih meringis.
“Bibi tenang saja, Andrea pasti baik-baik saja. Tante Yuli bagaimana, Bi?” tanya Ren.
“Dia tidak menanyakan sih, tetapi saya bingung kalau dia tanya, takutnya jadi ke pikiran.”
“Bi, boleh kita masuk?” tanya Zellina.
Bi Cicih gelisah. “Jangan dulu, Neng, nanti Ibu malah menanyakan Neng Andre.”
Ren dan Zellina berpandangan.
“Bibi benar juga, kita tunggu dia di sini saja.” Ren berjalan ke tempat duduk. Dia mengeluarkan gawai dari sakunya. Mencoba menghubungi Andrea lagi.
“Bagaimana, Ren?”
“Tidak aktif.”
Jam lima sore, Andrea belum juga datang. Zellina dan Ren jadi ikut gelisah.
“Apa aku suruh Pak Supri untuk susul ke rumahnya? Mana tahu ketiduran.” Zellina berpendapat.
Ren menarik nafas dalam-dalam sambil berpikir. “Gigit, kenapa aku tidak kepikiran Gigit?”
Dia mencoba memanggil Gigit lewat gawainya.
“Ya, Ren.” Gigit menyahut dari sana, suaranya ngebas, seperti baru bangun tidur.
“Git, kamu sama Andrea?”
“Ngga. Kebetulan malam ini aku mau ke rumah sakit. Kenapa?”
Ren berjalan menjauh dari ruangan. Zellina mengikuti dari belakang.
“Andrea pulang, dari siang, tetapi sampai sekarang belum kembali. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.”
“Oke, aku cek ke rumahnya.” Tidak pakai lama, Gigit langsung berinisiatif.
“Oke, terima kasih ya, Git.”
“Yuk, bye, Ren!”
“Bye!”
Ren menutup telefonnya.
“Gigit siapa?” tanya Zellina.
“Kamu belum mengenalnya?”
Zellina menggeleng. “Belum? Siapa dia?”
“Anak SMA Negeri.”
“Pacar Andrea?”
Ren mengedikkan bahu. “Sepertinya bukan, tidak tahu kalau besok.”
“Jadi penasaran sama yang namanya Gigit. Namanya benar Gigit? Kok lucu?” tanya Zellina.
“Nanti juga kenal, makanya jangan marah-marah melulu, jadi ketinggalan update cerita kita.”
Zellina mengerucutkan bibirnya.
bersambung
__ADS_1