
Pagi harinya Andrea merasa sangat penat, ibunya sudah tidak ada di kamar. Dia merasa tidak tidur semalaman, tetapi tidak tahu kalau ibunya sudah bangun dan asyik bercengkerama dengan penggorengan dan kompor di dapur. Kalau pagi ibunya memang masak sendiri untuk sarapan, Bi Cicih membantu mereka paruh waktu, tetapi kalau diperlukan Bi Cicih siap membantu siang malam.
"Salat dulu, Ndre!" Yuli melirik Andrea yang sedang bengong di mulut pintu dengan rambut acak-acakan.
"Iya." Andrea berbalik ke kamar ibunya.
"Kok ke sana?"
"Menumpang salat dan mandi di kamar Ibu."
Yuli memerhatikan anak semata wayangnya, dia merasa kasian juga melihat Andrea ketakutan. Selesai masak Yuli memeriksa kembali kamar Andrea. Semua terlihat baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Kenapa Andrea jadi halu seperti itu?
"Tidak ada apa-apa, Ndre, kamu jangan lebay seperti itu lah. Ayo mandi sana, nanti kesiangan berangkat sekolah." Yuli menepuk pundak Andrea yang sedang duduk di meja makan, memandangi kerupuk dengan handuk melilit di pundak.
Andrea tidak menjawab, malah menguap dan menyimpan pipinya di meja makan. Yuli menuntunnya ke kamar mandi.
"Anak gadis jangan malas, harus semangat, biar aura cantiknya keluar."
"Apa hubungannya?" tanya Andrea.
"Jangan salah, wajah anak gadis pemalas beda lho sama yang rajin, suka butek dan enggak enak dipandang."
"Butek, memang empang," jawab Andrea.
"Sudah sudah, cepet mandi, ibu siap-siap." Yuli mendorong Andrea ke dalam kamar mandi.
"Berangkat bareng ya," pinta Andrea. "Aku males jalan kaki ke depan."
"Iya, makanya ayo cepet mandinya!" Yuli menutup pintu kamar mandi.
"Assalamualaikum." Bi Cicih masuk dari pintu depan.
"Wa alaikumsalam."
"Bagaimana semalam, Bu? aman? Saya ingat terus di rumah, takut terjadi apa-apa sama Ibu dan Neng Andre."
"Eggak apa-apa, Bi, tenang aja."
"Syukur atuh kalau begitu." Bi Cicih bicara sambil melihat-lihat ke sekeliling rumah.
"Kenapa?"
"ENggak," jawab Bi Cicih sambil tersenyum.
"Bibi takut di rumah sendirian? nanti kunci saja pintu pagar dan rumah. Kalau dirasa sudah beres, Bibi pulang saja enggak apa-apa, enggak usah nunggu saya atau Andrea pulang. Bibi kabari saja lewat WA."
"Enggak apa-apa kok, saya nunggu saja seperti biasa."
"Mana tahu Bibi takut."
"Iya, Bu, saya tahu maksud Ibu, tetapi saya enggak apa-apa," kata Bi Cicih.
"Ya sudah kalau begitu." Yuli tersenyum.
"Saya ke belakang dulu, Bu."
"Iya, Bi." Yuli memandangi punggung Bi Cicih yang selalu setia membantu keluarganya sejak dulu.
Selesai mandi Andrea memasuki kamar dengan waswas. Di tangannya siap sapu ijuk untuk berjaga-jaga lelaki misterius itu masih ada.
__ADS_1
Dia memeriksa kolong tempat tidurnya, lemari pakaian, tempat sampah, laci meja, dan bawah bantal, sudah seperti mencari recehan.
Setelah yakin aman, Andrea baru merasa lega. Dilihatnya sekeliling kamar, mana tau ada barang yang hilang. Tetapi semua masih dalam posisinya masing-masing. Andrea juga mengecek celengan kaleng hello kitty, masih utuh, tidak ada yang bolong atau sobek. Ransel dan isinya masih berantakan di atas kasur, termasuk botol kaca milik kakeknya dan kotak kayu antik.
Andrea menyimpannya di laci meja belajar, lalu membereskan barang-barangnya yang lain.
“Ndre, mau bareng enggak?” Ibunya memanggil dari ruang makan. "Cepat sarapan!"
“Iya … tunggu, Bu!” Andrea segera berganti baju dengan seragam sekolahnya.
**
Andrea tidak sempat menghabiskan sarapannya, dia langsung melesat mau mengambil tas sekolah di kamarnya. Ibunya sudah bersiap di atas motor. Tetapi tasnya tidak ada.
“Ndre, ayo dong! Ibu sudah kesiangan!” Yuli yang sudah rapi dengan seragam kantornya berteriak dari atas motor.
“Sabar dong, Bu. Aku mencari tas dulu!”
“Ndree!!” Ibunya memanggil lagi.
“Iyaaa, Andrea juga kesiangan. Tapi tas aku mana sih? Bi Ciciiiiih ….”
“Ndre, ini tasmu sudah di sini.” Teriakan ibunya membuat Andrea merasa heran.
“Ada apa, Neng?” Bi Cicih nongol dari kamar mandi, memegang sikat lantai.
“Eggak, Bi. Teruskan saja melantainya!” Andrea melesat ke depan. "Jangan lupa gerakannya!" teriak Andrea.
Bi Cicih segera meneruskan menyikat lantai. "Gerakannya gini-gini doang, mana bisa lupa," gumam Bi Cicih, sambil menggerakkan sikat kesana kemari dan senyum-senyum sendiri.
“Masih muda sudah pikun,” ledek ibunya ketika Andrea menghampiri.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah Andrea merasakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sampai badannya beberapa kali menengok ke belakang.
“Kamu kenapa sih, Ndre? Dari tadi tidak mau diam, Ibu terganggu nih bawa motor.”
“Enggak apa-apa kok, Bu. Terus saja konsentrasi.”
“Beneran enggak apa-apa?”
“Enggak apa-apa.”
Padahal Andrea sedang sangat tidak nyaman, entah kenapa. Seperti ada yang membuntutinya.
Dia baru merasa lebih nyaman ketika sedang mengikuti tadarus akbar di sekolah, yang rutin dilakukan setiap Jumat pagi.
“Ren, jajan yuk! Sebelum Bu Anis masuk.” Andrea menghampiri Ren sambil memegang perutnya, kode bahwa dia sedang lapar.
“Yuk, aku juga belum sarapan.”
“Aku sarapan panik tadi.”
“Enak enggak?”
“Enek.”
“Kaliaaaan, Ikutan!” Zellina yang sedang upgrade bedaknya buru-buru menyusul.
“Ketebalan tuh bedak?" Andrea menjawil hidung Zellina.
__ADS_1
“Biar in, kan tidak usah masuk dompet.”
“Saku in dong tuh muka!” kata Andrea lagi.
Zellina manyun. "Sirik saja. Makanya bedakan tuh wajah!"
"Ogah, yang alami lebih segar, tanaman juga yang bagus yang organik."
"Bukannya yang organik suka banyak ulat ya?" tanya Zellina.
"Tidak apa-apa, daripada banyak racun."
Ren buru-buru merangkul pundak Zellina sambil tersenyum, sebelum kedua temannya itu adu mulut tidak berfaedah. "Ayo berangkat!"
Di kantin, Andrea memesan siomay campur bakso. Nasi goreng yang hanya sempat dimakan dua sendok tidak memenuhi kekosongan lambungnya. Semua karena penyusup yang menyatroni kamarnya, Andrea jadi banyak bengong di meja makan tadi.
Ren yang sebenarnya tidak lapar-lapar banget memesan siomay tanpa bakso, sedangkan Zellina hanya beli permen kaki, karena dia tidak lapar, hanya kebelet pipis. Dia pikir Andrea dan Ren mau ke toilet.
"Hah? jangan-jangan pembunuh berantai," seru Zellina. Wajahnya ketakutan.
“Kamu halu kali, Ndre.“ Ren menanggapi cerita Andrea tentang orang misterius di kamarnya.
“Pasti kamu juga tidak percaya, kayak ibuku, dia juga bilang aku halu." Andrea mengunyah siomaynya dengan kesal.
"Ren, aku tuh baru saja pulang, baju juga belum ganti. Masih ingat kok, aku tuh enggak tidur,” lanjutnya dengan mulut mengulum bakso.
“Nahh kan, kamu bilang baru pulang, pasti capek banget, kemarin pelajaran terakhir kan matematika, aku juga mules banget sampai rumah karena stres disuruh ngitung luas tanah Pak Budi yang bentuknya segi lima. Ck, yang bikin soal sadis banget memang." Ren bicara sambil mencocol siomay pakai garpu.
"Lahh, kamu malah curhat," kata Zellina.
"Maksud aku, bisa saja kemarin itu Andrea enggak terasa ketiduran akibat terlalu capek belajar." Ren menjelaskan.
"Suwer, Ren, aku bener-bener yakin dia orang," tegas Andrea.
“Kalian, bisa nanti lagi enggak bahas itunya? Aku gimana dong?” Zellina merengek.
“Apaan sih, Zel? Makanya kalau mau ikut itu nanya dulu, kebiasaan,” sungut Andrea. “Sudah sana! deket kok.” Andrea menunjuk toilet dengan dagunya.
Zellina hanya bisa cemberut, Ren dan Andrea sudah tahu betul kalau Princes KW itu tidak pernah mau ke toilet sendirian. Selain manja, dan sok cantik, dia juga penakut terutama sama ruangan tertutup. Apalagi setelah mendengar cerita Andrea tentang lelaki misterius yang tiba-tiba ada di kamarnya. Pikiran Zellina sudah ke cerita film pembunuh berantai saja.
“Ya sudah, nunggu kita makan dulu, ya.” Ren menuangkan saus pedas ke atas siomaynya.
“Ya sudah, daripada disekap pembunuh berantai,” ujar Zellina, diemutnya kembali permen kakinya sambil berusaha menahan pipis.
“Kurang kerja banget tuh penjahat menyekap elu,” ujar Andrea.
"Iya, Zel, lagian mana ada di sini pembunuh berantai, yang ada dia ngga bisa beraksi karena keberatan."
"Keberatan apa, Ren?" tanya Zellina.
"Rantai, apalagi kalau rantainya rantai kapal," seloroh Ren.
"Oh, gitu ya?" tanya Zellina. Ren melongo candanya tidak mengena.
Andrea tertawa, lalu bicara, "percuma bercanda sama dia, Ren, jatohnya jadi garing."
"Ayo cepat makannya, aku sudah kebelet." Zellina merengek lagi.
Akhirnya trio siswi itu kembali menuju kelas setelah Andrea terlebih dahulu teriak-teriak berbuat rusuh di toilet dengan menggedor-gedor pintu WC. Zellina pipis saja sambil bernyanyi menghabiskan satu lagu, baru keluar. Katanya sih untuk meredakan suasana horor di toilet.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca, lanjut ke bagian selanjutnya yaaa 🙏😁