
"Itu Zellina yang undang, Kak." Andrea menegaskan pada Yadi, karena Yadi terus menatapnya.
"Ooh, iya, aku pasti datang, Jellina." Yadi menatap Ren.
"Zellina yang itu ... Kak," kata Ren, sambil menunjuk Zellina yang sedang memainkan sepatunya di lantai.
Yadi menepuk kepalanya. "Maaf, maaf ... aku pasti datang ke pesta kucingmu, Jelina."
"Zellina, Kak, pakai Z." Zellina mengulurkan tangannya. Yadi menerimanya dengan ramah.
"Tapi maaf, saya tidak punya kucing, enggak apa-apa kan kalau datang tanpa kucing?"
Zellina tersipu, lalu berkata dengan manja, "Ngga apa-apa, Kak, asal Kakak datang aku senang."
"Ehm, tapi diusahakan bawa kucing, deh. Nanti malah salah tingkah di sana kalau tidak bawa kucing." Yadi meralat ucapannya.
"Euhh, Iya, Kak, itu lebih bagus," sahut Zellina. Menyodorkan senyum paling legit untuk Yadi.
Ren tersenyum mesem.
Andrea melengos, geli sekaligus gugup, dia tidak menyangka Yadi akan serius menanggapi undangan konyol yang dibuatnya. Dia melirik ke arah Dale yang masih ada di sana.
Waktu istirahat masih panjang. Setelah Yadi berlalu membawa gantengnya, Andrea pamit kepada teman-temannya. Zellina tidak mendengarnya karena masih terpesona, kedua kupingnya bersayap, terbang ke arah Yadi.
"Aku ke toilet sebentar."
"Ndre! Aku temani." Ren berseru, tetapi Andrea berjalan setengah berlari memotong lapangan basket.
"Ikut aku!" Andrea berbisik ketika melewati Dale yang sedang bersandar pada tiang ring.
"Baik, Neng."
"Si Andre mau kemana?" tanya Zellina, yang baru saja siuman.
Ren mengangkat bahu, dia berjalan menuju kelas.
"Ren tunggu!" Zellina mengejar.
Ren tidak menggubrisnya.
Andrea membawa Dale ke tempat kemarin mereka bicara, pinggir sawah Pak Iwan.
"Jadi, kamu tidak bisa dibilangi ya?" Andrea berang.
"Dibilangi apa, Neng?"
Andrea membuang nafas, "huhh ...."
"Neng marah?"
Andrea berbalik, melihat hamparan tanah sawah. Bau lumpur menyeruak, membuatnya rindu, rindu pada suasana kampung kakeknya.
Ah, kakek, benarkah kakek mengirim Dale untuk menjagaku? batin Andrea bertanya-tanya.
"Kenapa harus marah, tadi kan kamu sudah tolong aku." Akhirnya Andrea bisa menguasai diri.
"Itu kewajiban saya, Neng."
"Iya, cukup! aku sudah tahu. Kamu punya kewajiban menjagaku karena perjanjian dengan kakekku. Tidak usah diulang-ulang." Andrea kembali menatap Dale, lalu melanjutkan ucapannya, "tapi, aku tetap saja merasa tidak nyaman."
"Dinyamankan saja, Neng. Tenang, saya tidak mengigit." Dale mengedipkan matanya sebelah.
Andrea terkejut melihat kegenitan makhluk di dekatnya.
__ADS_1
Dia tidak seram, tidak juga jahat. Andrea membatin.
Lama dia berpikir, untuk mencoba menerima keberadaan Dale. Mungkin memang benar, kakeknya yang telah menyuruh dia. Sejak kecil kakeknya itu selalu melindungi dan menyayanginya. Masuknya gembok unik itu ke dalam ranselnya yang secara misterius mungkin saja sebuah kesengajaan, semacam sebuah permainan waktu yang telah diatur sedemikian rupa oleh mereka, kakeknya dan perjanjian.
"Baiklah, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Kalau kamu menganggap aku tuanmu juga, aku harap kamu tidak pernah mengganggu, membuat takut, apalagi membuat sakit aku dan ibuku."
"Siap, Neng."
"Dan teman-temanku."
"Siap, Neng."
"Ingat, ibuku adalah segalanya untukku. Jangan membuat dia takut, apalagi sakit."
"Siap, Neng."
"Aku kembali belajar, kamu pergi saja!"
"Siap, Neng."
"Eh, tunggu!" Andrea yang sudah berbalik, memutar lagi. “Terus, kalau aku sedang baik-baik saja, tidak dalam bahaya, tidak butuh bantuan, tetapi ingin memanggil kamu bagaimana?” Andrea benar-benar sudah yakin mau menerim Dale.
"Kok saya seperti dejavu ya, Neng."
"Dejavu?" Andrea tertawa geli, ternyata makhluk seperti dia juga tau dejavu.
"Iya, kayaknya Neng pernah bertanya seperti itu sebelumnya."
"Masa?" Andrea sebenarnya ingat, dia pernah menanyakan itu waktu pertemuan mereka di tempat ini pertama kali.
Dale menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudahlah, mungkin hanya perasaan saya saja."
"Bagaimana?" Andrea bersandar pada pohon belimbing, sambil melipat tangan di dada. Dia berusaha untuk menjadi juragan muda.
Entah kekuatan dari mana, Andrea sekarang merasa semakin berani berhadap-hadapan dengan Dale.
“Kalau Neng butuh saya, Neng tinggal panggil nama saya.”
"Dulale?"
"Dua kali, sambil begini." Dale menyimpan satu jempol tangannya di hidung, kedua matanya terpejam. "Dulale ... Dulale ... westin wergan wesma werma," lanjutnya, lalu menyentilkan jempolnya ke hidung.
"Coba sekali lagi!" Andrea belum mengerti. Dale kembali melakukan aksinya. Andrea geli sendiri melihatnya. Tetapi tak urung juga dia mencobanya.
"Dulale Dulale, westin westin ...."
"Salah, Neng. Westin wergan," protes Dale.
"Oiya, westin wergan wes ... wes ...wes apa lagi?"
Dale kembali garuk-garuk kepala. "Westin wergan wesma werma."
Andrea cekikikan. "Susah banget sih mantranya," katanya.
"Engga kok, Neng, itu yang paling gampang. Neng kalau mau ada yang sambil goyang pinggul, mau?"
"Oh, jangan! sudah itu saja." Andrea buru-buru menolak, terbayang kalau dia harus goyang pinggul, goyang jempol saja dia ogah.
Dale memerhatikan Andrea belajar. "Jangan lupa menutup matanya, Neng!"
"Dulale Dulale westin wergan wesma werma ...." Andrea menjentikkan jempolnya ke hidung.
Ketika membuka mata Dale sudah raib dari hadapannya.
__ADS_1
“Lahh, bisa membuatnya hilang juga?” Andrea celingukan mencari Dale. Tubuhnya kembali bersandar pada pohon, tertawa geli merasa lucu juga melakukan itu.
Dia melakukan cara tadi sekali lagi, dan Dale kembali muncul sambil mencukur kumis dengan sayatan bambu tipis.
“Apa, Neng?” tanya Dale.
“Ngetes doang, hehe ... Ya sudah, sana teruskan cukur kumisnya!”
Dale menghilang lagi. Andrea memandangi jempolnya, merasa takjub dengan kedahsyatan jempolnya itu.
Bel istirahat berakhir berbunyi, Andrea segera kembali ke kelasnya.
Dia tidak menyangka akan semudah itu menerima Dale. Kalau hatinya enteng dari kemarin-kemarin, mungkin tragedi pingsan karena salatri dan kurang tidur tidak akan terjadi. Dale tidak seseram seperti dalam bayangannya, dia lumayan lucu, agak jadul, dan ramah.
"Kok lama banget, Ndre?" tanya Ren. Dia heran melihat Andrea senyum-senyum sendiri sambil melihat jempol.
"Sekalian ada urusan."
Ren memerhatikan wajah Andrea. "Kenapa sih akhir-akhir ini kamu suka pergi sendirian?"
"Masa?" Andrea balik bertanya. "Sori, Ren. Aku enggak enak kamu harus nemani terus, toilet kan bau."
"Jangan bohong deh, aku tadi cari kamu ke toilet enggak ada."
"Hah? Lagian mau apa lagi cari ke toilet, aku kan sudah bilang tadi, sekalian ada urusan."
"Ndre, Ndre, bagaimana ini, kamu tanggung jawab." Zellina menggoyang-goyang pundak Andrea dari bangku belakang. Di depannya ada setumpuk kartu undangan lucu.
"Tanggung jawab? sudah kayak gadis kena accident saja harus tanggung jawab."
"Iih, itu soal ultah kucing aku."
"Ooh, kamu kan banyak duit, Zel, tinggal bikin acara kecil-kecilan, dandani yang cakep si Kety kucingmu itu, undang kucing tetangga, tunggu Yadi dan kucingnya dateng, kalian bisa ngobrol kan."
"Ooh gitu ya, oke deh, Ndre. Eh, jangan lupa kalian besok datang tepat waktu, ini undangannya." Zellina menyerahkan sebuah undangan kecil untuk Andrea dan Ren.
"Lho, kamu beli undangan di mana?" tanya Ren.
"Tadi aku suruh sopirku beli, hehe. Tanggung, bikin acara gede saja sekalian. Kasihan, si Kety enggak pernah merayakan ultahnya." Zellina menulis nama-nama temannya, satu per satu kartu undangan dia bagikan kepada teman-teman sekelasnya.
Andrea dan Ren saling pandang.
"Kamu ide dari mana sih, bikin Zellina jadi gila seperti itu?" tanya Ren.
"Sstt! kemarin dia minta tolong ngajak Yadi ketemuan. Aku bingung cari alasan, ya sudah pura-pura ngasih undangan saja, ultah kucingnya. Kirain Yadi akan menganggap itu konyol dan menolaknya, eh, malah mau datang." Andrea menepuk keningnya.
"Kamu kebiasaan, melakukan sesuatu tanpa pikir panjang," kata Ren. Andrea cengengesan, lalu menguap.
Pak Haris, guru pelajaran bahasa tidak kunjung muncul untuk mengajar. Mungkin ada urusan yang lebih penting di UKS. Teman-temannya riuh seperti biasanya, kali ini diselingi rencana datang ke pesta kucing Zellina.
"Gue nuntun anjing boleh, Zell?" tanya Akri.
"Coba saja kalau berani!" Zellina mengacungkan tinju.
"Gue bawa tikus ah, " kata Joni. "Biar rame."
Entah siapa yang mulai, mereka memukul-mukul meja dan mulai dangdutan.
Andrea menyimpan kepalanya di halaman tengah buku pelajaran bahasa, mau menghapal mantra. Bodo amat dengan keriuhan kelasnya.
Entah kenapa hidupnya sekarang terasa tenang.
Dulale Dulale westin wergan wesma werma...semoga kalian terus membaca 😁😁😁
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak