My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 60 Mengeroyok Biang Kerok


__ADS_3

Kita tinggalkan dulu Andrea yang terkejut dengan penemuannya di kamar ibunya.


Di sekolah, teman-temannya sedang bersama-sama menjadikan lembar jawaban ulangan yang baru dibagikan Pak Bayu menjadi berbagai macam mainan.


Mereka persis anak TK. Bedanya, kalau anak TK asli berwajah imut karena masih kecil, anak-anak ini berwajah amit, karena kebanyakan sudah berkumis tipis.


Lembar jawaban ulangan mereka jadikan pesawat terbang, kapal laut, burung bangau, kipas, kodok-kodokkan, dan lain sebagainya.


Mereka sedang beraksi, menjadikan kertas itu lebih berguna, karena nilai yang mereka dapatkan tidak ada yang lebih dari lima, kecuali Fany yang selalu mendapat nilai istimewa.


“Setidaknya, pesawat ini berguna untuk mencari jodohku,” kata Akri, sambil menerbangkan pesawatnya. Pesawat itu mengenai punggung Zainal yang sedang melipat hasil ulangannya menjadi kipas.


“Hahahaa ... Jodohmu si Keong.” Joni terpingkal.


Akri menepuk jidat Deni.


Ren yang hanya mendapat nilai tiga koma lima, naik pitam. Dia tidak terima, mereka sekelas tidak bisa begitu terus sampai kelulusan.


Setelah yakin Pak Bayu pergi, dia mengumpulkan teman-temannya yang kemarin ikut menjenguk Andrea dengan alasan membicarakan pengumpulan dana.


Dia sengaja mengajak mereka semua, agar dia punya pasukan untuk memberi Fany peringatan.


Ren mengajak mereka ke belakang Aula.


“Ngapain ke sini?” tanya Akri.


“Sttt ... Aku punya rahasia. Kalian tahu kenapa nilai Biologi kita jeblok terus?”


“Kenapa?” tanya Dewi.


“Si Fany, dia telah menggunakan jin pengikutnya untuk membuat kita bodoh.” Ren mulai menyebar isu.


“Aahh, aku takut.” Zainal merengek.


Ren memandanginya, dia merasa salah besar telah mengajak dia.


“Kamu diam, bisa enggak?” gertak Akri. Zainal terdiam, sambil melihat kana kiri, ketakutan.


"Teruskan, Ren.” Rani penasaran.


Ren menceritakan apa yang dibilang Andrea tentang Fany. Mereka terkejut.


“Kamu tahu dari mana?” tanya Salsa.


“Tidak penting aku tahu dari mana. Kalian ingin kelas kita normal seperti kelas lainnya?” tanya Ren.


“Kamu jangan mengada-ada, Ren.” Salsa tidak percaya.


"Ck, aku serius, Sa. Andrea yang lebih tahu."


“Tetapi aku kok percaya dengan apa yang diceritakan Ren. Kelas kita memang beda kalau sedang belajar dengan guru lain.” Joni berjongkok, diikuti Zainal. “Apa sih?” tanya Joni, mendelik ke arah Zainal.


“Takut,” sahut Zainal.


“Begini saja, untuk membuktikan ucapanku, sekarang ikut aku ke perpustakaan. Sebentar lagi istirahat, si Fany pasti ke sana. Kita lihat tingkah lakunya.” Ren menatap wajah teman-temannya satu persatu.


Mereka setuju, lalu masuk ke perpustakaan yang sepi. Bu Nani, sang penjaga, sedang asyik membaca novel online di mejanya.


"Kalian sudah istrirahat?" tanya Bu Nani, ketika Ren permisi mau masuk.


"Kami baru selesai ngoreksi ulangan, Bu," jawab Salsa.


“Kalian masuk saja, jangan ribut!” perintahnya.


“Baik, Bu,” jawab Ren. Mereka menempatkan diri masing-masing untuk mengawasi Fany.


Benar saja, tidak lama kemudian Fany datang. Mencari tempat duduk di pojok yang remang-remang dan lembap.


Sarang laba-laba tampak di tembok, menandakan bahwa tempat itu tidak terjangkau ketika dibersihkan.


Fany membuka bungkus permen karet, memasukkannya ke dalam mulut, lalu asyik membaca buku.


Riasan igari menghiasi wajahnya. Dia banyak membubuhkan blush on di bawah mata, sampai ke ujung pipi, sehingga tampak seperti gadis pucat mabuk yang depresi.


Tiba-tiba dia bicara sendiri.


“Jin Korean style cupu sok bijak itu menghilang?” tanyanya, entah kepada siapa.


Dia membuka lembaran komiknya.


“Jangan senang dulu, mungkin sedang menyiapkan strategi,” ucapnya lagi.


Dia melirik ke bangku kosong di sebelahnya.


“Sudahlah, dia tidak menyukaimu. Makanya dandan yang rapi, biar enak dipandang!”


“Terserah, lu, lakukan saja semau lu!" sentaknya.


Fany menutup komiknya, dia berdiri, lalu berjalan dengan wajah kesal.


“Lu bicara sama siapa?” Ren tiba-tiba muncul dari balik lemari.


Lalu muncul Akri dari lemari lainnya, Joni dari balik tempat sampah, Salsa menyingkapkan gorden, Dewi dan Rani muncul dari kolong meja, dengan kamera ponsel menyala. Zainal tergopoh-gopoh dengan buku besar di kepala, rupanya dia dari tadi menyamar jadi meja.


Fany terpaku, menutupi terkejutnya dengan mengunyah cepat permen karet di mulutnya.


“Heh, jawab pertanyaan KM kita, Lu tadi talking sama siapa?” tanya Akri.


“Apa peduli lu semua?” Fany bergumam.


“Owh, kita sih tidak peduli sama lu, tetapi peduli sama kelas kita.” Ren melipat tangan di dada.

__ADS_1


“Jangan matikan kameranya Dew, kita ingin tahu apa yang akan dilakukan teman gaibnya sama kita.”


“Siap, Ren.”


“Teman macam apa, yang membiarkan tuannya digerebek seperti ini.” Ren sengaja mengejek, agar jin Fany beraksi, dan dia punya banyak bukti.


Fany melirik kamera yang mengarah padanya, lalu bicara dengan nada meremehkan, “bisanya main keroyokan.”


“Nah, lu bisanya minta bantuan makhluk gaib.” Akri melotot.


“Gue baru tahu, lu sejahat itu pada teman-teman sekelas.” Salsa menyeringai, wajah imutnya hilang.


"Biang kerok, memang harus dikeroyok, biar kapok." Ren menyingsingkan lengan baju.


“Terus, mau kalian apa?” Fany menyimpan komiknya di atas meja. Dia menunduk, membuat rambut panjangnya menutupi wajah. Dia seolah sedang mengubah dirinya menjadi kuntilanak.


Zainal menutup wajahnya dengan buku sambil komat-kamit, membaca ayat Quran yang dia bisa.


“Singkirkan dia dari kelas!” kata Ren.


Fany tertawa cekikikan. Salsa memegangi tangan Ren. Dewi dan Rani semakin antusias merekam. Zainal semakin gencar baca surat pendek.


“Waduh, dia mulai kerasukan,” kata Joni. Dia mendekati Akri.


Fany melangkah maju, mengeloyor, menabrak pundak Ren. “Singkirkan saja sendiri, kalau bisa,” lirihnya.


Ren memegang tangannya, lalu memutarnya ke belakang.


“Aww ....” pekik Fany.


“Berani melangkah sekali lagi ....” Ren menggertak.


Bertepatan dengan itu, Bu Anis datang.


“Ada apa ini? Mauren, apa yang kamu lakukan?” teriak Bu Anis dari mulut pintu.


Ren segera melepaskan Fany. “Bu,” ucapnya.


Bu Anis menghampiri mereka.


“Ada apa, Bu Anis?” Bu Nani yang baru sadar ada keributan bertanya dari tempat duduknya.


“Tidak ada apa-apa, Bu Nani.” Bu Anis menutupi ulah anak-anak didiknya.


"Ooh." Bu Nani meneruskan membaca novelnya.


“Kalian semua duduk!” perintah Bu Anis. Semua yang ada di sana duduk berderet di bangku panjang. “Ibu tidak mau ada perundungan di sekolah ini.”


Ren menunduk. “Maaf, Bu, saya ....”


“Saya tahu kamu jago bela diri, tetapi saya tidak tahu kalau kamu menggunakannya untuk menyakiti teman sendiri.”


“Maaf, Bu.”


“Tidak, Bu.”


“Kenapa minta maaf kepada saya?”


Ren terdiam, dia melirik Fany yang masih menunduk. “Maaf, Fan.”


Fany mengangguk, anggukan seorang yang teraniaya.


Memang lu setan kelas, pandai sekali main drama, batin Ren.


“Jika ada sesuatu yang harus diselesaikan, rundingkan dengan baik. Kalian pelajar, bukan orang barbar.”


“Iya, Bu.” Mereka menjawab serempak, lalu saling sikut.


Ren melirik tusuk konde Bu Anis. Dia ingat cerita Andrea waktu di mol, tentang jin betina yang bersemayam di sana. Dia melirik Fany yang masih menunduk dalam-dalam, drama.


“Ya sudah, sebaiknya kalian kembali ke kelas. Istirahat sebentar lagi usai, lebih baik mengisi tenaga dengan makan di kantin, di sini juga tidak membaca apa-apa.”


Bu Anis beranjak, mau mencari buku yang diperlukannya. Anak-anak juga beranjak, untuk kembali ke kelas.


Di mulut pintu, Ren menyenggol Dewi. “Aku pinjam ponsel kamu.”


Dewi memberikan gawainya kepada Ren. Ren melambatkan langkahnya. Dia pura-pura mengecek gawai Dewi. Setelah yakin Fany dan teman-temannya menjauh, dia berputar, kembali ke perpustakaan, mencari Bu Anis.


Bu Anis sedang menelusuri rak buku. Netranya tertumbuk pada jejeran novel karya penulis Indonesia. Hampir semuanya sudah dia baca, dari komedi sampai islami. Kisah-kisah yang ada di dalamnya telah mampu menghanyutkan perasaannya, membawa imajinasinya melanglang buana, ikut merasakan cinta, buncah rindu, bahkan gejolak hasrat.


Hanya satu yang dia tidak temukan, cinta yang sesungguhnya, yang bisa dia rasakan setiap waktu, menemani harinya yang semakin senja.


Ren mengamatinya lalu mulai beraksi, “permisi, Bu.”


Bu Anis terkejut. “Ada apa lagi, Mauren?”


"Maaf, Bu, boleh saya bicara sebentar?”


Bu Anis terdiam, lalu berjalan menuju bangku baca. Ren mengikutinya. “Ada apa?” tanyanya.


“Ehm, begini, Bu. Sebenarnya ini semua kapasitas Andrea, dia yang lebih berhak untuk menjelaskan. Tetapi saat ini dia sedang absen, jadi saya punya inisiatif sendiri untuk menjelaskan kepada Ibu.”


“Apa itu?”


“Tentang Fany, ternyata selama ini dia punya teman makhluk gaib yang kerap membuat kacau kelas.”


Bu Anis menaikkan alis sebelah. “Setan?”


“Sejenis itu.”


Bu Anis tertawa geli, tawa yang jarang sekali terjadi. “Kamu kebanyakan nonton hantu.”

__ADS_1


“Saya tidak suka film horor, Bu.”


“Sering-seringlah menonton film horor, agar kamu tahu, bahwa semua itu hanya imajinasi belaka. Artisnya hanya pakai kontak lens, saus strawbery, dan tempelan lilin.”


“Awalnya saya juga tidak percaya, tetapi tadi saya sudah melihatnya sendiri, Fany berbicara sendiri. Teman-teman yang lain juga melihatnya. Ibu bisa melihatnya di sini.”


Ren menyerahkan ponselnya dengan video siap diputar.


Bu Anis melihat isi video dengan saksama. Lalu menyerahkan video itu kepada Ren.


"Mungkin dia memang suka bicara sendiri.”


“Maksud Ibu, dia gila?” Ren menyimpan telunjuk di kening dengan posisi miring.


Bu Anis terdiam. “Tetapi itu tidak bisa dijadikan bukti.”


“Maksud saya, mungkin Ibu bisa membicarakan ini dengannya, untuk tidak melibatkan makhluk seperti itu di sekolah. Kemarin, waktu Ibu tidak ada, kami kacau sekali, bahkan sampai terjadi kerasukan masal. Saya tidak mau kejadian itu terulang kembali. Hanya Ibu yang bisa mengendalikan dia, karena ....”


“Karena apa?”


“Karena Ibu punya tusuk konde.”


“Tusuk konde?” Bu Anis meraba tusuk konde di kepalanya. “Kenapa dengan tusuk konde saya?”


“Andrea bilang, tusuk konde Ibu bisa mengendalikan jin yang mendampingi Fany. Caranya saya tidak tahu, tetapi mungkin Ibu bisa bicara dari hati ke hati dengan Fany.”


“Sudahlah, Mauren, jangan konyol. Saya tidak mau melakukannya.” Bu Anis berang, tusuk kondenya difitnah.


Ren menunduk. “Saya hanya mencoba menyelamatkan kelas kita, Bu. Kami juga ingin pandai di semua mata pelajaran, bukan hanya pintar matematika yang ibu ajarkan.”


Bu Anis terdiam. Dia juga mengakui, anak-anak didiknya dikeluhkan guru mata pelajaran lain. Mereka tidak bersungguh-sungguh belajar, nilainya jeblok semua, kecuali Fany.


“Baiklah, tidak ada salahnya saya coba bicara dengan Fany. Tetapi dengan cara saya sendiri.”


Bu Anis berdiri, melanjutkan mencari buku di rak. Ren tersenyum, dia berterima kasih dan permisi untuk ke kelas.


“Tentang Pak Iwan, Ibu jangan khawatir, saya yakin besok dia akan kembali ke sawahnya.” Ren tersenyum, sambil berjalan berpamitan.


Bu Anis terpaku dengan tangan memegang buku ensiklopedia.


Tusuk konde antik berkilat singkat. Bu Anis merasakan kaku di sekujur tubuhnya, lalu mendadak merasa tubuhnya ringan, dia melayang, antara sadar dan tidak. Seseorang membawanya terbang.


“Sudah hilang kesabaranku, mereka mulai mengusik ketenanganku, aku pun bisa melakukan hal yang lebih besar! Hahahaha ....”


Suara itu menggema di telinganya, guru antik itu tidak berdaya.


Bruk!!


“Bu Anis!” Ren yang masih ada di sana mendengar sesuatu terjatuh. Dia berlari, dan mendapati Bu Anis sudah tidak sadarkan diri. Bu Nani berlari menghampiri.


Tusuk konde Bu Anis berkilat, lalu meredup lagi.


**


Kembali ke Andrea.


Dia menjatuhkan bokongnya ke ranjang. Membaca lagi surat perjanjian yang dibuat ibunya dengan Tante Dina di atas materai.


Tidak terasa, air matanya bercucuran, mengetahui hidupnya sudah dipersiapkan ibunya untuk menjadi anak Tante Dina dan Om Azi.


“Ibuuuu!” teriaknya. Dia meremas surat perjanjian itu, lalu menangis sesenggukan.


Pantas saja Tante Dina dan Om Azi begitu baik kepadanya, mereka ternyata ada maunya. Dia baru menyadari, Tante Dina tidak mau ibunya sembuh, dia mendukung penuh ibunya untuk berobat alternatif. Mereka menginginkan ibunya cepat meninggal dan mereka bisa menguasainya. Tante Dina tidak punya anak, semua akan dilakukan untuk mendapatkan seorang anak. Apalagi anak seunyu dan secantik dirinya.


Andrea menjadi geram, dia merasa telah dipermainkan.


“Tante Dina pura-pura tidak tahu Ibu sakit, dia begitu biar aku percaya pada kebaikannya,” geramnya. Jari-jarinya meremas bantal, lalu melemparkannya ke dinding. “Kalian jahaaaat!” teriaknya.


Andrea membenamkan wajahnya ke kasur. Hari ini dia benar-benar merasa sangat dizalimi. Oleh Dodo, sepupunya sendiri, dan oleh Tante Dina, sahabat ibunya.


“Apa salah aku sama mereka? Jahat sekali, mereka tidak peduli pada perasaanku. Ibu, kenapa Ibu juga melakukan ini sama aku? Ibu tidak sayang sama aku. Ibu egois, apakah Ibu memang sudah ingin menyusul ayah?”


Andrea membuka ranselnya, dengan wajah kacau dia membuka dan menutup gembok sambil berteriak-teriak memanggil Dale.


“Dale, kamu ke mana?” Dia memutar-mutar anak kunci, sampai lehernya sakit karena kalungnya tertarik. “Kamu juga jahat sama aku!” isaknya. “Kamu tidak peduli sama aku!” Andrea berdiri, dia memandang nanar wajahnya di cermin meja rias ibunya.


Secepat kilat dia keluar, berlari ke jalan.


Seorang anak kecil datang dengan mengendarai sepeda. Andrea menghadangnya. Anak lelaki itu sigap mengerem sepedanya.


“Kakak mau tertabrak ya?”


“Malah berhenti, cepat tabrak aku!” Andrea berteriak.


Anak laki-laki itu melihat dengan wajah ketakutan. Dia segera memutar sepedanya untuk kabur.


“Aaarrggh!” Andrea meremas rambutnya. Dia melihat-lihat sekeliling jalan. Tidak ada kendaraan yang lewat. Dia melihat tiang listrik, berdiri tegak.


“Baiklah, mungkin dengan begini kamu bisa datang, Dal.” Andrea berlari menuju tiang listrik.


Tiba-tiba sebuah motor melintas tidak disadari Andrea.


Tintiiiiiinn!!


Suara klakson memekakkan telinganya. Andrea menjerit sambil menutup kuping. Embusan angin melayangkan tubuhnya ke pinggir. Andrea terkulai di pelukan seseorang.


Motor yang mau menabraknya kabur tunggang langgang.


Dengan gemetar Andrea memeluk orang yang menolongnya.


“Kamu datang, akhirnya kamu datang, Dal.” Andrea memeluk dengan erat. “Kenapa aku harus nyaris celaka dulu, kamu baru datang?” tanyanya, tanpa melihat siapa yang dipeluknya.

__ADS_1


Andrea menengadahkan wajahnya. “Kamu, kamu siapa?” teriaknya dengan mata terbelalak.


bersambung


__ADS_2