
Sebelumnya, di kampung.
Dodo mencari ibunya ke rumah Mang Ohen. Tetapi tidak ada. Dia dibantu Mang Ohen mencarinya ke kebun karet, pabrik, sawah, dan tempat-tempat yang sering ibunya kunjungi. Mereka tidak menemukannya.
"Maaf, Den, apa kalian bertengkar?" tanya Mang Ohen.
Dodo terdiam, lalu menjawab pelan, "iya, Mang. Aku kecewa sama Mbu."
Mang Ohen menunduk. "Maafkan Mamang ya, Den. Gara-gara Mamang menceritakan semuanya, kalian jadi bertengkar."
"Mang Ohen tidak bersalah, justru aku berterima kasih, karena cepat mengetahuinya, dan mudah-mudahan aku bisa mencegah Mbu bertindak lebih buruk lagi."
Mang Ohen mengangguk-angguk. "Saya setuju, Den."
"Ya sudah, Mang Ohen sekarang pulang saja, kan lagi sakit. Biar saya mencari Mbu sendiri."
"Baik, Den." Mang Ohen beranjak pulang.
Dodo termenung sebentar di jembatan persimpangan jalan menuju rumahnya. Memikirkan ke mana lagi harus mencari ibunya.
Lalu dia naik ke motornya, dan pergi dari situ.
“Aa Dodo dari mana?” Bi Yayah, pemilik warung yang tadi dia hancurkan mejanya menegur.
Dodo menghentikan motornya. “Eh, Bi, mau ke mana?
"Mau pulang ke rumah, di warung kehabisan oncom," sahut Bi Yayah. Dia memang terkenal dengan sambal oncomnya yang lezat.
"Oh, Bi, lihat Mbu aku?” tanya Dodo.
Bi Yayah menggeleng. “Tidak, A. Memang Juragan istri ke mana?”
“Kalau tahu mah, aku tidak tanya Bi Yayah.” Dodo menstater motornya.
“Eh, Aa tunggu dulu!” Bi Yayah menggapai-gapai Dodo.
“Apa lagi, Bi? Mau minta ganti rugi meja? Nanti ya, aku buru-buru.”
“Bukan, ini justru Bibi mau balikan uangnya, kebanyakan.” Bi Yayah mengeluarkan dua gepok uang dari balik sarungnya, yang sebagian sudah pecah menjadi recehan puluhan ribu. Dia menyerahkannya kepada Dodo.
“Apa ini?” tanya Dodo. Untung saja Bi Yayah menyimpannya di balik sarung, kalau dari balik kutang seperti kebiasaan ibu-ibu jaman dulu, dia belum tentu mau menerimanya secepat itu.
“Ini, tadi Asep titip ke Bibi. Katanya ini uang Aa. Bibi suruh ambil untuk benerin meja.”
“Asep?” Dodo mengerutkan keningnya. Bi Yayah mengangguk. “Bibi sudah ambil?”
“Sudah, dua puluh ribu. Buat beli papan sama paku.”
Dodo yakin, itu upah Asep yang diberikan oleh ibunya. Ternyata temannya itu benar-benar terpaksa melakukan itu.
Dodo mengambil lagi dua lembar uang seratus ribuan, lalu memberikannya kepada Bi Yayah, sekalian pecahan recehannya.
Yang masih gepokan dia masukkan ke saku jaket.
“Ini untuk Bibi, kalau ada Nceng, Ujang, atau Asep ngopi, kasih mereka kopi gratis. Bilang dari aku.”
Bi Yayah bengong. “Iya, baik, A,” jawabnya.
Dodo langsung kembali ke rumah. Ternyata ibunya belum pulang. Dia masuk ke kamarnya, membaca pesan dari Zellina yang belum sempat dibacanya.
Kak, aku menghitung kita baru berpisah selama empat jam dua puluh tiga menit, tetapi, terasa empat tahun dua puluh tiga hari saja.
Bagaimana denganmu?
Dodo menekur, tidak menyangka Zellina akan begitu merindukannya. Biarpun mungkin saja hanya sebuah gombalan, tetapi dia yakin cinta mereka benar-benar dalam.
Dodo merasakan perasaan yang berbeda kepada Zellina. Tidak seperti kepada pacar-pacarnya terdahulu.
Dia melamun di kamarnya, mencoba merenungkan apa yang harus dia lakukan.
Semakin lama dia semakin merasa bersalah kepada Andrea.
Dikeluarkan dua gepok uang senilai dua puluh juta yang sudah berkurang tiga ratus ribu itu.
Dodo meraih gawainya, dia hubungi kekasih hatinya, yang mungkin sedang menunggu menghubunginya.
“Halo, Kak,” bisik Zellina dari ujung gawainya.
“Hallo, sayang! Kenapa bisik-bisik?”
“Eh, enggak apa-apa. Kenapa menelefon?”
“Katanya kamu rindu, aku juga rindu.”
Dia lama terdiam, menunggu jawaban dari Zellina.
“Iya, aku tahu,” jawab Zellina.
“Siapa, Zell?” terdengar suara Ren.
Dodo mengerti, Zellina pasti kikuk karena di sana ada teman-temannya.
“Kalian sampai mana?”
“Kita di alun-alun Bandung.”
Dodo terdiam, dia seperti mendapat ide.
“Aku mau susul kalian, sampaikan kepada Andrea, aku akan ikut kalian. Aku akan naik bis dari sini, tidak akan lama kok.”
“Hah?” terdengar suara Zellina yang kaget.
Dodo menutup gawainya, dia segera berkemas. Uang dua puluh juta dia masukkan ke dalam ranselnya.
Selesai berkemas dia keluar. Ibunya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Mbu?”
“Kamu mau ke mana?” Bu Nisma merebut gawai dari tangan Dodo. Sebuah panggilan masuk.
“Zellin sayang?” tanya Bu Nisma. “Dia kan temannya Andrea.” Dahinya berkerut.
“Iya, aku mau susul mereka," sahut Dodo.
Bu Nisma mematikan gawai Dodo.
"Mbu?"
“Berani melangkah sedikit saja dari rumah ini, Mbu akan perintahkan orang-orang suruhan Mbu untuk mencelakakan mereka!”
“Mbu?” Dodo berteriak. Tidak menyangka ibunya sudah bertindak lebih cepat.
“Mereka sudah meluncur ke sana. Kalau kamu masih mau Andrea selamat, masuk kamar kamu sekarang!” Bu Nisma menunjuk kamar Dodo dengan tegas.
__ADS_1
Dodo menekur, dia berbalik masuk ke kamarnya, lalu menjatuhkan diri di kasurnya. Dia bangkit lagi, pandangannya kini ke luar jendela yang sudah mulai temaram.
Maafkan aku, Zell, tidak bisa menemuimu sekarang, batinnya.
Dale yang sudah disuruh Andrea datang, dia mengawasi Dodo yang sedang memandang jauh, tidak berani mengganggunya.
Dia menunggu Dodo selesai melamun, sampai lehernya pegal-pegal.
Setelah sekian lama, Dodo baru beranjak dari jendela.
“Astaga, sejak kapan kamu di situ?” tanyanya kepada Dale, yang nangkring di atas lemari pakaiannya.
“Sudah lama, Den.”
“Kamu di suruh Andrea?”
“Kok, Den Aldo tahu?”
“Ah, aku tidak ingat ada kamu. Sini turun!” Dale tetap diam saja.
Dodo menggigit giginya sendiri. “Euuh, sombong banget kamu mah, sudah enggak mau nurut sama aku.”
“Saya kan nurutnya sama Neng Andre.”
“Iya, tahu. Terus kamu mau apa ke sini?”
“Kan saya tadi sudah bilang, disuruh Neng Andrea, melihat Den Dodo ada di mana.”
“Di sini, sudah kelihatan sama kamu?”
“Sudah, Den.”
“Ya sudah, sana pergi, mau apa lagi?”
Dale menggeleng. “Kenapa Aden menyuruh-nyuruh saya? Terserah saya dong mau apa lagi.”
Dodo menjatuhkan pantatnya di kasur. Dia sedang kesal, semakin kesal saja dengan kedatangan jin ini.
“Aku kesal, tidak diizinkan Mbu untuk pergi, ponsel aku juga dirampas Mbu, jadi tidak bisa menghubungi Zellina.” Dodo sengaja bicara begitu, agar nanti Dale melaporkan ke Andrea. Jin itu tidak mau kalau disuruh orang lain, tetapi akan menyampaikan secara akurat info yang dia dengar, kepada majikannya.
“Le, ternyata Mbu aku jahat.” Dodo bergumam.
“Kenapa Aden berpikiran seperti itu?” Dale mengerutkan dahinya. Dulu pernah dekat dengan Dodo, setelah Dodo memutar gembok karuhun itu. Dale selalu mengikuti Dodo kemana pun. Mereka sebenarnya cocok, tetapi entah kenapa Dodo tiba-tiba marah dan memasukkannya ke dalam gembok lagi.
“Dia ingin menguasai harta Aki sendirian." Dodo menjawab pertanyaan Dale.
"Kalau itu kan sudah dari dulu, Den."
"Kamu tahu?"
"Tahu, kan masalah itu juga yang membuat kakeknya Den Dodo marah kepada beliau dan suaminya."
"Ayah aku?"
"Iya."
"Terus?" Dodo penasaran dengan cerita yang sebenarnya, dengan berusaha tidak mengucapkan kata yang mengandung suruhan kepada makhluk itu.
"Juraga karsijan menyuruh saya untuk mengikuti ayah Den Dodo. Mencari tahu, ke mana sebenarnya dia menghabiskan uang Juragan, agar Neng Nisma tahu kelakuan suaminya di luar. Dan ternyata ...." Dale menghentikan ucapanny.
"Ke mana?" tanya Dodo.
"Ke tempat pelacuran."
"Ketika sedang main-main di sana, ayah Aden kecelakaan, dan meninggal. Neng Nisma tidak terima, dia tahunya Juragan menyuruh saya untuk mencelakakan suaminya. Juragan tidak tega melihat kesedihan Neng Nisma yang sedang mengandung Den Dodo, akhirnya dia memasukkan saya ke gembok, demi menyenangkan hati Neng Nisma." Dale menerawang.
Dodo tercengang. "Jadi, ayahku meninggal karena kecelakaan?"
"Iya."
"Bukan oleh kamu?"
"Bukan, Juragan kan tidak pernah menyuruh saya jadi pembunuh."
"Kata Mbu, kamu yang membuat ayahku terbunuh."
"Saya juga kan tadi bilang begitu, beliau menuduh saya. Tetapi kenyataannya bukan."
Dodo tercenung. Dia selama ini telah termakan kata-kata ibunya.
Padahal, Dodo sendiri sudah berteman dengan Dale. Ibunya tidak tahu kalau dia telah membebaskan Dale diam-diam.
Tetapi, setelah ibunya bercerita tentang jin jahat peliharaan kakeknya, dengan cepat dia memasukkan kembali Dale ke dalam gembok, supaya ibunya itu tidak marah.
"Aku bingung, Dal." Dodo mengusap wajahnya.
"Bingung kenapa?"
"Aku tidak bisa melawan, Mbu. Bagaimana pun dia orang yang telah melahirkanku. Tetapi, aku juga tidak ingin dia berbuat seperti itu kepada Andrea."
"Berbuat apa?"
"Menguasai harta warisan, dan juga berusaha mencelakakan Andrea."
“Saya sudah menduganya, Den.”
“Kamu tidak tahu?”
“Tidak, saya mah bukan jin mata-mata, kecuali disuruh.”
Dodo menarik nafas panjang. Lalu Dodo menceritakan semua penyebab tragedi rem blong itu kepada Dale, dengan harapan Dale menyampaikannya juga kepada Andrea.
“Aku yakin, Andrea pasti tidak akan percaya, karena dia begitu dekat dengan Mbu. Aku juga yakin, kamu akan terus menjaganya. Ada hikmahnya juga aku menyusupkan gembok itu ke ranselnya dulu." Dodo terpejam.
"Jadi, Aden yang sudah menaruh saya di ransel Neng Andre?" tanya Dale.
Dodo mengangguk. "Iya, Dal. Aku berharap dia ketakutan terus di rumahnya, karena kamu kan suka ngunguntit seperti ke aku dulu. Ternyata kamu malah jadi penjaga setianya."
Dodo menoleh kepada Dale.
"Aku jahat ya, Dal. Sama Andrea?"
"Sudah, Den, tidak usah dipikirkan. Justru Aden sudah membantu menyelamatkan Neng Andrea, melalui saya."
"Iya, kamu benar, Dal. Mungkin itu semua sudah ada yang mengatur. Kita kan tidak tahu bagaimana semesta bekerja."
Dale terdiam, dia sudah mendapatkan info yang diinginkan Andrea semuanya, bahkan sudah lebih.
“Saya permisi, Den,” ucapnya, lalu menghilang.
“Ih, dasar si Borokokok! Malah pergi.” Dodo menghempaskan tubuhnya ke kasur. Lalu dia teringat kepada kekasihnya. “Zellin ... Oh, Zellin ...,” lirihnya, sambil *******-***** bantal.
**
__ADS_1
Andrea kembali, teman-temannya masih duduk-duduk di tempat tadi. Gigit sedang berfoto dengan suster ngesot KW. Andrea meliriknya, hatinya masih seperti teriris-iris kalau melihat dia.
“Pecel lelenya mana, Ndre?” tanya Zellina.
“Pecel lele?” Andrea kebingungan.
“Kata Ren kamu mau beli pecel lele.”
Andrea melirik Ren. Yang dilirik pura-pura melihat langit.
“Enggak, aku mencari Kang Sule.” Andrea menjawab sekenanya.
“Oya? Kang Sule orang sini?” tanya Zellina.
“Tidak tahu, mana tahu saja ketemu di sini, aku kan ngefans.”
“Yaela, Ndre, begitu amat jadi fans, belum tentu juga ada di sini, dicari-cari. Yang sudah jelas ada ya ke studio tempat acara dia atuh, Neng!” Zellina sewot.
“Terus saja mengarang, sampai kamu bisa menulis naskah drama, Ndre,” gumam Ren.
“Kamu kenapa, Ren?” tanya Andrea.
“Enggak, aku lagi kumur-kumur,” jawab Ren, sambil mengembungkan mulutnya.
Gigit menghampiri, dia sudah selesai mengabadikan hantu-hantu gentayangan sepanjang jalan itu.
Andrea mengacuhkannya. Gigit merasakan itu.
“Sambil menunggu kakak kamu, kita ke mana? Bosan di sini terus, lihat orang hilir mudik.” Ren melihat orang-orang berjalan.
“Kita belum beli jajan, Ndre. Kuliner dulu, yuk!” ajak Zellina.
Andrea garuk-garuk kepala. “Memang punya duit?”
Zellina memutar mata. “Ndre, kamu meragukan Zellina Putri Wijaya?” Dia berdiri, membuka tasnya, lalu mengambil dompetnya.
“Sudah, sudah, Nona muda! Aku tahu kamu punya segalanya.” Ren memasukkan tangan Zellina bersama dompetnya ke dalam tas lagi. “Pamer di pinggir jalan begini, mengundang jambret,” gerutunya lagi.
“Iya nih, kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga kesempatan.” Andrea bicara mengikuti gaya Bang Napi.
Zellina baru sadar, dia buru-buru duduk lagi.
“Ayo, kita kuliner,” rengeknya.
Teman-temanny segera meluluskan permintaan Nona muda itu.
Mereka berjalan ke mana saja kaki mereka melangkah. Sampai akhirnya mengikuti orang-orang memasuki jalan Braga.
Di sana mereka menemukan sebuah toko yang menjual jajanan jaman dulu.
Mereka antusias mendengar pegawai toko yang menjelaskan makanan-makanan yang sudah langka dan unik itu. Zellina membeli beberapa jajanan, dan mencicipinya.
"Oh, jadi begini jajanan Opa dan Oma dulu?" gumamnya, sambil menggigit telor cicak warna-warni.
Di kedai mi kocok Bandung mereka mengisi perut. Tidak lupa mencicipi tutut pedas yang sedang hit.
"Ini teman kamu, Zell," kata Andrea.
"Teman?" tanya Zellina, memandangi semangkuk sayur tutut yang sudah seperti kelereng berendam.
"Iya, teman manyun." Andrea memonyongkan bibirnya. Zellina meneliti tutut di depannya.
"Eh, iya, monyong," serunya. Dan dia tidak bisa memakannya satu pun, karena tidak terampil, kalah sama Pak Supri yang srapat sruput menikmati tututnya.
Makanan yang di makan di tempat aslinya sangat berbeda dengan yang mereka temui di tempat lain.
Pokoknya mereka puas, menikmati keramaian dan kuliner Bandung.
Andrea sesekali menengok kanan kiri, mencari Dale. Tumben sekali lama memberi laporan.
Selesai salat magrib mereka berkumpul di rumput sintetis yang menghampar. Kali ini termasuk Pak Supri.
“Sampai jam berapa kita menunggu?” tanya Gigit, melihat waktu di gawainya.
“Sampai Kak Dodo datang,” sahut Zellina, dengan mata berbinar. Dia mulai mengecek lagi pesan yang dia kirimkan ke Dodo, belum diterima oleh Dodo.
“Neng,” panggil Dale.
“Astaga!” Andrea yang sedang melamun mengusap dadanya karena kaget.
“Kenapa, Ndre?” tanya Zellina.
“Ngga, ini ada nyamuk.” Andrea menepuk-nepuk lengannya.
"Nyamuk? Perasaan dari tadi tidak ada nyamuk. Udara dingin begini jarang nyamuk kali, Ndre." Ren melihat-lihat sekitar.
"Ada lah, nyamuk ganjen," kata Andrea.
Teman-temannya kembali menikmati malam. Andrea beringsut menjauh, susah juga dia berkomunikasi dengan Dale di antara banyak orang berlalu lalang seperti ini. Kota itu memang seperti tidak pernah sepi dari manusia.
“Bicara saja, apa yang kamu ketahui, aku tidak bisa ngobrol,” gumamnya.
“Aa Dodo masih di kamarnya.”
“Hah?” Andrea melonjak.
Ren menengoknya. “Si Andre, kamu lagi apa di sana?” tanya Ren.
“Aku mau pipis dulu ya.” Andrea berlari pura-pura mencari toilet. Dale mengikutinya.
Teman-temannya memandanginya dengan heran.
“Ayo, ceritakan semuanya!”
Andrea bersandar ke tembok di tempat yang sepi. Dia tidak di toilet, tetapi basement yang dijadikan tempat parkir.
"Mau pipis di sini, Neng?" Dale melihat kiri kanan, mobil semua.
"Ngga, masa iya aku ke toilet sama kamu," kata Andrea. "Ayo cepat ceritakan" Andrea tidak sabaran.
“Den Dodo masih ada di kamarnya, dia dilarang pergi oleh Ua istri, ponselnya juga dibawa sama beliau. Den Dodo mau ke sini itu mau pergi dari rumah, kabur, karena kecewa kepada Ua istri. Katanya, Ua istri ingin menguasai harta warisan semuanya, tidak ingin membaginya dengan Neng, dan ....” Dale tidak melanjutkan ucapannya.
“Dan apa?”
“Dan, Ua istri juga yang mencoba mencelakakan Neng, dengan menyuruh Asep mengutak-atik rem mobil dan mencekoki Pak Supri dengan antimun.” Dale bicara dengan lancar.
Andrea menutup mulutnya. Lalu memukul dada Dale. “Jangan ngarang kamu!”
Dale terjengkang. “Saya mana berani mengarang, Neng. Tulisan saya jelek."
“Diam kamu!” Andrea berang. "Aku tidak terima laporanmu!"
Dale terdiam. Mereka jadi diam-diaman di basement.
__ADS_1
bersambung