My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 86 Ibu Berwasiat, Pembantu Dipecat


__ADS_3

“Neng, Ibu sakit kepala lagi.” Bi Cicih tergopoh menyambutnya di teras rumah.


Andrea yang baru saja menstandarkan motornya segera berlari. Diikuti Bi Cicih dari belakangnya.


Dengan masih memakai helm Andrea melihat Ibunya sudah terbaring di ranjang kamarnya dengan mata terpejam. Dale ada di sana, berdiri dekat lemari.


“Bu,” panggil Andrea, dengan suara pelan, dari mulut pintu kamar.


Ibunya membuka mata. Memandanginya dengan sorot mata sayu. Andrea mendekatinya. Membuka helm dengan lesu, dan menyerahkannya kepada Bi Cicih, seperti pembalap kalah balapan.


“Ibu tidak apa-apa?” Andrea bertanya dengan suara parau. Yuli memejamkan mata lagi, menikmati sergapan nyeri di kepalanya.


“Bi, kenapa dengan Ibu?” Andrea bertanya kepada Bi Cicih yang kembali lagi usai menyimpan helm.


“Saya tidak tahu, Neng. Ibu tadi mengeluh sakit kepala, lalu saya membawanya ke sini.”


Andrea melihat ada sebuah bungkusan di nakas. “Apa ini?”


“Itu jamu herbal, Tante Dina yang bawa kemarin,” sahut Bi Cicih.


“Ibu minum ini?”


Bi Cicih mengangguk. Andrea kembali menatap ibunya. Dia memegang tangan ibunya, dengan pikiran kacau.


Kalau ibunya tidak segera di operasi, dia takut akan semakin parah. Pikiran buruknya terhadap Tante Dina datang lagi.


Dia benar benar ingin ibuku tidak tertolong.


Bi Cicih memijit kaki Yuli perlahan. “Ibu habis menerima telefon,” bisik Bi Cicih.


“Dari siapa?”


“Bibi tidak tahu, tetapi kelihatannya Ibu sedih, lalu pusing.”


"Dari Ua istri, Neng." Dale ikut nimbrung.


"Apa?" Andrea menolehnya.


Bi Cicih keheranan melihat sikap Andrea, dia juga ikut menoleh ke arah lemari.


“Ndre,” panggil Yuli, dengan suara lemah. Dia membuka mata. Bi Cicih segera menghentikan aksinya memijat.


“Bu, ibu baik-baik saja?” tanya Andrea.


Yuli mengangguk. Dia berusaha untuk bangun. Andrea dan Bi Cicih membantunya. Yuli seperti hendak menyampaikan sesuatu kepada Andrea.


Bi Cicih mengerti. “Saya ke dapur dulu, Neng,” ujarnya. Menyebut tempat favoritenya.


Andrea mengangguk.


“Bi,” panggil Yuli.


Bi Cicih terkejut, dia cepat-cepat menghampiri Yuli. “Iya, Bu.”


“Bibi di sini saja dulu.”


Andrea menatap Bi Cicih, mereka saling berpandangan dengan hati yang tidak menentu.


“Ndre, kamu sudah makan?” tanya Yuli. Andrea menelan saliva dengan susah payah. Dia belum makan, baru menghabiskan segelas jus jeruk, seperti meminum segelas bir memabukkan, agar dia melupakan Gigit. Tetapi bukan lupa, perutnya malah perih.


“Belum, Bu, aku nanti makan. Ibu jangan banyak bicara dulu, nanti kepala Ibu semakin sakit. Aku baru pulang, dari servis HP.”


“Sudah bener lagi?”


“Sudah, kebetulan yang punya toko servis itu teman aku, Bu. Jadi kita ngobrol dulu lama.”


Yuli tersenyum. “Ibu minta maaf, tidak bisa mengurus kamu. Malah kamu yang mengurus Ibu.”


“Bu, kenapa bicara begitu?”


“Ibu tahu, kamu berusaha mencari uang untuk operasi Ibu.”


Andrea menunduk. “Bu ....”


“Maafkan Ibu, Nak. Ibu menjadi beban pikiranmu." Yuli meringis, menahan sakit di kepalanya. "Kamu, tidak usah hubungi Ua lagi,” lirih Yuli. Dia memegangi tangan Andrea.


Andrea mengangkat kepalanya. Berarti Dale benar, uaknya tadi menghubungi ibunya. Melihat ibunya seperti ini, dia jadi kesal kepada uaknya.


“Bu, kita punya hak dengan harta Aki.”


Yuli menggeleng. Dia menangis, Andrea memeluk bahunya.


“Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa, Ndre. Ibu tidak apa-apa, Ibu baik-baik saja.”


Mereka berpelukan sambil menangis.


“Bu, apa Ua menelefon?” Andrea mendorong badannya. Yuli menatapnya, lalu membereskan rambut Andrea.


“Iya, Ua menelefon. Ibu minta, kamu jangan ganggu Ua lagi ya, kamu harus mandiri, jangan pernah mengungkit-ungkit lagi masalah warisan kepada Ua. Biar saja, Ua yang mengurus semuanya. Tidak baik juga menjual warisan.”


“Tapi, Bu.” Andrea tidak tahu apa yang telah mereka bicarakan, tetapi dia yakin uaknya sudah mulai memperlihatkan ketamakannya. Rasa hormat dan sayang kepada uaknya tidak pernah luntur, hanya saja sekarang sudah berkurang, dia juga harus lebih waspada, karena perempuan yang pernah pura-pura menyayanginya itu, bisa berbuat apa saja.


"Dari dulu, ayah kamu juga tidak pernah menginginkannya. Kamu harus menghormati keinginan ayah kamu." Yuli tersenyum.


“Ibu baik-baik saja, cukup berobat jalan dibantu alternatif juga, Nak. Tante Dina sudah bersedia membantu Ibu.”

__ADS_1


Andrea berdiri, dia sudah tidak tahan mendengar nama Tante Dina. “Aku tidak setuju!" serunya.


Bi Cicih sampai terkejut. “Neng,” ucapnya. Dia khawatir dengan kondisi Yuli.


“Ibu harus operasi. Tumornya belum terlalu besar, Bu. Kata dokter Ibu harus operasi. Kalau mau alternatif, nanti saja, untuk pemulihan.”


“Ndre,” ucap Yuli, masih dengan suara lemah.


“Pokoknya aku mau cari uang, Ibu harus operasi.” Andrea melangkah, matanya mulai memanas lagi.


“Neng!” Bi Cicih dan Dale bicara berbarengan. Andrea jadi tertegun.


“Ndre, dengarkan dulu Ibu,” ucap Yuli. “Kamu mau ke mana?”


Andrea membalikkan badannya. Wajahnya sudah mendung, hidungnya memerah.


“Aku mau cari uang, Ibu sendiri kan tadi yang bilang, kita harus mandiri. Kita jangan terlalu mengandalkan orang lain."


“Ke mana?” Yuli sangat tahu sifat anaknya, yang kerap nekat.


“Ke rumah Zellina. Papanya orang kaya, mungkin bisa pinjamkan uang, biar aku bayar dengan bekerja apa saja. Ibu jangan mendengarkan terus Tante Dina, dan Om Azi. Mereka sengaja tidak mau Ibu sembuh, agar bisa cepat-cepat membawa aku.”


“Ndre?” Yuli keheranan, Andrea bisa bicara seperti itu kepada sahabatnya.


“Aku sudah tahu, Bu. Ibu tidak bisa mengelaknya. Ibu setuju aku jadi anak mereka kan?”


“Ndre?”


“Kenapa sih, Bu, Ibu tidak optimis saja untuk sembuh? Aku mau terus bersama Ibu." Andrea menangis sesenggukan.


Yuli memejamkan mata. Mereka tidak ada yang bicara lagi. Andrea tetap berdiri di tempatnya sambil sibuk menyeka air mata.


Bi Cicih menekur, memainkan jari-jarinya.


“Neng, jangan begitu,” katanya.


“Iya, Neng. Tidak baik bersikap seperti itu kepada Ibu. Apalagi beliau sedang kesakitan seperti itu." Dale ikut-ikutan bicara.


Andrea berjalan, kembali duduk dekat ibunya.


Yuli membenarkan letak duduknya.


“Sayang, manusia mandiri juga bukan berarti tidak butuh orang lain. Kamu jangan begitu kepada Tante Dina dan Om Azi. Mereka sangat baik selama ini. Tante Dina yang telah memberi Ibu pekerjaan. Dia juga sangat menyayangi kamu. Apa salah jika Ibu menitipkan kamu kepada mereka?”


“Memang Ibu mau ke mana?” jerit Andrea.


Yuli menarik nafas dalam-dalam. “Operasi tidak menjamin kesembuhan, Ndre. Letak penyakit Ibu di kepala, bisa saja Ibu malah ....” Yuli tidak bisa menahan sedihnya, dia menangis.


“Bu, siapa yang bilang itu kepada Ibu? Dokter? Dokter tidak pernah bilang begitu kan? Malah operasi itu saran dari dokter. Sakit ibu masih bisa disembuhkan. Pokoknya, aku akan mencari uang, aku tidak ingin jadi anaknya Tante Dina, titik!”


“Ndre.” Yuli menyeka air matanya. “Kita sudah berhutang banyak kepada Tante Dina.”


“Bu?” Andrea tidak mengerti. Sekali lagi dia tidak jadi pergi dari kamar itu.


“Ibu sudah tidak punya apa-apa, Ndre. Bahkan rumah ini sudah menjadi jaminan untuk hutang Ibu kepadanya.”


“Apa?” Andrea terbelalak. Bi Cicih juga menutup mulutnya, karena terkejut.


Yuli menangis lagi. Andrea melihat banyak sekali penyesalan si wajah ibunya. Dia menghambur, memeluk ibunya.


“Bu, kenapa Ibu lakukan ini kepadaku?”


“Sejak sakit, Ibu jarang masuk kerja, Ndre. Ibu juga memakai keuangan kantor untuk berobat. Tante Dina baru mengetahuinya setelah menyelidiki keuangan. Tetapi dia tidak marah, malah masih memperkerjakan Ibu. Tetapi uang itu tetap saja uang kantor, Ibu harus menggantinya. Ibu juga terlilit pinjaman online." Yuli menelan ludah. Andrea memejamkan mata.


"Tante Dina juga yang melunasinya, karena pinjmannya semakin membengkak." Yuli terdiam lagi, lalu melanjutkan ucapannya, "Ibu berikan sertifikat rumah ini untuk membayarnya ke Tante Dina." Yuli menghapus air matanya. "Tante Dina sebenarnya tidak mengharapkan ini, tetapi Ibu memaksanya. Berjaga-jaga, seandainya umur Ibu tidak panjang, Ibu tidak membawa hutang."


“Ibu ....”


Bi Cicih ikut menangis, tidak menyangka mereka akan mendapat ujian seberat itu.


“Tante Dina juga baru mengetahui Ibu sering berobat alternatif, setelah kamu bertanya kepadanya waktu di toko itu. Lalu dia kembali membantu Ibu, dengan selalu mengantar Ibu berobat, bersama Om Azi. Mereka antar Ibu, lalu jemput lagi ke Bogor. Mereka orang-orang baik, Ndre.”


Andrea menekur. Dia ingat kejadian waktu bertemu Tante Dina di toko buku. Ternyata dia langsung mencari tahu. Dan kebersamaan ibunya dengan Om Azi yang dilihatnya, ternyata juga tidak seperti yang dia pikirkan. Mereka berangkat dengan Tante Dina juga.


“Mereka sudah banyak sekali membantu kita, Ndre. Kalau kamu memang menemukan surat perjanjian itu, itu Ibu yang membuat. Tante Dina dan Om Azi tidak pernah memaksa Ibu. Ibu tidak mau operasi bukan karena mereka, tetapi karena kita memang sudah tidak punya apa-apa."


Andrea menekur. Dia sadar telah termakan pikirannya sendiri tentang Tante Dina dan Om Azi. Itu karena dia terlalu takut punya papa tiri.


“Bi,” panggil Yuli.


“Iya, Bu.” Bi Cicih melangkah satu langkah. Tangannya menyeka air mata di pipinya. Kejadian yang menimpa keluarga ini membuatnya sedih.


Yuli mengambil sesuatu dari laci nakasnya. “Maaf kalau saya suka telat membayar gaji Bibi.” Yuli meraih tangan Bi Cicih, dia menaruh amplop di sana.


Dengan berat hati, Bi Cicih menerimanya. “Bu, tidak apa-apa, saya ....”


“Saya sudah tidak mampu bekerja lagi, Bi. Nanti saya malah tidak bisa membayar Bibi. Jadi, Bibi tidak usah membantu saya lagi.”


Bi Cicih terdiam, lalu dia bicara sambil menangis. “Bu, Ibu memecat saya? Saya salah apa, Bu? Saya masih mau bekerja di sini, huhuhu .....”


“Bi Cicih tidak pernah membuat kesalahan, bahkan Bi Cicih sangat berjasa kepada kami. Terima kasih, Bi. Tetapi, saya sudah tidak bisa membayar Bibi,” sahut Yuli.


“Tidak apa-apa, Bu, saya ikhlas, meskipun tidak dibayar, saya sudah menganggap keluarga Ibu itu keluarga saya juga," ujar Bi Cicih di sela-sela isakan tangisnya. Ingusnya mulai ke mana-mana.


Dale juga ikut terharu, nanti dia tidak bisa nonton televisi bareng lagi.

__ADS_1


“Bibi jangan begitu, Bibi bisa mencari kerja di tempat lain. Pasti banyak yang membutuhkan tenaga Bibi.” Yuli mengusap lengan Bi Cicih yang keras dan besar, montok.


Bi Cicih menunduk, lalu berlari ke luar sambil menangis. Dia sudah bekerja lama di rumah itu, dan sangat kerasan. Dia sedih jika harus berhenti bekerja.


Dale melihatnya dengan iba. Ternyata di dunia manusia juga ada yang tidak mau berpisah dengan juragannya. Rela tidak dikasih upah juga. Kalau Bi Cicih jadi jin, tentu dia akan sangat setia.


Andrea membiarkan Bi Cicih menumpahkan kesedihannya di dapur, sambil mengulek sambel, merajang bawang, atau menggosok pantat panci, terserah dia.


“Kalau tidak ada Bi Cicih, siapa yang akan beres-beres, masak, dan menjaga Ibu kalau aku sekolah?” tanya Andrea.


Yuli mengusap kepala Andrea. "Kamu pasti bisa belajar mandiri, Ndre. Sebenarnya Ibu berat mengatakan ini, tetapi kamu harus bisa memahaminya. Ibu sementara waktu akan tinggal di Bogor, tempat pengobatan Ibu selama ini.”


Andrea berdiri. “Apa lagi ini, Bu?”


“Dengarkan dulu, Ndre.” Yuli meringis. Sakit kepalanya kembali menyerang.


“Selama ini Ibu berobat kurang intens, jadi hasilnya tidak bagus. Ibu harus tinggal di sana untuk pengobatan yang lebih maksimal. Ibu sudah cocok dengan pengobatan ini, Ndre, dan optimis bisa sembuh.”


Andrea menatap Dale. Dale mengangguk.


“Tidak apa-apa, Neng. Menurut saja, daripada beliau lebih banyak pikiran, karena memikirkan Neng yang selalu tidak setuju.” Dale bicara.


“Begitu, ya?”


“Iya, Neng.”


Yuli menatapnya dengan mata berbinar, mengetahui Andrea mulai melunak “Ibu harap kamu mengerti. Sementara, kamu tinggal bersama Tan ....”


“Ngga,” potong Andrea. “Baiklah, kalau Ibu mau di sana untuk berobat, aku tidak apa-apa. Tetapi aku tidak mau tinggal dengan Tante Dina, aku di sini saja, Bu.”


“Di sini kamu sama siapa? Kan Bi Cicih sudah diberhentikan.”


“Tidak apa-apa, Bu. Aku berani kok. Tadi kan ibu bilang, aku harus belajar mandiri."


“Kamu yakin?”


Andrea memeluk ibunya. “Maafkan aku ya, Bu. Selalu membuat Ibu sedih. Aku sekarang mendukung apa yang ingin Ibu lakukan. Aku percaya, Ibu juga ingin sembuh.”


Yuli tersenyum. “Tentu saja Ibu ingin sembuh, Ibu ingin melihat kamu bahagia, menikah, punya anak, dan Ibu jadi nenek.”


“Iih, aku belum tujuh belas tahun, Bu. Sudah ditagih cucu.” Andrea manyun.


“Tidak apa-apa, dong, biar kamu cepat punya pacar.”


“Hah? Ogah. Aku mau sekolah dulu, bekerja, baru mikirin pacar. Aku juga harus bisa menebus rumah ini ke Tante Dina." Andrea melihat-lihat sekeliling kamar ibunya.


Yuli tersenyum. "Aamiin," ucapnya. “Terus, tukang ojek itu?” tanyanya.


“Buu, dia bukan tukang ojek.” Andrea tahu maksud ibunya.


“Tukang nongkrong di hatimu ya?” tanya Yuli.


Dale berteriak, “eaakk!”


Andrea mendelik, lalu melempar Dale dengan bantal.


Swiinng!!


“Ndre! Kenapa melempar lemari dengan bantal?” seru Yuli.


Andrea berlari mengambilnya. “Maaf, Bu, itu tadi ada kucing.”


“Kucing?”


“Iya.” Andrea menyimpan kembali bantal di tempatnya. Dia sedang tidak ingin terlihat resah karena Gigit.


“Terus, kapan Ibu berangkat ke Bogor?” tanyanya lagi.


“Besok. Diantar Tante Dina dan Om Azi.”


“Aku boleh ikut?”


“Tentu saja, Ndre, malah kamu harus ikut, biar tahu keadaan tempat Ibu berobat seperti apa, biar kamu tidak khawatir dengan Ibu."


“Iya, Bu.”


“Ndre, coba kamu ambil kotak di dalam lemari.”


Andrea beranjak, membuka lemari pakaian ibunya. Sebuah kotak lumayan besar dia temukan di susunan paling atas. Andrea membawanya. “Yang ini?”


Yuli mengangguk. Dia menerima kotak kayu itu dengan tangannya yang masih terlihat lemas.


“Ini, kamu simpan, pakai untuk keperluan kamu. Di dalamnya ada ATM dan pinnya, perhiasan, juga uang tunai. Ibu harap kamu bisa berhemat, selama Ibu berobat.”


“Terus bagaimana dengan biaya pengobatan Ibu?”


“Kamu tenang saja, Ibu masih punya dana bantuan dari kantor.”


Andrea yakin, itu juga pasti berkat Tante Dina. Pandangannya kepada wanita itu kini telah mulai berubah, ternyata mereka tidak seburuk yang dia bayangkan.


Selama ini dia terlalu dibuai dengan pikirannya sendiri, tanpa bertanya, membesarkan curiga. Selalu saja begitu.


bersambung


happy reading, semoga kalian sehat selalu

__ADS_1


__ADS_2