My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 41 Lelaki Patah Hati


__ADS_3

“Dulale Dulale, westin wergan wesma werma!!"


“Apa kabar, Neng?” Dale nangkring di atas lemari.


“Buruk,” sahut Andrea. Dia mengambil balsem dari laci meja belajarnya.


“Apanya yang buruk? Cuaca? Berita? Atau pisang?”


“Kalau pisang, itu busuk.”


“Dalam bahasa Sunda busuk itu buruk.”


“Terserah! Kamu ke mana saja? Tadi aku keseleo tahu,” ketus Andrea.


“Masa? Kok saya enggak tahu?”


“Makanya aku tanya, kamu ke mana saja? Biasanya tanganku digigit nyamuk doang juga kamu datang.”


“Ada, kekenyangan jengkol.” Dale garuk-garuk kepala, dia juga tidak mengerti kenapa sinyal bahaya dari juragannya itu tidak muncul. "Mungkin sinyal lemah, asam jengkolat lama respon."


“Eh iya, dapat jengkol di mana?”


“Jauh, di sini enggak ada pohon jengkol. Saya harus ke hutan dekat jalan tol.”


“Tol mana?”


“Cipularang.”


“Jauh amat.”


“Dekat, kok, habis di sini enggak ada hutan. Kebanyakan sawah.”


“Di pasar banyak.”


“Kasihan atuh tukang dagang, Neng, nanti rugi jengkolnya saya makan."


Andrea mengusap-usap kakinya dengan balsem. “Iya ya.”


“Sini saya sembuhkan, Neng!” Dale turun dari lemari.


“Tidak usah, sudah sembuh kok. Hatiku yang belum sembuh.”


“Hati Neng keseleo juga?”


“Bukan, aku sedih, Dal.”


Dale duduk di jendela yang terbuka. Kalau malam kadang Andrea suka membuka jendela, untuk mendapatkan udara segar. Meskipun begitu, kamarnya tetap aman karena jendela menghadap pada ruangan terbuka di rumahnya, tidak langsung ke luar rumah.


“Neng sedih memikirkan yang mana? Ibu? Teman-teman? Bu Anis? Atau karena masih jomlo?”


“Semuanya,” sahut Andrea.


Dale menepuk keningnya. “Berat banget hidupmu, Neng. Sabar ya, mungkin ini ujian.”


“Jangan meledek! Mau bantu enggak?”


“Ya mau atuh, kan saya mah diprogram untuk membantu kesulitan Neng Andre. Neng nya saja yang masih suka ragu sama saya.” Dale bersandar pada kusen jendela dengan kedua tangan di kepala.


“Ya sudah, besok kamu ikuti Ibu ya, cari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kamu benar, aku tidak bisa menuduhnya hanya dengan menduga-duga."


"Siap, Neng."


"Eh, tapi jangan sampai menakuti dia!”


“Baik, Neng. Sudah itu saja?”


“Itu saja dulu. Kamu boleh pergi.”


“Iya, Neng. Mau bertemu Lyla dulu.”


“Janji ketemu di mana?”


“Malam ini di Menara Telkom, Neng.”


“Hahh?? Ngga di sutet sekalian?”


Andrea sebenarnya masih ingin bermain lama bersama Dale tertawa guling-guling seperti biasa, tetapi dia masih khawatir dengan ibunya.


Malam itu beberapa kali dia mengintip ibunya yang sedang tidur pulas.


**


Kelas sepi, banyak yang tidak masuk hari ini. Terutama mereka yang kemarin sempat terpapar kerasukan. Pelajaran pertama adalah biologi, Pak Bayu tidak hadir lagi.


Bukan karena masih mogok, tetapi karena beliau sakit. Katanya sih kemarin kebanyakan nyembur yang kesurupan.


Tugas untuk anak-anak sudah ada di meja guru.

__ADS_1


“Si Unzel tidak masuk juga ya?” tanya Andrea, ketika melihat Ren mengisi daftar hadir siswa.


“Sepertinya enggak, tapi tidak ada beritanya.”


“Kamu telfon saja.”


“Ogah, kamu saja!”


“Malas, nanti dikatai pecapacor lagi.” Andrea bergidik.


“Si Pecel dianggap," kata Ren.


“Itu tuduhan tahu, bisa menurunkan reputasiku sebagai cewek terhormat.”


Andrea tidak terbiasa juga dengan kelas sepi, dia mencari angin dengan membuka jendela kelas sambil memandangi sawah luas, padi-padi masih bayi berjejer rapi pada lumpur yang basah.


Sawah sepi, bahkan dari burung yang biasanya bernyanyi dari atas padi.


"Kamu kenapa? Dari tadi kayaknya tidak bergairah." Ren menghampiri.


"Aku ngantuk. Semalam ibuku mimisan, Ren. Kenapa ya?"


"Ibumu sakit?"


"Dia bilang sih sering waktu kecil juga."


"Ooh, ibumu berarti pernah periksa kan. Kalau sampai sekarang sehat-sehat saja berarti tidak apa-apa."


"Begitu ya?" tanya Andrea.


Dia juga melihat ibunya baik-baik saja tadi pagi, berangkat bekerja seperti biasa.


Ada lega di hatinya ketika bisa bicara dengan Ren. Andrea memeluk Ren yang mengikutinya memandangi panorama pagi hamparan sawah.


"Ish, peluk-peluk," kata Ren. Dia berusaha melepaskan diri dari Andrea.


"Pak Iwan kemana ya?" Andrea bergumam.


“Kangen Pak Iwan, ni yee…” celetuk Ren.


Andrea melepaskan tangannya yang dipakai memeluk Ren.


“Iya, nih. Pak Iwan kenapa ya kok tidak datang-datang ke sawah?”


“Pak Iwan patah hati.” Tiba-tiba suara kaku terdengar dari belakang mereka.


"Tanggung jawab, lu, Andrea!" Fany mengeloyor ke pojokkan, tubuhnya seperti ringan.


"Ish ... kok gue? Jangan percaya dengan kata-katanya!” Andrea berbisik kepada Ren.


“Iya, aku juga geram melihatnya. Kalau memang yang dikatakan si Lele benar, jahat banget sih jadi orang. Mengorbankan teman sendiri demi dianggap pandai." Gigi Ren gemeletuk.


"Aku lihat sendiri, Ren, Dale menolong menyadarkan anak-anak. Tapi kalau jin si Fany aku enggak bisa lihat."


"Kalau ada buktinya, aku langsung seret dia ke meja ungu.”


“Meja ungu?” tanya Andrea.


“Taplak meja Bu Kania kan warna ungu.”


Fany balik lagi melewati mereka untuk keluar, seolah sengaja mondar-mandir. Dia melirik, lalu tersenyum sinis.


“Nyebelin,” rutuk Andrea.


“Tentang Pak Iwan, kenapa enggak cari tahu sendiri sih, Ndre, kamu kan ada si Lele,” kata Ren.


Andrea buru-buru menutup mulut Ren dengan tangannya, sebelum teman-teman yang lainnya mendengar.


“Hmmp ....” Ren megap-megap. “Apa sih?” Ren melepaskan tangan Andrea dari mulutnya.


“Kamu panggil dia Lele, belum tahu saja tampangnya kayak bagaimana.” Andrea mengusap-usap telapak tangannya yang basah ke jilbab Ren.


“Memang ganteng?”


Andrea mengacungkan jempolnya. “Lee Min Ho mah lewat. Eh, ide kamu oke juga.”


“Iya, aku kan pintar.” Ren pergi duduk ke bangkunya. “Kerjakan tugas dulu, dari pada tidak ada yang bisa dikerjai.”


“Gampang itu mah, aku cari Dale dulu.”


Andrea pergi ke balik lemari, memejamkan matanya, sambil menjentikkan jari di hidung dengan mulut komat-kamit.


Akri and the geng melihatnya, lalu mereka tertawa sambil menempelkan telunjuk di jidat.


“Kalau orang lain kerasukan, si Andre malah kehilangan ingatan, sedikit,” kata Akri, jari telunjuk dan jempolnya merapat. Teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.


Dale yang sudah langsung hadir ikut tertawa.

__ADS_1


“Ngapain ikut tertawa?” bisik Andrea.


“Ngga tahu, memang mereka tertawa kenapa, Neng?”


Andrea melirik ke arah gengnya Akri yang mulai beringsut ke luar, entah mau bikin rusuh di mana.


“Sudah diam! Barusan dari mana?” Andrea bicara sambil pergi ke tempat duduknya.


“Kantor ibunya Neng.”


“Terus?”


“Tidak ada terusannya, kan Neng memanggil.”


“Ibu tidak kenapa-kenapa kan?”


“Ibu sedang bekerja, saya hanya nongkrong-nongkrong saja.”


“Ya sudah urusan ibuku nanti lagi, sekarang kamu cari tahu tentang Pak Iwan, kenapa tidak pernah ke sawah lagi.”


Dale mengangguk. “Baik, Neng. Saya akan langsung mencari informasinya.”


“Ya sudah, sana! Aku tunggu beritanya.” Dale langsung raib.


“Main pergi saja, memang tahu rumah Pak Iwan? Dasar pengawal aneh.”


Tidak sampai dua menit, Dale sudah datang lagi. Andrea yang baru membuka buku mau mengerjakan tugas segera menutupnya lagi.


“Kok sudah balik? Tidak tahu rumahnya ya?”


“Sudah selesai, Neng. Mau laporan.”


“Hahh?!!”


“Ada apa, Ndre?” tanya Ren. Andrea tidak menggubrisnya. Ditariknya sebuah kursi agar Dale duduk.


Ren melihatnya heran.


“Begini, Neng. Ternyata Pak Iwan itu selama ini jatuh cinta sama Bu Anis. Neng Andrea tahu sendiri, selama ini Pak Iwan tidak pernah absen berada di sawahnya, padahal dia banyak pekerjanya. Itu semua dia lakukan hanya demi untuk mendekati Bu Anis, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Berada di sawah setiap hari sudah mewakili hatinya yang sangat memuja guru Neng itu.”


“Kamu tahu dari mana?”


“Saya bicara sama kerbaunya Pak Iwan. Kebetulan kita sudah kenal.”


Andrea menaikkan alisnya. “Yang benar?”


“Pak Iwan sering curhat sama kerbaunya itu, hihi…” lanjut Dale, persis tukang gosip.


“Terus, ada info lain?”


“Pak Iwan sekarang sedang galau, lelaki itu benar-benar sedang patah hati. Di rumah kerjanya melamun terus. Kerbaunya juga dicuekin sampai kurus karena harus mencari makan sendiri. Sudah Neng, hanya itu.”


“Ya sudah, bagus. Kamu pergi saja, jangan berurusan lagi sama pengawalnya Fany!”


“Siap, Neng!”


Andrea menghampiri Ren yang sekarang sedang duduk di bangku guru.


“Ren, ternyata Si Fany benar, Pak Iwan itu patah hati. Aku jadi makin merasa bersalah, membuat dua orang tua hengkang dari sekolah ini.”


“Maksud kamu apa? Pak Iwan kan bukan guru di sini.”


“Kan dia sering ada di sini. Aku sudah anggap dia bagian dari sekolah ini.”


“Ah, sudahlah, Ndre, kenapa juga merasa bersalah. Eh, tugas kamu sudah beres? Jangan bilang dikerjakan si Lele lho!” Ren melihat bangku Andrea.


“Ngga, dia aku suruh pulang, takut gelut lagi sama pengawal Fany, berabe.”


“Ya sudah, kerjakan tugas dulu.”


Andrea kembali ke tempat duduknya.


"Ahaa ... Aku ada edi!” seru Andrea. Telunjuknya mengacung, Ren dan teman-temannya sampai kaget.


“Ide apa?” Ren menghampirinya.


Belum sempat Andrea membuka mulut, suara pengumuman dari pengeras suara berkumandang.


Kepala Sekolah memerintahkan semua siswa untuk berkumpul di lapangan, untuk mengadakan pengajian dan doa bersama, agar kejadian kemarin tidak terulang lagi.


Ren dan Andrea mengikuti teman-temannya yang lain keluar kelas, mengikuti arahan Kepala Sekolah.


*Ide apa yang akan dilakukan Andrea?


tunggu kelanjutan ceritanya yaa ...


Mohon tinggalkan jejak, like, komen, dan vote, untuk Author. Terima kasih sudah mengikuti cerita ini 🙏*

__ADS_1


__ADS_2