
Di balik bencana rem blong, Dodo seperti sedang diberi kesempatan oleh semesta. Dia tidak akan melewatkannya.
Diam-diam Dodo berencana mengajak Zellina untuk pergi berdua. Dia tidak mengindahkan Andrea yang masih diam saja, karena prasangkanya sendiri.
Adik sepupunya itu kalau marah memang sangat menyebalkan. Begitu pun dirinya, kalau sedang berulah, pasti lebih menyebalkan di mata Andrea. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka, mungkin akan selamanya seperti itu.
Ketika semua orang sedang fokus dengan mobil, Dodo menarik tangan Zellina.
Seperti pencuri perawan dari pingitan, mereka pergi dengan mengendap-endap. Tanpa menyalakan motor buru-buru.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” bisik Dodo, sambil menuntun motor di jalan menurun. Dia menyerahkan helm yang disimpan di jok belakangnya. Walaupun hidup di kampung, tetapi dia taat peraturan lalu lintas, karena peraturan itu dibuat selain untuk ditaati, juga untuk keselamatan juga.
Zellina menatapnya. Dia membiarkan Dodo membawanya ke mana saja.
Seumur hidup, baru kali ini dia diajak menyelinap seperti itu. Entah kenapa dia sengat menikmatinya dan merasa bahagia.
Perlakuan Dodo jauh berbeda dengan Yadi yang selama ini dipujanya siang malam.
Dodo menghidupkan motornya.
“Kita mau ke mana? Bagaimana kalau mobilnya selesai?” tanya Zellina sambil mengenakan helmnya.
“Itu mobil kamu kan? Masa mereka mau meninggalkan pemilik mobil begitu saja, tidak sopan,” sahut Dodo.
Zellina tertawa cekikikan. Dia naik ke motor Dodo.
“Tapi kan kasihan kalau mereka menunggu.” Zellina bicara lagi, setelah motor meluncur di jalanan.
“Kamu tidak kasihan sama aku?” tanya Dodo.
“Hah?” Zellina pura-pura tuli, padahal dia sedang menebak-nebak apa maksud dari pertanyaan Dodo.
Dodo memalingkan wajahnya, Zellina menyodorkan telinganya. “Kamu tidak kasihan sama aku?” ulang Dodo.
“Kasihan kenapa?” Zellina bertanya di kuping Dodo.
“Tidak punya nomor kontak kamu,” sahut Dodo. Suaranya hilang ditelan angin.
Zellina tersenyum. “Mau minta nomor telefon saja sampai harus jauh begini.”
“Sekalian.”
“Sekalian apa?” tanya Zellina.
“Sekalian apa saja.” Dodo senyum-senyum.
Setelah lumayan jauh, dia menghentikan motornya di pinggir jalan yang agak lebar. Di pinggir sebuah jurang yang dalam.
"Di sini saja." Dodo membuka helm di kepala Zellina.
Zellina melihat pemandangan yang lumayan indah. Dia melihat hamparan sawah dengan sistem terasering di bawah tebing. Dia sudah sering melihat itu dalam perjalanan, tetapi baru kali ini melihatnya dengan jelas dan sengaja menikmatinya.
“Indah ya, Kak.” Zellina membentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar dalam-dalam.
“Masa?” tanya Dodo. Bersandar di motornya.
Zellina mengangguk, matanya mengerling.
“Sebenarnya itu biasa kok, di mana-mana juga banyak. Yang bikin indah itu perasaan kita.”
Dodo ikut memandangi sawah di bawah jurang. Zellina memandang wajah Dodo.
“Maksud Kak Aldo?” Zellina sengaja menyebut Dodo dengan nama sebenarnya, dia ingin Dodo tahu kalau dia mengingat namanya.
Dodo menolehnya. Mereka kembali bertatapan.
Dodo memegang tangan Zellina. “Sejak bertemu kamu, aku melihat segala sesuatu menjadi sangat indah," katanya, tidak ingin lama-lama menyimpan perasaannya.
“Hmmppth ....” Zellina tidak kuasa menahan tawa.
Dodo menyimpan telunjuknya di bibirnya.
“Aku serius, Zellin. Melihat ikan di kolam tadi itu terasa indah, apalagi ikan di meja makan waktu itu. Kopi pahit tadi juga sangat indah, kamu tahu kenapa?”
Zellina menggeleng, karena memang benar-benar tidak mengerti apa yang Dodo katakan, bahasanya terlalu aneh.
“Kamu itu ngomong apa, sih?” Zellina tertawa.
“Aku serius,” Dodo ikut tertawa. “Kamu kemarin makan sama ikan yang digoreng Mbu aku kan? Aku melihatnya sangat indah ketika kamu makan. Kopiku juga terlalu pahit tadi, lupa memberi gula, tetapi aku merasakannya sangat manis, karena meminumnya sambil melihat kamu sibuk mau pulang."
Zellina kembali terbahak. “Gombal macam apa itu?”
“Itu bukan gombal, tetapi perasaanku padamu.” Dodo membawa tangan Zellina ke dadanya.
Zellina merasa wajahnya memerah. Di tidak menyangka Dodo akan secepat itu mengutarakan perasaannya.
Mereka saling pandang.
“Semalam aku bermimpi,” ujar mereka berbarengan.
Zellina mengernyitkan dahi, Dodo juga.
“Kamu juga bermimpi?” mereka juga bertanya berbarengan.
Keduanya tertawa lagi.
Zellina menutup mukanya. “Kamu dulu, Kak,” katanya.
“Kamu dulu deh,” sahut Dodo.
Zellina memalingkan wajahnya, dia melepaskan tangannya dari Dodo.
“Kamu dulu, masa aku.” Zellina merengut.
“Ladies first,” sahut Dodo.
Zellina memainkan bibirnya. Suara gawainya berbunyi. Dari Ren.
Zellina menerima panggilan.
“Kalian di mana? Mobilnya sudah selesai.” Suara Andrea terdengar dari seberang telefon.
“Iya, ini mau ke situ.” Zellina menutup gawainya. Dia melirik Dodo. “Andrea, bilang mobilnya sudah selesai, sekarang antar aku ke sana, tuan penculik."
Dodo menghela nafas panjang. “Cepat banget.”
“Iih ... Kakak tidak mau kita cepat sampai?” Zellina mengerlingkan matanya lagi.
__ADS_1
“Aku maunya kamu tetap di sini.”
Sekarang Zellina yang meraih tangan Dodo. “Kenapa enggak Kakak yang ikut kami?”
Dodo tersenyum. Menggenggam tangan Zellina. “Itu gampang, asal kamu yang menginginkannya.”
Zellina terbelalak. “Kak Aldo mau ikut kita?”
“Tidak sekarang, tetapi suatu hari nanti," sahut Dodo.
Mereka kembali saling menatap, seolah ingin merekam wajah masing-masing dalam relung hati.
Zellina mengeluarkan lagi gawainya. Dia mengajak Dodo berselfie ria. Dodo tentu saja tidak keberatan, dan tidak lupa meminta kontak gadis pujaannya itu.
“Ah, kita sudah ditunggu!” seru Zellina. Dia cepat-cepat menarik tangan Dodo.
“Nanti aku hubungi ya,” kata Dodo, ketika mereka sudah di atas motor.
“Ditunggu ya, Kak.”
Dodo tersenyum. Dia benar-benar rela jadi bucin kalau nanti Zellina yang jadi pacarnya.
“Semalam ... Aku mimpi kita bersama-sama,” kata Dodo. Akhirnya dia memberitahukan mimpinya dari atas motor.
“Sama, aku juga?” Zellina mencondongkan wajahnya ke depan.
“Kamu mimpi apa?”
“Berkejaran di taman bunga,” sahut Zellina dengan jujur.
“Terus?” tanya Dodo.
“Terus, kita ....” Zellina tidak meneruskan ucapannya. Dia terlalu malu. Sejak pagi dia memikirkan arti mimpi itu.
Dodo tersenyum, dia tahu pasti Zellina juga bermimpi sama, mereka berciuman.
Dodo menghentikan motornya.
“Kok berhenti," tanya Zellina.
Dodo mengajak turun Zellina. Dia memeluk Zellina dengan erat.
Zellina tidak mengerti, tetapi dia sangat menikmati pelukan Dodo itu. Pelan-pelan, dia memeluk balik Dodo.
"Kak, ada apa ini?" tanya Zellina.
“Zellin, aku juga bermimpi yang sama, kita berdua ada di taman bunga, aku mencium bibirmu kan?” bisik Dodo.
Zellina semakin memeluk erat Dodo, dia memejamkan matanya, kenapa dia jadi sedih, dan tidak ingin berpisah dengan Dodo secepat ini.
“Iya, Kak. Kamu mencium aku.” Andrea juga berbisik.
Dodo melepaskan pelukannya. Menatap lekat wajah Zellina yang menunduk. “Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, sama kamu, Princes.” Dodo mencium tangan Zellina.
Zellina merinding. Dia begitu terbuai, dan benar-benar telah menyukai Dodo. Kakak sepupu sahabatnya.
“Aku tidak ingat kapan aku jatuh cinta sama kamu, Kak.” Dia melirih, sambil menatap manik mata Dodo. Wajah mereka begitu dekat.
“Jadi?” bisik Dodo lagi.
“Jadi apa?” Zellina bicara lebih lirih.
Zellina terbelalak. “Kamu nembak aku, Kak?”
Dodo mengangguk.
Zellina tertawa, dia bahagia sekali, tidak menyangka, Dodo akan menembaknya secepat itu.
“Kamu ternyata jahat juga,” seru Zellina.
“Habisnya, kamu target yang luar biasa cantik.” Dodo melepaskan tangan Zellina. Mencari-cari sesuatu, lalu dia mengambil rumput ilalang yang ada di dekatnya. Dia berlutut. “Princes, mau kan jadi pacar anak angon ini?” tanya Dodo, sambil menyodorkan rumput ilalang.
Zellina menutup wajahnya, dia sangat malu. Pelan-pelan membuka wajahnya, lalu menerima rumput ilalang itu sambil mengangguk.
“Aku mau,” katanya pelan. Dia terlalu malu, sekaligus bahagia.
Dia mengacungkan rumput ilalang pemberian Dodo sambil menatap jurang di depannya.
Dodo memeluknya dari belakang. Zellina berbalik memeluk Dodo. Rasa yang selama ini mengganggunya tumpah hari itu.
Sangat singkat memang, dan semua terkesan buru-buru, tetapi hati mereka sudah tidak bisa ditahan lagi. Membuncah mencari wadah.
Mereka berpelukan lama, beberapa kendaraan yang lewat sempat ada yang mengabadikannya sambil cekikikan.
Zellina melepaskan pelukannya, dengan wajah cemas.
“Kita ditunggu, Kak,” serunya.
Dodo terlihat kecewa, tetapi dia segera membawa Zellina ke motornya.
Dalam perjalanan kembali mereka tidak banyak bicara lagi, hanya pelukan Zellina yang semakin erat di pinggang Dodo, dan genggaman tangan Dodo di tangan Zellina yang beraksi. Mewakili hati mereka masing-masing.
Rumput ilalang, simbol cinta mereka terlepas dari genggaman Zellina, terbang, dibawa angin.
“Ilalangnya terbang!” seru Zellina.
“Masih banyak, Sayang,” sahut Dodo.
Zellina tersenyum kecil. “Iya tahu, kamu kan tukang angon kambing, pasti tahu."
Dodo tertawa. "Princes, kenapa mau ditembak tukang angon? Dia kan bau kambing."
"Karena, tukang angon yang menembak Princes itu ganteng."
Dodo kembali tertawa terbahak, Zellina senyum-senyum lucu.
Sampai di mobilnya Zellina terlihat lain. Andrea menatap mereka sambil bersender ke mobil.
“Sudah selesai, Ndre?” tanya Zellina.
Ren juga mulai terlihat segar, sedang duduk di pembatas jalan bersama Gigit.
“Sudah, sekarang masalahnya Pak Supri belum bangun,” jawab Andrea.
“Whats?” Zellina melongok ke dalam mobil. Pak Supri sudah dipindahkan ke jok lain. “Dia benar tidur, apa pingsan sih?” tanyanya lagi.
Dodo memeriksa keadaan Pak Supri. “Dia tidur, kok. Nanti juga bangun.”
__ADS_1
Andrea menggamit tangan Dodo, mengajaknya untuk bicara berdua.
Zellina memandangi mereka, lalu kembali menengok Pak Supri di dalam mobil. "Pak Supri ini, malah merepotkan saja," rutuk Zellina.
"Gantian, bukankah selama ini kamu yang merepotkan dia?" Tiba-tiba Gigit nyeletuk.
"Iya juga ya," sahut Zellina, sambil cengengesan.
Gigit dan Ren berpandangan, merasa tumben sekali Zellina mengakui kekurangannya.
Mereka bertiga mendengar percakapan Andrea dan Dodo.
“Pokoknya, Aa harus cari tahu, siapa yang melakukan ini.” Andrea menatap Dodo dengan geram.
"Kamu teh marah-marah saja, Ndre, cepat tua."
"Bagaimana aku tidak marah, Aa juga tahu sendiri, mobil kita mau masuk jurang. Aa mau aku mati?"
"Kok kamu ngomongnya kayak begitu?"
"Terus aku harus bilang wow! begitu?"
Dodo memejamkan mata, dia kesal sekali dengan tingkah Andrea. Bahagianya barusan sudah dirusak adik sepupunya itu.
Zellina berlari, segera menengahi mereka, sebelum terjadi keributan lagi. Diam-diam tangannya memegang tangan Dodo di belakang punggungnya, tanpa diketahui Andrea.
Dodo menikmati romantis terselubung itu.
Dodo tahu, Zellina sedang memberinya isyarat agar tidak membalas perlakuan Andrea.
“Ndre, mobilnya sudah selesai diperbaiki, sebaiknya kita segera meneruskan perjalanan. Perjalanan kita masih panjang lho." Zellina menatap Andrea.
Andrea segera beranjak dari sana.
"Kamu tidak mau berterima kasih kepada Kakakmu?” lanjut Zellina, dia bertindak seolah dia sudah jadi kakak iparnya.
Andrea segera mengalihkan pandangannya kepada Dodo. Dia merasa Zellina ada benarnya. Dia terlalu menekan Dodo yang bisa jadi memang tidak tahu apa-apa.
“Aku minta maaf, jika Aa kesal atas sikapku. Terima kasih atas segalanya, A. Aku juga tidak mau membawa kekesalan ini sampai rumah.” Andrea beranjak, lalu memutar lagi. “Oiya, bengkelnya belum dibayar, nanti Aa saja yang bayar ya, aku tidak ada duit,” lanjutnya.
Dodo mendengus. Zellina tertawa tertahan, sambil mengusap-usap lengan Dodo.
“Sampai jumpa lagi, ya Aa ....” ledek Zellina.
“Jangan lupakan aku ya,” bisik Dodo. Tangannya meremas jari Zellina.
Zellina tersenyum, lalu memberi isyarat untuk menghubunginya. Dodo mengedipkan mata.
Gigit sudah di belakang setir. Ren juga sudah masuk ke dalam mobil.
“Kak, terima kasih ya.” Ren nongol dari jendela mobil dengan wajah lesu.
Dodo tersenyum. “Iya, sampai jumpa lagi.”
Mobil bergerak. Dodo memandangi mereka dari atas motornya.
Zellina melonggokkan kepala sambil melambaikan tangan sampai Dodo tidak kelihatan lagi. Dia kembali duduk dengan wajah merengut, Dodo mulai jauh darinya.
Gawainya berbunyi, ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Belum dua menit kamu pergi, aku sudah merindukanmu, Princes.
Save nomor aku, anak angon penunggu rumput ilalang
Zellina yakin itu nomor Dodo. Dia senyum-senyum sendiri, lalu menyimpan gawainya di dada.
Andrea dan Ren memandanginya heran.
“Kumat,” gumam Andrea.
“Sirik,” sahut Zellina, sambil menjulurkan lidah. Dia mulai melihat-lihat fotonya ketika bersama Dodo tadi.
Ah, jatuh cinta memang berjuta rasanya.
**
Dodo memacu motornya pulang, perasaannya sangat senang. Dia akhirnya punya pacar, seorang Princes, anak kota, orang kaya pula. Ibunya pasti akan sangat senang sekali mendengarnya.
"Mbu!" panggilnya, dari halaman rumah. Dia segera masuk ke dalam rumah.
Ibunya tidak ada di rumah. Dia melihat sofa yang tadi di jemurnya sudah masuk ke dalam. Ibunya tidak mungkin mengangkat sofa itu sendirian, pasti ada pangebon atau panyawah ibunya yang datang ke rumah.
Dodo segera menuju kebun karet milik kakeknya, yang tidak jauh dari rumah.
Benar saja, ibunya sedang berbincang dengan Mang Ohen, pengelola kebun karet milik kakeknya.
Mereka berbincang dekat mobil pick up, sehingga tidak mengetahui Dodo datang, dari belakang mereka.
"Bodoh! Diberi pekerjaan begitu saja tidak becus!" rutuk Bu Nisma.
Dodo menghentikan langkahnya, dia kaget mendengar ibunya marah-marah.
"Di luar kendali, Juragan. Mobil itu seperti ada yang menahannya. Soalnya mesinnya tidak mati, kata tukang bengkel juga. Tadi saya tanyakan."
"Ditahan jurig?" bentak Bu Nisma.
Mang Ohen menunduk. "Pusing, harus cari cara lain lagi ini mah." Bu Nisma memegangi kepalanya.
Dodo mengernyitkan dahi, mencoba mencerna percakapan mereka.
"Saya menunggu perintah saja, Juragan." Mang Ohen terbungkuk-bungkuk.
"Nanti dikabari lagi, sekarang buang ini!" Bu Nisma menyerahkan sebungkus obat kepada Mang Ohen.
"Sumuhun, Juragan," sahut Mang Ohen.
Dodo melihatnya sekilas. Itu obat anti mabuk perjalanan.
bersambung
*anak angon \= penggembala
*pangebon \= pengelola kebun
*panyawah \= pengelola sawah
*jurig \= setan
__ADS_1
*sumuhun \= baiklah