My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 48 Teror Penculikan


__ADS_3

Andrea meneruskan joging sendiri, sampai gerbang perumahan. Dia mencari lapak sarapan di bahu jalan.


Sebuah motor berhenti, darah Andrea mendesir, senyuman pengemudinya mengalahkan senyuman matahari pagi.


“Joging?”


Andrea mengangguk. “Sekalian cari sarapan. Kamu mau ke mana?”


“Kebetulan, aku juga mau cari sarapan. Kalau libur dapur Ibu juga ikut libur.” Gigit tersenyum melebar.


“Kok bisa?”


“Soalnya tukang sayur juga libur.”


“Hmm, tadi ke rumahku ada.”


“Mungkin tukang sayur yang ke rumahmu lagi lembur.”


Andrea tergelak. Dia tiba-tiba bahagia sekali, seperti ketiban bulan di pagi hari, karena bertemu Gigit.


“Yuk bareng!” ajak Gigit.


Andrea ragu, dia lagi-lagi sedang berkeringat, sedangkan Gigit kelihatan begitu segar dan wangi, baru mandi.


Kenapa sih, setiap bersama Gigit aku harus berkeringat, enggak banget ini aroma, batinnya.


“Kok bengong?” Gigit menegurnya.


“Eh, enggak, aku keringatan, tidak apa-apa?”


“Memang kenapa? Bagus dong, berarti jogingmu berhasil, bukan joging-jogingan.”


Andrea tersipu, dia menerima helm yang disodorkan Gigit. “Ke mana?” tanyanya.


“Ke lapak sarapan dekat CFD, bagaimana?”


“Boleh, tapi jauh banget, nanti keburu pingsan,” sahut Andrea.


“Gampang, kalau pingsan, kamu aku gotong.” Gigit meledek. Andrea merengut. “Ngga apa-apa, sekalian ngabeubeurang, kan?” lanjut Gigit.


“Kayak bulan puasa saja, tapi jangan terus ngabuburit ya.”


Gigit tertawa lagi, aroma segar nafasnya memenuhi udara, seperti dalam iklan pasta gigi.


Andrea naik ke motornya, sepasang anak manusia itu menerobos segarnya udara pagi dengan suka hati. Melewati toang panjang tanpa merasa lama, malah kurang lama bagi Andrea.


Car Free Day sudah dipenuhi orang. Sebagian besar penghuni kota sedang menikmati Minggu pagi dengan berolah raga.


Ada yang joging, jalan santai, bersepeda, bahkan ada yang hanya nongkrong-nongkrong doang. Andrea dan Gigit lain lagi, mereka ke sana sengaja untuk mencari sarapan.


“Ibu kamu enggak masak juga?” Gigit mengaduk bubur ayam.


“Ibu aku ke kantor, tapi biasanya sarapan sudah ada kok.”


“Tidak libur?”


“Yah, namanya karyawan, kalau ada tugas dari atasan memang bisa menolak?”


Andrea menuangkan sambal pada buburnya. Sebenarnya dia sedang ingin makan nasi uduk, tetapi demi Gigit, dia terima apa saja yang cowok itu tawarkan.


Mengingat nasi uduk, Andrea teringat sama Dale yang tadi lemas bertemu petai.


“Kasihan amat,” gumamnya.


“Kenapa?” Gigit menghentikan suapannya.


“Ah, enggak, ini kebanyakan tuang sambal.”


Selesai sarapan, Gigit mengajak Andrea duduk-duduk di tempat yang agak sepi dari pengunjung.


“Sayang banget kalau tidak selfie, Git. Aku jarang ke sini.” Andrea mengeluarkan gawainya.


“Boleh, sama kok, aku juga jarang. Maklum lah, kita kan dari udik, jauh dari kota,” seloroh Gigit.


“Iya, rumahku malah mewah, alias mepet sawah.” Andrea tertawa, Gigit juga.


Mereka berfoto dengan ceria.


“Kamu tunggu sebentar ya!” Gigit beranjak.


“Eh, mau ke mana?”


“Beli es krim. Itung-itung desert.”


Gigit menuju tukang Es krim yang berada jauh dari mereka.


Andrea memeriksa foto-foto mereka dengan asyik. Tiba-tiba dia merasa ada yang memerhatikannya dari belakang, Andrea menengok untuk melihat, tetapi orang-orang di kejauhan terlihat biasa saja.


Belum hilang penasarannya, dia terkejut karena mulutnya dibekap seseorang dari belakang.


Andrea meronta, dia mencoba menjerit dan menggigit tangan besar yang membekapnya. Tetapi ia kalah kuat, tubuh kecilnya diseret ke belakang. Gawainya jatuh.

__ADS_1


“Hei!” Gigit berteriak ketika melihat kejadian itu.


Dengan wajah marah, dia berlari, es krim yang dibawanya terlempar begitu saja.


”Lepaskan dia!” teriaknya lagi, beberapa orang yang mendengar teriakan Gigit melihatnya. Termasuk tukang es krim. Beberapa orang berlari untuk menolong.


Melihat banyak orang menghampiri, orang itu melepaskan tangannya dari mulut Andrea, berlari ke arah mobil yang menunggunya di seberang jalan. Gigit mau mengejar, tetapi dia melihat Andrea menggigil ketakutan sambil berjongkok.


“Kamu enggak apa-apa, Ndre?”


Andrea tidak menjawab, dia masih syok sambil memegangi mulutnya. Gigit mendudukkannya, dibantu seorang ibu yang menghampiri sambil menyerahkan gawainga.


"Tidak apa-apa, Neng?"


"Terima kasih, Bu." Gigit menerima gawai Andrea yang retak.


“Aku ingin pulang.” Andrea gemetar.


“Sudah, kamu tenang ya, ada aku.” Gigit memeluknya, beberapa saat Andrea membenamkan wajahnya di dada Gigit. Lalu mereka berjalan ke tempat motor Gigit terparkir tanpa ada yang bicara sepatah kata pun, diiringi tatapan orang-orang di sana.


"Ada apa?"


“Mau diculik.”


“Ih, seram ya, siang-siang begini, culik beraksi.”


“Mungkin mau ambil ponselnya.”


“Untung ada pacarnya.”


Tukang es krim kembali ke gerobaknya, sambil memandangi dua es krim darinya yang tergeletak dan meleleh begitu saja di jalan. “Untung sudah dibayar,” gumamnya.


Andrea memeluk erat pinggang Gigit, dia masih ketakutan.


Di atas gapura gerbang perumahan Dale sedang ongkang-ongkang kaki. Lalu meloncat setelah mengetahui Andrea memasuki perumahan dengan motor.


“Neng, dari mana?” Dale membuntutinya dari belakang. Andrea diam saja. “Neng tidak apa-apa?” Dale melihat wajah Andrea pucat.


Gigit menuntun Andrea masuk ke dalam rumahnya. Dale tidak berani masuk. Hawa petai masih menyelubungi rumah Andrea.


Bi Cicih yang sedang menjemur baju menghampiri. “Sudah pulang, Neng? Neng Andrea kenapa?” Dia terkejut melihat wajah Andrea yang pucat pasi.


“Punten, Bu, bisa ambilkan minum?”


Bi Cicih memandangi Gigit. “Boleh. Neng Andrea kenapa?”


“Nanti ceritanya, sekarang Andrea butuh minum dulu." Gigit memohon.


“Kamu minum dulu, Ndre!” Gigit menyodorkan air minum ke Andrea. Gigit memegang tangan Andrea yang dingin. “Kamu tidak apa-apa?”


“Ih si Aden mah, Neng Andrea teh kenapa atuh sampai pucat seperti ini?” Bi Cicih menatap Gigit dengan wajah khawatir.


“Tadi ada yang membekap Andrea, Bu, tidak tahu maksudnya apa, sepertinya mau menculik, soalnya mereka membawa mobil.”


Bi Cicih dan Dale terkejut.


“Astagfirullah, kok bisa seperti itu? Memang Neng Andre ke mana? Dan Aden ini siapa?”


“Tadi kami dari alun-alun, saya temannya, Bu. Ibu siapa?”


“Saya yang bekerja di sini, panggilnya Bibi saja, jangan ibu." Mereka malah berkenalan.


"Kenapa di alun-alun sampai ada penculik, kan banyak orang?” tanya Bi Cicih.


“Kita juga belum tahu, Bu, eh, Bi.” Gigit memandang Andrea. “Sekarang kamu istirahat saja dulu ya, Ndre. Bi, bisa tolong antar Andrea masuk?”


Andrea belum bisa bicara banyak, Bi Cicih membantunya berdiri. “Terima kasih, Git,” katanya.


Gigit tersenyum. “Istirahat ya, Ndre, nanti aku hubungi lagi.”


Andrea digandeng Bi Cicih masuk ke dalam rumah.


Gigit menutup pintu pagar, dengan hati yang khawatir. Dia masih ingat merk dan warna mobil yang dimasuki orang itu, tetapi dia tidak bisa mengingat nomor kendaraan pada pelatnya. Tidak habis pikir, berani sekali mau menculik orang di tempat terbuka seperti itu.


“Sepertinya orang-orang tidak profesional,” lirihnya.


**


Andrea terlihat lebih tenang ketika sudah mandi dan minum teh hangat. Bi Cicih terus menemaninya sampai Andrea masuk kamar untuk istirahat.


“Istirahat ya, Neng. Jangan joging-joging lagi.”


“Joging mah pagi-pagi atuh, Bi, jam segini mah jigong.”


“Ah, si Neng mah, Bibi lagi khawatir juga.”


Andrea melihat Dale masih mondar-mandir di depan rumah tetangga. Dia melupakannya lagi. Andrea melambaikan tangan dari teras.


Dale menggeleng.


“Kenapa?” Andrea bicara dengan menggerakkan mulut saja.

__ADS_1


“Pete,” teriak Dale.


Andrea mengerti. Dia memanggil Bi Cicih.


“Ada apa, Neng?”


“Bi, maaf ya aku boleh nyuruh? Tolong belikan jus di warung.”


“Oh, mau jus apa?”


“Jus jambu batu.”


“Memang ada?”


“Ngga tahu, ya kalau enggak ada suruh cari tukang dagangnya.”


“Iya, Neng."


Bi Cicih berangkat, Andrea segera mencari petai di dapur. Ternyata masih ada di meja kompor. Mata-mata petai seperti melotot kepadanya.


“Maaf ya, temanku tidak suka kamu ada di sini,” gumamnya. Dia segera memasukkan petai ke dalam kantong keresek, lalu membawanya ke tempat sampah tetangga.


Dale segera masuk ke dalam rumah dengan lega.


“Maaf ya, Neng.” Dale yang menunggunya di kamar bertanya.


“Maaf kenapa?” Andrea duduk di tempat tidur.


“Karena saya tidak ada di sana, waktu Neng mendapat kesulitan. Kenapa ya? Tidak ada sinyal kepada saya?” Dale mengernyitkan dahi.


“Sinyal lemah, kamu kan lagi lemas tadi.”


“Ah, itu tidak akan berpengaruh, Neng. Kalau Neng dalam bahaya, saya pasti dapat sinyal."


“Mungkin tidak bahaya, Dal. Buktinya aku baik-baik saja.” Andrea memeluk guling.


“Bisa jadi, Neng.”


“Entah kalau tidak ada Gigit.”


Dale berpikir lagi. “Sepertinya karena ada dia, jadi tidak ada sinyal bahaya kepada saya.”


“Maksud kamu?”


“Gigit itu pacar Neng?”


“Bukan.”


“Neng kemarin, waktu keseleo lagi sama dia?”


Andrea mengangguk. “Iya, dia yang menolongku.”


Dale mengangguk-angguk, bibirnya bergerak maju mundur kanan kiri.


“Waktu itu juga sinyal mampet seperti tadi Neng. Saya tidak tahu keberadaan Neng ada di mana. Bisa jadi gara-gara Gi ... Gi ....”


“Gigit.”


“Namanya kok seram, Gigit.”


“Itu panggilan, namanya Gitara.”


“Kenapa enggak dipanggil Jreng Jreng saja?”


“Dih, lebih seram, Jreng Jreng , kayak musik latar film horor. Sudahlah, aku mau istirahat dulu. Kamu samperi Ren saja!”


“Neng tidak apa-apa ditinggal?”


“Ngga apa-apa, sudah di rumah kok, ada Bi Cicih. Ganti baju dulu, masa ke sana pakai baju joging!"


"Oke." Dale raib setelah membereskan jas almamaternya.


Apa iya karena ada Gigit? Apakah mungkin dia penjagaku yang sebenarnya? Andai itu benar, betapa beruntung diriku. Andrea senyum-senyum sendiri, mendengar kata-kata hatinya.


Tetapi dia tidak mau gegabah, jangan sampai salah sangka dan malah malu.


Let it flow, Ndre. Semua ada waktunya, batinnya lagi.


Digulirnya beberapa foto dia bersama Gigit di alun-alun. Manis sekali, pertama kali dia merasakan menyukai cowok dari kepribadiannya, setelah tampangnya tentu.


Klulung!


Gawainya menerima pesan dari nomor tidak dikenal.


Kali ini kamu lolos!


Andrea melemparkan gawainya.


*bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Gaes 😊🙏*

__ADS_1


__ADS_2