
Satu minggu kemudian,
"Selamat ya, Bu Anis, Pak Iwan.” Anak-anak mengantri bersalaman di resepsi pernikahan Bu Anis dan Pak Iwan siang ini.
Kelas angin ribut tidak ketinggalan, tetapi kali ini sudah berubah. Berkelakuan lebih baik, lebih seperti anak manusia pada umumnya. Membuat suasana resepsi sangat menyenangkan, sesenang kedua pengantin.
Walau sudah berumur, Bu Anis tampak cantik dengan gaun pengantin syari yang dikenakannya. Pak Iwan juga terlihat gagah, memakai jas berwarna coklat keemasan. Keduanya nampak serasi.Tentu saja begitu, mereka sekarang sedang menjadi raja dan ratu sehari. Penata rias mendandani mereka dengan maksimal.
Konon, Bu Anis sekarang jadi lebih ramah dan agamis. Sudah meninggalkan dandanan yang membutuhkan tusuk konde. Aura mistis di wajahnya berubah menjadi aura keibuan yang sejuk dipandang. Entah disisihkan kemana tusuk konde yang dihuni jin betina pacarnya Dale itu.
Andrea dipeluk Bu Anis ketika menyalaminya.
“Terima kasih," bisik Bu Anis, nada suaranya terdengar penuh haru, membuat Andrea ikut terharu.
"Ibu," lirih Andrea.
“Saya tidak bisa memungkiri, pencapaian jodoh saya adalah berkat usaha kamu.”
Andrea termangu lalu melirik kepada Ren, Ren hanya mengangguk. Dia juga tidak menyangka Bu Anis akan bicara seperti itu kepada Andrea.
“Kok bengong? kamu kan yang ngotot bilang kalau saya harus kembali mengajar, demi sebuah cinta yang sempat terpotek.“ Bu Anis melirik Pak Iwan yang semringah. "Cinta pemecut kerbau," lanjutnya. Pak Iwan tersipu digombali Bu Anis.
“Tentu saja, Bu. Saya senang melihat Ibu bahagia.” Andrea lega, ternyata Bu Anis tidak mengetahui tentang jin di kondenya.
Bu Anis memeluk Andrea lebih erat, terasa perbedaan Bu Anis yang dulu dan sekarang. Saat ini Bu Anis begitu hangat, wajahnya memancarkan aura kecantikan yang selama ini diselimuti aura lain, bukan dirinya.
Resepsi pernikahan Bu Anis menyisakan cerita bahagia yang dibawa masing-masing tamu, termasuk Andrea, Ren, Zellina.
Mereka pulang sama-sama, seperti biasa menumpang mobilnya Zellina.
"Kita kapan libur lagi, guys?" Zellina bertanya dari jok depan.
"Libur? kita baru mau masuk ujian akhir semester," jawab Ren. "Sudah mau libur saja."
"Aku kangen sama Kak Dodo. Melihat Bu Anis dan Pak Iwan berbahagia, jadi membayangkan aku menikah sama Kak Dodo." Zellina memegang pipinya sendiri.
“Mulai deh, halunya.” Ren mencibir.
“Eh, jangan sembarangan. Tiap malam aku selalu bahas itu dengan Kak Dodo,” kata Zellina.
“Apa?” Ren terkejut. “Jangan-jangan kalian suka chat mesum.”
“Ren! Kamu kenapa sih? Makanya punya cowok, biar tahu rasanya chat sama pacar ya, Ndre?”
“Ren masih setia menunggu anak mamih.” Andrea meledek. "Sudah jauh dia, dikirim ke kandang kanguru."
“Whats? Ayolah Ren, kamu masih berharap sama cowok yang sudah menghancurkan hidup Andrea?” Zellina berteriak.
“Kamu lupa ya, dulu juga kamu tergila-gila sama dia.” Ren seolah membela Yadi. Dia memang masih memikirkan dia, tidak bisa lupa begitu saja, setelah tiga tahun lebih jadi pengagum rahasianya.
"Itu kan sebelum ketahuan kedoknya," ujar Zellina lagi.
"Tapi kan ...."
“Eh, kenapa kalian malah berantem sih?” Andrea melerai adu mulut kedua sahabatnya.
“Ini kita ke mana dulu, Non?” tanya Pak Supri. Ikut meredakan suasana saling bantah.
“Ndre, aku mau jenguk Ibu kamu,” kata Zellina.
“Boleh, kalian mampir dulu saja.”
“Oke, kita ke rumah Andrea dulu, Pak.”
“Baik, Non.”
Zellina memutar musik, lalu menikmatinya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri. Ren masih manyun.
“Kamu lihat sendiri, Bu Anis terlihat lain setelah menikah. Aku yakin itu adalah Bu Anis yang asli. Selama ini dia diselimuti aura tidak baik dari jin betina di kondenya.” Andrea berbisik.
Ren mengangguk setuju.
“Sepertinya beliau sudah benar-benar bebas sekarang.” Kata Ren. “Eh, bagaimana si Dale?” tanya Ren.
“Aku belum memanggilnya lagi sejak dia galau malam itu, sengaja, agar dia merasa bebas, kasihan juga sih. Aku juga belum bisa melakukan apa-apa, bingung."
“Apa jangan-jangan dia juga sudah bebas?”
“Maksud kamu?” tanya Andrea.
“Walaupun belum menikah, sekarang kan kamu sudah punya pacar, jadi dia enggak usah jagain lagi." Ren cengengesan.
“Apa sih?” Andrea mendelik. "Belum tentu aku menikah juga dia bisa bebas, apalagi cuma pacar. Tapi, baguslah kalau begitu.” Andrea sudah benar-benar ingin kehidupannya normal kembali.
__ADS_1
Dia berharap yang dikatakan Ren itu benar, Dale merasa tidak dibutuhkan lagi, dan pulang ke alamnya.
“Ciee ... Punya bodyguard baru.” Ren mencoleknya, sambil menujuk ke luar mobil dengan dagunya. Gigit sudah menunggunya di depan pagar.
Ren dan Zellina saling sikut setelah turun dari mobil.
“Aku sama Ren masuk duluan ya, Ndre. Kangen sama Tante Yuli.” Ren menggamit tangan Zellina.
“Iya, aku juga, Ndre.” Zellina ikut-ikutan.
“Aah, bilang saja kamu mau pedekate sama calon tante mertua." Gigit meledek Zellina.
“Tante mertua?” tanya Zellina, dia menempelkan jarinya di dagu. “Ah, kamu benar juga, Git.”
Zellina dan Ren berlari masuk duluan.
"Tante mertua ...." Zellina benar-benar memanggil ibunya Andrea dengan itu.
“Kamu kok enggak masuk?” tanya Andrea.
“Aku nunggu kamu.”
Andrea dan Gigit malu-malu kucing, karena ada Pak Supri yang mencuri-curi pandang, sambil mengelap kaca mobil.
"Pak, Supri apa kabar?" Gigit melambaikan tangan.
"Baik, Pak Raden!" Pak Supri berseloroh, Gigit tertawa-tawa.
"Yuk!" Andrea menggandeng tangan Gigit.
Belum sempat melangkah masuk, Gigit dan Andrea dibuat terkejut dengan panggilan Zellina yang memekakkan telinga.
“Ndreeeee ....”
Mereka segera berlari, takut terjadi sesuatu. Dan benar saja, di dalam Ren dan Bi Cicih sedang memegangi Yuli yang sedang gemetar.
“Nyebut, Bu! Ada apa?” Bi Cicih bertanya dengan wajah cemas. “Neng, Ibu kenapa, Neng?” katanya, ketika melihat Andrea masuk.
“Bu!” Andrea memegang tangan ibunya. Gemetar, basah, dan dingin.
“Bi, tolong ambilkan air minum,” kata Gigit.
“Baik, Den.” Bi Cicih segera berlari ke dapur.
“Ha ... Ha ... Harimau,” lirih Yuli. Matanya melotot ke arah kamar Andrea.
"Harimau?" tanya Ren.
“Tante melihat harimau?” tanya Zellina.
Yuli mengangguk.
“Di mana?” Ren terkejut. Yuli menunjuk ke arah kamar Andrea.
Andrea yakin ibunya melihat Dale. Dia berlari ke kamarnya.
Di sana memang ada Dale, terduduk di lantai. Tetapi orang lain melihatnya sebagai Si Belang. Harimau besar yang seram.
Dari depan pintu Zellina memekik, spontan memeluk Gigit yang ada di dekatnya. Diikuti Bi Cicih dan Ren.
Gigit jadi seperti pohon dirubungi monyet-monyet cemas.
Andrea masuk, mendekati Dale.
“Neng, jangan!” seru Bi Cicih, tangannya mencengkeram erat lengan Gigit.
"Ndree ...." Yuli memekik pelan, lalu lemas dan pingsan. Ren berlari menolongnya.
“Ndre, kamu jangan nekad!” Gigit bersuara, mencegah Andrea yang pelan-pelan menghampiri Dale. Ketar-ketir juga melihat pacarnya mendekati binatang buas.
“Kalian tenang saja, dia hanya Dale.”
“Dia harimau, Ndre! Kok Dale? Duh, si Andre sudah soak.” Zellina menepuk-nepuk pundak Gigit, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Andrea.
Gigit melepaskan pegangan dua cewek yang masih menggandulinya, lalu berlari mencegah Andrea dengan memegangi tangannya.
“Dia Dale. Sepertinya sedang sedih.” Andrea berusaha melepaskan tangannya dari Gigit. Sorot matanya sulit dijelaskan, antara marah, kecewa, dan takut.
“Ndre!!”
Seruan Gigit tidak membuatnya berhenti. Andrea berjongkok, mendekati Dale yang menekur. Dia tahu, Dale hanya sedang galau, butuh masukan darinya.
Gigit hanya bisa menahan nafas melihat Andrea mendekati seekor harimau besar.
__ADS_1
Bagaimana kalau dia lapar?
Daging muda nan empuk malah menyodorkan dirinya, seperti sepiring steak gurih, batin Gigit.
“Dal, kenapa kamu?” tanya Andrea.
Dale tidak bergeming. Terus saja menekuri lantai. Baju dan rambutnya acak-acakan, seperti belum mandi selama seminggu.
Lambat laun Andrea merasakan udara di kamarnya terasa panas. Andrea berkeringat, tapi dia tetap berjongkok di dekat Dale.
“Buka matamu, Dal! Ini perintah!” ujar Andrea.
Dale perlahan membuka matanya. Andrea terkejut karena mata Dale berwarna merah, wajahnya juga seperti menahan amarah. Rahangnya terdengar gemeletuk.
“Kamu sudah membuat ibuku ketakutan,” lanjut Andrea. "Kamu kenapa sih? mana Dale yang aku kenal baik? Dale yang penolong, kuat, dan penuh semangat?"
“Ndre!” Gigit memanggil lagi, masih dari tempat tadi.
“Neng, jangan nekad atuh Neng. Eta teh maung ....” Bi Cicih meminta dengan suara memelas, menyuruh Andrea mundur.
“Pergi sekarang juga, Dal! Kalau perlu jangan kembali, kamu sudah membuat ibu dan semua orang yang kusayangi ketakutan, aku kecewa sama kamu!” Andrea berteriak, dia kecewa Dale diam saja. Tidak menurutinya lagi. Diamenangis, tidak suka dengan keberadaan Dale yang seperti itu.
“Tepati dulu janjimu, Neng!" Akhirnya Dale membuka mulut.
"Janji apa?" Andrea menelan ludah, lehernya sudah seperti terbakar. Tubuhnya panas sudah tidak bisa dikatakan.
"Bebaskan saya! Kekasih saya telah bebas, dan kami ingin bersatu!" Dale bicara keras. Selain Andrea, orang-orang melihatnya harimau sedang mengaum.
"Bagaimana caranya?" Andrea berteriak.
Dale menyeringai, Andrea terkejut.
"Ikut denganku.” Tiba-tiba Dale bicara, dengan kata-kata dan suara yang berbeda. Besar, dan bergetar.
Dale berubah. Andrea terperangah, dia mulai takut. Dia teringat kejadian sukma Bu Anis yang dibawa Byork, demi membawa Lyla. Mungkin Dale juga akan membawanya, demi tidak melanggar perjanjian.
“I ... I ... Ikut ke mana?” Andrea bicara dengan gugup.
“Ndre!” Gigit akhirnya mendekat, menubruk Andrea dan memeluknya.
Harimau di depannya mengaum seperti mau menerkam Andrea.
Ditariknya tubuh Andrea yang mengigil ketakutan, membawanya menjauhi harimau bermata merah yang menyeringai.
“Mungkin kita harus menikah sekarang, Ndre. Mari kita coba, sebelum dia berbuat sesuatu kepadamu.” Gigit memeluk Andrea, tidak tega juga melihat Andrea ketakutan.
Andrea menangis di pelukan Gigit. Dale menyeringai sambil menggeram. Udara di kamar semakin panas, Dale terlihat semakin tidak sabaran. Rupanya amarahnya tidak terkendali, dia kembali menggeram sambil menatap tajam Andrea dan Gigit. Dale benar-benar berubah menjadi harimau yang menyeringai mengerikan.
Dale marah karena Gigit menghalanginya membawa Andrea.
Zellina dan Bi Cicih mundur dari mulut pintu, mereka berkumpul di sofa, menemani Ren menolong Yuli yang lemas. Gemetar berjamaah, tidak sanggup lagi melihat ke arah kamar Andrea.
Dale menggeram lagi, suaranya menggema di dalam kamar. Pak Supri yang sedang mengantuk di dalam mobil sampai kaget, lalu celingukan mencari sumber suara aneh itu.
Dale berdiri, Andrea mendadak tidak bertenaga, dia jatuh terkulai di pelukan Gigit.
Andrea merasakan hawa panas yang tadi mengilang, lalu berubah menjadi hawa dingin menyelimuti tubuhnya, lalu mengangkatnya pelan-pelan, ingin membawa dia terbang, melayang menjadi seringan awan.
Gigit terkejut melihat Andrea terkulai, dia mencoba membangunkan Andrea berkali-kali, tetapi Andrea semakin tidak sadar. Matanya sedikit demi sedikit meredup. Gigit mau membawa Andrea ke luar kamar, tetapi harimau itu menghadangnya.
Yuli yang mendengar auman harimau, pingsan lagi. Ren dan Zellina segera membawa Yuli ke kamarnya dibantu Bi Cicih.
Andrea merasakan dirinya terangkat tinggi sekali, seperti ada angin yang mendorongnya ke langit-langit ruangan kamarnya, lalu semua gelap, dia hanya merasakan dirinya terbang.
Dale tetap menatapnya tajam. Rupanya dia ingin membawa sukma Andrea.
Gigit mengangkat tubuh Andrea.
"Andrea!"
Tiba-tiba terdengar seseorang masuk rumah dan memanggil-manggil namanya. Andrea yang sedang merasa di awang-awang tahu, itu suara Dodo.
“Aa,” teriak Andrea. Tetapi suaranya tidak didengar.
Dodo masuk ke dalam kamar, mengambil alih tubuh Andrea dari Gigit, lalu membopongnya ke ranjang. Tidak menghiraukan harimau yang menyeringai kepadanya.
“Aa, tolong aku!” teriak Andrea lagi. Dia hanya bisa mendengar, tanpa tahu dirinya dimana.
“Ndre! Ndre! Sadar Ndre! maafkan Aa. Sudah meninggalkan kalian. Ndre, Aa sayang sama kamu. Aa akan selalu menjaga kamu, menjaga keluarga kita, menjaga peninggalan Aki. Ndre, bangun Ndre!!” Dodo berusaha membangunkan Andrea.
Andrea mendengar Dodo menangis, membangunkannya berkali-kali.
"Aku di sini, Aa, tolong aku!" Andrea menangis di awang-awang, sesenggukan sendiri.
__ADS_1
bersambung