My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 34 Terkungkung Perjanjian


__ADS_3

Andrea jadi ingin tertawa guling-guling mendengar tusuk konde Bu Anis yang ada jinnya, pantas saja kepalanya sampai sekarang masih nyut-nyutan karena dipentung konde itu. Ternyata memang ada penghuninya.


"Apa karena itu juga Bu Anis jadi harus menjalani terapi ya?" Andrea ingat akan sakitnya Bu Anis.


"Semacam.ketempelan gitu."


Dale mengangkat bahu.


Andrea segera memegang ponselnya ketika ibunya membuka pintu dengan segelas susu panas.


“Ndre! Kamu kebiasaan kalau sudah tertawa sendirian tuh, disatroni tetangga baru tahu rasa.”


Andrea tidak menjawab, dia asyik permainkan layar ponsel.


"Ndree ...."


"Iya, lupa," sahut Andrea.


"Nih minum susu panas, Ibu ngantuk mau tidur." Ibunya masuk, setelah menyerahkan susu kepada Andrea. "Jangan lupa kunci pintu!" teriaknya dari dalam.


“Sori, barusan ada iklan. Terus?”


"Neng Andre tidak boleh bersikap seperti itu kepada Ibu," kata Dale.


"Bersikap bagaimana?"


"Seperti tadi, tidak acuh."


Andrea terdiam, dia memang mengakui beberapa hari ini tidak bisa menyembunyikan sebalnya kepada Ibunya, gara-gara dia jalan dengan bapak-bapak itu.


"Sudahlah, Dal, jangan bahas itu."


"Neng curiga sama Ibu ya? Padahal kan belum tentu kecurigaan Neng benar kalau tidak ditanyakan langsung."


"Nahh, itu, aku takutnya benar kalau bertanya."


"Bagaimana kalau salah?" Dale mengangkat bahu, gayanya sok bijak. "Bagaimana pun, beliau ibunya Neng yang harus Neng hormati keputusannya."


"Aku takut dia jadi pelakor, Dal."


"Neng dari tadi takut melulu, mencari tahu nggak. Neng tinggal perintahkan saya, saya langsung mencari tahu siapa bapak-bapak itu."


"Iya, itu juga sudah jadi rencanaku. Tetapi aku ingin menyiapkan diri dulu untuk hal yang terburuk. Sekarang teruskan dulu ceritamu!"


“Cerita apa, Neng?”


“Cerita calon gebetanmu.”


“Ooh.” Dale beringsut, memeluk tiang rumah. “Kelihatannya dia juga suka sama saya. Sayang dia juga sama-sama terkungkung perjanjian seperti saya. Dia terikat untuk menjaga Bu Anis, ” lanjutnya.


Dale lama dia terdiam, membolak-balik daun mangga kering yang dipungutnya dari carport. Andrea membiarkannya merasakan kegalauan hatinya. Suara burung malam ramai bercengkrama.


“Berat juga ya jadi jin, memangnya tidak ada jalan untuk melepaskan ikatan perjanjian yang terjadi pada kalian?” akhirnya Andrea memecah keheningan.

__ADS_1


“Tentu saja ada, tuan yang memelihara kita membebaskan kami dengan ucapannya sendiri.”


“Kalau begitu aku bisa dong? aku kan tuanmu?”


“Ngga lah, Neng. Neng Andrea itu salah satu keturunan juragan saya yang harus saya jaga, perintah dari juragan Karsijan. Perjanjian saya tetap perjanjian dengan juragan Karsijan.”


“Aki sudah meninggal, jadi kamu terikat selamanya dong. Halahh, sudahlah. Aku putuskan perjanjian itu, sama saja kan?”


Dale menggeleng. “Tidak ada gunanya, Neng. Perjanjian kami tertulis di kerajaan kami.” Dale menarik nafas berat. “Sudah nasib kami. Tidak ada yang bisa menolak takdir. Saya harus menjadi jin peliharaan sampai kapan pun, karena yang bisa membebaskan saya hanya juragan Karsijan.”


“Gebetan kamu juga? Selamanya cicing di konde Bu Anis?”


“Kalau dia, diperintah harus terus ngajedog di kondenya Bu Anis sampai Bu Anis menemukan laki-laki yang mencintainya dan menikah. Tetapi sampai setua itu beliau tidak berminat nikah, gebetan saya juga sering curhat, sudah pengen bebas."


“Menikah?”


“Iya, dia bisa bebas kalau Bu Anis menemukan cintanya dan menikah.”


“Apa aku juga harus menikah, Dal? Biar kamu bebas,” selidik Andrea.


“Tidak ada ucapan seperti itu dari juragan Karsijan.”


“Lagian kalau menikah sekarang mah mana mungkin, sama siapa? Sama kodok?”


“Ah, si Neng mah. Jangan menikah dulu, masih kecil, Neng. Kalau mau mah Bu Anis tuh suruh nikah, takut kadaluarsa.”


“Huss… kamu jangan begitu, ah!” Andrea memperingatkan Dale.


“Habisnya saya kasihan sama dia. Sudah lama sekali ngajedog di konde, ingin bebas. Saya mah biar, seumur hidup jadi jin penjaga, asal jin yang saya cintai bebas. Dia bahagia juga saya mah sudah senang.”


Andrea semakin terenyuh, ketika melihat Dale menunduk, ditepuk-tepuknya pundak Dale.


Andrea mengambil jas dari tangan Dale dan membantu memakaikannya.


“Oh iya, sebenarnya aku butuh banyak bantuanmu, kita sekarang benar-benar berteman, kamu boleh jika ingin terus mengikutiku,” kata Andrea.


Dalle melonjak senang, Andrea menerima pengabdiannya lagi. Wajahnya sumringah, kegundahan hatinya sedikit terobati.


"Siap, Neng!"


“Tapi dengan satu syarat, tidak boleh menyentuh atau menakut-nakuti siapa pun, kecuali aku perintah!"


“Siap juragan Neng … eehh, kemarin kan saya masih pendekatan jadi agak lebay, hehe …”


“Iya, kelihatan kok, caper kamu kebangetan, Dal, juwal jawil … bikin heboh satu sekolah saja.”


"Saya kan maksudnya menjawil gebetan saya."


"Kenyataannya, Bu Anis yang merespon kan?"


Dale tersipu. “Maklum atuh, Neng. Lyla itu cinta pertama saya. Saya jadi gemas."


“Cieee, jadi namanya Lyla? Selama ini kalian bertemu di mana?”

__ADS_1


“Di pucuk pohon belimbing, Neng. Itu juga kalau Bu Anis lagi tidur. Lyla baru bisa ke luar dari tuduk kondenya.” Dale menutup muka dengan daun kering.


Andrea cekikikan.


“Aku kira makhluk sepertimu tidak pernah punya masalah percintaan, ternyata sama saja.”


“Tentu saja punya, Neng, kita sama-sama makhluk Tuhan yang banyak nafsu dan kekurangan. Kita hanya beda alam dan aturan.”


“Kita selesaikan semua masalah satu per satu. Aku juga akan bantu kamu bersatu dengan Lyla, oke!” Andrea mengacungkan tangan, mengajak Dale toz.


“Siap, Neng!”


Mereka toz di udara.


Jam sembilan malam Andrea masuk kamarnya, Dale pergi mencari makan, tengah malam kembali menclok di atas pagar rumah Andrea.


Dini hari, Mang Menying dan Mang Kemed keluar dari celah tembok perbatasan yang retak dan bolong.


Mereka menelusuri jalan perumahan yang sepi. Udara kemarau yang berangin membuat malam menjadi dingin, penghuni perumahan baru itu sudah terlelap dalam pelukan bantal dan guling.


“Masih keukeuh ke rumah bosnya si Cicih?” tanya Mang Menying, nafasnya berat, dia sedang bengek.


“Yang sudah jelas tidak ada laki-laki kan rumah itu. Si Cicih bilang mereka tinggal berdua, ibu dan anaknya, perempuan.” Mang Kemed membungkuskan sarung ke kepalanya.


“Beraninya sama perempuan,” sungut Mang Menying.


“Kita bukan mau tawuran, kehed. Mau nyolong, cari aman lah.” Mang Kemed kesal dengan ucapan koleganya.


"Iya, iya, terserah kamu saja."


Mereka mengendap-endap ketika melewati pos satpam.


"Kosong," bisik Meng Kemed.


Mang Menying mengacungkan jempol yang dibalut plester karakter jerapah sekolah. "Kenapa jempol maneh?" tanya Mang Kemed lagi.


"Kena palu, lagi benerin pintu."


"Biasa merusak, mana bisa benerin. Heuuhh, jari itu aset buat maling. Kalau jempolnya sakit, gimana mau congkel-congkel?"


"Tenang, sudah nggak sakit, ini mah iseng, plesternya lucu, imut."


Mang Kemed menutup mulut Mang Menying setelah menyadari mereka sudah sampai di dekat rumah target.


Keduanya menciut melihat kucing besar itu sedang tidur di atas tembok pagar.


“Bener kan, macan?” Mang Kemed berjalan cepat setelah balik kanan, diikuti Mang Menying yang mendadak sesak, asmanya memberat karena kaget.


“Ma ... ung,” jawab Mang Menying, dengan nafas bersuara ngik ngik.


*bersambung


Selamat membaca readers, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, rate dan vote.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2