My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 97 Penawaran Pihak Lawan


__ADS_3

Bel rumah berbunyi, Andrea merasa diberi kesempatan untuk menyudahi pedasnya.


Tante Dina hendak memanggil asistennya, untuk mengecek.


“Biar aku saja, Tan.” Andrea beranjak, cepat pergi dari meja makan.


“Ndre!” seru Tante Dina. Andrea sudah berlari.


Ternyata Dodo yang datang, ditemani Ren dan Zellina. Rupanya sepupunya itu telah menemukan kekasihnya. Andrea segera membuka pintu gerbang.


“Aa!” serunya.


"Ndreee ...." Zellina merentangkan tangan, bunga-bunga berloncatan dari wajahnya.


“Kalian ...." Andrea memeluk teman-temannya.


“Mulut kamu kenapa, Ndre?” tanya Dodo. “Bengkak begitu.”


Andrea menyusut-nyusut bibirnya.


“Habis makan tawon?" tanya Dodo lagi.


"Iya, emang kenapa?" Andrea sewot. Pagi-pagi sudah sial, gara-gara grogi berhadapan dengan dua orang dewasa yang banyak pura-pura.


“Barbar banget,” ujar Ren.


“Bukannya yang dimakan itu ee nya ya?” tanya Zellina. Mereka memasuki pintu pagar.


“Ee nya?” Dodo mengernyitkan dahi, tidak menyangka pacarnya akan sejorok itu.


“Iya, Kak, yang manis dan lengket itu.”


“Maksudnya madu, Kak.” Ren berbisik, lalu geleng-geleng kepala. Di depan pacarnya saja Zellina masih suka bersikap beloon.


“Ooh, madu, itu bukan ee nya tawon," kata Dodo.


“Terus apanya?” tanya Zellina.


“Selingkuhannya.”


Andrea dan Ren cekikikan, Zellina mengernyitkan dahi, bingung.


“Si Aa, kalau ngomong suka ngaco,” kata Andrea.


“Lho, benar kan? madu itu awalnya selingkuhan."


“Tapi iya juga sih, dan berita buruknya, itu terjadi di rumah ini.” Andrea bicara pelan sambil melihat berkeliling, persis biang gosip.


“Maksud kamu?” tanya Ren.


“Perselingkuhan dan madu." Andrea menoleh ke arah teras. Memastikan tidak ada orang di sana.


"Eh, Semalam aku melihat Gigit.” Andrea masih bicara bisik-bisik.


“Maksud kamu Gigit selingkuh?” tanya Zellina.


Dodo menggenggam tangan kekasihnya itu. “Iya, sama tawon.”


Zellina menutup mulutnya. “Kak Dodo jangan pernah ya!”


“Iya, sayang, tawon galak.” Dodo dan Zellina cekikikan.


“Kalian memang pasangan yang cocok,” kata Andrea.


“Siapa yang datang, Ndre? Kenapa masih di sana?” Tante Dina berteriak dari teras.


“Aa Dodo sama teman-teman, Tante.”


“Suruh masuk dong!”


“Ayo, masuk!” Andrea berjalan ke teras.


“Ndre, kamu bilang dulu, maksud kamu apa? Siapa yang selingkuh? Apa hubungannya dengan Gigit?” Ren masih penasaran.


Andrea menyimpan telunjuknya di mulut. “Sstt ... Kita temui dulu Tante Dina, nanti aku ceritakan."


“Kamu kepo, Nek,” ujar Zellina.


Ren mencebik. "Kayak sendirinya enggak."


"Tapi aku mohon, kalian jangan bahas madu, tawon, Gigit, semua yang kita bicarakan ini di depan Tante Dina ya." Andrea memohon, dia sudah seperti biang gosip.


Teman-temannya mengangguk.


"Aa," ucap Andrea. Dia melihat Dodo diam saja.


"Iyaaaa ... dasar tukang gosip." Dodo mencubit pipi Andrea.


"Aww ... sakit," teriak Andrea. Zellina dan Ren cekikikan.


"Sekarang kita lagi nunggu Om Singgih, pengacara yang menangani kasus aku."


"Baguslah, Ndre. Aku tuh hampir gila membujuk kakakmu untuk tidak nyamperin Yadi." Zellina bicara sambil manyun.


"Aa, kan semalam Tante Dina sudah bilang tidak usah."


"Kamu percayakan saja kasus Andrea ditangani pengacara, sayang. Kamu kan bukan pengacara." Zellina menggelayut manja kepada Dodo yang hanya nyengir kuda.


"Iya, sayang. Aku memang bukan pengacara, tetapi akan selalu membela kamu kapanpun dan dimanapun." Dodo malah ngegombal.


Andrea dan Ren memeletkan lidah. Zellina berkedip-kedip manja.


**


“Saksi yang kemarin melaporkan Yadi menerangkan tidak ada yang melihat kejadiannya. Mereka hanya melihat Andrea sudah pingsan saja. Sedangkan Andrea sendiri malah tidak datang bersaksi." Seorang berpakaian rapi menatap Tante Dina dan Om Azi. Dia adalah Pak Singgih, seorang pengacara yang dimintai bantuan mengurus kasus Andrea.


"Saya waktu itu langsung pergi ke kampung, Pak," ujar Andrea. Dibenarkan oleh Ren dan Zellina.


"Iya, saya tahu itu. Tetapi saat ini yang kita butuhkan adalah bukti. Apakah ada terasa penganiayaan? Kalau ada bisa visum." Pak Singgih menatap Andrea.


Andrea terdiam, karena tidak merasakan sakit apa-apa. Dia waktu itu hanya dibius. Yang mendapat penganiayaan justru Gigit. Ah, cowok itu mengusik pikirannya lagi. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia tahu kalau aku ada di rumah madu ibunya?


"Ndre!" Ren menyikut, melihat Andrea malah bengong.


"Euh, ngga ada, Pak. Saya ngga ada luka apa-apa." Andrea bicara gugup.

__ADS_1


“Terus bagaimana?” tanya Tante Dina kepada Pak Singgih.


“Kita bisa bersaksi kok, Om.” Ren bicara.


“Aku juga, Om,” ujar Zellina.


Dodo yang berdiri di dekatnya hanya bisa memegang dagu. Dagunya sendiri tentu, meski pun sudah tidak tahan ingin memegang dagu Zellina, ketika otak ngeresnya hadir.


“Itu tidak cukup, kita harus bisa memberikan bukti, bahwa penculikan itu memang direncanakan Yadi.”


Semua orang di ruangan itu terdiam. Memang yang melaporkan aksi penculikan itu adalah bapak-bapak sekitar yang menolong waktu itu. Tetapi mereka sendiri tidak bisa membuktikan kalau Andrea benar-benar diculik, karena Andrea langsung pergi ke kampung berhari-hari.


Akhirnya mereka bebas, tetapi orang tua Yadi tidak terima, dan melaporkan balik Andrea dengan tuduhan pencemaran nama baik.


“Mengingat siapa keluarga Sanjaya, saya menduga, saksi-saksi itu juga mendapat tekanan, sehingga tidak mau bicara banyak, dan kasus penculikan ditutup begitu saja.” Pak Singgih bicara lagi.


Andrea menekur. Zellina mengusap-usap bahunya. Membuat Andrea merasa semakin terpukul, tidak menyangka semuanya akan berbalik kepadanya. Nasib orang lemah, dia kini merasakan apa yang dirasakan orang-orang difitnah.


“Neng perlihatkan saja video itu,” bisik Dale.


Andrea menggeleng pelan. Dale kecewa.


“Terus, bagaimana, Nggih?” tanya Tante Dina.


“Tenang saja, Andrea kan masih ada dalam jaminan. Selama itu, kita cari bukti-buktinya dulu.”


“Tapi ada harapan bebas kan?” tanya Om Azi.


“Kita usahakan.” Pak Singgih bicara sambil tersenyum, ketika melihat semua orang terlihat cemas. Ternyata masih banyak yang harus dielajari dan diperjuangkan untuk mendapat keadilan.


Setelah Pak Singgih pergi, Andrea kembali ke kamarnya, ditemani Ren.


Dodo dan Zellina pamit pergi, berjalan-jalan berdua alias pacaran. Mereka sudah tidak tahan ingin berduaan, berdempetan.


Tante Dina dan Om Azi pergi ke kantornya masing-masing, dengan memikul masalah mereka sendiri yang sedang panas-panasnya.


“Aa jangan bertindak gegabah, aku tidak mau masalahnya makin rumit,” kata Andrea.


“Iya, bawel.” Dodo memencet hidung Andrea.


“Zell, jaga dia.”


“Iya, bawel.” Zellina ikut-ikutan memencet hidung Andrea.


Mereka pergi dengan wajah bertebaran cinta dan bunga, ceria.


Di dalam kamar tinggal mereka bertiga.


“Dal, kamu enggak cari makan?”


“Sudah kenyang, Neng.”


“Dia ada di sini?” bisik Ren.


Andrea mengangguk.


“Astaga, cogan itu ada di mana?” Ren celingukan.


“Sebenarnya aku punya buktinya.”


“Kamu ingat video si Atang?”


Mata Ren melebar. “Iya, betul, itu bisa dijadikan bukti, Ndre.”


“Masalahnya di video itu Dale kelihatan.”


“Terus?”


“Bagaimana kalau diminta bersaksi? Hanya aku, kamu, dan A Dodo yang tahu Dale ini siapa.” Andrea melirik ke arah Dale di dekat jendela.


Ren mengikuti pandangan Andrea. “Dia di sana?” Andrea mengangguk.


“Tidak apa-apa, Neng. Saya kan bisa mengaku siapa saja.” Dale menjawab.


“Mengaku siapa? Kamu nanti yang dapat masalah dengan kekuatanmu. Aku tidak mau kamu malah sakit." Andrea bicara pelan, namun lumayan membuat Dale terharu.


"Lagian kepolisian tidak akan sembarangan menerima saksi, pasti akan diminta keterangan, dan ditelusuri kebenarannya," lanjut Andrea.


“Itu mah gampang.”


“Iya gampang untuk mengelabui orang tidak dikenal, kalau untuk Tante Dina, Om Azi, Pak Singgih, Gigit, bagaimana aku menjelaskannya, Dal?” Andrea menatap Dale.


Ren terdiam sambil larak-lirik, mendengar ocehan Andrea dengan jendela di seberangnya.


Dale garuk-garuk kepala. “Ya sudah, seterah Neng deh.”


"Ndre, kalau kamu coba foto atau rekam dia sekali lagi, bisa ngga? Dia kan kelihatan di video." Ren bicara setengah berbisik. Tetapi Dale mendengarnya.


"Coba saja, Neng." Dale membereskan jasnya.


"Kamu yakin, Dal?"


Dale mengangguk, lalu berpose dengan jari cagak di dagu.


Andrea membidiknya, tetapi dia tidak melihat Dale di kamera. Lalu mencoba memakai kamera video, sama saja.


"Gimana?" tanya Ren.


Andrea memeriksa hasilnya di galeri, tetapi hanya ada gambar jendela terbuka.


Andrea menggeleng. "Ngga ada, mungkin dulu kebetulan."


Dale ikut-ikutan melihat foto. "Saya bisa terlihat untuk sebuah kebaikan, Neng. Bukan untuk main-main."


"Maksud kamu, kamu kelihatan di video itu untuk kebaikan aku?" tanya Andrea.


"Mungkin saja. Makanya, Neng jangan ragu memperlihatkan video itu kepada polisi."


Andrea termangu. Dia memainkan bibirnya sendiri.


“Ndre, kamu belum menceritakan masalah Gigit.” Ren yang masih merinding mencolek Andrea.


Andrea menarik nafas dalam-dalam. “Kamu pasti tidak akan percaya, Ren. Gigit itu ternyata anaknya Om Azi.”


“Hah?” Mulut Ren melongo, bisa masuk donat segelundung.

__ADS_1


Andrea menceritakan semua yang diketahui dan dilihatnya semalam kepada Ren.


“Sekarang Gigit di mana?” tanya Ren.


“Aku masih belum bisa menghubunginya. Tetapi, aku sudah menghubungi tukang kacang rebus, untuk menghubungi aku kalau dia datang mengambil motornya.”


“Tukang kacang rebus?” Ren semakin bingung.


“Iya, kamu enggak usah kepo siapa dia, soalnya aku lagi malas menceritakan kembali.” (kalau readers penasaran, bisa kembali baca chapter 85 ... Hehee)


Ren mengangkat bahu. “Ya sudah, seterah!”


“Ih, itu kan punya saya,” kata Dale. Tetapi Ren cuek saja, karena tidak mendengarnya.


“Aku mau lihat lagi videonya boleh, Ndre?” tanya Ren.


Andrea menyodorkan gawainya. Ren kembali menonton video yang lumayan berdurasi panjang itu.


“Memang sih, kemunculan dia akan membuat penasaran.” Ren menopang dagu. “Ndre, kenapa dia didandani oppa korea?” bisik Ren.


“Bingung, harus dandani apa.”


“Dasar, cewek kaku. Browsing dong.” Ren segera membuka gawainya. Mencari dandanan yang sekiranya cocok untuk Dale.


Dale ikut melihat-lihat.


“Coba suruh pakai ini, lebih sporty, Ndre.” Ren menunjukkan foto artis Brian Domani yang memakai jaket kulit hitam di instagramnya.


Belum Andrea menyuruh, Dale sudah mengganti pakaiannya. Dia memutar-mutar tubuhnya, seperti seorang model.


“Sudah tuh,” kata Andrea, menujuk dengan dagunya.


“Astaga, dia menyimak omongan aku?” Ren memutar pandangannya. Sungguh tersiksa berada dalam kepenasarannya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar diketuk.


“Nona, di gerbang ada tamu, ingin bertemu,” seru asisten Tante Dina.


“Siapa?”


“Katanya teman Nona.”


Andrea melihat melalui jendela kamarnya, sebuah mobil mewah terparkir. Dia kenal mobil itu. Jantungnya terkesiap.


“Yadi Sanjaya, Neng.” Dale memberi info.


“Benar dia?” Andrea terbelalak. "Berani sekali," geram Andrea.


“Siapa, Ndre?” tanya Ren.


“Yadi.”


Ren cepat-cepat ikut melihat ke jendela. "Benar itu mobilnya."


“Bagaimana, Ren?” tanya Andrea.


“Temui saja, mana tahu dia mau berdamai," sahut Ren.


"Apa aku hubungi Tante Dina?" tanya Ren lagi.


Andrea mencegah. "Tidak usah dulu, Ren. Benar kata kamu, siapa tahu dia mau berdamai."


Ren mengangguk.


“Suruh masuk saja, Bi.” Andrea berseru kepada pelayan Tante Dina.


“Baik, Nona.”


“Aku kok geli ya, dengar Bibi itu panggil kamu Nona.” Ren meringis.


“Iya, aku juga jadi diledekin A Dodo. Dibilang nona-nona dalam kaleng susu.”


Ren tergelak, sambil memegangi perut.


Mereka turun dari kamar.


Bukannya Andrea, yang gugup justru Ren. Berhari-hari tidak melihat wajah Yadi, jantungnya jadi berdebar-debar. Kelakuan Yadi tidak merubah perasaannya.


Andrea menatap Yadi yang sedang duduk di ruang tamu, bersamanya juga ada seorang perempuan yang kalau dilihat dari sikap dan dandanannya itu orang tuanya. Gaya, dan angkuh.


Andrea sedikit gentar, apalagi Tante Dina tidak ada.


“Selamat siang,” kata Andrea.


Mereka yang sudah duduj di ruang tamu, segera berdiri. Andrea merasa ada wajah perang pada wajah perempuan itu.


"Andrea?" Yadi terlihat kikuk, melihat orang yang ditaksirnya datang.


“Oh, ini yang namanya Andrea? Saya mamanya Yadi, mama kamu mana?” tanya ibunya, to the point.


“Maaf, Bu. Ini rumah Tante saya.”


“Hm, numpang?”


“Mam, mendingan duduk dulu deh. Ini rumah orang,” bisik Yadi. Masih punya adab juga di rumah orang, tetapi di mata Andrea dia sedang pura-pura.


“Tidak usah, Nak." Mamanya Yadi menaruh tasnya di sofa.


"Oiya, Andrea, langsung saja ya, saya tidak punya banyak waktu. Saya ke sini mau memberi penawaran kepada kamu.” Dia menghampiri.


Andrea dan Ren saling pandang.


“Pe, pe ... penawaran apa, Bu?” tanya Andrea. Yadi juga menghampirinya.


Andrea menatap tajam laki-laki yang telah mencoba menculik, dan menyekapnya itu. Ren memegangi tangannya.


“Saya akan mencabut laporan ke polisi, jika kamu mau bertunangan dengan anak saya.” Mamanya Yadi langsung membidik, membuat Andrea seperti ditembak rudal di medan perang. Hancur berkeping-keping.


Mereka yang memfitnah, mereka juga yang ambil kesempatan.


Ren membelalakkan mata, sahabatnya mendapat negosiasi yang tiba-tiba. Tanpa duduk, apalagi minum teh.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2