
Dengan membulatkan tekad, Andrea memejamkan mata. Dia ingin tidur nyenyak dan makan enak. Kejadian di sekolah telah memberinya peringatan, kalau kesehatannya lebih penting daripada memikirkan makhluk aneh menyebalkan bernama Dulale itu.
Dia juga telah berusaha mencari gembok yang menurut pengakuan Dale adalah tempat asalnya, tetapi tidak menemukannya.
"Terserah, mau datang, mau hilang, bukan urusan Gue," gumamnya. Ditariknya selimut sampai kepala.
“Sudah mau tidur, Ndre?” ibunya nongol dari pintu.
“Hmm ....”
“Tumben, kamu enggak apa-apa?”
“Ngga, Bu.”
Yuli masuk, mendekati ranjang dan merebahkan badannya.
“Yakin? Besok ke dokter ya, Ibu khawatir."
"Aku tadi hanya salatri, Bu."
"Kamu sih, menyepelekan sarapan."
"Iya, besok sarapan yang banyak."
"Ya sudah, Ibu juga mengantuk.”
“Hmm ....”
“Tugas sekolah?”
“Ngga ada.”
“Kamu kapan tidur di kamarmu sendiri?” tanya Yuli sambil menguap.
“Nanti kalau ditemani."
“Ditemani siapa?”
“Ibu.”
“Sama aja bohong, dong.”
“Makanya, di sini sama Ibu, di sana juga sama Ibu, mendingan pilih mana?” Andrea membuka selimut yang menutupi tubuhnya, lalu memeluk ibunya.
“Enak saja suruh pilih, kayak lagi pemilu."
“Ya sudah, aku aja yang pilih. Tidur di sini." Andrea semakin erat memeluk ibunya.
“Sana dikit ah, gerah. Pokoknya ikut di sini sampai malam ini, selanjutnya tidur lagi di kamar sendiri.” Yuli menepis tangan Andrea.
“Iiihh ... Ibuuu,” rengek Andrea.
Yuli pura-pura tidur. Setelah yakin Andrea sudah tidur, dia bangun. Memandangi wajah putrinya yang mulai pulas.
Ada haru pada sorot matanya. Dia teringat masa kecil Andrea yang lucu. Bukan hanya dia yang sangat menyayanginya, almarhum suaminya juga sangat menyayanginya. Sampai ajalnya mau menjemput, dia menitipkan Andrea sampai beberapa kali.
Yuli mengusap rambut Andrea. Mungkin selama ini cara dia sedikit keras dalam mendidik Andrea, tidak seperti ibu lain yang memanjakan anaknya dengan penuh kelembutan. Tetapi itu dilakukan demi kemandirian Andrea.
Sebagai seorang ibu, dia tentu saja ingin selalu mendekap dan memanjakan Andrea siang malam seperti waktu kecil dulu, ketika suaminya masih ada.
Setelah suaminya tiada, dia harus menjadi ibu sekaligus ayah, kembali bekerja, demi memenuhi segala kebutuhan anak semata wayangnya itu. Untung saja perusahaan tempat dia dulu bekerja masih membutuhkan tenaganya.
Dia juga ingin menjadikan Andrea setangguh karang dalam menghadapi kehidupan. Mereka tidak mempunyai sanak saudara di kota ini. Apa jadinya kalau ada apa-apa dengan dirinya, kalau Andrea tumbuh menjadi anak yang manja.
Yuli menyeka bening yang mengembang di matanya, dia membuka laci nakas. Pada tumpukan kertas paling bawah dia mengambil sebuah amplop panjang.
Kepala suratnya bertulis nama sebuah rumah sakit.
Dia baca lagi secarik kertas di dalamnya. Berharap keajaiban, berubah setelah beberapa minggu ini didiamkan.
Tetapi, isi surat keterangan itu masih sama, hasil diagnosis dokter tentang tumor yang tumbuh di kepalanya.
Yuli tengadah, menahan air matanya tumpah. Dimatikannya lampu meja, agar dia bisa leluasa menangis. Membayangkan terpukulnya Andrea seandainya tahu penyakit yang dideritanya itu.
"Maafkan Ibu, Ndre. Ibu tidak mau kamu tahu semuanya kalau selalu tidur di kamar Ibu," isak Yuli. Air matanya menghujan, deras tak tertahan.
**
Sepiring nasi goreng sudah kandas. Andrea benar-benar belajar dari kejadian kemarin.
Pesan WA dari Zellina masuk, Andrea membacanya.
Ndre, jangan lupa atur ketemuan sama Si Ganteng.
Andrea senyum-senyum sendiri ketika memasukkan sebuah amplop kecil ke dalam tasnya.
"Ibu antar sampai depan ga apa-apa, Ndre?" Yuli mengambil kunci motor.
"Ibu enggak masuk kerja?" Andrea melihat ibunya masih memakai baju santai.
"Agak siangan. Ada keperluan dulu."
__ADS_1
"Yahh, naik angkot dong."
"Kenapa? Masih sakit?" tanya Yuli. Meraba kening Andrea.
"Ngga, aku ngantuk. Kekenyangan."
"Kamu itu, mentang-mentang kemarin pingsan karena enggak sarapan, sekarang sarapannya doble." Andrea senyum-senyum.
Ibunya hanya mengantar sampai gerbang perumahan depan, Andrea buru-buru menghentikan angkot.
Di dalam angkot Andrea memasang headset ke kupingnya, mendengarkan lagu Celengan Rindu yang lagi hit. Mengangguk-angguk sambil bergumam.
Tiba-tiba angkot berhenti. Andrea menengok ke luar, menunggu siapa yang akan naik, tetapi tidak ada seorang pun yang masuk. Tiga orang yang ada di dalam angkot keluar sambil bersungut-sungut.
Andrea keheranan, dia tidak tahu apa yang terjadi. Sopir angkot melambaikan tangannya.
"Apa, Mang?" tanya Andrea. Sopir angkot menggerak-gerakkan mulutnya. Andrea baru sadar, dia sedang mendengarkan musik.
"Apa, Mang?" tanyanya lagi, sambil melepas headset
"Mogok, Neng. Dari tadi kan Mamang bilang," seru sopir angkot, sambil terus saja menstater mobilnya.
"Ooh, mogok? terus?"
"Yaa enggak bisa jalan, Neng."
"Iya tahu, kalau mogok enggak bisa jalan, Mang. Maksud saya, saya harus turun?"
"Terserah Neng, mau nunggu juga boleh, itu orang lain juga turun, menunggu angkot lain."
Andrea melihat-lihat ke jalan, penumpang lain juga masih berdiri menunggu angkot lain lewat.
Duh, padahal lima menit lagi masuk kelas.
Andrea beranjak, mau keluar, tetapi seseorang malah masuk.
"Dale." gumamnya.
Andrea kembali duduk dengan gugup.
"Kok malah duduk lagi, Neng? nanti kesiangan." Sopir angkot keheranan.
Andrea tidak menjawab. Dia menatap Dale yang sedang mengunyah sesuatu.
"Neng Andrea tenang saja," kata Dale. Dia turun lalu mendorong angkot dengan telunjuknya. Angkot berjalan tanpa suara.
"Ehh, naha? Lho, ieu mobil kunaon?" sopir angkot panik. Dia tidak bisa menghentikan angkotnya yang terus berjalan meskipun tidak dia kemudikan.
Sampai di depan sekolah, sopir angkot yang pucat pasi bengong saja ketika Andrea membayar ongkosnya dengan buru-buru. Dale bersandar di samping angkot sambil mengupas manggis.
Angkot mogok lagi, setelah beberapa lama menghalangi jalan, beberapa orang membantu sopir angkot itu mendorongnya ke bengkel.
Andrea melemparkan tasnya ke tempat duduknya. Ren yang sedang berbincang dengan Akri menghampirinya.
"Aku kira enggak masuk."
"Hampir," jawab Andrea.
"Masih sakit?"
"Siapa yang sakit sih? Tidak ada yang sakit. Aku hampir kesiangan."
"Kenapa?"
"Angkotnya mogok."
"Sesekali pakai ojek Online atuh, Ndre."
"Iya, tadi kepepet." Andrea duduk lalu memerhatikan sekeliling. Dia tidak menemukan Dale.
Apakah memang benar dia datang ketika aku sedang dalam bahaya dan kesulitan?
Ketika semuanya baik-baik saja, dia menghilang, batinnya.
"Ndre! Ndre! Andre! Bengong saja ...." Zellina memanggil.
Andrea menoleh. "Apa?"
"Bagaimana dengan rencana kita?"
"Sebentar." Andrea mengambil gawainya. Belum juga membukanya, Bu Diah, guru pelajaran Agama sudah memberi salam di pintu kelas.
"Nanti aku hubungi dulu, sabar." Andrea berbisik ke Zellina yang ada di belakangnya .
Zellina merengut.
Anak-anak masih ribut. Bu Diah tidak terpengaruh, dia mulai mengajar.
Bagi beliau, pantang surut mengajar meskipun anak-anak di kelas angin ribut itu banyak yang tidak memerhatikan. Karena, dalam prinsipnya belajar itu bukan paksaan, jika anak-anak ingin pintar, mereka akan memerhatikan. Yang malas memerhatikan tentu saja mereka yang tidak mau pintar.
Simpel saja, dia mengajar bukan hanya di kelas itu saja, kelas yang lain juga masih butuh ilmunya. Buang-buang tenaga harus marah-marah karena tidak diperhatikan. Prinsipnya bertolak belakang dengan Bu Anis.
__ADS_1
Ren melirik ke arah teman-temannya yang pada asyik sendiri. Menyimpan telunjuknya ke bibir, menyuruh mereka untuk diam, tetapi tidak berpengaruh.
Waktu istirahat pertama tiba. Andrea melonjak ketika mendapat notifikasi pesan di gawainya.
"Dia membalas," serunya kepada Zellina.
"What? Oh My God, apa katanya, Ndre?" Zellina lebih senang.
"Dia menunggu kita, sekarang di lapangan basket."
"Ayo!" Zellina menarik tangan Andrea.
"Sabar."
"Aku enggak bisa sabar kalau mau ketemu dia."
"Bucin."
"Bodo."
"Kalian kenapa sih?" tanya Ren. Dia muncul dari pintu kelas. Sekotak empek-empek menghiasi tangannya.
"Ren, ikut yuk!" Andrea menarik tangan Ren.
"Ke mana?"
"Ikut saja," kata Zellina, tidak sabaran. Dia menarik tangan kedua sahabatnya.
Mereka berjalan menuju lapangan basket. Di sana terlihat Yadi dan teman-temannya sedang iseng bermain basket. Terlihat macho dan berkharisma. Zellina semakin terpesona.
Yadi melihat ke arah mereka bertiga, lalu berlari menghampiri ke pinggir lapangan. Keringat membasahi kening dan bajunya. Membuat dia kelihatan semakin tampan dan cowok banget.
Zellina menggigit-gigit bibirnya sendiri, cari perhatian.
"Hai!" sapa Yadi. "Apa kabar, Andrea?"
"Hai, Kak! Baik." Andrea juga sedikit grogi, Yadi memang tampan, apalagi kalau sedang tersenyum begitu. Pantas saja Zellina tergila-gila.
Hanya Ren yang terlihat biasa-biasa saja. Dia sibuk menusuk-nusuk empek-empek.
"Ada apa? Mau ikut gabung lagi, Ndre?" Yadi mengajak mereka duduk di bangku pinggir lapangan.
"Ngga, aku bukan mau bergabung basket lagi."
"Terus?" Yadi memandangnya serius.
"Aku mau antar ini." Andrea menyodorkan sebuah kartu undangan kecil.
"Ulang tahun Kety?" Yadi mengerutkan dahi.
"Iya, itu kucing kesayangan Zellina, hehe ...." Andrea melirik Zellina.
Zellina kaget, merasa kucingnya tidak ada yang berulang tahun.
Yadi masih setia mengernyitkan dahi. Dia memandangi kertas undangan yang diberikan Andrea.
"Sudah dulu ya, Kak. Kita pamit," kata Andrea. Dia menggamit tangan Zellina dan Ren, lalu buru-buru pergi.
"Maksud kamu apa? kok ulang tahun kucingku?"
"Bodo amat, yang penting kan aku sudah menepati janji, undang dia untuk bertemu. Sudah kan?"
"Emang si Kety ulang tahun ya?" tanya Zellina.
"Ya sudah saja, Zel. Kamu besok siap-siap, dia akan datang ke rumahmu tuh." Andrea tertawa.
Ren ikut-ikutan tertawa. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tetapi kelakuan Andrea yang konyol membuatnya lucu. Zellina kebingungan melihat mereka tertawa.
"Ndre, awaaasss!!"
Sebuah teriakan mengejutkan Andrea. Dengan sekali putar badannya sudah berbalik dan melihat sesuatu yang besar meluncur ke arahnya. Refleks tangannya menutupi wajahnya.
Hening.
Ketika menurunkan tangan, Andrea menyaksikan bola basket menggelinding di dekat kakinya.
Dale ada di dekatnya, dia yang telah menahan bola itu. Ren dan Zellina yang ikut menutup wajah langsung memegangi Andrea.
"Kamu enggak apa-apa, Ndre?" tanya Ren. Andrea masih terpaku.
Yadi berlari menghampiri, mengambil bola. "Kamu baik-baik saja, Ndre?"
"Ngga apa-apa, Kak."
Yadi memberi isyarat kepada temannya untuk berhenti bermain. Dia merasa agak aneh, tangan kecil Andrea bisa menahan bola basket yang meluncur cepat, tanpa goyang sedikitpun.
"Terima kasih undangannya, aku pasti datang." Yadi tersenyum pada Andrea.
Andrea tidak menjawab, masih menatap Dale tak berkedip.
Apakah Andrea akan menerima Dale sebagai penjaganya? atau tetap pada pendiriannya untuk tidak peduli? tunggu episode selanjutnya yaa
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak dalam komen, dan like yaaa