My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 101 Dodo dan Gigit Menghilang


__ADS_3

Selesai pesta kecil, mereka langsung pergi ke rumah Bu Anis, dan dikejutkan oleh pemandangan yang tidak mereka kira sebelumnya.


Pak Iwan sudah mendahului mereka sowan. Setelan jas membalut tubuhnya, membuat pria yang selalu berpenampilan petani sederhana itu terlihat berbeda.


"Pakdeee ...." Zellina menyapanya riang. Pak Iwan dadah-dadah dengan senang.


"Pakde keren," lanjut Zellina dengan jempol dua-duanya di udara. "Kalah nih Akri sama Zay."


"Kalah apanya?" tanya Akri, merasa tidak sepadan bersaing sama bapak-bapak.


"Kalah tunggangannya lah." Zellina menunjuk moge mengkilap di parkiran.


Akri dan Zay langsung melotot, diikuti teman-temannya yang lain.


"Kerbau Pak Iwan sekarang jadi moge, gaes." Akri masih tidak berkedip.


Ren dan Andrea saling berpandangan. Hanya mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Pak Iwan dan Bu Anis.


“Kalian mau menjenguk Dik, eh, Bu Anis?” Moge dan jas tidak mengubah kesederhanaan Pak Iwan dalam berujar.


“Iya, Pakde. Pakde juga menjenguk Bu Anis?” tanya Zellina.


Pak Iwan tersipu, dia menoleh ke arah pintu dalam, lalu berbisik, “saya sedang pendekate.”


“Hah? Pendek kayak kate?” tanya Zainal.


Pak Iwan menggelengkan kepalanya, dia memberi isyarat dengan jari-jarinya.


“Maksudnya pedekate, pendekatan.” Akri menjelaskan.


“Nah, itu!” seru Pak Iwan.


“Waahh, hebat!” Andrea berteriak. Dia tos diudara dengan Ren yang juga terlihat senang.


“Apa yang hebat?” Bu Anis muncul di pintu tengah. Langkahnya seringan awan, seperti bidadari turun dari kayangan. Pak Iwan sampai tidak berkedip melihatnya.


“Euuh, itu, Bu, kerbau Pak Iwan, hebat, bisa berubah jadi moge.” Andrea menunjuk moge di tempat parkir.


Ren menyikut Andrea. Setelah suasana kembali normal, Bu Anis menyilakan tamu-tamunya duduk.


“Ibu, kami datang ke sini ingin tahu keadaan Ibu.” Ren mencium tangan Bu Anis, diikuti teman-temannya yang lain.


“Alhamdulillah, Saya baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian kalian, sampai datang rombongan begini.”


Bu Anis menyambut mereka dengan ramah. Berbeda ketika sedang di kelas, anak-anak juga merasa sangat nyaman. Walaupun sebagian harus lesehan karena tidak kebagian tempat duduk.


Sebenarnya Andrea sudah gatel ingin bertanya, sejak kapan mereka dekat, tetapi dilarang Ren.


"Tidak penting juga kan itu ditanyakan, nanti malah membuat Bu Anis dan Pak Iwan malu." Ren berbisik.


"Tetapi aku penasaran," sahut Andrea. "Siapa yang menembak duluan," lanjutnya.


"Si Cupid," kata Ren.


"Ehm, bisa jadi sih." Andrea mengangguk-angguk.


Tidak lama pelayan Bu Anis datang, dengan segala rupa makanan. Makhkuk-makhluk penghuni kelas angin ribut yang sekarang sudah sepoi-sepoi itu bersorak riang.


Ren juga sekarang kesampaian, mencicipi makaroni bantat buatan asisten Bu Anis yang gurih dan kriyuk, dengan toping bubuk cabai yang merah aduhai.


“Usahaku mulai membuahkan hasil, mudah-mudahan mereka benar menikah, dan Lyla bisa bebas,” kata Andrea kepada Ren, ketika mereka sudah kembali ke rumah Tante Dina. Teman-temannya yang lain langsung pulang ke rumah masing-masing.


“Terus si Lele?” tanya Ren.


“Itu nanti akan aku pikirkan lagi. Kasihan juga kalau hanya kekasihnya yang bebas, mereka tidak akan bisa bersatu.”


Ren mengangguk-angguk. “Dia ada di sini?” bisiknya.


“Ngga, tadi pamit cari makan. Mungkin sekarang masih loncat-loncatan di pucuk pohon.”


“Masih pakai setelan anak motor?”


Andrea mengangguk.


“Kalian ngomongin apa sih?” Zellina nimbrung, dari sejak awal asyik mainan ponsel.


“Kepo,” ujar Ren.


“Si Aa jadi ke sini?” tanya Andrea.


Zellina mengangkat bahu. “Ponselnya tidak aktif.”


“Masa? Tadi kan kamu telfonan.” Ren bersuara.


“Itu tadi, sekarang tidak aktif.” Zellina manyun.


“Mungkin di jalan,” kata Ren.


“Atau ketiduran," sambung Andrea. "Gigit juga menghilang."


Zellina kembali menghubungi Dodo, tetapi masih belum aktif.


Andrea juga kembali mengecek pesannya untuk Gigit, masih belum dibaca.


“Mereka ke mana sih?” tanya Ren. Gigit dan Dodo seperti menghilang hari ini. Padahal kedua cowok itu adalah yang paling care dengan Andrea.


“Apa kita susul aja?” tanya Zellina.


“Yuk!” Ren berdiri.


“Sebentar, aku minta izin Tante Dina dulu.” Andrea menghubungi Tante Dina di kantornya.


Hari sudah sore ketika Andrea datang. Rumahnya tidak terkunci dari pagar sampai dalam, tetapi Dodo tidak ada. Zellina mulai bersikap kalap.


“Bagaimana ini, apa Kak Dodo kesasar?” Zellina mulai panik.


“Memang dia ke mana?” tanya Ren.

__ADS_1


“Kali saja, dia jalan-jalan, lalu nyasar.”


“Tidak mungkin, Zell, A Dodo bukan orang bodoh, kalau nyasar pasti akan bertanya.” Andrea mencoba mencari di ruangan samping. “Motornya ada.”


“Ada, Ndre? Berarti orangnya ada dong.” Zellina berlari menghampiri.


Akhirnya Andrea memanggil Dale.


“Kamu cari gih, kalau sedang kesulitan, bantu dia.” Andrea berbisik kepada Dale.


“Sayap, Neng!”


“Sekalian, cari Gigit juga.”


“Gigit hilang?”


“Iya, dari hatiku.”


“Eaakk, Neng mulai pintar menggombal." Dale senyum-senyum nakal.


“Sudah sana cepat!” Andrea setengah berteriak menyuruh Dale pergi.


“Ada apa, Ndre?” tanya Zellina, tergopoh dari dapur. “Ada kabar dari Kak Dodo?”


“Kagak. Sudah, kamu tenang saja A Dodo pasti baik-baik saja.”


“Aku khawatir, Ndre.” Zellina menghempaskan punggungnya ke sofa.


“Kamu barusan dari mana?” tanya Andrea.


“Dapur, cari Kak Dodo di tempat bumbu.”


“Memang dia cabe rawit?” celetuk Ren. Dia juga baru muncul dari kamar mandi.


“Lah, kamu cari dia di kamar mandi, memang pacarku sikat gigi?” Zellina sewot.


“Mirip-mirip sedikit sih, rambutnya,” sahut Ren. Zellina melemparnya dengan bantal sofa.


“Kalian jangan acak-acak rumahku!” seru Andrea.


“Kamarmu boleh?” Ren berlari ke kamar Andrea, disusul Andrea dan Zellina sambil menjerit-jerit tidak karuan.


Dale muncul, Andrea buru-buru membawanya ke teras samping.


“Maaf lama, Neng, tadi menolong Den Dodo dulu,” lapor Dale. "Kasian, Den Dodo kaki sama tangannya diikat. Dia dibawa ketika sedang tidur."


“Hah? Diikat?"


“Dipaksa pulang sama Ua Istri.”


“Ua Istri ke sini?”


“Orang suruhannya.”


“Si Asep?”


Andrea mengernyitkan dahi. “Beda lagi?”


"Beda lah, yang satu pakai A yang satu lagi pakai U."


"Iya tau."


“Kata Den Dodo, Asep sudah tidak dipercaya Ua istri, jadinya beliau menyuruh orang lain.”


“Terus, sekarang di mana?”


“Siapa?”


“A Dodo.”


“Di mobil, sudah sampai Garut. Dia bilang baik-baik saja. Neng tidak usah khawatir, nanti dia ke sini lagi, kalau urusannya dengan ibunya selesai. Neng disuruh jangan pikirkan semuanya.”


“Ck, bagaimana bisa, dia dalam bahaya, Dal.”


“Masa menemui ibunya sendiri bahaya, Neng. Tenang saja, dia hanya di suruh pulang untuk minum susu.”


“Jangan bercanda, ini serius. Ua istri benar-benar marah. Demi harta sampai tega melakukan semua ini. Aku harus melakukan sesuatu, Dal."


“Melakukan apa? Sudah, Neng percayakan semuanya kepada saya, dan Den Dodo. Oiya, ponsel Den Dodo disita si Usep, jadi Neng disuruh sampaikan pesannya kepada Neng Rinces.”


“Apa?”


“Tukang angon pasti akan datang menemui rumput ilalang.”


“Maksudnya apa?” tanya Andrea.


“Tidak tahu, suruhnya begitu. Mereka mau gembala kambing kali.”


Andrea membuang nafas sekaligus.


“Eh, Gigit bagaimana?” Dia berbalik lagi ke arah Dale.


“Ada di kamarnya, lagi mendengarkan musik barat, sedih ...." Dale menarik nafas dalam-dalam.


"Sedih? emang kamu ngerti?"


"Hehe, maksud saya, saya yang sedih karena ngga ngerti bahasanya."


Andrea geleng-geleng kepala.


"Om Azi juga ada, lagi melamun sendirian. Mereka sore ini mau pergi ke Malaysia.”


“Apa?”


“Om Azi juga ada, lagi ....”


“Aku sudah dengar, jangan diulangi!”

__ADS_1


“Kan tadi Neng Andrea nanya, apa?”


“Itu bukan nanya, aku kaget.”


“Oh, saya kira enggak dengar.”


“Apa mereka akan kembali lagi?”


“Saya harus tanya lagi.” Dale mau berbalik.


“Tanya siapa?”


“Cecak-cecak di dinding rumah mereka.”


“Hah? Berarti benar ya, kalau cecak itu suka bocorkan rahasia?” tanya Andrea.


“Tidak juga, mereka hanya memberi tahu apa yang mereka dengar. Tidak ada urusan dengan rahasia, karena memang tidak pernah ada yang menyuruh mereka untuk tutup mulut.”


“Kalau begitu, mereka comel, mulut ember.” Andrea melihat sekeliling tembok dinding rumahnya, mencari cecak. “Kalau tahu begini, aku harus ancam mereka untuk tutup mulut.”


“Tidak usah berlebihan, Neng. Siapa juga manusia yang akan tanya-tanya pada cecak.”


“Kok jadi bahas cecak, sih?”


“Kalau bahas buaya, tidak akan nyambung, Neng.”


“Iya juga. Duh, A Dodo pergi, Gigit juga mau pergi.”


“Tapi kan saya masih di sini, Neng.”


Andrea menoleh. “Aku hanya menyesal saja, mereka selalu ada ketika aku lagi susah, sedangkan ketika mereka susah, aku tidak ada buat mereka.”


“Neng jangan bicara seperti itu. Cowok memang diciptakan untuk melindungi.” Dale berjalan, mendekati pot bunga janda bolong. Jarinya menelusuri bolong-bolong alami tumbuhan itu.


“Kamu kenapa?” Andrea melihat perubahan raut wajah Dale.


“Tidak apa-apa, Neng.”


“Pasti soal Lyla.” Andrea melipat tangan. “Bu Anis dan Pak Iwan sekarang mulai dekat, mudah-mudahan saja tidak lama lagi mereka jadian, dan menikah.”


“Saya sudah tahu.”


“Kamu bertemu Lyla?”


“Iya, Neng, tidak sengaja. Dia mau mandi ke gunung salak. Dia kelihatan sedih, padahal kan mau bebas.”


Andrea membuang nafas. “Kamu jangan menyerah, setelah Lyla bebas, kamu juga bebas, Dal, aku yang membebaskanmu.”


“Kalau ucapan Neng berlaku, sudah dari dulu saya raib.”


“Ah, susah banget sih berurusan sama kamu. Terserah!” Andrea beranjak untuk menemui teman-temannya. “Tetapi kamu jangan khawatir. Aku akan selalu membantu kamu, sampai kamu bebas," ucapnya lagi.


"Janji ya, Neng." Dale memelas.


Zellina merengut, wajahnya dilipat beberapa bagian, terlihat kacau pokoknya.


“Kenapa sih keluarga kalian aneh banget. Banyak rahasia, muncul tiba-tiba, hilang tiba-tiba, akur, musuhan, akur lagi ... Aah, aku pusing!” omelnya.


“Iihh, ini nenek. Ya sudah, kalau pusing minum obat!” kata Ren.


“Aku khawatir sama Kak Dodo.”


“Dia baik-baik saja, kamu tenang saja. Nanti juga dia hubungi kamu, rumput ilalang,” cibir Andrea.


“Aaahhh, anak angonkuuu ... Aku rinduuu!!” teriak Zellina. Ren dan Andrea menutup kuping.


**


Di kampung.


Dodo digelandang Usep dan teman-temannya.


"Cukup, Sep! Aku akan bikin perhitungan sama kalian, memperlakukan aku seperti pencuri ayam begini..." Dodo geram


"Maaf, A. Kalau tidak begitu, Mbu akan ...." Usep tidak melanjutkan kata-katanya, karena Bu Nisma keluar.


"Do!" serunya.


Usep dan teman-temannya segera pulang, setelah menyerahkan ponsel Dodo kepada Bu Nisma.


Dodo masuk ke dalam rumah. Tanpa salam, tanpa salim. Bu Nisma segera mengunci pintu.


"Mbu apa-apaan sih? semakin keterlaluan saja."


"Kamu yang keterlaluan, kabur tidak bilang-bilang. Merusak atap, kamu sudah tidak menganggap Mbu sebagai ibu kamu?"


"Aku kasian sama Andrea. Dia sangat sedang dalam kesulitan. Dia ke sini untuk meminta bantuan kepada kita. Keluarganya." Dodo berjalan ke kamarnya.


"Do, Mbu belum selesai bicara!"


"Aku capek, setelah diringkus si Usep," sahut Dodo.


Bu Nisma manatap tajam Dodo, yang sekarang sudah seratus persen membela Andrea.


"Jangan harap Mbu akan membiarkanmu!" Bu Nisma menutup pintu kamar Dodo, dan menguncinya dari luar. Pundak Dodo terkulai, dia terjebak lagi di kamarnya. Dia melihat sekeliling, ternyata ibunya sudah merubah kamarnya sedemikan rupa dengan teralis terpasang di mana-mana.


**


Satu minggu sejak kebebasan Andrea, Bu Anis kembali mengajar. Anak-anak menyambutnya dengan gembira. Mereka kini sudah bersikap normal, seperti kelas lainnya. Jin pengganggu sudah raib, membuat suasana kelas lebih menyenangkan.


Andrea senang, tetapi hatinya masih gamang. Dodo belum ada kabar, dan Gigit menghilang dari hari-harinya.


“Selamat pagi anak-anak!” suara Bu Anis terdengar lembut di pintu.


“Pagi, Buu ....” Sekelas terkesima, melihat penampilan Bu Anis yang berbeda. Rok panjang dan jilbab menghiasi tubuhnya. Dia terlihat lebih cantik dan bersahaja. Jidar panjangnya masih dia bawa, tetapi tidak membuat gentar lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2