
Ren terkejut, langsung kelihatan panik. Dia belum bisa bertanya, telefon terputus.
“Hallo ... Hallo!” Ren memandangi gawainya, lalu mencoba menempelkan lagi ke kuping. “Hallo! Hallo! Kok putus sih!”
“Kenapa Ren?” tanya Andrea.
“Mamaku, Ndre!” Ren menatap Andrea dengan wajah panik.
“Kenapa mamamu?”
“Aku harus ke klinik sekarang. Pak, stop, Pak!” Ren berteriak kepada sopir angkot.
Angkot berhenti. Ren segera keluar.
“Ren, ada apa?” Andrea mengikutinya. Mereka membayar ongkos angkot.
“Kamu balik ke sekolah saja!” kata Ren setelah menyadari Andrea terus mengikutinya.
“Bilang dulu ada apa?” tanya Andrea.
“Mamaku kambuh, mungkin gawat, tadi telefon dari tempat dia dirawat.”
“Kalau begitu aku ikut.” Andrea memaksa.
Ren tidak bisa mencegah, mereka segera menyeberang untuk naik angkot dengan arah berbeda.
“Ngga naik taksi online saja, Ren?”
“Lama.”
Andrea melihat kekacauan pada perasan sahabatnya itu.
“Kami tenang dulu, Ren.” Dia mencoba menenangkan Ren.
“Papaku, aku harus hubungi Papa dulu.” Setelah sampai di seberang, Ren mengambil gawainya. Lama gawainya menempel di telinga, tetapi tidak ada respons dari papanya. “Pa, angkat dong!” gumamnya, resah.
Andrea mengusap-usap punggung Ren yang matanya mulai berkabut.
“Kamu tenang dulu, kita kan lagi menuju ke sana.”
Ren tidak menjawab, kabut di matanya berubah jadi air menggenang, lalu membutir dan jatuh ke pipinya. Dia tidak bisa menahan sedih.
Di simpan gawainya ke dalam saku, jarinya mengusap pipinya.
“Aku takut terjadi apa-apa sama Mama, setiap hari juga Papa ke sana menjenguk, Mama belum ada perubahan. Katanya malah semakin kurus, mungkin Mama enggak betah di sana.” Ren bicara sambil terisak.
Andrea tidak bisa berkata apa-apa, karena dia juga sedang menahan sakit di tenggorokannya, sedih melihat Ren.
Angkot datang, mereka segera naik. Ren sudah tidak menangis, tetapi awan hitam masih menggelayut di wajahnya.
Untuk sampai di klinik tempat mamanya Ren dirawat, mereka harus dua kali naik angkot. Satu jam perjalanan baru sampai. Langsung meminta izin besuk kepada penjaga di depan.
Ren segera berlari, menyusuri koridor klinik yang lumayan sepi. Lalu mereka sampai di tempat yang terdengar cukup ramai, tetapi suaranya ada di dalam ruangan. Tidak ada kelihatan orang di luar. Ada yang tertawa, ada yang bernyanyi, yang bercengkerama juga banyak.
Andrea dan Ren melewati empat ruangan yang suaranya terdengar ramai. Bahkan dari ruangan ke empat mereka mendengar jeritan yang menyayat hati.
Andrea sampai meloncat karena kaget. Ren tidak terpengaruh, dia tetap berjalan, pikirannya entah di mana. Andrea juga tidak ingin mengeluh, demi sahabatnya itu. Padahal dia paling takut dengan orang gila.
“Sus!” Ren memanggil seorang suster yang baru keluar dari sebuah ruangan. Dia berlari mendekati Suster yang terlihat ramah itu.
“Eh, Mauren ya?” Suster itu ternyata sudah mengenal Ren. “Ada apa?”
“Bagaimana Mama saya?” Tanya Ren, cemas.
“Mama masih seperti kemarin. Memang Papa kamu tidak memberi tahu?” Suster balik bertanya.
“Lho, tadi ada yang menelepon saya, katanya kondisi Mama memburuk,” jelas Ren.
“Siapa yang menelefon?” Suster menatap Ren dengan heran.
“Bilangnya dari sini.”
Suster membuka-buka kertas dalam map yang dibawanya.
“Ngga kok, Bu Aini hanya mogok makan kemarin. Tapi hari ini sudah mau makan walaupun sedikit. Hasil pemeriksaan dokter tidak ada yang mengkhawatirkan.”
Andrea dan Ren saling pandang.
“Terus yang menelefon saya siapa?”
Suster angkat bahu. “Kalau ada sesuatu yang penting menyangkut mama kamu, tentu yang kami hubungi papa kamu dulu.”
Ren baru sadar, pihak klinik mungkin tidak tahu juga nomor ponselnya.
“Ngga apa-apa, Ren, yang penting mamamu baik-baik saja, kan?” Andrea menggenggam tangan Ren yang masih terasa dingin karena panik.
“Boleh kami lihat Mama, Sus?” tanya Ren.
“Boleh, Bu Aini sedang tidur, tadi baru melakukan terapi dokter.” Suster segera mengantar Ren dan Andrea ke lantai dua.
Suster bicara dengan suster jaga di sana, lalu membawa mereka ke sebuah ruangan VIP.
Berbeda dengan ruangan yang penghuninya ramai di bawah, ruangan mamanya Ren sangat tenang. Fasilitas untuk pasien maupun tamu pasien sangat bagus.
Andrea melihat sekeliling ruangan, rapi dan wangi. Pasti Papanya Ren menghabiskan banyak uang untuk semua ini, batinnya.
“Bu Aini sebenarnya stabil, kalian boleh di sini, asal jangan mengganggu tidurnya. Tidur sangat baik untuk ketenangan beliau.” Suster memberi arahan.
“Baik, terima kasih, Sus,” sahut Ren.
Suster permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Mamanya Ren tidur sangat pulas. Tidak ada infus atau alat-alat medis di tubuhnya, dia tidur seperti orang biasa tidur, karena memang fisiknya baik-baik saja.
__ADS_1
Hanya mata cekungnya yang tidak bisa berbohong, menutup rapat, menikmati tenangnya tidur siang.
Ren menggenggam tangan mamanya. Air matanya meluruh lagi, dia menangis lalu memeluk mamanya pelan-pelan.
Andrea ikut menangis, tetapi dia sembunyikan dengan berlari ke luar ruangan. Dia tidak kuat melihat kesedihan sahabatnya itu. Membayangkan andai itu semua terjadi pada dirinya. Andrea jadi teringat pada ibunya.
Melihat Ren yang takut kehilangan mamanya, dia menjadi lebih takut, karena di dunia ini orang tuanya hanya tinggal ibunya itu.
Andrea semakin sedih mengingat beberapa hari ini dia bersikap tidak acuh kepada ibunya.
“Dulale Dulale, westin wergan wesma werma!” mantranya terucap.
“Neng Andrea kenapa?” Dale memandang wajah Andrea yang basah.
Andrea membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Kalau di depan Dale, dia tidak malu untuk menangis.
“Kamu masih ikuti Ibu? Apa Ibu baik-baik saja?” tanyanya, setelah tangisnya reda. Dia menerima saputangan bersulam benang emas lagi dari tangan Dale.
“Iya, Ibu masih di kantor. Baik-baik saja."
“Syukurlah,” kata Andrea. Dia menyusut pipinya dengan saputangan Dale.
“Tapi bosan juga di sana, melihat Ibu Neng bekerja melihat TV terus.”
“Itu bukan TV, komputer.” Andrea lega, ibunya tidak apa-apa. Berarti memang mimisan semalam bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.
“Neng Andrea menangis kenapa?”
“Aku kasihan melihat Ren.”
Dale mengikuti Andrea, melihat Ren dari balik pintu ruangan.
“Daripada ikut menangis, mendingan Neng memikirkan ide untuk membantunya,” kata Dale.
“Ide apa?” Andrea bertanya.
Dia baru menyadari, Dale benar-benar jin yang baik. Tdak hanya sering menawarkan bantuan untuknya, tetapi juga untuk teman-temannya. Tetapi, dia juga bingung bisa membantu apa untuk mengurangi kesedihan Ren.
Dale malah mengangkat bahu. “Tidak tahu, tetapi saya siap membantu.”
Andrea duduk di kursi yang tersedia di sana. Kelihatan berpikir. Dale masih memandangi Ren dan mamanya.
“Dal, kamu bisa salin rupa?”
“Bisa,” sahut Dale.
“Membuat orang lain melihatmu bisa?”
“Bisa, tetapi sebatas untuk menolong demi kebaikan, bukan untuk main-main.”
Andrea cepat menghampiri Oppa Korea gadungan itu sambil tersenyum.
“Kamu menampakkan diri jadi kakaknya Ren, mau? Ini untuk menolong kesembuhan mamanya Ren.”
Andrea memeluk Dale, lupa kalau dia itu kakek-kakek bungkuk dan habis makan jengkol.
“Kalau menampakkan diri untuk main-main saja memang kenapa?” tanya Andrea.
“Itu pelanggaran, bisa kena sangsi atasan.”
“Ooh, padahal aku ingin menunjukkan kamu sama Ren dan Zellina, biar mereka tahu gantengnya bodyguardku.”
“Ah, Neng mah,” Dale malu-malu macan.
Andrea masuk menemui Ren. “Ren, aku mau bicara,” bisik Andrea.
Ren mengangkat kepala dari perut ibunya. Dia mengusap pipinya yang basah.
Andrea mengajak Ren keluar, dia tidak mau mengganggu tidur mamanya Ren.
Ren duduk, kesedihan masih mendominasi wajahnya, meskipun ternyata mamanya tidak apa-apa.
“Siapa yang tega menelefon aku seperti itu ya? Perasaan aku tidak punya musuh, tega banget mempermainkan kondisi mamaku.”
“Sudahlah, yang penting mamamu tidak apa-apa.”
Ren menunduk. “Ada apa? Kamu sudah mau pulang?”
Andrea menggeleng.
“Aku mau bicarakan sesuatu sama kamu.” Andrea melihat ke arah Dale yang ada di belakang Ren.
Ren menatapnya heran, lalu menoleh ke belakangnya yang tidak ada apa-apa.
"Ada apa?"
"Di belakangmu ada Dale, aku mengundangnya.”
“Astaga,” seru Ren. Dia tidak berani menoleh lagi.
“Kamu tenang, Ren, dia jinak kok.” Andrea tertawa geli. Dale mencebik, dibilang jinak.
“Aku ada ide, tapi ini juga kalau kamu setuju.”
“Ide apa lagi, Ndre, idemu buat Bu Anis kembali juga gagal,” bisik Ren. Dia masih merinding.
“Aku ada ide untuk membantu mama kamu.”
Ren menatap Andrea. “Maksudnya?”
“Dale bisa salin rupa, aku rasa dia bisa menjadi kakakmu sementara. Menemui mamamu, mana tahu dengan kehadiran kakakmu depresinya bisa terobati.”
“Ngga, Ndre, Ngga ada yang bisa menggantikan kakakku,” tegas Ren.
__ADS_1
“Dale bukan ingin menggantikan kakakmu, mana bisa, dia sudah tiada. Kamu sendiri yang bilang, mamamu begitu karena sangat kehilangan kakakmu.”
“Ndre.” Ren masih belum yakin dengan ide Andrea.
“Itu juga jika kamu tidak keberatan. Aku sedih melihat kamu menangis. Aku tahu, kamu di sekolah pura-pura tegar, tetapi setiap pulang ke rumah pasti akan berbeda. Aku ingin membantu, dan mungkin ini yang bisa aku lakukan.”
Ren menekur, memikirkan tawaran Andrea. “Apa dia bisa melakukannya?”
“Dale? Aku yakin bisa, kamu perlihatkan saja foto kakakmu sama dia.”
Ren ragu, karena harus melakukan hal itu. Dia jadi ikut-ikutan konyol seperti Andrea. Tetapi dia juga ingin mamanya sembuh, tidak terus-terusan depresi.
Ren mengambil gawai dari sakunya, dengan perlahan mencari potret kakaknya yang masih tersimpan dan menyerahkannya pada Andrea.
Ren masuk ke ruangan, ternyata mamanya sudah bangun, sedang duduk bersandar pada bantal, dengan pandangan mata kosong.
“Mama sudah bangun?” tanya Ren.
“Kakakmu belum pulang?” Bu Aini balik bertanya dengan nada ketus.
“Ma,” keluh Ren. Dia membantu ibunya untuk duduk.
“Papa suka begitu sih, membiarkan Marvel punya motor sen ....” Bu Aini tidak meneruskan ucapannya, karena di samping ranjang sudah berdiri putra kesayangannya.
“Marvel? Ya Tuhan, kamu di sini, Nak!” Bu Aini memeluk angin dengan mata berbinar.
Ren beranjak dari sana, dengan pandangan heran.
Andrea membawa Ren untuk menjauh dulu sebentar. Membiarkan mamanya melepas rindu pada anak kesayangannya.
“Dia?”
“Iya, Dale datang sebagai kakakmu. Lihat Ren, mamamu sangat senang.”
Bu Aini memegang wajah Dale penuh kasih sayang. Dale belum bicara apa-apa, dia membiarkan Bu Aini melepaskan rindunya.
“Ren, sini!” Bu Aini memanggil Ren.
Ren mendekat ke ranjang, lalu duduk. Bu Aini memeluknya juga, lalu mengecup keningnya.
Ren menjadi terharu, diperlakukan seperti itu lagi oleh mamanya. Dia mencoba memeluk angin yang dipeluk mamanya.
Tangisnya pecah lagi, mereka bertiga berpelukan.
Andrea tersenyum haru.
Suster masuk, membawa makan untuk Bu Aini. Memandang heran kepada mereka. Ren segera mengusap pipinya.
“Mumpung masih ada Mauren, Bu Aini coba makan lagi ya,” ucap Suster.
“Mama makan ya!” kata Ren dengan lembut.
Bu Aini menatap Dale.
“Mama makan dulu, Marvel tetap di sini,” kata Dale, yang sedang menjadi Marvel.
Mata Bu Aini berbinar lagi, lalu mengangguk kepada Ren. Ren segera mengambil piring dari suster.
“Sus, anak saya sudah datang." Bu Aini tersenyum bahagia.
Suster tersenyum. “Iya, Bu.”
“Marvel, kenalkan ini suster yang merawat Mama.”
Suster kebingungan, dia melihat ke arah pandangan Bu Aini, lalu membungkukkan badan. Sebagai suster di klinik itu, dia tentu lebih paham pada setiap tingkah laku pasiennya.
Bu Aini segera makan, lahap sekali. Tangannya tidak melepaskan tangan Dale yang setia mendampinginya.
Ren terharu, mamanya makan sampai habis. Suster yang ikut menyaksikan itu juga gembira.
“Bu Aini kalau makan seperti ini setiap hari akan cepat sembuh dan pulang.”
Bu Aini tersenyum kepada Ren dan Dale bergantian.
Suster segera meminta Bu Aini istirahat kembali. Bu Aini mengangguk dengan berat hati.
“Mama tenang saja, aku pasti datang lagi, “ bisik Dale. Bu Aini mengangguk dengan wajah yang sulit dikatakan. Kehadiran Marvel adalah sesuatu yang ditunggu-tunggunya.
Ren dan Andrea tidak kembali ke sekolah, untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, karena hari sudah sore, jam pelajaran pasti sudah usai.
Andrea menyandarkan punggungnya pada sandaran jok taksi online.
Ren melirik Andrea. “Terima kasih ya, Ndre, kamu memang sahabatku paling the best. Baru kali ini aku melihat Mama ceria seperti tadi.”
“Kamu jangan sedih lagi, ya. Aku tidak tahan melihat orang yang aku sayangi menangis. Tenang saja, Dale pasti tahu apa yang harus dilakukan. Semoga mama kamu berangsur pulih.”
“Eh, dia masih ikut kita?” Ren celingukan ke jok belakang.
“Ngga, dia sudah pergi.”
“Andai aku bisa melihatnya, aku juga kangen sama kakakku,” lirih Ren.
“Ingat, dia bukan kakakmu, Ren." Andrea mengingatkan. "Sebenarnya bisa saja sih kamu melihatnya, tetapi itu akan jadi satu pelanggaran buat Dale.”
“Pelanggaran bagaimana? Tadi dia bisa dilihat mamaku.”
“Dale bilang, dia ditugaskan untuk menjaga keturunan kakekku, jadi dia hanya bisa menampakkan diri kepada yang punya hubungan darah dengan kakekku. Kalaupun harus menampakkan diri kepada orang lain, itu juga karena untuk kebaikan. Kalau menampakkan diri untuk yang lainnya, dia bisa ditegur rajanya.”
“Hmm, punya raja juga itu orang. Tapi enggak apa-apa, aku sekarang percaya dia ada. Sampaikan terima kasihku sama dia ya."
“Oke, tapi dia bukan orang, jin."
Sopir taksi terkejut, lalu melihat mereka dengan pandangan aneh dari kaca spion depan. Andrea baru menyadari itu, lalu mencolek Ren untuk diam. Mereka tidak bicara lagi sampai keduanya tertidur karena lelah.
__ADS_1
bersambung