
Gigit mematikan mesin. Andrea membuka pintu mobil. Udara dingin membelai wajahnya, sebagian menembus jaketnya, hingga menusuk kulitnya.
Sudah pukul setengah enam, langit sudah mulai terang, tetapi suasana di sekitar masih gelap. Pohon-pohon menjulang menghalangi cahaya.
Andrea, Ren, dan Gigit memandangi hutan di depan mereka dengan tangan di saku jaket masing-masing.
Zellina sedang mengacak-acak bagasi mobilnya, mencari barang yang kira-kira berguna dalam perjalanan mendadaknya itu.
“Ini tempat apa, Ndre?” tanya Zellina, dia sudah safety dengan jaket, kupluk, sepatu, syal dan sarung tangan.
“Ini hutan pinus.”
“Tidak ada gunungnya, hutan melulu.” Ren melihat sekeliling.
“Kamu tidak sadar, kita sudah ada jauh dari kaki gunung.” Andrea menatap hutan di depannya. Dari mulutnya keluar uap, saking dinginnya udara.
“Kaki? Gunungnya mana?” tanya Ren, dia menggosok-gosok telapak tangannya. Dipikirannya dia bisa melihat dua gunung, di tengah-tengah ada matahari, seperti yang sering dibuatnya ketika pelajaran menggambar.
Kriyuukk....
Semua menoleh pada Ren. Ren senyum-senyum malu.
“Aku lapar,” katanya.
“Aku tahu, perutmu bunyi dari sejak di masjid tadi.” Zellina menyenggol Ren.
“Perut aku kosong, dikuras semalam. Cacing di perutku juga ikut oleng, mereka teriak-teriak nih.”
“Cacing? Jijik banget peliharaanmu, Ren.” Zellina bergidik.
“Terus apa? Ayam jago?”
Gigit melihat kanan kiri, tidak ada rumah di sana, apalagi warung. Mereka berada di pintu masuk pendakian, tetapi tidak ada seorang pun di sana.
“Sepertinya kita harus berjalan dulu ke sebelah sana, mencari rumah penduduk. Bertanya warung di sebelah mana.” Gigit menunjuk turunan jalan.
“Pak Supriiiii!!” tiba-tiba Zellina berteriak.
“Kamu kenapa sih, Zell?” Ren menutup kupingnya.
“Panggil, Pak Supri. Carikan kita makan.”
“Bisa enggak kalau tidak dekat kuping orang?” sewot Ren.
“Ngga, aku biasa begini kan. Pak Supriiii!!” Zellina berteriak lagi.
Ren menghindar, dia menjauhi Zellina. Dalam suasana lapar seperti itu, emosinya suka meledak-ledak.
Pak Supri terbangun, tetapi dia melihat tidak ada siapa-siapa di dalam mobil. Dia kembali tidur, menyenderkan kepalanya ke kaca mobil.
Udara dingin membuatnya susah membuka mata, bahkan ketika salat subuh di masjid juga dia melakukannya dengan setengah sadar.
“Sudah, kasihan Pak Supri. Kita kan bisa cari sendiri.” Gigit berjalan sambil menengok kanan kiri.
“Kasihan? Dia dibayar untuk mengurusku,” kesal Zellina.
Andrea merangkul pundak Zellina. “Sebaiknya kamu ikuti Gigit. Kalian di sini saja, ini perkampungan, pasti ada warung. Aku mendaki sendiri saja, aku hubungi kalian nanti.”
“Hah? Kamu mau mendaki sendiri? Jangan nekat, Ndre!” teriak Ren.
Gigit mendengarnya, dia berlari menghampiri. “Kita ke sini bareng-bareng, mendaki dan pulang juga harus bareng-bareng, Ndre.”
“Iya nih, Andrea. Masa mau meninggalkan kita di kampung orang seperti ini.” Zellina merengut.
“Justru karena aku khawatir dengan kalian. Di sini ada mobil, ada Pak Supri, kalian bisa mencari makan. Di atas ada tempat camping sih, tetapi belum tentu ada makanan."
“Memang kamu tidak lapar, Ndre?” tanya Gigit.
“Aku mengejar waktu, Git. Harus mencari tujuh sumur untuk mengambil airnya.”
Ren mengernyitkan dahi.
Gigit memandangi lekat wajah Andrea, seolah ingin tahu misteri apa yang disembunyikan Andrea.
“Kamu mau mandi kembang?” tanya Zellina.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Kalian cari makan saja, kita ada ponsel kan, nanti aku hubungi.” Andrea berjalan memasuki hutan pinus.
Ren dan Zellina terpaku, Andrea mengeloyor begitu saja.
“Ndre, tunggu! Aku ikut. Kalian kembali ke mobil saja, cari makan sama Pak Supri.” Gigit memegang bahu Ren dan Zellina. Dia berjalan mengikuti Andrea.
“Tungguuu!!” Ren dan Zelina berteriak.
“Kalian kuat? Soalnya jalannya sedikit terjal.” Andrea memandangi teman-temannya.
“Mau bagaimana lagi,” Ren berjalan gontai. "Mana tau di dalam ada kang cilok."
Mereka berjalan memasuki hutan pinus lebih dalam, keluar dari hutan pinus, mereka disajikan jalan yang mulai terjal dengan kanan kiri pohon perdu lebat. Andrea memimpin di depan, menapaki jalan setapak seolah tanpa lelah.
“Persiapan dalam mobilmu lengkap juga, Zell.” Gigit melihat penampilan Zellina. Dia mengulurkan tangannya, membantu Zellina menaiki undakan tanah yang lumayan tinggi.
Zellina tersenyum. “Itu mobil pribadiku, sudah kayak lemari jalan di bagasi. Untung sedia jaket, dan sepatu juga, kalau enggak bisa hipotermia aku,” kata Zellina.
“Makanan mah kagak,” sahut Ren. Dia semakin terlihat lelah. Jalannya paling lambat. Gigit membantunya juga.
“Kalau simpan makanan, bisa ditumpangi semut mobilku. Aah, Andrea tidak bilang-bilang sih mau naik-naik ke puncak gunung. Tahu begitu kan aku bawa tenda biru, dan sepatu gunung."
“Ngomel saja nih, Nenek. Lihat aku, pakai sendal plat doang. Pulang-pulang kakiku kapalan.” Ren mengacungkan kakinya.
Zellina tertawa tertahan. “Kamu mau ke gunung apa ke mol, Ren?”
“Kondangan,” rutuk Ren.
“Kita kayak anak hilang ya, pagi-pagi sudah di hutan begini.” Zellina mengusir nyamuk di telinganya.
“Kamu lupa ya, kita kan memang anak hilang, pergi enggak bilang-bilang. Papaku semalam sampai kaget, ketika aku kasih tahu.” Ren menepis semut di kakinya. “Ahh,” serunya.
“Kenapa, Ren?” Zellina kaget. Gigit dan Andrea berjalan di depan juga kaget.
__ADS_1
“Aku belum memberi tahu anak-anak.” Ren mencari gawainya di tas.
“Bikin kaget saja kamu, Ren. Lihat atuh sekarang jam berapa, masih jam enam, mereka masih ngorok.” Zellina menunjukkan jam di tangannya.
Ren tidak menggubris Zellina, dia mulai mengirim pesan kepada Salsa. Pesan tidak terkirim karena tidak ada sinyal.
Ren mengacungkan gawainya lebih tinggi.
“Susah sinyal, Gaes,” teriaknya.
Zellina mencoba dengan gawainya. “Iya nih, telfon saja, Ren.”
“Sama saja, Nona.”
“Aiihh, di alam mana sih ini?” Zellina berputar-putar mencari sinyal.
Andrea dan Gigit terus saja berjalan, membiarkan dua cewek di belakang mereka mengoceh sana sini.
Jalan memang terjal, tetapi lumayan besar, sehingga perjalanan mereka tidak sesulit yang dibayangkan.
Tidak sampai satu jam, mereka sampai di daerah yang lumayan lapang. Terlihat ada beberapa tenda di sana.
Zellina mulai merengut, berjalan di hutan selama hampir satu jam membuat kakinya pegal. Belum lagi hatinya, yang kembang kempis menahan takut sama binatang melata.
“Makanan, ayo kita cari makan.” Ren melihat berkeliling. “Mana tempat makan, Ndre?”
“Kamu mau wisata kuliner?” Zellina terduduk di batu besar sambil mengurut lututnya.
Gigit menghampiri seorang cowok yang sedang menyalakan api.
Mereka terlihat berbincang. Cowoknya lumayan ganteng, tetapi Ren lebih tertarik dengan mi instan yang dipegangnya.
Mereka berjalan menghampiri.
“Teman-teman, kenalkan ini Kak Anjar, dia sudah camping di sini dari kemarin. Dia kuliah di Bandung.” Gigit mengenalkan teman yang baru dikenalnya.
Anjar mengulurkan tangannya, seperti biasa Zellina yang tersenyum-senyum genit cari perhatian.
Ketika bersentuhan, dingin terasa dari tangan Anjar.
Meskipun lebih senior, Anjar terlihat ramah kepada mereka.
“Selamat datang. Kalian mau camping? penjual makanan sepertinya tidak ada di sini.” Anjar membenarkan letak topi kupluknya yang dihiasi bordiran bertuliskan Zigonx.
“Pendaki jarang gosok gigi kali ya,” bisik Zellina kepada Ren.
“Itu mah kita,” bisik Ren.
Zellina menggerak-gerakkan mulutnya. Memang benar, pagi ini mereka belum ada yang gosok gigi. Zellina menutup mulutnya, lalu meringis jijik.
“Nggak, Kak. Kita hanya mau ke atas.” Andrea menjawab.
“Ooh, silakan naik saja, tetapi di sini rutenya tidak resmi. Kalian tahu navigasi darat?” tanya Anjar.
Mereka saling berpandangan.
“Memang kenapa, Kak?” tanya Gigit.
Gigit memandangi Andrea yang terlihat kembali resah.
“Kalian di sini saja, aku naik.” Andrea berjalan, tidak memedulikan arahan Anjar. Padahal, dia sama sekali tidak tahu navigasi darat, laut, maupun udara.
“Ndre!” panggil Gigit. “Kalian tunggu di sini,” perintahnya kepada Ren dan Zellina. “Kak, titip mereka,” lanjutnya.
Anjar mengacungkan jempol.
Ren dan Zellina menyandarkan punggungnya ke pohon, kelelahan. Tidak sanggup mengikuti Andrea yang nekatnya sudah ke ubun-ubun.
“Kalian lapar?” tanya Anjar. Ren mengangguk lemah.
Anjar mengajak mereka ke tendanya. Dua orang temannya sedang duduk di dalam tenda.
“Barudak! Kita ada tamu nih!” seru Anjar.
Air sudah mendidih di atas tungku, Anjar membuka beberapa bungkus mie instan dan memasukkannya ke dalam panci.
“Kita hanya ada ini, maklum saja ya,” katanya dengan tersenyum manis.
Ren menelan ludah, mencium wangi bumbu mie goreng.
Zellina senyum-senyum sendiri memerhatikan senyum manis Anjar. "Kak, ada teh?" tanyanya.
Anjar mengasongkan termos dan kotak teh celup. "Bisa bikin sendiri? Gulanya ada di situ."
Zellina mengangguk. Dia sedang ingin menikmati teh tawar, biar manisnya dari senyum si Kakak ganteng saja.
Andrea mengambil sebatang ranting, dia menghalau pohon perdu yang menghalangi jalannya. Gigit berjalan mendahului.
“Kita ke mana?” tanya Gigit.
“Aku kan sudah bilang, mencari sumber mata air di sini.”
“Yakin ada?”
“Kalau enggak ada, mencari ke puncak lain. Gunung ini terdiri dari beberapa puncak, dengan ketinggian berbeda-beda.”
“Sebenarnya ada apa, Ndre?” Gigit menghentikan langkahnya. Dia memandangi Andrea.
“Kita duduk dulu di sana.” Gigit menunjuk sebuah pohon tumbang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Git.” Andrea memohon kepada Gigit untuk tidak memaksanya.
“Kamu masih mau bilang tidak ada waktu untuk menceritakan semuanya? To the point saja, jangan semuanya.” Gigit bicara sedikit keras. Lelah yang mendera, membuat Gigit merasa harus lebih tegas menghadapi Andrea.
Melihat Gigit menegang, Andrea meneruskan berjalan, tetapi Gigit menahannya. Mereka menjadi merapat.
Sebelah tangan Gigit memeluk pinggangnya. Andrea mendongakkan wajah, melihat wajah Gigit yang lebih tinggi darinya dengan sorot mata tajam.
Aroma parfum Gigit tercium lebih jelas. Mereka kembali saling menatap seperti semalam, tetapi kali ini tatapan mereka berbeda, ada kesal dan kecewa di sana.
__ADS_1
“Aku tidak minta kamu untuk menemani, jangan membuat seolah aku berhutang kepadamu,” desis Andrea.
Gigit terdiam, dia melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Andrea.
“Baiklah, silakan pergi sendiri, karena di dunia ini tidak ada yang lebih berharga selain dirimu sendiri,” kata Gigit. Dia tahu itu ucapan yang menyebalkan, tetapi itu ducapkannya sambil berharap Andrea bisa sadar dari keegoisannya.
Tetapi Andrea malah tidak terima, dia memalingkan wajahnya dari Gigit, lalu berjalan, meninggalkan Gigit yang tetap berdiri membelakanginya.
Anggap saja aku egois, Git. Tetapi, aku benar-benar bingung menjelaskannya. Andrea membatin.
Daripada membuang waktu, Andrea bergegas naik lebih tinggi lagi.
Tujuh sumur harus cepat-cepat dia temukan, Dale harus bebas, dan menjaganya seperti biasa. Dale juga hatus bisa melawan si licik Byork, agar Lyla tidak usah menikahinya, dan Bu Anis siuman.
Setelah itu semua akan beres. Dia tinggal turun dan menemui uaknya. Ibunya sembuh, hidupnya akan kembali seperti semula, tanpa harus menjadi anaknya Tante Dina, atau menjadi gelandangan yatim piatu.
Mengingat itu semua Andrea merasakan panas di matanya. Beberapa hari ini hidupnya kacau, tanpa Dale, tanpa ibunya. Gigit benar, dia nekat melakukan ini semua demi dirinya sendiri, dia tidak mau hidupnya lebih kacau dari sekarang. Peduli setan dengan pendapat orang, walau itu pendapat orang yang dia sukai sekalipun.
Matahari mulai bersinar terang. Andrea meneruskan perjalanan sendirian. Gigit entah ke mana, setelah membiarkannya berjalan sendiri.
Terdesak membuat dia melupakan rasa takutnya. Bergaul dengan Dale membuatnya berani, makhluk gaib tidak selamanya menakutkan, apalagi dia juga sudah bertemu Lyla. Si cantik penghuni tusuk konde Bu Anis.
Kalau dihitung dari beberapa kali dia melalui jalan menanjak, artinya sekarang dia sudah ada di tempat lebih tinggi dari tempat kemah tadi, tetapi tidak ada satu pun mata air atau sumur yang dia temukan sepanjang perjalanan.
Andrea mulai putus asa, haus dan lapar membuatnya lemas.
Dia duduk di sebatang pohon tumbang.
“Heh?” Andrea meloncat dari duduknya. Dia memandangi pohon tumbang yang di dudukinya. “Bukankah ini pohon yang tadi?” gumamnya.
Dia melihat sekeliling. Ternyata benar, itu tempat dia tadi meninggalkan Gigit. Dia masih ingat jalan setapak tempat mereka bersitegang tadi.
Andrea memegangi kepalanya, dia dari tadi hanya berputar-putar di sana saja, padahal capeknya setengah mati menanjak.
“Tersesat?” Tiba-tiba seseorang menegurnya.
Andrea menoleh. Seorang pendaki berdiri tidak jauh darinya. Usianya seperti masih anak SMA. Menggendong ransel besar di punggungnya. Membawa kompas dan bendera kecil. Kupluk bertuliskan Zigonk bertengger di kepalanya. Andrea yakin dia teman Anjar.
“Iya nih, mau ke atas, tetapi kok masih di sini.” Andrea menepuk-nepuk celananya yang kotor.
“Kok sendirian?” tanya Andrea. Dia melihat sekeliling.
“Teman-teman masih di bawah. Kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya kamu turun saja. Tidak ada yang bisa mencapai puncak lebih tinggi di gunung ini.” Cowok itu bicara dengan wajah dingin.
"Masa sih?" Andrea menatap hutan.
“Jangan egois. Dalam pendakian, bekerja sama itu yang utama,” lanjutnya.
Andrea menekur, dia memang egois. Gigit juga bilang begitu. “Aku lagi mencari sumber air, tahu?" Andrea bertanya.
“Tidak ada sumber air di puncak sini.”
Andrea menggaruk-garuk kepalanya. “Begitu ya?”
“Iya, kalau mau, di puncak sebelah utara sana ada tujuh air terjun.” Cowok itu menunjuk arah yang Andrea tidak tahu ke mana itu.
“Tujuh air terjun?” Andrea berbinar.
Apakah itu yang dimaksud dengan tujuh sumur itu? batinnya.
"Kalau begitu aku akan ke sana. Terima kasih.” Andrea berbalik.
Cowok itu menatapnya, dia juga meneruskan berjalan.
“Eh, nama kamu siapa?” Andrea berbalik lagi, tetapi cowok itu sudah menjauh, berjalan menunduk.
Andrea yakin tujuh air terjun itu yang di maksud dalam tulisan yang dibacakan Lyla. Dia buru-buru menyusuri kembali jalan yang dilaluinya bersama Gigit tadi.
Tidak sampai lima belas menit Andre sudah melihat tenda Anjar dari atas.
Terlihat Ren dan Zellina sedang bernyanyi diiringi petikan gitar teman Anjar. Jelas sekali mereka sudah tidak kelaparan lagi. Suara mereka terdengar berlomba dengan suara air mengalir.
Andrea merasa aneh, kenapa suara air itu baru terdengar sekarang. Ketika baru tiba tadi, dia tidak mendengar ada suara air. Andrea sadar, keegoisannya telah menutup hati dan kupingnya.
Anjar sedang berdiri melipat dada memandangi jurang di depannya, dia menoleh ketika mendengar seseorang berjalan mendekatinya.
“Sudah pulang?” tanyanya.
“Ndre!"
"Andrea!” Ren dan Zellina menghambur. Mereka memeluknya.
“Kamu berhasil, Ndre? Gigit mana?” Zellina celingukan.
“Dia belum pulang?” Andrea balik bertanya. Ren dan Zellina menggeleng.
“Kalian berpisah?” tanya Anjar.
Andrea menelan ludah. “Iya, aku kira dia pulang ke sini.”
Teman-teman Anjar menghampiri.
“Mereka pisah,” kata Anjar kepada temannya. Mereka memejamkan mata, seperti menyesali sesuatu.
“Kenapa?” tanya Andrea.
“Sebaiknya kamu makan dulu, kelihatannya lelah sekali,” kata Anjar. “Nanti kita bantu cari dia.”
Andrea menurut, meskipun dengan hati waswas mengingat Gigit. Dia ingat ucapan cowok tadi, untuk tidak egois ketika dalam pendakian.
“Eh, Kak, kalian berempat?” tanya Andrea, dia duduk di dekat Ren, menunggu mie gorengnya matang.
“Bertiga,” sahut Anjar.
“Lho, cowok tadi bukan kelompok kalian?"
"Siapa?" tanya Anjar.
"Aku tadi ketemu cowok di atas. Topinya sama kok, Zigonk.” Andrea menunjuk kupluk yang dipakai Anjar.
__ADS_1
Anjar dan dua temannya saling pandang.
bersambung