My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 63 Penculikan Kedua


__ADS_3

Hari semakin sore, Andrea buru-buru memasuki biro perjalanan antar kota. Dia berlari-lari kecil mencari loket mobil travel jurusan kampung kakeknya. Tetapi sayang, jadwalnya dia tidak tahu.


“Sudah tidak ada pemberangkatan, Pak?” tanyanya kepada petugas travel.


“Pemberangkatan terakhir jam empat tadi. Kalau mau bisa pesan untuk jadwal besok. Kenapa tadi tidak pesan online?” Petugas travel bertanya.


Andrea membuang nafas panjang, dia tidak terpikirkan melakukan itu, waktunya juga terlalu mepet.


Dia melakukan ini, berharap bisa dapat angkutan lebih cepat. Waktu semakin melaju, tidak bisa menunggu. Setiap menitnya sangat berharga saat ini, dia tidak ingin membuang sedetik pun waktu yang ada.


Andrea berjalan keluar. “Tahu begini tadi langsung ke terminal saja.” Dia bicara sendiri, menyesali keputusannya untuk memakai jasa travel, dengan harapan bisa sampai lebih cepat, tetapi kini rencananya itu malah membuang waktu dengan percuma.


Dia berlari dengan sepatu ketsnya, mencari angkot yang menuju terminal bis. Setahunya, ada bis jurusan ke kampung jam enam sore.


Tiba-tiba ada angkot berhenti di depannya.


"Kemana, Neng?" Sopir angkot melongok.


"Terminal, lewat enggak, Mang?" Andrea seperti mendapat durian roboh.


"Hayu," kata sopir angkot, dia memakai topinya.


Andrea buru-buru memasuki angkot.Tidak ada penumpang lain di sana, dia segera meminta sopir untuk cepat, agar tidak ketinggalan bis.


“Bisa cepat enggak, Mang? Aku buru-buru nih, nanti dibayar lebih, deh," pintanya.


“Mau ke mana memangnya, Neng?” tanya sopir angkot. Dia memasukkan topi yang dipakainya lebih dalam, sehingga menutupi wajahnya.


“Kan tadi sudah bilang, terminal," sahut Andrea.


“Maksudnya, sudah sore begini, ke terminal mau ke mana?” tanyanya lagi.


"Mau mencari bis," sahut Andrea.


"Bis ke mana?" Sopir angkot kepo, Andrea mulai kesal.


“Pokoknya jauh, Mang, cepat saja jalannya, nanti aku ketinggalan bis.” Suara Andrea meninggi.


“Siap kalau begitu. Pegangan yang kencang, Neng!" Sopir angkot langsung ngebut. Andrea sampai terjengkang. Walaupun kaget, tetapi dia tidak protes, karena itu permintaannya.


Dinikmatinya angin sore yang menebak wajah dan rambutnya. Ditutupnya resleting jaket yang membalut badannya. Di pikirannya terlintas ibunya, sedih tentu saja, karena harus meninggalkan dia dalam keadaan sakit seperti itu.


Tetapi, Andrea tetap dengan tekadnya, karena itu juga demi ibunya. Makanya sejak berangkat tidak ada satu pun ada yang dihubunginya, demi kelancaran misinya, menyelamatkan Dale, juga ibunya. Dia malas banyak pendapat, jika meminta izin tentang keberangkatannya ke kampung.


Dia juga malas mengingat, sesuatu yang telah direncanakan Tante Dina dan Om Azi. Sangat menyakitkan ketika tahu mereka mendukung bahkan menghasut ibunya untuk tidak operasi. Padahal, menurut dokter itu adalah cara satu-satunya untuk ibunya sembuh.


Andrea akan mengadukan semuanya kepada uaknya. Dia yakin uaknya yang sangat menyayanginya itu punya uang untuk operasi ibunya, setidaknya dia bisa meminta bagian warisan kakeknya, yang gampang dicairkan. Atau, dana talangan, semacam itulah. Keluarga kakeknya termasuk terpandang di kampung.


Tentang Dodo bisa dipikirkan nanti lagi, semuanya urgen, tidak bisa menundanya. Boleh saja dia memusuhinya, tetapi uaknya tidak, dia punya kekuatan.


Terminal sudah kelihatan, Andrea bersiap, mendekati pintu angkot. Hawa petang semakin dingin, menampar wajahnya yang kuyu dan lelah.


“Terminal stop, Mang!” kata Andrea.


Sopir angkot tidak mendengarnya, dia tetap ngebut. “Mang, terminal!” teriak Andrea lagi.


Terminal sudah terlewat, sopir angkot tidak mau berhenti, dia malah menyetel lagu dangdut dan berdendang, seolah tidak ada penumpang dalam angkotnya.


Andrea kesal, dia beringsut mendekati sopir, lalu berteriak di dekat kupingnya. “Mang!” bentaknga.


Sopir angkot malah menginjak gas lebih dalam.


Angkot mengencang, Andrea kembali terjengkang ke belakang. Angkot tidak berhenti, Andrea mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan sopir angkot itu.


Dia berteriak, tetapi di luar sepi. Saat itu sudah mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala, waktunya orang-orang masuk rumah untuk beribadah salat magrib.


Andrea berpegangan pada bangku duduk, angkot melaju kencang sekali, dia takut untuk mendekati pintu keluar. Mulutnya beberapa kali berteriak kepada sopir angkot.


"Dale, kenapa di saat seperti ini kamu malah terkurung," lirihnya, dengan hati waswas.


Tiba-tiba angkot berhenti di depan sebuah ruko bertingkat. Andrea buru-buru keluar, tetapi dua orang berbadan besar menghampiri pintu angkot.


"Atang!" lirih Andrea. Dia masih mengenal dia.


Atang menghampiri, dia tersenyum mengejek. "Ketemu lagi kita," kata Atang, sambil *******-***** jarinya.


"Mau apa kamu?" Andrea melempar Atang dengan ranselnya.


"Eehh, masih galak saja, jangan macam-macam kamu! di sini tidak ada yang bisa menolongmu," gertak Atang. Dia mendorong Andrea masuk ke dala angkot lagi. Andrea diam di pojok.


"Ikut gue!" Atang mencengkeram tangan Andrea.


"Lepaskan!" Andrea meronta, tangan Atang sangat kuat dan kasar.


“Ayo! Sebelum Gue paksa!” gertaknya lagi.


Andrea tidak mau, menendang dengan kakina.


“Eh, lu kira gue takut?” Atang melotot.


Teman Atang melemparkan ransel Andrea ke luar, dia masuk ke dalam angkot, membantu Atang menarik tangan Andrea, memaksanya keluar.


Andrea berontak, dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan-tangan besar itu. Tetapi mereka terlalu kuat, Andrea tidak bisa melepaskan diri, walaupun berusaha menggigit sana-sini.


“Tolong!” teriaknya, ketika sudah berada di luar.


Satu tangan besar membekap mulutnya, Andrea merasakan kembali usaha penculikan di hari minggu kemarin.


Sesuatu yang ringan masuk ke dalam rongga hidungnya, membuat otaknya nyaman, dab melayang. Dia langsung tidak ingat apa-apa.


Andrea dibopong teman Atang masuk ke dalam ruko bertingkat.


Atang mengambil ransel Andrea sembarangan. Gawai milik Andrea jatuh ke parit tanpa disadarinya.

__ADS_1


Sopir angkot segera ngebut setelah mendapat segepok uang dari Atang.


"Lumayan," gumamnya.


**


Ren yang masih menunggi di rumah sakit mendapat laporan dari Gigit kalau Andrea tidak ada di rumahnya. Para tetangganya juga tidak ada yang melihat dia pulang.


Sore itu semua yang ada di rumah sakit termenung, bingung dengan menghilangnya Andrea. Ibunya belum mengetahui, karena Bi Cicih masih merahasiakannya.


“Ke mana atuh, Neng Andre?” Bi Cicih gelisah, wajahnya tidak tenang. "Jangan-jangan ...." Bi Cicih tida melanjutkan ucapannya, dia sudah berjanji kepada Andrea untuk tidak bilang kepada siapapun tentang aksi penculikan waktu itu.


“Non jadi pulang?” Pak Supri bertanya kepada Zellina. Dia sudah menunggu lama di sana.


“Sepertinya kita berangkat sekarang, Pak, tetapi bukan pulang, kita cari dulu Andrea,” sahut Zellina.


“Siap, Non!” kata Pak Supri.


“Cari ke mana, Zell?” tanya Ren.


“Ke mana saja, dari pada di sini tidak melakukan apa-apa.” Zellina kali ini sedang dalam kewarasan.


“Iya, kamu benar. Kita pikirkan di mobil.” Ren mengambil sesuatu dari tasnya, dia menghampiri Bi Cicih.


“Bibi simpan nomor aku, kalau ada apa-apa hubungi aku, ya, Bi!” Ren menuliskan nomor ponselnya di kertas, lalu menyerahkannya ke Bi Cicih.


“Iya, Neng.”


“Tenang ya, Bi, tolong jaga Tante Yuli. Andrea pasti kita temukan.” Ren mencoba membesarkan hati Bi Cicih, yang wajahnya sudah menggelayut awan mendung karena kebingungan dan khawatir.


Mereka bergegas pergi, Bi Cicih termangu sendiri.


Ren dan Zellina melihat-lihat luar mobil seperti mencari anak hilang. Pak Supri geleng-geleng kepala.


“Neng Andrea bukan anak kecil yang kesasar, Non, tidak mungkin lagi nangis di trotoar. “


“Terus menurut Pak Supri bagaimana cara mencarinya? Andrea kan memang sudah mirip anak hilang, susah dihubungi.” Zellina mendengus kesal.


“Kita cari di tempat yang biasa dia kunjungi. Non semua tahu?" tanya Pak Supri.


Zellina dan Ren berpandangan, tidak tahu juga tempat kesukaan Andrea, selain nongkrong di tukang seblak, cakue, atau cilok. Andrea bukan tipe cewek pencari tempat yang instagramable.


Gawai Ren berdering, Gigit menghubungi. Dia mengajak Ren untuk mencari Andrea bareng-bareng.


"Sekarang kamu di mana?" tanya Ren.


"Baik, kita ke sana sekarang," lanjutnya.


"Siapa?"


"Gigit, kita ke alun-alun sekarang, Pak." Ren mencolek bahu Pak Supri. Pak Supri terkejut geli.


"Kamu culak-colek sama Pak Supri, Ren?" Zellina protes, Pak Supri kan sopirnya.


"Maaf, aku kira sabun colek," sahut Ren.


Di alun-alun kota mereka bertemu dengan Gigit. Zellina yang baru melihat Gigit, lumayan terpesona dengan penampilan Gigit yang sedang bersandar di motor besarnya dengan gaya yang sangat cool. Dia menggandeng tangan Ren dengan wajah malu-malu mau.


"Itu yang namanya Gigit?" bisiknya


"Hmm ...."


"Waww, cogan juga," bisik Zellina lagi.


"Kamu, si Garfield pakai kacamata juga ganteng, Zell."


Zellina mencebik lagi, sekarang sambil mencubit pinggang Ren.


"Aww, kamu habis makan kepiting ya?"


"Kalajengking," sahut Zellina.


“Hai, Git!” Ren menyapa Gigit.


“Ren,” sahut Gigit. Rona mukanya berbeda. Ren yakin Gigit juga sedang menghawatirkan Andrea.


Zellina menyenggol lengan Ren. Ren melihatnya heran.


“Eh, iya, kalian belum kenal. Git, ini Zellina, Princes KW kelas kita.”


Zellina menyenggol Ren lagi. “KW nya jangan disebut,” bisik Zellina.


Ren balik menyenggol.


"Dari pada palsu, lebih bagus KW.” Ren malah kayak sales promosi.


"Ikh," kesal Zellina.


“Gitara, panggil saja Gigit.” Gigit menjabat tangan Zellina yang tersenyum-senyum genit.


“Zellina, panggil saja sesukanya,” sambut Zellina.


“Kalian belum pulang?” Gigit melihat mereka yang masih mengenakan seragam sekolah.


“Kita dari tadi menunggu Andrea di rumah sakit, lalu dilanjut mencari.” Ren yang menjawab. Zellina masih malu-malu kucing pada Gigit.


Gigit memandang lalu lalang kendaraan. “Aku curiga dia diculik.”


Ren dan Zellina terkejut. “Diculik?” mereka bertanya berbarengan.


Gigit menunduk. “Aku yakin Andrea belum sempat cerita kepada kalian.”


“Cerita apa?” Ren memandangi wajah Gigit.

__ADS_1


Gigit menekur, memandangi rumput dekat kakinya.


“Hari minggu kemarin, aku dan Andrea mencari sarapan di sini. Dia hampir diculik orang.”


“Whats?” Zellina memekik sambil menutup mulutnya. Ren hanya terdiam, dia belum tahu sama sekali.


“Diculik? Maksudnya bagaimana?” Ren bertanya.


“Waktu itu aku lagi beli es krim di sebelah sana, dia duduk di sini membelakangi jalan. Tiba-tiba si Atang membekapnya dari belakang. Dia sempat terseret beberapa langkah. Kalau aku tidak melihatnya, dan berteriak, mungkin dia bisa terbawa oleh mereka. Aku melihatnya dan bisa menyelamatkan Andrea.”


Ren mengernyitkan dahi. “Git, kamu tahu pelakunya? Kok tahu namanya, si Atang?” tanya Ren.


Gigit menarik nafas, lalu membuangnya sekaligus, seolah sedang mencari kekuatan untuk bercerita lebih banyak.


“Setelah sampai di rumah, Andrea diteror lagi lewat pesan. Entah bagaimana caranya, dia bisa mengetahui orang yang hampir menculiknya itu ada di cafe Family. Andrea minta bantuan aku untuk menyelidikinya. Malam itu juga kita berangkat ke sana.”


“Cafe Family?” Ren seperti ingat sesuatu.


“Iya, cafe yang ada tempat karaoke itu.”


“Iya, aku pernah ke sana,” sahut Ren. Dia melirik Zellina yang masih memasang wajah bingung.


“Terus?” Ren bertanya lagi kepada Gigit.


“Ya itu, ternyata yang mau menculiknya ada di sana. Namanya Atang, kita bisa membekuknya dan membuat dia mengaku alasan menculik Andrea.”


“Kenapa katanya?” tanya Ren.


“Dia mengaku hanya di suruh, oleh Yadi Sanjaya.”


Sekali lagi Ren dan Zellina berpandangan.


“Kamu yakin, Git?” tanya Ren.


“Kita juga sempat merekam pernyataan si Atang itu. Rekamannya ada di ponsel Andrea. Makanya aku curiga, dia diculik lagi oleh Yadi Sanjaya.”


Tiba-tiba Ren tertawa tertahan. Zelina dan Gigit memandang heran.


“Aku tidak percaya, kamu percaya Zell?” taya Ren, masih dengan wajah menahan tawa.


Zellina terdiam.


“Aku tidak menyuruh kalian untuk percaya, sekarang aku hanya ingin tahu di mana alamat Yadi Sanjaya," kata Gigit.


“Mau apa?” tanya Ren.


“Ngajak dinner.” Gigit sewot. “Kita kehilangan Andrea, Ren. Kamu masih nanya.”


“Masalahnya kita enggak percaya Kak Yadi melakukan itu. Dia cowok baik,” sahut Ren.


Gigit tersenyum kecil. “Joker juga dulunya orang baik.”


Ren terdiam, dia memandangi Zellina yang malah menatap Gigit dengan lekat.


“Aku tahu rumahnya,” kata Zellina.


Ren terkejut. “Zell, kamu percaya Kak Yadi melakukan itu?”


“Iya, aku percaya.” Zellina menoleh kepada Gigit. “Kamu ikuti mobil aku saja,” lanjutnya. Dia menggamit tangan Ren.


“Zell!" panggil Ren.


Zellina menarik tangan Ren. “Ayo! Andrea sedang dalam kesulitan, Ren. Kamu masih memikirkan yang lainnya? No bodys ferfect, Ren. Apalagi Yadi. Ayolah, kasihan Andrea.”


Ren mengikuti Zellina dengan ragu. Mereka memasuki mobil. Gigit mengikuti mereka dengan motornya.


Mobil Zellina bergerak menuju sebuah perumahan elit, lalu berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya Spanyol dengan halaman yang luas. Rumah megah itu tampak sepi, Zellina memijit bel berkali-kali.


Seorang satpam keluar.


“Mau bertemu dengan siapa?” tanya satpam rumah.


“Kita mau bertemu Yadi Sanjaya, apa ada di rumah?” tanya Zellina.


Pak Satpam menatap mereka satu per satu, lalu menjawab, "Tuan Yadi sedang ke luar."


Zellina dan Gigit tampak kecewa. Zellina memanggil Yadi dengan gawainya, tidak aktif.


“Bagaimana?” tanya Ren.


“Sebaiknya kita cari petunjuk lain." Gigit menaiki motornya.


"Petunjuk apa lagi, Git. Masih keukeuh mau menuduh Kak Yadi?" tanya Ren.


"Dan kamu masih keukeuh menganggap dia cowok baik? Kenapa sih? Naksir? Jatuh cinta sehingga tidak bisa bangun lagi?" Gigit balik bertanya. "Aku tahu, dia rebutan cewek-cewek."


Zellina melirik Ren yang sedang berusaha menyembunyikan mimik wajahnya yang gugup.


Adzan magrib berkumandang.


“Sebaiknya kalian pulang saja, tidak baik berkeliaran dengan seragam sekolah seperti itu.” Gigit melihat Ren dan Andrea dengan wajah masih terlihat kecewa kepada Ren.


“Kamu mau ke mana?" tanya Zellina.


“Aku mau mencari musala, lalu melanjutkan mencari Andrea.” Gigit manstarter motornya, lalu meluncur berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Meninggalkan mereka.


Ren dan Zellina memandangi punggung Gigit yang semakin menjauh. Cowok itu resah, terlihat dari matanya.


“Betul, Non. Sebaiknya pulang dulu, kita pikirkan di rumah.” Pak Supri mencairkan suasana hening diantara mereka.


Ren dan Zellina menurut, mereka masuk ke dalam mobil.


Bi Cicih menelefon. Ren menjawab dengan suara penuh penyesalan, Andrea belum ditemukan.

__ADS_1


Terdengar pekikan panik Bi Cicih di seberang sana.


bersambung


__ADS_2