My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 26 Golok, atau Sendal


__ADS_3

Ndre, Ibu tidak pulang hari ini, langsung bertugas ke Bogor


Andrea mengernyitkan dahi ketika membaca pesan WA dari ibunya.


Pagi-pagi sekali ibunya sudah berangkat, padahal ini hari Sabtu, biasanya dia bekerja setengah hari.


“Assalamu'alaikum. Neng! Neng Andreee ....” suara cempreng Bi Cicih terdengar dari luar.


Sambil menggulung rambut, Andrea membuka pagar. “Masuk, Bi!”


“Ibu tadi ngecat Bibi, Neng,” kata Bi Cicih, setelah masuk pintu pagar.


“Warna apa, Bi? Coba lihat!”


Bi Cicih memandang Andrea bingung. “Maksudnya apa, Neng?”


“Kata Bibi tadi Ibu ngecat Bibi, pake warna apa?”


“Ih si Neng mah, ngirim inbok."


“Inbox?Emang Bibi punya facebook?"


"Punya atuh, Neng. Ini nih!" Bi Cicih memperlihatkan layar ponselnya. Terlihat percakapan WA di sana.


"Itu WA, Bi."


“Ooh ... Katanya tugas lagi tiga hari, Bibi suruh temani lagi di sini.”


“Iya, barusan juga kirim ke aku.”


Bi Cicih langsung masuk ke dapur, tidak lama balik lagi menghampiri Andrea yang sedang kayang di sofa.


“Neng, Ibu kok akhir-akhir ini sering tugas luar kota ya?”


“Namanya juga kuli, Bi, harus nurut kalau disuruh atasan.”


“Tetapi dulu-dulu nggak.” Bi Cicih seperti hendak menyampaikan sesuatu, tetapi tidak jadi, dia malah memutar badan, mau balik ke dapur.


Andrea tahu, Bi Cicih juga sedang memikirkan sesuatu tentang ibunya. Andrea beranjak dari sofa, memandangi halaman rumahnya yang ditumbuhi pohon mangga dari balik gorden.


“Dale lapar nggak ya?” Andrea bergumam.


Gamang kembali menyelimuti hatinya, dia kangen dengan makhluk ganteng itu. Andai dia ada di sini, pagi tidak akan sesepi itu.


Menghilangkan jenuh di rumah, Andrea meluncur ke rumah Ren.


“Aku mau menceritakan sesuatu sama kamu,” kata Andrea. Ren sedang mencuci.


“Apa? Sebentar, jemur sepatu dulu ….” Ren mengaduk-aduk isi mesin cuci.


“Kamu cuci sepatu di mesin, Ren?” tanya Andrea, terkejut melihat Ren mengeluarkan sepatunya dari dalam mesin cuci, bersatu dengan baju-baju. “CCM, ih.”


“Apa CCM?”


“Cantik-Cantik Males.”


“Biar cepet.”


“Ngga sekalian cuci piring juga di situ?”


“Kamu mau sekalian cuci mulut? Biar nggak berisik,” ujar Ren sambil melotot, lalu naik ke loteng tempat jemuran. Andrea mengikuti dari belakang.


“Kamu nyuci sendiri?"


“Di sini nggak ada asisten, jadi aku harus mandiri.”


“Baguslah. Mama kamu ke mana?"


"Ada," jawab Ren, singkat.


Andrea melongok dari atas tangga. Rumah Ren terasa sepi sekali.


Loteng terbuka rumah Ren lumayan luas, enak untuk santai. Andrea menjatuhkan pantatnya di sofa yang menghadap ke jemuran, menikmati angin yang mengibarkan rambutnya.


“Ada apa, sih?” tanya Ren. Dia ikut menjatuhkan badannya ke sofa.


“Tapi gue harap kamu jangan terkejut, ini masalah si Dale.”


“Dale siapa? Kayaknya aku pernah dengar.” Ren meluruskan tangan bajunya yang digulung.


“Dia itu, euuhh … jin yang mengikutiku.” Andrea bicara sesantai mungkin biar Ren tidak terlalu kaget.


“Wah wah wahh … nggak lucu, Ndre.” Ren berdiri, memandangi Andrea dengan wajah tidak percaya.


“Emang aku lagi standup, harus lucu.” Andrea memandangi wajah Ren. “Aku benar-benar diikuti jin, Ren. Kamu ingat cowok yang kuceritakan tiba-tiba ada di kamar?”


Ren mengingat-ingat. “Dia?”


“Iya, dia jin, namanya Dale.”


“Jadi, yang kemarin di sekolah itu?”


“Iya, Ren. Sini duduk dulu!" Andrea menepuk-nepuk sofa.


Andrea lalu menceritakan semuanya kepada Ren. Dia merasa Ren adalah teman bicara yang paling tepat, karena mereka sudah bersahabat sejak SMP. Andrea tidak menutupi apa pun dari Ren.


“Terus sekarang bagaimana?Jangan bilang kamu mau lepas lagi itu biang kerok.”


“Ngga.”

__ADS_1


“Bagus?”


“Tapi aku kasihan juga dia dalam gembok sendirian. Dia sebenarnya baik, Ren.”


“Wah, jangan bikin masalah lagi deh, Ndre. Kamu jangan sampai bersimpati seperti itu. Ingat masalah Bu Anis, dia sakit, Ndre, sakit.” Ren meyakinkan Andrea.


“Iya, itulah kenapa aku merasa bersalah.”


“Jangan-jangan sakitnya karena kesambet dia.”


Andrea menyandarkan kepalanya ke sofa.


"Aku harus gimana, Ren?”


Ren mengikuti Andrea menyandarkan kepalanya.


“Jadi beneran ya, jin peliharaan itu ada? Kirain hanya ada jin botol di dongeng Alladin. Ternyata jin gembok juga ada. Atau jangan-jangan dia jin botol versi Indonesia, Ndre.” Ren menerawang. “Jadi pengen tahu, tampangnya kayak gimana.”


Andrea menatap awan di langit. Sekilas wajah Dale tergambar di sana.


“Ganteng, Ren, kalau ketemu kamu juga tidak akan menyangka kalau dia jin.”


Ren menoleh ke arah sahabatnya itu, menyipitkan matanya yang sudah sipit.


"Ganteng mana dengan Yadi?”


“Dale,” jawab Andrea.


“Gigit?” tanya Ren lagi.


Andrea mengernyitkan dahi. "Kang ojek itu? Gantengan Dale lah."


"Pak Bayu?"


"Ya Dale lah."


“Ndre, nyebut, Ndre!” Ren mengguncang-guncang bahu Andrea.


“Apa sih, Ren, kamu tuh yang nyebutin nama-nama cowok. Aku nggak lagi kesurupan juga.”


“Aku kan takut kamu halu.”


“Kamu tuh nuduh aku haluuuuu mulu ... percayalah, Ren, dan beri aku masukan!” Andrea memberi tekanan pada nada suaranya.


“Iya, tapi aku nggak janji, ini hubungannya dengan makhluk halus tau.”


Keduanya kini terdiam.


“Ya udah, aku juga nggak maksa kok, kamu sudah dengerin dan berjanji tidak akan ember juga aku udah terima kasih.”


Ren menepuk bahu Andrea, memberi kekuatan.


“Kamu bawa dia ke sini, Ndre?”


“Sama yang nggak kelihatan saja takut,” kata Andrea.


“Justru karena nggak kelihatan jadinya takut, kalo kelihatan kan bisa langsung gue gibeng.” Ren memasang kuda-kuda.


“Tenang aja, selama aku nggak buka gemboknya dia terkurung.” Andrea menyimpan gemboknya di meja. Tangannya menopang dagu, memperhatikan gembok itu.


Ren akhirnya tersentuh juga melihat sahabatnya kebingungan seperti itu. Dia kendorkan urat-urat tubuhnya yang tadi menegang, lalu kembali duduk di sebelah Andrea.


“Kalau menurut aku sih lebih baik biarkan saja dia di sana, kalau perlu kembalikan ke rumah kakek kamu.”


“Gitu ya?”


Ren mengangguk.


Brakk!!


Suara barang jatuh terdengar dari lantai bawah. Ren buru-buru turun, meninggalkan Andrea di loteng.


“Sudah Ren bilang, biar Ren saja yang kerjakan, Mah.” Terdengar Ren berbincang dengan mamanya.


Mamanya menyahut, tetapi Andrea tidak bisa mendengar jelas obrolan mereka, karena suara mereka semakin menjauh, seperti menuju ruangan lain.


Sepulang dari rumah Ren, Andrea tidak ke rumah, tetapi langsung ke sebuah kedai kopi tempat nongkrong anak-anak muda. Sambil santai dia mencari informasi tentang jin turunan.


Dia bergidik, informasi yang didapatkan dari embah sejuta umat itu rata-rata sangat mengerikan. Namun gambaran dan penjelasan di sana berbeda sekali dengan sosok jin yang selama ini bersamanya.


Selama ini Dale bertindak sangat baik, tidak pernah mengganggu atau menakut-nakuti keluarganya, apalagi membuat dia kesurupan.


Dale juga tidak seram, terlalu ganteng malah, kecuali ketika menjadi si belang, itu pun sepertinya demi berbuat kebaikan, tidak setiap saat berubah wujud.


Andrea mengetuk-ngetuk meja di depannya, berpikir keras. Internet tidak membuat penasarannya hilang.


Seseorang melintas, melihatnya.


“Andrea?”


Andrea terkejut, membuka headphone yang dipakainya, lalu memasang wajah jutek.


Mereka sekarang duduk berhadapan.


“Kok bisa di sini?” tanya Gigit.


“Lu sendiri?” Andrea balik nanya sambil menyeruput es jeruk. Sengaja dia bersikap dingin, meskipun menyilakan cowok itu untuk duduk menemani.


“Ini tempat nongkrong saya," jawab Gigit, tangannya membalas teguran temannya yang mengajak dia pulang. “Sok, tiheula we!” teriaknya.

__ADS_1


Andrea ada kesempatan melirik wajahnya. Lumayan, batinnya.


“Kenapa?” tanya Gigit.


“Kenapa apa?”


“Melihat sampai segitunya. Masih marah?” tanya Gigit lagi. Andrea salah tingkah.


“Tidak juga, lagian gue juga tidak apa-apa. Entah kalau waktu itu sampai terluka. Hanya ....”


"Hanya apa?" tanya Gigit.


Andrea tidak menjawab.


“Waktu itu aku lagi ngejar jambret.” Gigit mencoba memberi penjelasan. Andrea memasang wajah tidak percaya.


“Saya lagi antar ibu di toko bahan bangunan, tiba-tiba tasnya dijambret. Lalu aku kejar, dan masuk perumahan itu. Tapi karena mau menyerempet kamu, akhirnya kehilangan jejak.”


“Maaf kalau waktu itu aku kabur. Takut juga sama bapak-bapak yang bawa golok.” Gigit nyengir kuda.


Golok? Andrea tertawa dalam hati. Gigit menyangka bapak-bapak itu bawa golok, padahal sendalnya yang putus.


Mereka terdiam. Gigit sedikit grogi juga, karena Andrea diam saja. Tidak lama dia beranjak.


"Kalau begitu, aku duluan ya," kata Andrea, sambil beranjak. Karena diiringi grogi, gerakannya terlalu terburu-buru sehingga kakinya keserimpet.


"Upss ...." Andrea hilang keseimbangan, untung saja ada Gigi yang dengan cepat menahan tubuhnya. Mereka jadi berpelukan.


"Kamu tidak apa-apa?" Gigit menatap matanya, mereka jadi saling menatap. Andrea jadi deg-degan tidak karuan.


"Oh, maaf, tidak apa-apa kok," sahutnya, sambil melepaskan pelukan.


Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar gini? Andrea menepuk-nepuk telapak tangannya yang tidak kotor.


"Setelah ini mau ke mana?" tanya Gigit.


"Euhh, ke tok buku dulu. Iya, ke toko buku," jawab Andrea, sekenanya.


"Kebetulan, aku juga mau ke sana, kita bareng saja." Gigit malah menawarkan diri.


Andrea mati kutu. Mau tidak mau mengangguk, karena sebenarnya dia mau. Entah kenapa, dia menikmati debaran jantungnya, ingin lagi.


Keduanya keluar dari kedai kopi. Andrea berusaha tenang, agar tidak kejadian jatuh seperti tadi.


Mendengar ceritanya tentang menolong ibunya, Andrea yakin Gigit anak baik. Sangat peduli dengan ibunya, sama sepertinya, sangat menyayangi ibu satu-satunya itu.


"Terus, tas ibu kamu sampai sekarang tidak ketemu?" Andrea bertanya sambil berjalan ke parkiran.


"Ngga, mau gimana lagi, jambretnya ngga ngasih nomor hp," jawab Gigit. Membuat Andrea tersenyum geli.


"Oh iya, sebenarnya, bapak-bapak itu bukan bawa golok."


“Hahh? Apa dong?” Gigit terkejut, melihat cewek manis di depannya senyam-senyum. Mereka seperti teman lama, lupa kalau beberapa menit yang lalu cewek itu jutek habis-habisan.


“Sendal.” Andrea menutup mulut, menahan tawa.


“Beneran? Kalau tahu sendal mah nggak usah kabur ....”


Gigit ikut tertawa, menemani Andrea yang tidak bisa menahan tertawa.


“Dia sendalnya putus, terus jalan sambil nyari paku,” jelas Andrea di sela tawanya. Gigit menanggapi dengan mimik wajah lucu.


Andrea sedikit merasa bersalah telah menuduh Gigit cowok nakal, karena mengira sedang balapan. Padahal dia begitu demi menolong ibunya.


Gigit senang, wajah Andrea tak sejutek tadi. Tragedi golok berubah sendal, merubah kejutekan di wajah cewek itu jadi meramah. Dalam hatinya berterima kasih, kepada golok, sendal, atau apapun itu.


Mereka menghabiskan siang di toko buku. Sekedar melihat-lihat, karena sebenarnya mereka tidak bertujuan membeli buku.


Sejenak Andrea lupa akan Dale. Kehadiran Gigit lebih membuatnya hangat, entah kenapa. Gundahnya beberapa hari ini, sirna begitu saja.


“Ndre!”


Seseorang menepuk pundaknya. Andrea menoleh.


“Tante Dina?” Andrea mencium tangan sahabat ibunya itu. Tante Dina adalah penolong keluarganya. Dia yang memberi ibunya pekerjaan setelah ayahnya meninggal.


“Lagi apa?”


“Lihat-lihat aja, Tan. Kenalin ini teman aku, Gigit.”


Tante Dina menyalami Gigit. Keduanya saling menatap. Tante Dina mengingatkan Gigit kepada seseorang.


“Gitara.”


“Oh, saya Tante Dina, teman ibunya Andrea.”


Tante Dina tersenyum penuh arti kepada Andrea. Membuat Andrea salah tingkah.


“Tante nggak ke Bogor?” tanya Andrea.


“Bogor? Memang kenapa?”


“Ibu kan hari ini berangkat ke Bogor, katanya ada tugas dari kantor.”


Tante Dina seperti berpikir. “Oh begitu? Kok Tante nggak tau ya?"


Andrea memandang wajah Tante Dina dengan heran. Kenapa dia tidak tahu? Sedangkan Tante Dina adalah atasan ibunya di kantor.


bersambung saja yaa ...

__ADS_1


terima kasih sudah membaca


__ADS_2