
Meskipun sudah tidak setakut tadi, Andrea masih menjaga jarak dengan Dale.
"Sudah lupakan! aku tidak mau berurusan lebih jauh lagi denganmu." Andrea sadar, dia mulai terpengaruh.
"Jangan gede rasa dulu, aku mau berbincang begini karena ingin kita tidak saling mengganggu. Sekali lagi aku berterima kasih atas semua pertolongannya, tetapi please, pergilah dari kehidupanku!" Andrea merapatkan telapak tangannya, dia memohon kepada Dale. Bicaranya sudah tidak Elu Gue lagi.
"Jangan memohon begitu, Neng. Saya mah akan ikuti semua perintah Neng Andrea."
Slepp.
Dale menghilang.
Andrea membuang nafas, bahunya terkulai. Merasa tidak percuma berdiskusi dengan makhluk itu. Angin sawah menyibakkan rambut di keningnya yang berkeringat. Daun pohon belimbing di atasnya juga ikut bergoyang diembus angin. Membuat seekor ular pohon terpeleset, lalu meluncur jatuh.
Ngekk!
Dale muncul lagi, jarinya menjepit kepala ular pohon dari atas kepala Andrea.
Andrea mendongak, lalu menjerit melihat ular bergerak-gerak dicekik Dale. Tangannya memegang erat tangan Dale.
"Ular, Neng. Untung saja tidak mematuk kepala Neng Andre." Dale melempar ular ke semak-semak.
Andrea merasa wajahnya pucat pasi, karena terasa dingin. Setelah sadar, dia cepat-cepat melepaskan tangannya dari tangan Dale. Ternyata dia juga bisa menyentuh Dale.
"Ularnya sudah saya buang," ucap Dale sambil cengengesan.
"Kenapa kamu kembali?" tanya Andrea.
"Neng dalam bahaya," ujar Dale.
Andrea putus asa, dia berbalik untuk kembali ke kelas. "Terserahlah, tapi terima kasih sudah menyelamatkan aku dari ular tadi."
Dale mengikutinya dari belakang, setelah sebelumnya memetik belimbing muda.
"Mau ke mana, Neng?"
"Cari botol!"
"Ini botol, Neng." Dale mengikutinya dari belakang sambil membawa sebotol minuman dingin.
Andrea menghentikan langkahnya. "Itu bisa mengurungmu?"
"Tidak tahu, tapi kalau menghilangkan haus, iya. Mau, Neng?"
"Tidak perlu, tadi kan saya mau kamu menjauh."
"Baik atuh, Neng." Sekali kedip Dale sudah jauh dari Andrea, jarak beberapa meter. Andrea kembali membuang nafas.
"Terserah!" serunya. Merasa diskusi dengan seorang anak kecil, seperti mengerti, tetapi tidak.
“Neng, lagi apa? Kok bicara sendiri?" dari kejauhan Pak Iwan memanggilnya. Suaranya kecil, terbawa angin.
Andrea terkejut.
“Lagi cari kodok, Pak. Untuk pelajaran Biologi." Dia mencari alasan, tidak tahu kalau Pak Iwan memerhatikannya dari jauh.
Sudah tinggal tanam ya, Pak?” Andrea berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iya nih, beberapa hari lagi.”
"Wah, kerbaunya nganggur dong."
"Memang kenapa, Neng?" tanya Pak Iwan.
"Mau dipinjam, buat trek-trekan ngalahin gengnya Akri," jawab Andrea.
"Owh, boleh. Trek-trekannya di lumpur ya." Pak Iwan membalas candaan Andrea.
__ADS_1
"Oke, sip." Andrea mengacungkan kedua jempolnya. Dibalas Pak Iwan. Keduanya tertawa-tawa.
Dale ikut terpingkal. Andrea meliriknya kesal.
Sebenarnya Andrea sengaja mengajak bercanda Pak Iwan, untuk mengalihkan kecurigaan Pak Iwan karena dia ngomong sendiri.
“Oke deh, aku balik ke kelas. Semangat ya, Pak ….” Andrea melambaikan tangan. Dibalas lambaian tangan Pak Iwan.
Dale juga melambaikan tangan, dibalas lenguhan kerbau Pak Iwan yang muncul dari lumpur.
Andrea juga sudah kelamaan pamit sama Ren.
Lambat-lambat terdengar suara jeritan Zainal dan teriakan teman-teman sekelasnya, ternyata keributan kelasnya itu terdengar sampai ujung lorong. Pantas saja kelas mereka terkenal dengan sebutan kelas “angin ribut”. Keributan yang tercipta terdengar sampai seluruh koridor sekolah.
Ren sebagai ketua murid tidak bisa mengendalikan teman-temannya, soalnya dia juga kadang menikmati suasana ribut seperti itu. Biar nanti ada kenangan ketika sudah berpisah, katanya.
Guru dan kepala sekolah sudah bosan menegur, yang sanggup menjadi wali kelas hanya Bu Anis, dan yang awet jadi ketua kelas hanya Ren, yang lainnya hanya mampu dua hari menjabat sudah angkat tangan, karena tidak sanggup.
“Ndre, dari mana?” Ren yang kehilangan menyerbunya di pintu kelas, diperiksanya badan Andrea. "Kamu enggak apa-apa kan?" Ren masih khawatir karena Andrea tadi baru saja pingsan pagi tadi.
"Enggak apa-apa."
"Andrea, kamu dari mana, Ren cari kamu tuh." Zellina ikut menyambut. "Kamu enggak pingsan lagi kan?"
"Eh, An An, kamu bikin khawatir aja, dari mana?" Zainal juga bertanya sambil bergoyang-goyang. Dia sedang bermain hulahoop bersama Dewi dan Rani, diiringi musik dangdut panturaab dari handphone.
Andrea duduk di bangkunya. "Aku kan bilang tadi mau ke toilet. Pak Bayu belum masuk ya?" Andrea melihat meja guru yang masih kosong.
“Pak Bayu sakit, ada tugas tuh! Dikumpulkan besok.” Zainal melemparkan hulahoop ke arah Fany di pojokkan. “Main nih! gerakkan badanmu biar tidak kaku kayak mayat hidup."
Fany mendengus, dilemparkannya hulahoop dari Zainal ke arah Akri yang sedang membenarkan resleting celananya yang macet setelah keluar dari toilet.
Slupp!
Hulahoop masuk, nangkring di pundak Akri. Akri celingukan, mencari siapa yang melempar.
Akhirnya Akri ikutan mencoba bermain hulahoop, bergabung dengan Dewi dan Rani. Tetapi Dewi dan Rani menjerit-jerit kesetanan, setelah melihat resleting celana Akri yang terbuka.
Akri menutup celananya, sambil cengengesan.
"Lihat begini saja kayak lihat idola nongol," kata Akri.
"Hiiiiyyy ... masa idola nongol dari resleting?" Rani menutup matanya.
“Pak Bayu sakit apa?” tanya Andrea di sela-sela keributan kelasnya.
“Mencret kali,” jawab Ren. “Sebenarnya kamu dari mana sih? lama banget. Mencret juga?”
“Kepomu akut."
"Aku khawatir, Ndre."
"Aku lebih khawatir sama Pak Bayu, sakit apa ya dia? Gagal deh hari ini memandangi wajahnya yang ganteng." Zellina menopang dagu, tangannya memegang pensil berkepala hello kitty yang kupingnya tinggal sebelah karena habis digigiti. Andrea dan Ren berpandangan.
"Kamu mah kucing jantan pake kacamata saja ganteng, Zel." Ren mengibaskan buku di depan wajah Zellina.
"Kalau itu bukan ganteng, lucu."
"Ganteng mana sama Yadi?" tanya Andrea, dia tau Princes KW satu itu menaruh hati pada jagoan basket di sekolah itu.
Zellina tiba-tiba menurunkan tangan dari dagunya, dia mendadak antusias kalau mendengar nama Yadi.
"Ganteng Yadi ke mana-mana sih," jawab Zellina.
Andrea mencibir, Ren tersenyum kecut, asem.
Kelas semakin ribut, ramai seperti di pasar malam. Tugas dari Pak Bayu tergeletak begitu saja di meja guru. Tiap anak sudah memfotonya di gawai masing-masing, untuk dikerjakan di rumah saja.
__ADS_1
Ren sebagai ketua kelas semakin santai menghadapinya, keonaran tidak bisa dilawan dengan menciptakan keonaran lagi dengan memaksakan tenang.
Baginya, setiap orang berhak menikmati masa remajanya yang tidak akan terulang, toh nanti juga akan ada waktunya melewati hari-hari dengan usia dan pikiran dewasa. Mungkin karena sikap itu juga Ren bertahan menjadi ketua kelas, berusaha santai menjalaninya. Berusaha sambil menikmatinya.
Jam pelajaran sebentar lagi usai, mereka bersiap pulang. Melipat lelah, menjadi bungkusan-bungkusan rapi bibit serunya kenangan di masa depan.
“Andrehehanusa … pulang bareng lagi, yuk! Kayak kemarin.” Zellina menubruk tubuh Andrea, lalu menggandeng tangannya. "Kamu kan tadi pagi pingsan, takut capek."
“Memang kemarin kamu ikut tukang gigit kuping ini, Ndre?” tanya Ren.
Andrea mengangguk.
“Kamu mau ikut juga boleh kok, Ren. Sekalian kita mampir toko buku, aku mau cari aksesoris rambut,” kata Zellina.
“Kamu kapan connect sih, Zel. Masa aksesoris rambut di toko buku,” kata Andrea. Dia kalau jengkel sama Zellina memang suka diperlihatkan, tidak seperti Ren yang sedikit suka memaklumi.
“Iihh, ada kok. Kamu pernah ke toko buku enggak sih, Ndre?” semprot Zellina, membuat Andrea terdiam, mengingat-ngingat.
“Ada kok, Ndre. Makanya kalau ke toko buku tuh sambil lihat-lihat, jangan kaya pakai kaca mata kuda, yang dilihat hanya buku doang.” Ren membela Zellina.
“Lahh namanya ke toko buku kan mau beli buku, kalau ke tukang bakso ya beli bakso, enggak sambil lihat-lihat jepitan rambut, kan,” ujar Andrea tidak mau kalah, biarkan saja tidak nyambung juga.
“Kenapa jadi ke tukang bakso, sih?” tanya Ren.
“Soalnya aku lapar, beli cilok dulu, yuk!” ajak Andrea.
Ren dan Zellina mengangkat bahu, lalu berjalan mengikuti Andrea menuju tukang cilok langganan mereka di depan gerbang.
"Bahas bakso, belinya cilok." Ren garuk-garuk jilbab.
"Jadi bareng tapi ya!" rengek Zellina.
"Ya sudah bareng saja, Ndre, biar enggak capek." Ren mendukung.
"Tapi enggak ke toko buku," pinta Andrea.
"Oke, bisa besok. Kamu juga ikut, Ren?"
"Kamu mau bolak-balik? nanti enggak kelar-kelar sampai rumah."
Zellina mikir sejenak. "Oiya, rumah kamu kan beda arah ya."
"Pinteeeerr ...." Andrea dan Ren mengacungkan jempol ke wajah Zellina. Zellina senyum-senyum gemas.
Andrea lega, sejak disuruh menjauh darinya Dale tidak kelihatan lagi, karena dia juga tidak mencarinya. Tetapi dia masih merasakan keberadaannya.
Kali ini Andrea minta diantar sampai rumah. Zellina tidak keberatan, sebagai gantinya dia meminta pertolongan Andrea.
"Tahu begini aku ogah ikut di mobil kamu," gerutu Andrea.
"Aah, Ndre ... please, aku butuh bantuanmu." Zellina memohon-mohon di depan pintu pagar rumah Andrea.
"Iya, tapi bagaimana caranya?"
"Kamu kan ikut ekskul basket."
"Itu waktu kelas satu."
"Tapi kan masih kenal sama Kak Yadi."
"Yaa kenal sih, iya deh, nanti aku atur pertemuan kalian."
"Terima kasih, my babby cute." Zellina menggepit pipi Andrea dengan kedua telapak tangannya.
Andrea mencebik, dijulurkan lidahnya ketika Zellina melambaikan tangan dari dalam mobil.
Sebelum masuk pagar, Andrea melihat-lihat ke sekeliling. Setidaknya Dale menuruti perintahnya, menjauh. Dia kini mulai terbiasa merasakan keberadaan Dale, tidak aneh lagi, apalagi takut.
__ADS_1
Semoga semakin menikmati ceritanya, lanjut membaca episode berikutnya yaa ...