
Bu Anis menuliskan beberapa soal untuk menguji seberapa besar konsentrasi anak didiknya mengikuti pelajaran pagi ini.
Andrea tersenyum puas. Semua soal yang diberikan Bu Anis dikerjakan dengan baik dan benar. Terang saja, Dale membantunya dengan melihat jawaban pada buku panduan Bu Anis.
“Kalian kerjakan soalnya, Ibu ada keperluan sebentar.” Bu Anis melenggang ke luar kelas.
Anak-anak membuang nafas lega, lalu berebut saling contek. Andrea bersandar santai di kursinya.
“Neng.” Dale memanggilnya dari bangku belakang.
“Hmm.”
“Bu Anis cantik juga.”
“Apa?” Andrea menengok ke belakang.
“Apa?” Zellina yang duduk di sebelah Dale terkejut. Wajahnya masih asem, kejadian kemarin belum hilang dari ingatannya.
“A ... Apa salah dan dosaku sayang ... cintamu kok dibuang-buang ....” Andrea bernyanyi dangdut, Ren menarik rambutnya sampai Andrea hampir terjengkang.
"Kerjakan soal!"
"Bawel," jawab Andrea.
Zellina misuh-misuh, dia berdiri dari kursinya lalu menghampiri temannya yang lain. Sedang tidak ingin berurusan sama Andrea dan Ren. Hatinya terlanjur sakit. Seorang Zellina, sahabat mereka sendiri, tidak diajak malam mingguan.
Andrea membiarkannya, memberi kesempatan Zellina untuk menikmati kekesalannya, dia lebih tertarik mengurusi Dale yang mulai memuji-muji Bu Anis, guru matematikanya yang killer itu.
“Lebih baik kamu pulang saja, aku sudah selesai mengerjakan soal,” bisik Andrea. Dia merasakan gelagat aneh pada sikap Dale, karena dari tadi bolak-balik ke pintu menunggu Bu Anis. Andrea belum tahu betul watak jin itu, apalagi ketika jatuh cinta seperti itu.
Dale menurut, dengan sedikit cemberut, dia langsung berjalan keluar menjauh dari pandangan Andrea.
"Oughh ...." Di depan pintu kelas Bu Anis memekik manja. Dia melihat kiri kanan sambil memegang pipinya, yang seketika memerah.
Baru saja seperti ada yang menjawil dagunya.
Bu Anis terpaku, seperti kebingungan. Andrea terkejut, lalu pura-pura menulis.
Bener-bener nih, jin genit, batinnya.
Anak-anak berebut kembali ke tempat duduk masing-masing.
“Udah, Ndre?” Ren melirik Andrea yang tenang-tenang saja.
“Udah.”
“Kenapa ngga ngomong dari tadi?”
“Kenapa? Kamu ngga nanya.”
“Ada masalah, Mauren Listiani?” tanya Bu Anis.
Ren segera duduk tegak.
“Ngga, Bu.”
“Kalau begitu, kerjakan soalnya di depan.”
“Tapi, Bu ....”
“Kenapa? Katanya ngga ada masalah.”
__ADS_1
“Maaf, Bu, saya belum selesai.” Ren menunduk.
“Kalau begitu, konsentrasi, buka buku, pelajari lagi caranya, jangan kebanyakan ngobrol!”
“Baik, Bu.”
“Fany, kamu sudah?” Bu Anis bertanya kepada Fany.
Fany tidak menjawab, dia berdiri, berjalan ke depan kelas. Di kelas itu Fany adalah andalan, satu-satunya yang terpintar. Dia melirik ke arah Andrea, lalu tersenyum sinis.
Andrea mengernyitkan dahi.
Kenapa nih bocah?
Seperti biasa Fany bisa menyelesaikan soal dengan sempurna.
"Kalian contoh Fany, kalau bisa belajar kepadanya. Jam mengajar Ibu kan terbatas, cobalah kalian berdiskusi, dengan Fany."
Sekelas terdiam. Bagaimana mau diskusi, sama kuntilanak seperti dia.
**
Tok tok tok!
“Assalamu’alaikum.”
Jam sepuluh malam ada seseorang mengetuk pintu rumah. Andrea yang baru saja menata mimpi kembali terjaga, karena Bi Cicih membangunkan dia.
“Neng, ada tamu di luar. Bukain pintu jangan?”
“Gak usah, Bi, biarin aja! takut orang jahat,” jawab Andrea, matanya sudah sangat berat.
“Masa orang jahat ucapin salam,” ujar Bi Cicih.
“Pak hansip,” bisik Bi Cicih, nyaris tanpa suara. Andrea tahu dari gerakan bibir saja.
Bi Cicih segera membukakan pintu.
“Maaf, mengganggu malam-malam,” kata Pak Hansip yang ditemani dua orang warga perumahan, dan dua orang warga kampung sebelah.
"Menying, Emed? kalian lagi apa di sini?" tanya Bi Cicih. Orang-orang yang ditanya Bi Cicih saling pandang, ternyata mereka tetangga Bi Cicih.
“Ada apa, Pak Hansip?” tanya Andrea.
“Tadi bapak-bapak ini melihat seekor binatang mirip harimau di sekitar sini, Neng Andrea dimohon waspada.” Pak Hansip bersuara.
“Harimau? Pak hansip ada-ada saja, emang ada harimau kabur dari kebun binatang?” tanya Bi Cicih.
“Saya juga belum memastikan itu harimau atau binatang lain, tapi bapak-bapak ini melihatnya sendiri," jawab Pak Hansip.
"Beneran, Menying?" tanya Bi Cicih.
"Iya, Cih, tadi ada di depan pagar." Mang Menying menunjuk pagar pendek rumah Andrea.
"Ah, salah lihat kali," kata Bi Cicih lagi.
"Sudah sudah, kami hanya memberi informasi saja, mengingat di rumah ini tidak ada laki-laki, jadi kalau ada apa-apa bisa langsung menghubungi kami." Pak Hansip menengahi.
“Baik, Pak. Terima kasih informasinya, tapi sepertinya itu hanya kucing, soalnya di rumah ini sering kedatangan kucing. Ibu saya kan orangnya suka banget sama kucing. Kalau harimau tidak mungkin, taman safari kan jauh. Yang dekat malah penangkaran buaya ...,” kata Andrea. Semua orang menyimaknya dengan serius.
“Ehm, meskipun begitu, kami akan waspada. Sekali lagi terima kasih informasinya,” lanjut Andrea. Dia merasa tidak enak dipandangi seperti itu, mereka pasti mengira dirinya lulungu karena bangun tidur.
__ADS_1
Andrea yakin yang dilihat warga itu adalah Dale yang berubah wujud jadi si belang, dia pasti sedang menjaganya walaupun dia sendiri tidak memerintahkan Dale untuk menjaga rumahnya.
“Iya baiklah kalau begitu, Neng Andrea. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi kami di pos ronda. Kami permisi, Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikumssalam.”
Bi Cicih mengunci pintu. Andrea langsung kembali ke kamar, tidak lama Bi Cicih mengikuti sambil membawa tikar sama bantal.
“Bibi mau ngungsi ke mana?” tanya Andrea.
“Bibi tidur di sini ya, Neng. Bibi kesepian, biarin deh tidur di bawah.”
“Ahh, bilang saja Bibi takut harimau,” ledek Andrea. “Ngga ada, Bi. Itu hanya gosip,” lanjut Andrea ketika melihat Bi Cicih diam saja.
“Tapi tidak biasanya di daerah ini ada gosip begituan. Bibi jadi takut beneran.”
“Sudahlah, Bi Cicih jangan banyak drama! besok aku suruh pergi harimaunya biar gosipnya hilang.”
“Ah, Neng Andrea mah. Emang harimau itu suruhan Neng?” Bi Cicih maksa menggelar tikar di kamar Andrea. Andrea geleng-geleng kepala.
“Ya sudah, jangan ngorok ya!”
“Iya, Neng.”
“Jangan nyalindur.”
“Iya, ah, si Neng mah.”
“Kalau nyalindur sekalian ke pasar.”
“Neng mau beli apa?”
“Beli tali.”
“Buat apa?”
“Buat taliin Bi Cicih biar tidak nyalindur.”
“Ah, Si Neng mah.” Bi Cicih bergumam pelan, nguapnya sudah beberapa kali dan akhirnya yang terdengar hanya suara ngoroknya.
“Baru dibilangin jangan ngorok.” Andrea ngedumel sambil menutup kupingnya dengan bantal.
Di luar Dale nangkring manis di atas pagar, sambil makan belimbing wuluh. Wajahnya menciut keaseman.
Meskipun Andrea tidak menyuruh untuk berjaga-jaga, tetapi gerak-gerik dua orang yang berniat jahat telah menyedot sukmanya untuk nangkring di situ.
Preman kampung yang baru melihat bayangannya saja sudah terkencing-kencing.
"Pulang aja, yu!" ajak Mang Menying.
"Gimana sih, katanya mau masuk," kata Mang Kemed.
"Lu kagak lihat, ada kucing gede banget tadi. Lagian kita udah ketahuan ronda ada di sini. Besok curi info lagi dari si Cicih, majikannya sampai kapan di luar kota." Mang Menying mengurungkan sarungnya le kepala.
"Lahh, lu malah lapor ke ronda," kata Mang Kemed.
"Gue panik, Med."
"Gagal dahh."
Dua preman kampung itu berjalan pulang, menembus malam, memotong jalan lewat pematang sawah dengan berkerudung sarung.
__ADS_1
terima kasih sudah membaca