My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 16 Wujud Si Belang


__ADS_3

Minggu pagi, pulang joging berkeliling Komplek, Andrea terbelalak ketika melihat postingan instagram Ren.


“Wah, gawat. Ren apa-apaan sih? Si Princes kw pasti melihat," lirihnya.


Belum selesai terkejutnya, gawainya bergetar. Nama Inzel terpampang di layar.


“Ya, Zel ....”


“Aku sedih.” Suara Zellina terdengar kecewa.


“Kenapa?”


“Kamu lihat instagram sekarang, lihat postingan si Ren!” Zellina setengah memerintah.


Perasaan Andrea tidak salah, Zellina akan permasalahkan itu.


“Ooh, itu. Iya, aku udah lihat. Zel, semalam itu kita hanya jalan-jalan ke ....”


“Kalian tega amat.” Kata-kata Zellina melirih, lalu terdengar suara klik, tandanya dia menutup sambungan telefon.


Andrea kembali melihat postingan Ren. Dia tidak tahu kalau Ren mengabadikan hangout mereka semalam di sebuah cafe yang lumayan besar. Yadi mentraktir mereka makan dan minum di sana.


Mereka juga jalan-jalan ke mall. Tampak Ren berfoto bersama Yadi, dengan senyum ceria di balik balutan jilbabnya yang anggun, sedangkan Andrea sendiri tampak culun di belakang mereka sambil makan cilok yang dibelinya di alun-alun.


Ren sungguh keterlaluan, dia asal cantik sendiri aja, batin Andrea.


"Huhhh ... Bisa dimusuhi penggemar Yadi sesekolahan, nih."


Dia yakin besok akan mendengar rentetan kekecewaan dari Zellina. Anak manja itu kalau sudah kecewa akan langsung berdampak, sedih dan curhat tak berujung. Dia dan Ren tentu yang akan lelah meredakannya.


Andrea menghubungi Ren, tetapi tidak aktif. Akhir-akhir ini ponselnya sering tidak aktif. "Kemana sih dia."


Andrea berpikir sambil melihat-lihat pohon mangga di halaman rumahnya sedang berbuah. Dia jadi teringat Dale. Diambilnya beberapa mangga mengkal yang bisa diraih dari teras.


“Masih belum matang, Ndre.” Ibunya tiba-tiba keluar. Mengenakan helm.


“Daripada keduluan codot, Bu.”


“Codot?”


“Kalong, kelelawar.”


“Kamu tuh codotnya." Yuli menyentil hidung Andrea. "Buat apa sih? pagi-pagi petik mangga."


“Ngerujak.”


"Ck, jangan terlalu pedas, nanti sakit hati," seloroh Yuli.


"Apa hubungannya?" tanya Andrea.


"Ya hubungkan saja." Yuli menjawab enteng. “Ibu pergi dulu ya, Ndre.”


“Ke mana?”


“Ada pekerjaan di kantor.”


“Kebiasaan deh, hari libur juga ke kantor.”


Yuli tersenyum, menyelipkan rambut Andrea ke kuping. Kuping Andrea tentu, bukan kupingnya. Tahu kalau anaknya itu sering protes kalau dia kerja terus.


“Jaga rumah ya, Bi Cicih agak siang datangnya." Yuli tidak mau berdebat lagi.


“Iya,” sahut Andrea, dia melepas kepergian ibunya. "Hati-hati, Bu!"


Suara motor ibunya sudah menjauh, Andrea masuk dan termangu di meja makan. Memandangi mangga-mangga mentah. Dia teringat pada kedua sahabatnya yang doyan makan rujak, tetapi sekarang salah satu dari mereka sedang ngambek.


"Daripada mikirin si Inzel ngambek, mending panggil Dale," gumamnya.


Dipejamkan matanya. “Dulale Dulale westin wergan wesma werma,” gumamnya, dijentikkan jempolnya ke hidung.

__ADS_1


“Wahh, cengkir.” Dale langsung memandangi mangga di depan Andrea.


“Duh, kebiasaan deh suka ngagetin." Andrea mangusap-usap dadanya yang kaget.


"Ini mangga, bukan cengkir,” kata Andrea lagi.


“Ini namanya mangga cengkir, Neng.”


“Ooh, kirain cengkir kelapa muda.”


“Kalau kelapa muda bukannya dawegan?” tanya Dale.


“Yang lebih muda lagi dari dawegan, kan namanya cengkir.” Andrea sok tahu.


“Cengkir itu yang buat minum.”


“Cangkir, Bambang!”


“Saya Dale, Neng, tidak usah double L.”


“Iya, tahuuuu ....” Andrea dan Dale tertawa.


Mereka sekarang semakin akrab, dan merasa cocok satu sama lain. Andrea suka dengan gaya Dale yang sedikit ngocol, sama dengan dirinya yang tidak terlalu suka hal-hal yang serius.


“Dal, bikin rujak yuk!” Andrea yang baru selesai mandi mendapati Dale di ruang tengah, memencet-mencet remote televisi.


“Hayu, Neng ....”


"Nanti-nanti jangan sembarangan pindah-pindahkan saluran, apalagi kalau ada Ibu atau Bi Cicih, bisa kaget mereka." Andrea mangingatkan.


"Sayap, Neng." Dale menghormat.


"Sayap, burung kali bersayap."


Andrea segera mengeluarkan beberapa buah lainnya dari dalam kulkas. Sekalian bumbunya, ditumpuk di meja dapur.


“Bikin bumbunya pakai blender saja ya.”


“Bukan, cowetnya justru enggak ada.” Andrea mencari cobek batu yang biasa dipakai membuat sambel. "Blender lebih cepat."


“Ini, Neng.” Dale menunjukkan sebuah cobek di tangannya.


“Wuihh, canggih ....” Andrea mengambil cobeknyak. “Asli,” katanya, takjub.


"Ya asli atuh, Neng, dari batu kali."


Baru saja hendak mengupas mangga, Bi Cicih memberi salam dari depan.


"Assalamualaikum, Neng Andre ...."


"Waalaikumsalam, " sahut Andrea.


Dia menyuruh Dale untuk diam, jangan segala dipegang, kalau tidak, Bi Cicih akan melihat sesuatu yang ganjil dan pasti kalap. Merepotkan.


“Neng lagi apa?” tanya Bi Cicih. Melihat dapur yang berantakan.


“Pengen rujak, Bi.”


“Ya sudah, biar Bibi yang bikin.” Bi Cicih segera mengambil sapu dan lap. Dia harus ambil alih semuanya sebelum segala perkakas keluar dari sarangnya. Dia akan lebih banyak pekerjaan.


Andrea mengalah, dia merasa telah menjadi penyusup di dapur, secara kan dapur wilayah teritorial Bi Cicih.


“Oke, Bi. Aku tunggu di kamar ya.”


“Iya, Neng Andre tenang saja, nanti Bibi antar rujaknya ke kamar.”


“Yang banyak ya, Bi.”


“Apanya, cabenya?"

__ADS_1


"Bukan, mangganya."


"Oke, Neng."


Andrea memberi isyarat kepada Dale untuk ikut ke kamar. Bi Cicih melihat cobek yang kelihatan masih baru. Dia tidak tahu sebelumnya ada cobek seperti itu di dapur.


"Ibu beli cobek lagi ya? mana ulekannya?" Bi Cicih mencari-cari ulekan, pasangan cobek batu yang dipegangnya.


Dale lupa, bikin cobek ngga sama ulekannya.


“Di sini saja, sambil nunggu rujak kita main-main di sini.” Andrea menyuruh Dale duduk di kamarnya. Tidak apa-apa dia menyusupkan cowok, toh dia bukan manusia, ngga disuruh juga suka nyusup.


“Main apa, Neng?”


“Halma bisa?” Andrea mengambil papan halma di atas lemari.


“Bisa dong ....”


"Dulu kakek suka menyuruh melakukan apa saja?” tanya Andrea. Dia memberikan gelas kocokan dadu ke Dale.


“Juragan Karsijan jarang menyuruh-nyuruh.” Dale mengocok-kocok gelas.


Andrea sedikit tersipu, dia malu berbeda sekali dengan kakeknya dalam memperlakukan peliharaan. Baru saja kenal sudah suruh-suruh, marah-marah. Untung Dale baik.


“Beliau butuh saya ketika harus kontrol hutan di malam hari untuk menemaninya. Juragan sangat tidak suka pada pencuri kayu di hutan, jadi saya disuruh untuk menakut-nakuti para pencuri itu,” lanjut Dale, sambil mengocok-ngocok dadu, lalu melemparnya ke lantai. Mata dadu satu dan tiga terlihat.


“Cara nakutinya bagaimana?” tanya Andrea, dia ambil kocokan, karena sekarang giliran dia.


“Paling sering sih berubah wujud jadi Si Belang." Dale menjalankan kerucut di papan halma.


“Si Belang?” Kening Andrea berkerut. Di benaknya terbayang kucing lucu seperti si Kety, kucingnya Zellina.


“Neng mau tahu wujud si Belang?”


Andrea mengangguk.


Trekk!! Dale menjentikan jarinya.


Wusss...


Tiba-tiba seekor macan sedang leyeh-leyeh di depan papan halma. Macan belang itu menguap, memperlihatkan taring-taringnya yang runcing.


Andrea meloncat berdiri, jantungnya hampir copot karena kaget bukan kepalang. Dadu terlempar dari tangannya, menampakkan anak dadu enam dan empat. Kaki Andrea gemetaran sampai akhirnya dia mengompol saking ketakutan. Celana kodoknya basah.


Wusss!


Macan berubah lagi menjadi Dale. Dale terpingkal menyaksikan Andrea mengompol.


“Katanya ingin tahu si belang,” ujar Dale sambil terkekeh.


Andrea yang masih berdiri dengan muka pucat pasi segera berlari ke luar kamar, langsung menuju kamar mandi.


“Dulaleeee ... Awas, kau!!” teriaknya dari dalam kamar mandi.


Bi Cicih datang tergopoh-gopoh.


“Neng, ada apa? Ada lele?” Bi Cicih berteriak.


“Tidak ada apa-apa, Bi. Aku lagi nyanyi goyang lele ...,” teriak Andrea.


“Kok kayak bau pesing begini.” Bi Cicih mengendus-endus udara. Dia mencium bajunya, dan melirik lantai yang seperti basah bekas jejak kaki. “Masa Neng Andrea ngompol.”


Dale masih terkekeh di depan pintu kamar. Dia tidak tahan ingin mencicipi mangga cengkir di dapur. Selagi Bi Cicih mengendus-endus bau pesing, Dale segera menyantap mangga setengah matang yang sudah dipotong-potong di piring. Tidak lupa dengan sambalnya.


Bi Cicih penasaran, diambilnya lap pel dan mulai mengepel lantai basah. Andrea terdengar mandi lagi.


Kembali ke dapur, Bi Cicih tertegun. “Perasaan, tadi ngupas mangga sudah banyak, kok habis?” Bi Cicih bicara sendiri. Diperiksanya kulit mangga di tempat sampah, banyak.


“Apa saya makan? Ah, mulai pelupa.” Bi Cicih kembali mengupas mangga.

__ADS_1


Dale mondar-mandir di depan kamar Andrea, lalu raib karena mulutnya seperti terbakar, kepedasan sambal rujak Bi Cicih. Kualat sudah ngerjain Andrea.


Terima kasih yang sudah membaca, jangan lupa lanjutannya yaa... juga sawerannya, hehe


__ADS_2