
Setelah melepas Dale mencari jengkol untuk memulihkan tenaga, Andrea berjalan sendiri.
Ia belum berniat menyetop angkot, masih siang, dan sedang tidak ingin terburu-buru pulang.
Sekelompok siswi kelas dua belas masih membicarakan tragedi kerasukan masal yang baru saja terjadi.
“Jangan-jangan itu ulah mereka saja, biar semua kelas juga tidak belajar seperti mereka. Beritanya, guru-guru mogok mengajar di sana hari ini,” kata salah seorang siswi kelas tiga. Lumayan cantik, dan sedikit modis. Dia bicara sambil merebut gelas minuman temannya, lalu menyedotnya.
Melihat tindakkannya, bisa dibilang dia ketua kelompoknya.
“Bisa jadi, kelas itu kan biang kerok.” Kakak yang punya minuman menjawab. Diiyakan oleh tiga temannya yang lain.
Andrea yang kebetulan lewat mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi Andrea tetap tersenyum ramah.
“Ini salah satunya,” bisik salah seorang dari mereka dengan wajah mencibir.
"Benar, kelihatan wajah urakannya, hik hik ...."
"Wajah caper kali."
“Ada apa ya, Kak?” tanya Andrea. Dia mulai gerah dengan kasak-kusuk mereka tentang kelasnya.
“Wahh, berani juga dia.” Kakak kelas cantik dan modis menghampiri Andrea, melipat tangan di dada, menatap Andrea dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Saya hanya tanya, Kak. Ada apa?” Andrea memberanikan diri.
“Ada yang suka caper, puas?” jawabannya diakhiri pertanyaan lagi.
“Siapa, Kak?” tanya Andrea.
Mereka mulai mengelilingi Andrea.
“Ternyata belum puas dia, bertanya melulu kayak petugas sensus.” Kakak cantik menatap tajam mata Andrea.
“Kelas, Elu. Tukang rusuh, biang kerok, dan suka caper!” katanya lagi, tangannya menunjuk hidung Andrea.
Andrea melihat satu per satu kakak-kakak kelas yang mengelilinginya dengan wajah-wajah tidak suka. Gentar juga dia dikeroyok seperti itu, mana Dale sudah pergi lagi.
“Terus apa masalahnya sama Kakak-kakak semua? Kami minta di follow? Atau minta di subscribe? Tidak kan? Kalau masalah komen, itu keinginan kalian ya, bukan kami yang minta.” Tiba-tiba seseorang bersuara dari belakang mereka.
Andrea menoleh, di belakangnya Ren berdiri dengan kibaran jilbabnya. Dia lega, akhirnya ada yang membela setelah merasa gentar juga dikelilingi kakak-kakak kelasnya yang cantik-cantik tapi nyinyir itu.
“Woww, satu lagi datang. Sudah bikin rusuh, sok jago lagi. Yang kecentilan dan sok borju mana?”
Pasti yang dimaksud Zellina.
“Maaf, Kakak, jika kami terlihat sok jago, sok cantik, atau sok borju. Tetapi, kejadian tadi seharusnya tidak dimanfaatkan untuk menghakimi kami. Semua itu di luar kendali kami sebagai manusia biasa.” Ren berkata lantang sambil memandangi kakak kelasnya satu per satu.
“Wuihh, sekarang sok pintar.” Kakak kelas cantik memutar mata, seolah meremehkan kata-kata Ren.
“Kami mengakui, kelas kami memang suka ribut, tidak bisa diatur, tetapi hanya di dalam kelas saja. Di luar kelas kami tetap menjaga tata krama, dan sopan santun.” Ren tetap membela kelasnya.
“Itu kan menurut, lu.” Kakak kelas cantik tersenyum sinis.
“Terus, menurut Kakak?”
“Kelas kalian amburadul, karena ketua muridnya yang enggak becus memimpin.”
Ren mulai terpancing, dia melangkah maju, Andrea menahannya.
“Sudah, Ren. Tidak ada gunanya bertengkar di sini.”
“Apa sih? Sok jago banget. Heran Gue, Yadi bisa bergaul dengan mereka.” Salah seorang dari mereka bicara.
Kakak kelas cantik melirik temannya itu.
__ADS_1
Sekarang Ren yang tersenyum sinis. “Ooohh, jadi gara-gara Kak Yadi menyukai kami? Tanya sendiri sana kenapa lebih menyukai kami dari pada kalian?”
Kakak cantik memutar badan, lalu berjalan menjauh, diikuti teman-temannya.
“Sudah, Ren,” bujuk Andrea, melihat Ren masih menunjukkan wajah kesal kepada mereka.
“Kamu diam saja sih, Ndre, kelas kita dituduh begitu.”
“Mereka kakak kelas, Ren. Aku ciut,” kata Andrea sambil cengar-cengir. Dalam hatinya dia gembira, Ren sudah seperti semula.
“Kan ada si Lele?”
“Dale, Ren.”
“Iya, aku panggil Lele saja lah ....” Ren lirik kiri kanan. “Mana dia?”
“Ngga ada, lagi cari jengkol, lemas tadi tenaganya habis menolong teman-teman.”
“Jengkol?”
Andrea mengangkat bahu, lalu keduanya tertawa, obat penghilang lemas Dale memang terkesan sangat konyol.
Ren berhenti tertawa, dia memandangi Andrea yang masih memegangi perut karena tertawa. Ada sorot mata menyesal di sana.
“Jadi semua itu benar, Ndre?”
Andrea melihat sekeliling, siswa siswi masih banyak di sana. Dia menarik tangan Ren ke tempat yang lebih sepi.
Tukang cilok menyapa ketika mereka lewat. “Sudah baikkan, nih yee!”
Andrea mencebik. “Jaga jenggot, tuh, Mang!” teriaknya.
Tukang cilok terkejut, Andrea mengetahui kasus jenggotnya yang raib tiba-tiba.
“Kenapa jenggotnya?” tanya Ren.
Mereka duduk di halte tempat anak-anak sekolah menunggu angkot.
“Aku mau minta maaf, Ndre.”
“Ren, kita itu sahabat, wajar kalau kamu menuntut lebih dari aku. Tetapi sumpah, aku waktu itu tidak tahu kondisi mamamu.” Andrea menggenggam tangan Ren.
“Iya, aku tahu. Kemarin aku terlalu terpukul, semua jadi membuat kepalaku berat. Sekarang aku sudah enggak apa-apa, aku rasa mamaku memang lebih baik di sana dulu agar bisa cepat sembuh.” Ren menunduk.
“Aku ikut prihatin, Ren. Kamu benar, mamamu lebih bagus jika ditangani ahlinya. Kamu bukan ahlinya, memang cita-citamu apa? Bukan jadi psikiater kan? apalagi dokter." Andrea meledek.
Ren menarik rambutnya.
“Aww ....” Andrea memekik.
“Kayak kamu punya cita-cita saja,” balasnya.
Mereka tertawa, seperti biasa, jika sedang membicarakan cita-cita, pasti tidak pernah ada yang tahu. Remaja-remaja labil memang suka begitu.
Ternyata ada hikmah di balik kesurupan masal di kelasnya, dua sahabat itu menjadi akur.
Angkot datang, Andrea menarik tangan Ren. “Ke mol yuk!” ajaknya.
Mata Ren berbinar. “Yuk!”
“Eh, kita enggak bakal kena razia jam sekolah keluyuran?” Andrea melihat bajunya.
“Nanti beli kaos di sana.” Ren terlihat bersemangat, dia menyetop angkot, lalu menarik tangan Andrea.
“Sabar, Ren!”
__ADS_1
“Aku kebelet, sudah lama tidak jalan-jalan,” jawab Ren. “Sayang si Pecel enggak ada,” lanjutnya.
Andrea juga sebenarnya merasa ada yang kurang dengan tidak hadirnya Zellina, tetapi saat ini dia sedang tidak ingin membahasnya. Zellina sudah menuduhnya pecapacor, tadi. Menyakitkan sekali buat Andrea.
Mereka naik angkot, menuju mol. Zellina yang memerhatikan mereka dari jauh dalam mobilnya hanya bisa diam dengan bibir mengerucut.
“Ke mana dulu kita, Non?” tanya sopirnya.
“Langsung pulang, Pak!” ketusnya
“Baik, Non.”
**
“Ndre, bukannya itu sekolah Gigit?” Ren menunjuk sekolahan ketika angkot melewatinya.
“Iya, kali,” jawab Andrea. Dia melihat sekolahan Gigit dengan lekat, entah kenapa hatinya terasa senang hanya dengan melihat atap sekolahnya doang.
"Sayang aku ngga nanya kontaknya dulu." Ren bersandar pada dinding angkot.
"Emang kenapa?"
"Mau diajak ngemall. Dia menyenangkan juga orangnya ternyata."
"Aku punya." Tanpa sadar Andrea menyahut.
"Wah, bener?" Ren tidak percaya. Andrea memang belum menceritakan sehari bersama Gigit sepulang dari rumahnya Ren kemarin.
“Hubungi dong, suruh susul ke mol!”
Permintaan Ren membuat Andrea mengernyitkan dahi. “Apa an sih, Ren? Dia masih belajar.”
“Sebentar lagi juga pulang, sekolah dia kan enggak fullday.”
“Iya kah? Kok aku enggak tahu?”
“Waktu antar aku dulu dia cerita kayaknya.”
“Ngga ah, nanti dikiranya aku yang ingin ketemu.” Andrea memegang prinsip.
“Memangnya kenapa?” tanya Ren.
Andrea mendadak deg degan ketika Ren bertanya seperti itu. “Nggak,” jawabnya.
“Ya sudah, aku saja yang hubungi.” Ren merogoh tasnya untuk mengambil gawai.
“Kamu punya nomornya?”
“Ngga, mau nyalin dari kamu."
“Nih!” Andrea menyodorkan gawainya. “Cari sendiri nomornya,” lanjutnya.
Ren tersenyum geli, dia menyalin nomor Gigit dari gawai Andrea, lalu mengetik pesan untuk Gigit.
“Tuuuhh kaaaan, baca nih! Pangeran ojol segera menyusul setelah kelas usai.” Ren menyenggol Andrea sambil menunjukkan balasan pesan dari Gigit.
Andrea hanya mesem, tetapi dalam hatinya bersorak saking senang mau bertemu Gigit lagi.
Ada apa ini? Please Andrea, jangan bikin persahabatan yang mulai membaik ini jadi kacau lagi gara-gara cowok. Dalam hatinya Andrea mengutuk dirinya sendiri.
*bersambung
Selamat membaca, Pembaca.
Jangan lupa tinggalkan jejak di chapter ini ya, sebagai saweran untuk penyemangat Author yang butuh vitamin 😊🙏
__ADS_1
Terima kasih*