My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 92 Di Balik Jeruji Besi


__ADS_3

Di kantor polisi Andrea langsung dibawa ke dalam satu ruangan. Dia dicecar banyak pertanyaan, sampai kepalanya pusing tujuh keliling.


Keluarga Yadi jadi malah menuduhnya mencemarkan nama baik mereka, padahal dia juga tidak tahu apa yang telah terjadi setelah penculikan itu, karena dia langsung pergi ke kampung.


“Kalau benar kamu diculik saudara Yadi, silakan tunjukkan buktinya!" Polisi bicara seakan dia seorang tukang fitnah. Andrea jadi nelangsa.


Andrea kebingungan, tidak menyangka semuanya akan menjadi begini. Dia diinterogasi sendiri, dalam ruangan tertutup, oleh dua orang polisi yang berwajah tidak mengenakan. Menatap, memicing, bicara tegas, dan kadang membentak.


Teman-temannya tidak bisa masuk menemani. Hanya Dale yang bisa membuat dia sedikit merasa berteman, tetapi dia juga diperintahkan diam.


“Bagaimana? Ada?” tanya polisi itu lagi.


Andrea tidak tahu harus menjawab apa, karena selama diculik hanya ingat ketika sudah berada di mobil bersama teman-temannya.


“Saya ... Saya, tidak tahu, Pak.”


Polisi geleng-geleng kepala. “Bagaimana sih, katanya diculik, tetapi tidak tahu.”


“Saya, dibius.”


“Siapa yang membius? Taruhlah kamu ingat ketika dibius. Apakah kamu melihat Yadi Sanjaya ada bersama kamu waktu aksi pembiusan itu?” Polisi itu mengetuk-ngetuk meja. Tuk tuk tuk!


Andrea menggeleng dengan cepat, takut enggak ketulungan.


“Terus kenapa menyebarkan fitnah, kalau Yadi Sanjaya menculik kamu? Kenyataannya kan kamu bersenang-senang dengan teman-teman kamu di tempat lain.” Polisi yang lain ikut bicara, pandangannya ke tempat lain.


Andrea menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya sangat kering. “Sa ... Saya tidak menyebar fitnah, Pak.”


Polisi itu menatapnya lagi, dengan kedua tangan di atas meja, mimik wajahnya seperti tidak percaya.


“Keluarga Sanjaya tidak terima anaknya dilaporkan ke polisi oleh masyarakat, dengan tuduhan menculik kamu. Tetapi mereka yang melapor tidak bisa membuktikan, karena kamu sebagai saksi kunci tidak bisa dihubungi, terkesan mempermainkan hukum. Dan sekarang, keluarga Sanjaya balik melaporkan kamu.”


Andrea mengerti sekarang. Ternyata, dia dituduh berbohong. Padahal, waktu itu dia tidak sempat memikirkannya, karena harus menyelamatkan Dale dulu.


“Neng tunjukkan saja video yang merekam si Atang,” kata Dale.


Andrea berpikir sebentar, lalu meraba-raba saku celananya. “Kamu benar,” gumamnya. Tetapi, sesaat dia terdiam.


Kedua polisi itu mengernyitkan dahi.


“Maksudnya?” tanya mereka.


Andrea menjilat bibirnya yang juga kering. “Boleh saya minum, Pak?” Dia mengalihkan perhatian polisi di depannya.


Tanpa bicara, salah satu dari mereka keluar ruangan. Tidak lama kemudian membawa sebotol air mineral.


“Kenapa kamu tidak mau menelefon keluargamu?”


“Saya tidak punya keluarga.”


Andrea meminum air mineral yang tersodor di depannya. Sejuk melewati kerongkongannya.


Kedua polisi itu melihat Andrea sudah kelelahan. “Ya sudah, kamu minum dulu, nanti kami ke sini lagi.” Mereka berjalan keluar.


“Anak broken home.”


"Sepertinya begitu."


Andrea mendengar mereka berbisik-bisik.


“Neng bawa ponselnya?” tanya Dale.


Andrea menggeleng. “Ketinggalan, tadi di meja makan.”


“Ya sudah, saya bawa.”


“Tidak usah, Dal!”


“Kenapa, Neng?”


“Kamu kelihatan di videoa itu, nanti mereka malah penasaran, bagaimana kalau mereka meminta kamu bersaksi? Aku tidak mau kamu mendapat masalah lagi, apalagi sakit seperti waktu menyelamatkan ibu."


Dale menekur, dia terharu, dalam keadaan seperti itu juga Andrea masih memikirkan dirinya.


“Di video itu juga ada Gigit. Aku juga tidak mau melibatkan Gigit lagi. Dia sudah tenang jauh dari aku. Aku hanya membawa masalah saja.”

__ADS_1


“Neng?”


“Sudah, Dal. Aku tidak ingin mereka curiga.” Andrea melihat sekeliling ruangan itu. Mencari kamera yang bisa saja mengintai gerak-geriknya.


“Bapak lihat, dia seperti bicara sendiri." Dua Polisi yang tadi menginterogasinya, memerhatikan Andrea dari depan layar komputer yang terhubung ke kamera ruangan di mana Andrea berada. Terlihat Andrea sedang bicara sendiri.


Keduanya kembali menemui Andrea.


“Maaf, Andrea, sepertinya hari ini menginap dulu di sini. Besok kami adakan pemeriksaan lagi, sekalian menghadirkan pelapor.”


"Maksud Bapak?"


"Hari ini, kamu kami tahan."


“Apa? Jadi saya masuk penjara?” Andrea terbelalak. "Tadi kan Bapak bilang, saya hanya saksi."


“Sementara saja, sampai ada penjamin datang. Kasus kamu sudah diproses. Kamu bisa menghubungi siapa saja yang bisa menjamin."


“Bu, boleh saya bertemu teman-teman?” Andrea bicara kepada polisi wanita yang menggandengnya.


“Ikut saya!”


Andrea berdiri. Kepalanya sedikit pusing, karena lama sekali berada dalam tekanan.


Sampai di ruang tunggu, Ren dan Zellina menyambutnya dengan wajah cemas.


Mereka tidak ada yang bicara, hanya saling pandang. Seorang polisi tidak mau menjauh dari Andrea.


“Boleh saya bicara dengan teman saya, Bu?” tanya Andrea.


Polisi wanita itu mengerti, dia berjalan menjauh, tetapi tetap melotot ke arah mereka.


“Aku tidak bisa pulang.” Andrea memegang tangan Ren dan Zellina.


“Hah?” Zellina menutup mulut.


“Kenapa?” tanya Ren.


“Aku harus ada penjamin.”


“Tidak usah, Ren. Aku minta tolong sama Tante Dina saja. Ponsel aku ketinggalan di rumah. Cari kontak dia, Kamu hubungi ya, please!” Tidak ada pilihan lain, Andrea harus menghubungi Tante Dina. Dia satu-satunya orang terdekat setelah ibunya. Dia tidak ingin merepotkan Papanya Ren, atau Zellina. Kasihan kepada mereka, selalu kena dampak dari masalahnya.


Kejadian rem blong sudah manjadi pelajaran serius untuk Andrea.


“Ndre, kenapa bisa jadi begini sih?” Zellina mulai menangis. "Kenapa kamu jadi masuk penjara, huhuhu ...."


Andrea memeluk kedua sahabatnya itu. "Kalian doakan aku cepat bebas ya."


“Kamu jangan menangis, Zell, bikin semua orang takut saja,” seru Ren, sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba berjatuhan. Dadanya sesak melihat sahabatnya bermasalah dengan kepolisian.


Mereka bertiga berpelukan sampai polisi tadi menghampiri.


“Andrea harus masuk ke ruangan.” Ibu polwan menggamit tangan Andrea.


“Bu, Andrea bukan penjahat! Yadi Sanjaya yang penjahat! Dia joker, punya kedok," seru Zellina. Menghalangi polisi yang akan membawa Andrea.


“Maaf, saya harus membawa Andrea ke sel.”


“Aku kan sudah bilang, teman saya bukan penjahat!” seru Zellina lagi. Dia tetap memegangi tangan Andrea.


Beberapa polisi yang ada di sana menghentikan aksi Zellina.


“Sudah, sudah, sebaiknya kalian pulang. Ini kantor polisi, bukan tempat demo.”


“Tapi teman saya tidak bersalah, Pak!” Ren ikut-ikutan mencoba melepaskan Andrea dari tangan polisi.


Mereka sudah seperti anak kecil sedang memperebutkan boneka.


“Ren, Zell, tidak ada gunanya kalian begini. Sebaiknya kalian pulang, dan cepat mengontak Tante Dina.” Andrea mencoba tegar, padahal dia juga ketakutan sekali. Terlihat dari tangan dan bibirnya yang gemetar.


“Tapi, Ndre.” Ren menggenggam tangan Andrea.


“Aku tidak apa-apa.” Andrea ditarik polisi untuk segera berjalan.


“Ndreee ....” Zellina memanggilnya. Ren mencegahnya ketika hendak berlari mengejar Andrea.

__ADS_1


Andrea tidak melihat lagi ke arah mereka. Sampai tubuhnya hilang ditelan ruangan lain. Ruangan yang semakin dalam semakin dingin, membuat Andrea ketakutan.


Ibu, tolong aku," rintih Andrea, ketika jeruji besi sudah mengurungnya bersama tahanan lainnya.


Tiga jam kemudian.


Tak ... Tuk ... Tak ... Tuk ....


Suara hak sepatu mendekati ruangan tempat Andrea duduk sambil menundukkan wajahnya di antara kedua lututnya. Dia terlihat menyendiri, menjauh dari tiga orang tahanan lainnya.


“Ndre?”


“Tante Dina?”


Andrea cepat-cepat berdiri, menunggu dengan tidak sabar Ibu sipir membuka kunci sel.


Dia memeluk Tante Dina dengan erat. Meskipun disembunyikan, tetapi wajahnya tidak bisa berbohong. Andrea ketakutan.


“Saudari Andrea bisa pulang sekarang.” Ibu Sipir berjalan meninggalkan mereka, membawa wajahnya yang dingin.


“Teman aku ada yang menghubungi Tante?” tanya Andrea.


Tante Dina tersenyum. “Iya, kamu tenang saja. Ayo kita pulang,” ajak Tante Dina.


Andrea menurut, sepanjang lorong dingin itu dia memegangi Tante Dina.


Seumur hidup dia tidak akan melupakan itu. Meskipun hanya beberapa jam, tetapi Andrea merasa berada di sana ribuan tahun. Dia sangat merasakan takutnya berada dalam bui. Ruangan dingin, tanpa cahaya, dikelilingi besi, bersatu dengan orang-orang yang entah melakukan apa sebelumnya. Mungkin saja membunuh, atau menyantet.


Belum lagi, menghadapi wajah ibu sipir yang tidak ada ramah-ramahnya sedikit pun. Andrea kapok tujuh turunan, delapan tanjakan, sembilan belokan.


Setelah menyelesaikan beberapa administrasi, mereka keluar.


“Terima kasih, Tante.” Andrea mengenakan sabuk pengaman.


“Kenapa kamu tidak langsung menghubungi Tante?”


Andrea terdiam.


“Harusnya kamu langsung memberi tahu, Ndre. Ini bukan perkara main-main. Kantor polisi bukan tempat hangout yang dengan santai saja kamu kunjungi.” Nada bicara Tante Dina sedikit meninggi. Dia rupanya kecewa dengan sikap Andrea, yang sok bisa menyelesaikan masalah sendiri.


“Maaf, Tante.”


Tante Dina menolehnya, lalu membuang nafas dan tersenyum. “Ya sudah, sekarang Tante antar kamu pulang ya,” katanya.


Andrea mengangguk.


Tante Dina begitu baik, kenapa aku selalu menganggapnya tidak penting? Mungkin Tuhan sedang menunjukkan kepadaku bagaimana sebenarnya hati Tante Dina lewat kejadian ini.


“Tante,” panggilnya.


“Hmm.” Pandangan Tante Dina lurus ke jalan di depannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


“Maafkan aku, selalu merepotkan.”


“Ndre, kamu kok bicara begitu. Kamu itu keponakan Tante, anaknya sahabat Tante. Tante tidak merasa direpotkan sama sekali.”


“Tetapi, kami begitu banyak berhutang budi kepada Tante. Aku ....”


“Kamu kenapa?”


“Aku tidak bisa membalasnya.”


Tante Dina tersenyum, tetapi pandangannya tetap ke jalan di depannya. “Bisa kok, Ndre,” sahutnya.


Andrea menatapnya.


Tentu saja, bisa. Asal aku mau jadi anak angkatmu kan, Tan? Mungkin aku juga harus mulai bisa menerima ini.


Andrea mulai memikirkan hal terburuk yang bisa saja dia alami.


“Bagaimana caranya, Tan?”


“Kamu temani Tante makan, lapar juga nih.” Tante Dina kembali tersenyum, kali ini dengan melirik ke arah Andrea. “Sambil kita bicarakan kasus kamu itu.”


“Oh, iya, Tan.” Andrea lega, ternyata Tante Dina bukan ingin memintanya untuk jadi anaknya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2