
"Akh, kenapa harus takut, aku kan ada Dale. Aku harus tahu siapa mereka." Andrea bangun dari tempat tidurnya.
Jus melon yang dibeli Bi Cicih masih utuh. Dia menyedotnya, segar melewati tenggorokannya. Takut dan resah yang tadi melandanya berganti penasaran.
Kriminal biasa tidak akan mungkin mengancamnya lagi ketika aksi mereka gagal. Ini seperti sebuah kejahatan khusus untuk meneror dia sendiri. Peneror tahu nomor ponselnya.
Dale muncul satu detik setelah Andrea selesai membaca mantra.
“Ren tadi mengajak bicara saya, Neng,” lapor Dale.
“Memang bisa?”
“Ya enggak lah, dia bicara sendiri sama hawa di samping mamanya. Dikiranya saya masih di sana ketika mamanya tidur, padahal saya ada di sofa, duduk di belakangnya, hihi ... Lucu pisan euy!”
“Kamu mah jahat. Dia bilang apa?”
“Berterima kasih saja, sambil bilang bahagia mamanya berangsur membaik.”
“Ooh, terus Tante Aini bagaimana kondisinya sekarang?”
“Membaik, tadi juga papanya Ren datang, mereka bergantian menyuapi. Saya pergi saja, biar mereka berkumpul. Eh, dipanggil Neng. Ada apa?”
“Ada yang kirim pesan ini.” Andrea menyodorkan gawainya. “Sepertinya mereka memang mau jahat sama aku, tapi aku juga tidak tahu siapa.”
Dale membaca lama sekali. “Apa ini, Neng, panjang sekali?”
Andrea melihat layar gawainya. “Astaga, kok jadi buka Noveltoon.”
Andrea tidak sengaja malah menyodorkan novel kesukaannya. Lalu mencari pesan yang tadi masuk.
“Neng mau saya cari tahu siapa yang kirim?” tanya Dale.
“Iya dong, cari tahu saja dulu. Dia tidak tahu berurusan dengan siapa rupanya. Salah besar telah mengirim pesan ancaman begitu.”
“Neng tidak takut?”
“Buat apa takut? Kan ada kamu. Tadi aku memang ketakutan, karena dia main belakang. Aku kan tidak siap.” Andrea menyeringai.
“Bagus, Neng, jangan takut. Serahkan saja sama saya.”
“Kamu cukup cari tahu saja dulu, setelah tahu siapa dia, kita bisa rencanakan sesuatu. Kalau perlu, kita teror balik." Andrea bersemangat, dia lumayan dendam. Tidak suka dengan orang yang bermain belakang.
“Siap, Neng!” Dale menatap nomor di layar, lalu raib, masuk ke dalam ponsel.
Dale muncul lagi.
"Ada apa lagi?" Andrea kaget.
"Itu jusnya tidak diminum?" Dale cengengesan.
"Kamu mau? Belum makan?"
Dale menggeleng. "Belum sempat."
"Nih, ambil, tapi sudah aku sedot sedikit."
Dale mengambil jus melon Andrea lalu raib lagi.
Andrea keluar, karena mendengar suara motor ibunya datang. Bi Cicih juga keluar dari dapur, wajahnya terlihat kebingungan.
"Kenapa, Bi?"
"Neng Andrea melihat pet ...."
“Ibu sudah pulang, Bi.” potong Andrea. Dia sengaja biar Bi Cicih tidak membahas petainya.
"Oh, iya, Neng." Bi Cicih berjalan mau menyambut Yuli.
Andrea menarik tangan Bi Cicih. “Bibi jangan cerita yang tadi ya!”
“Tapi, Neng ....”
“Bi, please, takut jadi pikiran ke Ibu. Aku juga enggak apa-apa, kan?"
“Tapi, Neng ....”
“Kalian sedang apa? Kok bisik-bisik di situ?” Yuli menegur dari tempat menyimpan helm.
“Ini, Bu, Bi Cicih tadi beli jus jambu kelutuk, malah jus melon.”
Bi Cicih mau menjawab, tapi malah tergagap-gagap karena gugup. “Euhh, ehmm, anu, euhm ....”
“Apa? Ya sudah, Ibu sudah datang, katanya Bibi mau pulang.” Andrea memegang bahu Bi Cicih, sedikit ditekan.
__ADS_1
“Bibi sudah mau pulang?” tanya Yuli, sambil menyimpan sepatunya.
“I ... Iya, Bu, sudah sore.”
“Ya sudah, terima kasih ya, Bi,” kata Yuli. “Jangan lupa bawa makan untuk anak-anak dan suami," lanjutnya.
“Sudah saya siapkan, Bu.” Bi Cicih pergi ke dapur, ambil ransum. “Pete tadi ditaruh di mana ya?” gumamnya, dari tadi dia pusing tujuh keliling mencari petai.
“Bagaimana hari ini, Ndre?” Yuli bertanya pada Andrea yang sedang menonton televisi. Dia duduk untuk menemani.
“B saja.”
“Kamu enggak keluar?”
“Keluar, joging. Ibu tumben pulang cepat, biasanya kalau lembur sampai malam. “
“Nah, ini Ibu mau ngomong. Bi, Bi Cicih duduk dulu sebentar!" Yuli memanggil lagi Bi Cicih yang bersiap pulang. Dia seperti diingatkan sesuatu oleh Andrea.
"Iya, Bu." Bi Cicih duduk di pinggir sofa.
“Ngomong apa?” tanya Andrea.
“Besok Ibu ke luar kota lagi. Tiga hari. Bi Cicih seperti biasa temani lagi Andrea ya, untuk tidur di sini. Saya mohon, Bi." Yuli memasang wajah memohon, takut Bi Cicih tidak mau.
"Ooh, siap, Bu." Bi Cicih malah sumringah, dia paling suka ada pekerjaan lembur, Yuli suka memberinya bonus.
"Terima kasih, Bi." Yuli tersenyum.
"Sama-sama, Bu. Kalau sudah tidak ada lagi yang penting, saya permisi, sudah sore. Ayam dan bebek saya takutnya belum pulang."
"Iya, Bi, salam buat keluarga di rumah ya."
"Iya, Bu."
"Salam juga buat Ay dan Beb, Bi," kata Andrea.
"Siapa itu, Neng?"
"Ayam dan bebek lah ...."
"Ikh, si Neng mah, kirain siapa. Ya sudah, asalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
“Bu, boleh enggak aku tanya?”
“Ngga, Ibu mau mandi.” Yuli beranjak, lalu mengeloyor ke kamarnya.
“Bu, aku serius.” Andrea mengikuti ke kamar.
Ibunya membuka anting-anting dan cincin yang dipakainya. Andrea baru sadar dia tidak melihat ibunya pakai gelang, dan kalung, perhiasan yang selalu dipakainya.
“Apa sih, Ndre? Tumben banget.”
Andrea bersandar di mulut pintu. “Waktu Ibu ke Bogor terakhir, itu tugas kantor?”
“Memangnya Ibu punya pekerjaan atau bisnis lain? Ya iya atuh.” Yuli menjawab penuh percaya diri.
“Waktu itu aku bertemu Tante Dina.”
Yuli memandanginya dirinya sendiri di cermin. Dia berusaha untuk tenang. “Kapan?” Dia mulai menuangkan pembersih wajah ke kapas.
“Waktu ibu ke Bogor. Katanya tidak ada pekerjaan kantor yang mengharuskan Ibu pergi ke sana.”
Andrea melihat ibunya dari pantulan cermin, mengusap-usap kapas ke wajahnya. Tangan ibunya terlihat semakin kurus, ada tonjolan-tonjolan urat di sana.
“Ibu mau mandi dulu.” Yuli berjalan ke kamar mandi dalam kamarnya.
Andrea tidak berkata lagi, menyesal telah membuat ibunya ketahuan berbohong.
Dia menyandarkan kepalanya di kusen pintu. Lalu memutar badan, keluar sambil menutup pintu kamar, setelah mendengar suara air mengalir dari kran.
Di dalam kamar mandi Yuli menyandarkan tubuhnya ke tembok, kedua tangannya menutup wajahnya, dia menangis. Andrea mulai mengetahui kebohongannya. Tetapi sekarang dia belum bisa jujur, masih berusaha untuk sembuh. Dia tidak mau Andrea menyaksikannya tergolek lemah, dan bersedih. Pasti anaknya itu akan sedih sekali.
Air meluber dari bak penampungan, memenuhi lantai dan menyentuh kakinya. Dingin.
**
“Neng,” panggil Dale.
Andrea yang sedang memandangi jalan menengok. “Sudah ketemu?”
“Sudah, namanya Atang, pengangguran yang gayanya selangit.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Bergaulnya di tempat mahal, tetapi modal nebeng.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Ini saya telusuri sinyal nomornya, dia sekarang sedang ada di tempat karaoke namanya Cafe Family, dia sedang bersama temannya, nebeng nyanyi dan makan minum gratis."
Andrea ingat tempat itu, dulu pernah diajak Yadi ke sana bersama Ren.
“Orangnya bagaimana?”
“Tinggi besar, rambut cepak, pakai jaket kulit warna cokelat.”
“Iya, itu orangnya, aku ingat warna jaketnya, tetapi kalau wajahnya tidak tahu. Gigit yang tahu.”
Andrea berlari ke kamarnya, lalu mengambil gawainya. “Aku hubungi dia saja.”
Terdengar nada telefon menyambung. Tetapi tidak diangkat. Andrea menyimpan gawainya, lalu mengetuk-ngetuk meja teras.
Tidak berapa lama gawainya berbunyi, Gigit menelefon balik.
“Assalamualaikum, ada apa, Ndre, kamu baik-baik saja?” Suara Gigit terdengar cemas dari seberang sana.
Andrea tersenyum kecil.
Dale mencebik. “Euleuh euleuh, yang sedang jatuh cinta, senyumnya beda."
Andrea menyimpan telunjuk di bibirnya, sambil menutup speaker gawai dengan dadanya.
“Haarr, dia juga enggak akan dengar saya atuh, Neng.”
“Ndre, hallo ... Ndre!” Gigit memanggil-manggil lagi dari sana.
“Waalaikumssalam, tidak apa-apa kok, Git. Aku baik-baik saja.” Andrea menyuruh Dale diam dulu. “Euhmm, bisa temani aku jalan?”
“Ke mana?”
“Bisa enggak? Nanti aku cerita.”
“Bisa, tetapi sekarang sudah hampir magrib, bagaimana kalau lepas subuh?”
“Iih, kamu mah ....”
Di seberang sana Gigit tertawa, dia senang Andrea baik-baik saja, ternyata tidak trauma seperti yang dikhawatirkannya.
“Iya, aku datang setelah magrib ya.”
“Oke, terima kasih ya, Git, sudah mau aku repotkan.”
“Bahasa kamu kayak ibu-ibu saja, banyak basa-bau.”
“Basa-basi.”
“Basi kan bau.”
“Terserah kamu deh,” sahut Andrea.
“Iyes dong. Ya sudah, nanti aku jemput ya.”
“Oek ....”
“Nahh kan, bercanda terus, kapan ditutupnya?”
“Hahaha ... Aku bukan bercanda, typo, mau oke malah oek.”
“Typo itu istilah dalam tulisan, Ndre, kalau dalam percakapan begini, namanya kacaletot.”
Andrea tertawa lagi.
Dale mesam-mesem melihat Andrea menjatuhkan dirinya ke kasur sambil memeluk gawai.
Andrea baru sadar, di sana masih ada Dale. Dia bangun sambil tersenyum malu.
“Neng mau ke sana?”
“Iya, kamu juga ikut!"
“Sayap, Neng.” Dale mengepak-ngepakkan keteknya.
Andrea menutup hidung.
bersambung
__ADS_1