My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 30 Penyelidikan Awal


__ADS_3

Ren tidak mau diantar sampai masuk rumah. Di depan pintu pagar dia menyuruh Andrea dan Yadi langsung kembali ke sekolah.


“Ren, kamu baru pingsan lho,” kata Andrea. Dia memegangi bahu Ren yang masih terlihat lemah.


“Nggak apa-apa, Ndre, aku bisa sendiri. Di rumah ada ibu aku.” Ren menengok pada rumahnya yang terlihat sepi.


Dia menatap Yadi. “Terima kasih, Kak, sudah repot mengantar,” lanjutnya.


Dengan pelan, Ren membuka pintu pagar. Dia tidak menengok lagi sampai hilang ditelan pintu rumahnya.


Andrea dan Yadi langsung masuk ke dalam mobil untuk kembali ke sekolah, setelah memastikan Ren memasuki rumahnya.


**


Pertandingan sudah hampir selesai ketika mereka datang, tetapi masih bisa melihat aksi Zellina dan tim yang begitu-begitu saja. Jerat-jerit tidak karuan.


Yadi tidak juga menjauh, terus saja merapat kepada Andrea, membuat tidak nyaman yang dipepet. Beberapa siswi mulai bisik-bisik bergosip, tidak sedikit yang menunjukkan wajah tidak senang, melihat Andrea.


Pertandingan selesai dimenangkan oleh tim senior. Andrea dan Yadi menghampiri Zellina yang sedang mengelap keringat.


“Baru permulaan, jangan patah semangat!” Andrea mencolek bahu Zellina.


“Permainan kalian lumayan banyak kemajuan kok,” kata Yadi.


“Betul itu,” sahut Andrea. “Tinggal di asah ya, Kak, kayak golok,” seloroh Andrea.


Zellina tersenyum kecut. “Tahu kemajuan dari mana, kalian nonton saja, nggak.”


“Kita nonton kok, Zel. Meskipun nggak lama.” Yadi tersenyum kepada Zellina.


“Masa?” Zellina balik tersenyum. “Kalau gitu, traktir aku minum, Kak,” rengek Zellina, tangannya menggelayut pada Yadi.


“Boleh! Ndre, yuk!” ajak Yadi.


“Kalian saja, aku mau ke kelas, Kak.” Andrea mengerti, Zellina ingin berdua saja. Tatapan matanya berbeda dari biasanya. Dia bahkan lupa kepada Ren, tidak menanyakan keadaannya, padahal tadi dia mewek-mewek paling khawatir.


Yadi terlihat kecewa mendapat penolakan Andrea, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena Zellina sudah menariknya untuk jalan.


Seperti melepas beban, Andrea mengeluarkan nafas sekaligus sambil menatap punggung keduanya.


Di dalam hatinya bermunculan rasa takut. Dia takut Yadi menaruh hati padanya, padahal Zellina dan Ren yang sangat berharap.


Dia juga takut Yadi memilih satu dari dua sahabatnya itu, karena itu akan menciptakan kesedihan salah satu dari mereka.


Dia juga takut sore ini akan mengetahui sesuatu tentang ibunya.


Ya, Andrea sedang ketakutan.


Apa aku dekatkan saja Ren dengan Gigit? Biar mereka tidak berebut rasa seperti ini. Hatinya masih bicara ketika menelusuri lorong sekolah yang mulai sepi, dia melangkah menuju kelasnya. Mengambil tas dan langsung pulang.


Andrea menekuri trotoar sendirian. Sengaja berjalan jauh dari sekolah agar bisa memanggil Dale dengan leluasa.


Hari ini dia harus mengetahui, apa yang sebenarnya dilakukan ibunya. Dale dibutuhkan untuk menemaninya saja, agar dia merasa aman dan tidak sendirian.


Di tempat yang lumayan sepi dia membaca mantra.


“Dulale Dulale westin wergan wesma werma!” Jempolnya menjentik hidung.


“Lama banget, Neng?” Dale sedang bersandar di tiang listrik dengan beberapa biji pisang kepok.


“Nggak sabar banget sih,” kata Andrea. Dia duduk di tembok pagar. "Enak pisangnya?"


Dale menggeleng. "Nggak, pisang ini enaknya direbus atau digoreng." Dale membolak-balik pisang.


"Oh gitu? Kenapa kamu makan?"


“Iseng doang. Kita mau jalan-jalan kemana, Neng?” Dale tidak sabaran.


Andrea menarik nafas dalam-dalam. “Aku juga bingung, mulai dari mana. Tadinya Ren mau kuajak serta malah sakit.”


“Sakit apa?”

__ADS_1


“Tadi dia kecelakaan. Kepalanya kena bola basket.”


“Kenapa Neng, nggak memanggil saya?”


“Iya, aku juga sempat menyesal melarang kamu ikut. Andai saja ada kamu, tentu Ren bisa aman."


“Belum tentu juga, Neng.”


“Kenapa?”


“Kan saya mah bekerja sesuai perintah, kalau Neng tidak menyuruh, saya tidak akan melakukan apa-apa, kecuali Neng sendiri yang dalam bahaya, saya otomatis bekerja.”


Andrea menunduk, tangannya memainkan tali tas di pinggangnya. “Iya juga sih. Tidak bisa dirubah protokolnya jadi otomatis menolong siapapun?"


Dale menggeleng. "Nggak, Neng."


Andrea menunduk, kembali menekuri tembok trotoar.


“Sudah, Neng jangan sedih, Ren celaka bukan salah Neng.”


“Aku bukan sedih. Ada sesuatu yang membuat aku kepikiran.”


“Apa, Neng?”


“Euuhh, ini soal ....”


Titiidd!!


Suara klakson mobil mengagetkan Andrea.


“Ndre, ngapin di sini, belum dapat angkot?” tanya Yadi. Ternyata cowok itu tidak bisa melihat Andrea, langsung mepet


“Euuhh, nunggu teman, Kak.”


“Mau bareng?”


“Nggak, Kak, terima kasih.”


Ni orang mau apa lagi coba? batin Andrea. Dia melirik ke arah Dale yang sedang menggigit-gigit kulit pisang kepok sambil memerhatikan Yadi, ingin tahu reaksinya ketika ada cowok yang menghampirinya.


Ternyata Dale biasa saja.


“Sudah sore, aku antar saja.” Yadi mendekat.


Andrea kikuk dikasih perhatian seperti itu oleh Yadi. Cahaya matahari sore di belakangnya membias, membuat Yadi berdiri seolah tuan muda yang ingin memaksa gadis jelata memenuhi keinginannya.


Sebuah motor berhenti. Andrea mengenal motor itu.


“Hai, Git!” Andrea melambai. Dia seperti dikirim pangeran berkuda untuk menyelamatkannya.


Tanpa sengaja dia juga melihat mobil Zellina keluar gerbang. Andrea tidak mau Zellina semakin ngambek.


“Aku sudah dijemput, Kak, maaf ya, duluan,” pamit Andrea. Dia beranjak dari duduknya, menghampiri pangeran berhelm.


Yadi memandangi Andrea yang buru-buru naik ke motor.


“Ndre, kamu?” tanya Gigit.


“Sudah, jalan aja!” bisik Andrea, sambil mencolek pinggang Gigit.


“Ini helmnya!” Gigit menyodorkan helm, setelah kaget kegelian.


“Oh, iya, maaf.“ Andrea melambai kepada Dale agar mengikutinya. Yadi mengangguk, membalas lambaian tangan Andrea.


Dale tersenyum geli ketika melewati Yadi. Sedikit usil, dia meniup kuping Yadi. “Bukan dadah sama kamu, gere, eh ... ge er!” ledeknya.


Yadi terkejut, dia mengusap-usap kupingnya yang tiba-tiba sejuk.


Di atas motor Andrea diam saja, dia memikirkan sesuatu.


“Langsung pulang, Ndre?” tanya Gigit.

__ADS_1


“Nggak, aku ada urusan dulu.”


“Tadi siapa?”


“Kakak kelas.”


“Oh, kenapa menghindar?”


“Nggak kok, aku buru-buru. Aku turun di sini aja, Git.” Andrea menepuk bahu Gigit.


“Di sini?” Gigit melambatkan laju motornya. Andrea turun dari motor, dan menyerahkan helmnya.


“Terima kasih, ya.”


“Sebenarnya kamu mau ke mana? Ayo aku antar!”


Andrea membereskan rambutnya. “Ada keperluan, sekali lagi terima kasih.” Dia buru-buru menyeberang jalan, diikuti Dale.


Gigit menatapnya. Andrea berjalan tanpa menoleh kiri kanan seolah jalanan kosong, tetapi kendaraan yang akan dilewatinya mendadak berhenti.


Andai saja Gigit tahu, saat itu Andrea sedang berjalan bersama bodyguard gantengnya. Dia mengacungkan tangan pada setiap kendaraan yang mendekat, menggunakan kekuatannya menekan rem pada setiap kemudi.


Andrea menyebrang untuk menyetop angkot, menuju arah lain. Gigit yakin, Andrea tadi hanya menghindari kakak kelasnya.


“Kita mau ke mana, Neng?” Dale duduk di depan dekat sopir, padahal angkot kosong melompong.


“Bawel,” jawab Andrea.


Sopir angkot melihatnya dari kaca spion depan. Memastikan Andrea bicara sama siapa.


“Ya sudah. Enak juga ya naik mobil.” Dale menggoyang-goyang badannya. Dia mulai memegang segala yang ada di sana.


Andrea mengernyitkan dahi, ketika Dale memegang stir yang sedang dipegang sopir.


“Sstt!” Andrea mendesis.


Dale menengok.


Andrea menggelengkan kepalanya.


Dale cengar-cengir.


Sopir angkot semakin curiga dengan kesehatan pikiran Andrea.


“Turun di mana, Neng?” tanya sopir angkot.


“Di depan, Mang. Kantor pemasaran real esteate."


Angkot berhenti di sebuah kantor pemasaran perumahan elite. Andrea turun, membayar angkot untuk dua orang.


“Kembaliannya, Neng!” teriak sopir angkot. Andrea yang buru-buru berjalan tidak mendengarnya. “Benar-benar melamun si Neng,” katanya lagi.


Andrea duduk di sebuah bangku kios kecil di seberang kantor ibunya. Dia mengambil sekaleng minuman dingin dari kotak es.


“Berapa, Mang?” tanyanya pada pemilik kios yang sedang memukul-mukul bongkahan es dengan segenap tenaganya.


“Tujuh ....” Brak!! Es bergeming. “Ribu ....” Brakk!! Pukulan selanjutnya es sedikit retak.


Andrea meringis, melihat pemilik kios geram dengan es baloknya.


Dale berjongkok, memerhatikan es yang mengepul.


“Jagoan ya, Neng. Tangannya nggak kepanasan,” kagumnya.


Andrea mau menjawab, tetapi dia ingat Dale tidak kelihatan.


Dia hendak mencari uang di sakunya ketika matanya melihat ibunya keluar dari kantornya. Bersama seorang pria paruh baya. Mereka masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu kantor.


happy reading ...


readers, jangan lupa vitamin buat author yaa, like, komen, dan vote ... hehe

__ADS_1


thank you somaayy (ala Zellina)


__ADS_2