
Motor Dodo memasuki halaman rumahnya. Dodo terlihat kacau dan kotor. Bu Nisma menyongsong dengan wajah khawatir.
“Do, Andrea belum pulang.”
Dodo mematikan mesin motornya. Sikap ibunya mulai membuat dia gerah. Dia juga haus, lapar, kotor, dan lelah. Yang dibicarakan malah adik sepupunya itu.
“Dia di rumah sakit, Mbu.”
“Apa? Kenapa sampai di rumah sakit? Siapa yang sakit?”
“Andrea. Dasar, nekat. Dia terjun ke jurang.” Dodo turun dari motor.
“Maksud kamu apa? Dia mau bunuh diri?”
“Bukaan.” Dodo melewati ibunya yang sedang penasaran.
“Kata kamu terjun ke jurang.”
“Jatuh, terperosok.”
“Astagfirullah.”
“Tidak apa-apa, sebentar lagi juga dia pulang.”
“Ke sini?” Bu Nisma mengikuti ke mana pun Dodo melangkah.
Dodo mengangkat bahu. “Enggak tahu.”
“Dodo ini bagaimana, si Neng dibiarkan sendiri di rumah sakit?"
“Ada teman-temannya.”
“Kamu kan kakaknya, Do. Kita keluarganya ....”
“Mbu, stop! Aku bosan dengan kasih sayang Mbu yang keterlaluan sama dia. Dia juga tidak apa-apa, hanya luka kecil saja." Kali ini Dodo merasa salah sudah cemburu kepada Andrea, karena sebenarnya yang lebay itu ibunya.
Bu Nisma berdecap, lalu berjalan ke kamarnya. Dia tidak puas dengan pernyataan Dodo.
“Ya sudah, Mbu yang akan pergi ke sana.”
Dodo menyimpan gelas ke meja makan. “Mbu baru sembuh, di luar dingin.”
“Mbu tidak apa-apa, kasihan si Neng, pasti sedih, ditinggal kamu begitu saja.” Bu Nisma bicara dari dalam kamar.
“Ya sudah, terserah Mbu.”
“Ya iya atuh terserah, Mbu. Memang kamu bisa diandalkan apa?”
Dodo membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya dengan kencang.
Jeblugg!!
Bu Nisma tersenyum kecil. Dia mengenakan syalnya, lalu menghubungi pekerjanya.
Dia berangkat dengan pekerja kebunnya, mengendarai mobil pick up yang biasa dipakai mengangkut padi atau hasil kebun.
**
Andrea diperbolehkan pulang, setelah suster mencopot infus di tangannya.
“Terima kasih, Sus," ucapnya.
"Perban di kepala sama tangan bisa diganti sendiri di rumah ya," kata perawat.
"Baik, Sus, sekali lagi terima kasih."
Suster mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berempat menyusuri lorong rumah sakit, menuju mobil.
“Kita ke mana?” tanya Ren.
“Terserah kalian, aku sekarang tidak akan memaksa.” Andrea memeluk dirinya sendiri, jalannya masih tertatih-tatih.
“Kamu jangan begitu, Ndre. Masalah kamu belum tuntas, aku tahu.” Ren menggandeng tangan Andrea.
"Kita kembali ke rumah Ua kamu saja, ya," lanjut Ren.
Andrea terdiam, dia sudah terlalu menyusahkan teman-temannya.
“Aku lapar,” rengek Zellina.
“Ya sudah kita cari makan dulu.” Gigit mengambil kunci mobil di sakunya.
Mobil pick up yang membawa Bu Nisma datang.
Bu Nisma turun tergopoh-gopoh. “Neng, tidak apa-apa, geulis?” tanyanya.
“Ua, kenapa ke sini? Aku tidak apa-apa.” Andrea merasa tidak enak.
“Ua khawatir, Neng. Benar kamu tidak apa-apa? Aduh, apa yang akan Ua bilang ke Ibu kamu kalau kamu sampai kenapa-kenapa, Ndre.” Bu Nisma bicara dengan nada menyesal.
Mereka hanya terdiam.
“Hayu, kita pulang. Kalian pasti lapar kan?” Bu Nisma memandangi teman-teman Andrea.
“Iya, Ua, hehe.” Zellina cengengesan.
“Tuh kan, kasihan teman-teman kamu, ayo sedang apa lagi masih di sini!”
“Ya sudah, Ua ikut kami saja,” kata Ren.
“Tidak usah, Ua naik mobil itu saja.” Bu Nisma naik ke mobil pick up miliknya.
Mereka pulang bersama-sama.
Selama perjalanan Gigit tidak bicara. Andrea duduk di jok tengah, bersandar kepada pundak Ren. Dia mencuri pandang pada Gigit yang sedang menyetir.
“Kamu kenapa, Git?” tanya Andrea, melihat luka lebam di wajah Gigit.
Zellina melirik Gigit. Dia merasa tidak berhak untuk bicara.
Ren juga terdiam, takut bicara atau sebangsanya yang akan membuat semakin keruh masalah.
“Tidak apa-apa, tadi terjatuh,” jawab Gigit.
Mereka tidak ada yang bicara lagi.
Andrea mengerti, Gigit masih kecewa kepadanya, sejak pertengkaran kedua mereka di air terjun tadi.
Mobil sudah mulai memasuki kampung. Mobil beriringan di jalan besar berbatu.
**
“Langsung pulang saja, Mang. Siapkan oleh-oleh buat Andrea!” Bu Nisma bicara kepada sopir sekaligus penjaga kebunnya.
“Baik, Juragan.”
“Ua jangan repot-repot. Kita sepertinya malam ini pulang.” Andrea menunggu Bu Nisma turun.
“Eh, jangan begitu! Ini sudah malam, kalian pulang besok pagi saja. Kamu kan belum pulih benar, setidaknya istirahat dulu.”
__ADS_1
“Kita sudah berhari-hari tidak sekolah, Ua. Aku hanya ada sedikit keperluan dengan Ua.”
Bu Nisma memandangi Andrea yang terlihat sangat letih.
“Ayo masuk dulu, kita makan dulu.” Bu Nisma tersenyum.
Zellina yang sedang memeluk tiang semringah, perutnya sudah bunyi berkali-kali. Gawainya berbunyi.
“Pak Supriiiii!” teriaknya. Mulutnya monyong-monyong.
“Telat!! Aku di rumah Ua! Awas kalau telat lagi!”
Ren mencubit pinggangnya. “Sekali lagi teriak-teriak, kita tinggalin,” ancamnya. "Mending suaramu tidak kayak kaleng jatuh dari genteng."
“Pak Supri nihh, tidak bisa diandalkan,” rengek Zellina.
“Sekarang di mana dia?” tanya Ren lagi.
“Rumah sakit.”
Ren geleng-geleng kepala. Gigit masih bersandar di kap mobil, dengan wajah letih.
Selesai makan Andrea menemui Bu Nisma di kamarnya. Dodo tidak ada di rumah, dia sepertinya keluar lagi sepulang dari air terjun.
“Ua, aku mau bicara.”
“Sini, Geulis!” Bu Nisma menepuk-nepuk kasur, menyuruh Andrea duduk di dekatnya.
“Ibu sakit parah.”
Bu Nisma menekur. “Ua minta maaf, tidak jadi ke sana. Selain mendadak sakit, Ua juga dilarang Dodo.”
Andrea menggenggam tangan Bu Nisma. “Tidak apa-apa, Ua, aku mengerti. Sekarang Ibu juga sudah sadar, semakin membaik. Kemarin aku panik, jadi menelefon Ua. Tidak tahu kalau Ua juga sakit.”
“Kamu pasti sangat sedih ya, di sana sendirian menjaga Ibu.” Bu Nisma mengusap kepala Andrea yang masih ditempeli perban.
Andrea memeluk pinggang Bu Nisma, lalu menyenderkan kepalanya di pundak perempuan yang lebih berhak menjadi pengganti ibunya itu.
Andrea menangis, teringat perjanjian ibunya dengan Tante Dina.
“Kamu kenapa menangis?” Bu Nisma mengangkat dagu Andrea, mengusap air mata di pipinya.
“Ibu tidak mau operasi,” lirih Andrea.
Bu Nisma mengerutkan dahi. “Memang harus operasi?”
Andrea mengangguk. “Sebenarnya, kata dokter, tumor di kepala Ibu harus diangkat sebelum menyebar.”
“Terus?”
“Ibu tidak mau, dia malah ingin berobat alternatif saja.” Andrea menekur, lalu melanjutkan ucapannya. “Ibu tidak punya uang.”
Bu Nisma melepaskan tangannya dari pundak Andrea. Dia juga ikut menekur.
“Apa yang bisa Ua bantu, Neng?”
“Setelah aku tanya, biaya operasinya dua ratus lima puluh juta."
“Banyak sekali.” Bu Nisma terkejut.
"Itu belum biaya perawatan pasca operasi. Mungkin Ibu sudah tahu sejak awal, makanya dia malah membuat surat perjanjian dengan temannya, untuk menjadi orang tua pengganti aku jika dia meninggal." Andrea tidak kuat menahan air matanya.
Bu Nisma menatap wajah Andrea dengan heran. “Maksudnya?”
“Jika Ibu meninggal, aku akan diangkat anak oleh Tante Dina, teman Ibu.”
“Apa?”
Bu Nisma terdiam.
“Ua, apakah ayah masih punya bagian warisan dari Aki?” Andrea bertanya lirih. Dia juga mulai batuk-batuk, suaranya juga terdengar serak.
Bu Nisma masih diam. Dia beranjak, mengambil syal dari lemarinya.
“Dingin, sebaiknya Neng istirahat dulu.”
“Ua.” Andrea mendesak Bu Nisma.
“Tentu saja, Neng. Ayah punya hak besar dari warisan Aki ini, yang sekarang tentu akan menjadi milik kamu sebagai anaknya. Ua akan pikirkan, kamu jangan khawatir ya,” bujuk Bu Nisma. Dia membalutkan syal di leher Andrea dengan lembut.
“Ua, terima kasih.” Andrea memeluk Bu Nisma.
Bu Nisma mengusap-usap punggungnya. “Tetapi saat ini, Ua tidak ada uang. Mungkin Ua akan mencoba menawarkan sawah atau kebun dulu. Itu tidak bisa cepat, Neng."
“Tidak apa-apa, asalkan Ua setuju membantu, aku sudah lega. Semoga bisa cepat dapat uangnya ya, Ua.” Andrea menarik tubuhnya dan menatap Bu Nisma dengan mata berbinar.
“Kamu doakan ya, biar Ibu juga bisa cepat operasi. Apa Dodo tahu?" tanya Bu Nisma.
“A Dodo belum tahu, aku belum sempat ngobrol.” Andre memeluk Bu Nisma lagi. Hatinya lega sekarang, ibunya ada harapan untuk sembuh.
"Iya, iya ...." Bu Nisma mengusap-usap punggung Andrea.
Andrea menghampiri teman-temannya di teras. Di lehernya melilit syal.
“Kalian belum tidur?” tanya Andrea. Gigit memutar-mutar senar gitar, yang ditemukannya di sudut ruang tamu.
Ren menguap. “Aku mengantuk, yuk tidur, Zell!” Ren mengajak Zellina.
“Kalian duluan deh, aku masih belum mengantuk sekalian tunggu Pak Supri.”
“Ah, iya, ayah angkatnya Zellina belum datang juga ya,” kata Ren. Zellina mendelik tajam.
Andrea menatap Gigit. “Kamu belum mau tidur, Git?”
Gigit menggeleng, dia sedang tidak banyak bicara saat ini. Andrea masih belum ingin membahas persoalan mereka, makanya membiarkan dulu Gigit seperti itu.
“Ya jangan dulu, kan mau temani aku,” kata Zellina.
Ren yang sudah masuk berbalik melihat ke arah Zellina. “Kamu, menunggu Pak Supri, atau menunggu Kak Dodo, Zell?” tanya Ren.
“Apa sih?” Zellina melempar Ren dengan bungkus wajit ketan.
Ren menghindar sambil tertawa cekikikan.
Andrea melihat mereka dengan wajah lucu.
“Menunggu si Aa?” tanyanya.
“Iya, Ndre, jadi begini ....” Ren tidak melanjutkan ucapannya karena Zellina menjerit berisik.
“Reeeeenn!!”
“Berisik, Zell!” Ren meloncat, menutup mulut Zellina dengan tangannya. “Kebiasaan banget, ini kampung orang, nanti kamu disatroni orang sekampung.”
“Bodo amat.” Zellina kembali berteriak.
“Heh, sudah! Yuk, Ren, kita tidur, aku lelah sekali.” Andrea menarik tangan Ren.
“Sana tidur! Jangan lupa bangun!” teriak Zellina. Ren menjulurkan lidahnya.
Gigit memandangi Zellina. Bersama-sama beberapa hari saja, sudah seperti kenal lama dengan cewek ini. Sifatnya susah ditebak, kadang manja, kadang juga bisa bersikap dewasa. Yang pasti, Gigit tahu kalau Zellina cewek kurang perhatian orang tua.
__ADS_1
“Apa lihat-lihat?” tanya Zellina. Dia melihat dirinya sendiri.
Gigit bergumam, “Ge er banget, siapa yang lihat kamu. Aku hanya lihat kelakuanmu.”
“Ada apa dengan kelakuanku?”
“Norak!”
“Whats?” Zellina tidak menyangka Gigit akan menilainya seperti itu. Padahal dia selama ini selalu menjaga penampilan, sebagai seorang cewek berkelas, bukan norak seperti yang dikatakan Gigit.
“Iya lah, kamu kaya, baik, dan cantik, tetapi sayang, norak.”
“Berani sekali kamu!” teriak Zellina.
“Tuh kan, lihatlah. Kamu akan lebih baik jika bisa menjaga sikap, Zell.”
“Maksudnya?”
“Apa sih yang kurang dari kamu, uang banyak, pengawal punya, teman banyak. Kenapa masih harus mencari perhatian dengan bicara teriak-teriak seperti tadi.”
“Itu kebiasaan,” sahut Zellina.
“Bukan, itu karena kamu cari perhatian. Aku lihat setiap saat kamu teriak-teriak kepada siapa saja, termasuk Pak Supri."
"Biarin saja, kalau kerjanya tidak benar kenapa harus didiamkan."
"Pak Supri memang pegawai kamu, Nona manis, tetapi dia juga orang yang lebih tua, tidak pantas diteriaki setiap waktu.”
Zellina terdiam. Dia mengambil wajit ketan lagi, lalu memakannya. “Iya, Pak Gigit yang tua.”
Gigit tersenyum dipaksakan.
Suara motor Dodo memasuki halaman. Dia membonceng Pak Supri.
“Pak Sup ....” Zellina tidak jadi berteriak, ingat ucapan Gigit. Gigit memandanginya.
“Pak Supri ketemu Kak Dodo di mana?” tanyanya dengan lembut, ketika Pak Supri terbungkuk-bungkuk menemuinya di teras.
“Di jalan depan, Non, saya lupa lagi jalannya, sampai kesasar.” Pak Supri bicara pelan.
“Ya sudah, Pak Supri tidur dulu deh. Besok pagi kan harus menyetir.”
Pak Supri sedikit heran dengan nada bicara Zellina yang tiba-tiba lembut, tidak seperti biasanya.
“Baik, Non.” Pak Supri mengeloyor, menuju mobil.
“Pak Supri mau ke mana?” tanya Dodo.
“Tidur di mobil, Den.”
“Di dalam saja, masih banyak kamar kosong," sahut Dodo.
“Pak Supri tidur sama saya saja, berdua. Yuk, Pak!” Gigit beranjak, merangkul pundak Pak Supri. Dia malas berhadapan dengan Dodo.
“Tapi, Den ....”
“Den, Den, lama-lama aku punya kumis kayak Pak Raden.” Gigit mengajak jalan Pak Supri, seperti kepada sahabatnya.
Zellina meliriknya. Gigit benar-benar tidak pernah membeda-bedakan orang. Dia jadi malu dengan sikapnya selama ini kepada Pak Supri.
“Belum tidur?” pertanyaan Dodo mengagetkannya.
“Eh, belum. Tadi kan menunggu Pak Supri.”
Dodo masih berdiri, memainkan kunci motor di tangannya. Dia mendadak tidak tenang kalau dekat Zellina. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
Di depan Mimi, Edah, Ucu, maupun Yeyen, biasanya tidak seperti itu, padahal mereka bunga desa yang mempunyai badan aduhai.
Zellina memiliki keunikan dalam parasnya, matanya bulat bersinar, bibirnya penuh menggoda, kulitnya putih bersih, hidungnya licin tanpa komedo, dan rambutnya berkilau seperti tidak pernah kusut, meskipun seharian di luar. Cewek banget, dan dia suka.
Dodo rela jadi bucin yang siap mengantarnya belanja-belanja atau perawatan setiap saat.
Dodo mencuri pandang pada Zellina yang sedang memainkan gawainya.
“Euhm, belum terlalu malam, mau jalan-jalan?” tanya Dodo.
Zellina melihat kanan kiri, mengira Dodo bicara dengan orang lain.
Zellina menunjuk dadanya. “Aku?”
“Iya, kamu, mau jalan-jalan?”
“Ke mana?”
“Ke mana saja, di sini juga ada kota. Kita bisa ke sana.”
Zellina memainkan bibirnya, matanya juga berkedip-kedip, Dodo semakin terpesona.
“Boleh, sebentar saja.” Zellina berdiri.
“Yes!” gumam Dodo. “Kamu pakai jaket ini saja, aku bawa yang lain. Tidak bau kok, ini baru dipakai.”
Zellina tersenyum, dia menerima jaket yang diberikan Dodo. Dodo cepat menyambar jaket lain yang ada di kursi tamu.
Zellina yakin kedua temannya sudah berangkat ke alam mimpi, dia saat ini ingin menjadi dirinya sendiri. Zellina yang asli, tanpa manja, tanpa teriak, tanpa lebay, apalagi beloon, seperti selama ini.
Dia ingin menjadi Zellina yang elegan, terpelajar, dan layak mendapat perhatian.
Motor meraung, dua anak manusia itu berboncengan menerobos malam.
Ren dan Zellina mengintip dari jendel.
“Kamu percaya?” tanya Ren. Andrea termangu. “Sepertinya kakakmu suka sama dia.”
Andrea mengangkat bahu. “Kita lihat saja nanti.” Andrea menjatuhkan diri di kasur.
“Dia tadi menolong kamu.”
“Iya, si Aa padahal tidak pernah mendaki.”
“Dia sayang sama kamu.”
“Aku tahu, dia juga yang berhasil membebaskan Dale. Oh iya, bagaimana dengan Bu Anis? Ada yang bisa kamu hubungi?”
Ren menggeleng. “Paling besok pagi, aku tanya kepada anak-anak. Bagaimana dengan urusan kamu?”
“Ua mau mengusahakan uang untuk operasi Ibu, dia akan menjual warisan bagian ayahku.”
“Syukurlah, sekarang kamu bisa tenang.” Ren memegang tangan Andrea.
“Tidur yuk, biarkan saja si Pecel menikmati perasaannya.” Ren menarik selimut.
“Biar dia bisa melupakan Yadi,” sahut Andrea.
Ren menerawang, melihat-langit kamar. “Cowok seperti dia memang harus cepat dilupakan, psikologinya jelek."
Andrea meliriknya, ada rona kecewa dari wajah Ren. Andrea tahu, cinta Ren kepada Yadi tidak bisa begitu saja luntur. Dia sudah menjadi secret admirer cowok itu sejak masih di bangku SMP.
*bersambung
Terima kasih untuk yang terus setia membaca di sini. Jangan lupa menjejakkan jempol di ikon like, sepatah atau dua patah kritik atau saran di kolom komentar.
__ADS_1
Terima kasiiihh ❤❤*