My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 91 Dijemput Aparat


__ADS_3

Pagi-pagi Pak Supri datang, membawa sarapan. Tiga dara itu makan dengan penuh keceriaan. Andrea yang tidak suka kesedihan, berusaha melupakan masalah-masalahnya. Dia juga tidak ingin terus-terusan menularkan kegalauan kepada teman-temannya.


"Tumben, aku lapar, biasanya aku tidak sarapan." Ren mencomot roti isi.


"Bagaimana tidak lapar, sarapan gratisan," sahut Andrea.


"Siapa bilang?" Zellina mendelik.


"Hah? Kamu minta bayaran?" tanya Ren.


"Iya dong." Zellina menggerak-gerakkan alisnya. "Dengan dengarkan curhat aku satu jam."


Ren menghentikan aksi mengunyah. "Dasar tengkulak."


Andrea menuang susu, lalu meminumnya.


"Nah, kalau itu, bayarnya dengan info tentang Kak Dodo." Zellina menujuk kotak susu di tangan Andrea.


"Iya, nanti aku kasih info, bagaimana info kebiasaan dia kalau sedang jongkok di WC?" tanya Andrea.


"Ndreeee!! Kamu jangan merusak lamunan indahku tentangnya dong!" Zellina mencak-mencak.


"Atau kalau lagi ngupil?" tanya Andrea lagi.


"Iiiiihh, kamu mah, jahaaadd ...!"


Andrea dan Ren cekikikan, melihat Zellina illfil.


"Sudah, sudah! Jangan rusak pagi yang cerah ini dengan marah-marah, Zell. Nanti manisnya berkurang." Ren menengahi.


"Si Andrehehanusa tuh!"


“Iya sudah. Pokoknya, pagi ini jangan ada yang galau. Lupakan semua masalah, kita nikmati liburan ini dengan bersenang-senang.” Seperti biasa, Ren yang pidato. "Selesai menengok Bu Anis, kita ke mol, yuk!” ajaknya. Menebar racun.


Andrea terdiam. Dia ingat perkataan ibunya untuk berhemat, karena tidak tahu dia harus hidup sendiri seperti itu sampai kapan. Nyari kerja juga baru rencana.


“Ayoooo!!” Zellina berteriak, lalu menenggak susunya. Dia yang kena racun Ren. "Aku mau belanja, cari baju couple, buat aku dan Kak Dodo."


"Hoeekk, lebay." Ren mencibir.


"Jomlo dilarang sirik," sahut Zellina.


“Bagaimana nanti saja deh,” sahut Andrea.


"Memang ada acara lain lagi, Ndre?" tanya Ren.


"Ngga, tapi kan kita tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti. Kan aku sudah bilang, berencana pertemukan Bu Anis dan Pak Iwan."


"Oiya, aku lupa." Ren menepuk jidat Zellina.


Zellina melotot. "Kamu kan punya jidat, kenapa harus tepuk jidat Gue?"


"Maaf, jidat aku terhalang jilbab. Jidat kamu kan nganggur."


"Kata siapa? Jidat aku sibuk." Zellina mengisi jidatnya dengan poni.


“Eh, Semalam itu ada apa, sebenarnya?” tanya Zellina, rupanya dia penasaran.


“Ada bulan, ada lembing, ada tomcat, kupu-kupu malam.” Ren yang menjawab.


“Aku serius, Mauren!” seru Zellina. Tinjunya mengacung ke udara.


“Ada maling, ketiduran di pohon,” kata Andrea.

__ADS_1


“Hah, serius?”


“Giliran yang bener, enggak percaya.” Ren sewot.


“Maling apa? Mangga?” Zellina melihat pohon di halaman rumah.


“Kan ketiduran, jadi enggak sempat maling.”


Gawai Andrea bergetar, lalu terdengar ringtone dari lagu Sambalado. Nomor tidak dikenal muncul di sana.


“Hallo!” Andrea menjawab panggilan.


Tidak ada suara, tetapi telefon masih tersambung.


"Hallo!" ulangnya.


Bersamaan dengan itu Pak Supri muncul.


“Non, ada tamu untuk Neng Andrea, Neng Indah, dan Neng Sari."


Mereka semua melongo, lalu tertawa tertahan. Pak Supri kebingunan.


"Pak Supri, itu tamu Andrea doang. Namanya kan Andrea Indah Sari," kata Ren.


"Oh, begitu ya?" Pak Supri garuk-garuk kepala.


Karena masih menerima telefon, Andrea bicara pelan, “siapa, Pak?”


Pak Supri terlihat ragu untuk bicara.


“Polisi,” ujarnya.


“Hah?” Ren dan Zellina terkejut. Andrea langsung menyimpan gawainya di meja makan.


Dia segera melihat ke teras.


“Selamat pagi, bisa bicara dengan orang tua Andrea Indah Sari?”


“Pagi, Pak. Ibu saya sedang tidak ada di rumah, Pak. Saya Andrea Indah Sari.”


Polisi itu memandangi temannya. “Bagaimana, Pak? Walinya tidak ada di rumah.”


“Apa ada saudara yang bisa dijadikan wali untuk menemani saudara ke kantor kami?” tanya polisi yang satu lagi.


Ren, Zellina, dan Pak Supri saling pandang.


Andrea menggeleng.


“Sebentar, Pak. Ini ada apa ya?” tanya Pak Supri. Dia merasa paling tua dari yang ada di sana, dan merasa harus bertindak selayaknya orang yang lebih tua.


“Anda siapanya Nona Andrea?”


“Saya sopir temannya, Pak.”


“Saya, Pak.” Zellina mengacungkan tangan. “Dia sopir saya,” lanjutnya.


Polisi itu mengangguk-angguk. “Begini, kami ditugaskan untuk menjemput Andrea Indah Sari sekarang juga, sebagai saksi atas pencemaran nama baik Saudara Yadi Sanjaya. Jadi, sebaiknya Anda segera menghubungi saudara, atau wali Anda, untuk ikut kami.”


“Pencemaran nama baik?” Ren mengernyitkan dahi. “Bukannya kasus penculikan ya, Pak?” Dia dan Andrea berpandangan.


“Bukan, ini kasus pencemaran nama baik, yang diajukan oleh orang tuanya Yadi Sanjaya. Bapak Wirawan Guna Wijaya."


Andrea tersentak, tidak menyangka akan berurusan juga dengan orangtuanya Yadi.

__ADS_1


Apa lagi ini? Ternyata Yadi masih ingin bermasalah denganku. Aku tidak boleh gentar, karena aku tidak bersalah.


“Ndre ....” Zellina memegangi tangan Andrea. “Maksudnya apa?”


“Aku juga tidak tahu.” Andrea melangkah. “Apa tidak bisa saya pergi sendiri, Pak?” tanyanya, dengan suara tegas.


“Anda masih di bawah umur, jadi masih perlu pendampingan wali.”


“Tidak apa-apa, Pak. Saya dari kecil juga hanya tinggal dengan ibu saya. Beliau sekarang sakit, jadi saya harus bisa menyelesaikan masalah saya sendiri.” Andrea bicara seolah bisa menangani semuanya sendiri.


“Anda yakin?”


Andrea mengangguk.


“Ndre?” Ren memegangi tangannya. “Biar aku hubungi Papa."


“Iya, Ndre. Papa aku juga pasti bisa membantu. Dia ada beberapa teman pengacara." Zellina juga merapatkan tubuhnya ke Andrea.


“Tidak usah.” Andrea memegangi tangan Ren dan Zellina. Dia tersenyum ke arah Ren.


“Aku sendiri saja, tidak apa-apa. Lagian kenapa harus takut dan ragu kalau kita merasa tidak punya salah. Kalian tenang saja, aku pasti bisa mengatasinya. Aku kan hanya sebagai saksi saja, iya kan, Pak?"


"Betul sekali. Kalau begitu menunggu apa lagi, mari ikut kami," kata Pak Polisi. Ibu Polwan menggandeng tangan Andrea untuk masuk ke mobil.


Ren tahu, Andrea berani karena ada Dale. Tetapi ini masalahnya dengan hukum, apa bisa Dale ikut campur masalah seperti itu?


“Kalau begitu, aku ikut. Pak, beri kamu waktu berganti pakaian. Kami yang akan mengantar Andrea Indah Sari.” Ren bicara kepada polisi.


“Baiklah, tetapi Nona Andrea harus ikut dengan mobil kami.”


"Lho, katanya dia saksi, kenapa dibawa pakai mobil polisi?" Ren bicara dengan nada heran.


"Semua harus sesuai prosedur," sahut Pak Polisi.


Ren tidak tahu menahu tentang prosedur atau apalah itu, tetapi rasanya ngenes juga ketika harus melihat Andrea dibawa pakai mobil polisi. Sudah seperti penjahat kelas kakap.


Ren dan Zellina cepat berlari, berganti pakaian.


“Pak Supriiiii ... Siapkan mobil!”


“Baik, Non!”


Andrea masuk ke dalam mobil polisi. Dale mengikutinya dari belakang sambil makan salak.


Para tetangga melihat dengan heran, lalu mulai berbisik-bisik asyik.


"Andrea kenapa dibawa Polisi?"


"Cepat lapor Pak Rt!"


"Terlibat apa anak itu?"


"Jangan-jangan mereka terlibat narkoba."


"Digerebek??"


"Haduhh, tercemar deh perumahan kita."


"Kasihan ya, Bu Yuli. Sedang sakit, anaknya dibawa Polisi. Sudah tertimpa, kejatuhan tangga."


"Sudah jatuh, tertimpa tangga kali, ah!"


"Woyy, ayo siapa yang mau lapor Pak Rt?"

__ADS_1


Mobil yang mereka tonton sudah tidak kelihatan. Giliran ada yang mengingatkan untuk laporan ke Pak Rt, satu per satu beringsut masuk ke dalam rumah.


bersambung


__ADS_2