My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 46 Renungan Sang Guru


__ADS_3

Setelah yakin Akri duduk di tempatnya, Andrea duduk kembali di sebelah Ren.


"Kenapa kamu bisa menuduh Akri seperti itu.”


Ren tidak menjawab, dia mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas.


Pak Bayu masuk, wajah gantengnya sedikit memudar oleh cuaca yang lumayan panas hari itu.


Kelas diam sebentar, lalu terdengar Pak Bayu mulai mengajar, diikuti anak-anak yang mulai asyik dengan gawainya, dengan rumpian, bahkan ada yang kipas-kipas dan mapan tidur.


Hanya mereka yang ada di barisan depan yang masih tegak duduk, sambil menahan kantuk. Setiap guru sedang mengajar, sebagian dari mereka seperti tersihir, tidak konsentrasi, dan akhirnya mengantuk.


Andrea memerhatikan satu per satu teman sekelasnya. Dia sekarang merasa prihatin, mereka semua korban keegoisan Fany.


Matanya melirik ke arah Fany yang sedang membaca komik, lalu mendengus kesal.


Dia geram, tetapi tidak tahu harus bagaimana, untuk meminta Dale datang juga dia sekarang berpikir dulu, demi kedamaian kelasnya. Jin yang mengikuti Fany terlalu banyak akal bulus, dia aka melakukan apa saja agar bisa bentrok dengan Dale.


Pusing memikirkan Fany, akhirnya Andrea menjatuhkan pandangan pada kaca jendela kelasnya, menikmati sawah sambil melamun. Memikirkan Pak Iwan yang sedang patah hati.


Seharusnya perasaan Pak Iwan bisa jadi pemecah masalah kelasnya, tetapi keputusan Bu Anis sudah bulat, kuat, sekuat tusuk konde miliknya. Andrea memeriksa benjut di kepalanya, masih terasa.


Mengingat tusuk konde, Andrea jadi ingat gebetan Dale.


Bukankah dia bisa bebas jika Bu Anis menikah? Ah, andai saja Bu Anis bisa bersatu dengan Pak Iwan, tentu Dale akan bahagia. Dale jin yang pengertian, walaupun belum tentu mereka bisa bersatu, tetapi kalau Lyla bebas dia akan bahagia. Dale, bahagia banget nanti yang jadi istrimu, batinnya.


Andrea melamun sampai pelajaran Pak Bayu berakhir, dan dia juga tidak mengerti apa-apa. Bel istirahat pertama berbunyi.


“Ke kantin yuk!” ajaknya kepada Ren.


“Yuk, aku capek, lapar banget habis bersih-bersih toilet.”


Zellina bersama tim basket tidak jelasnya berkerumun di depan pintu kelas, ketawa-ketiwi, touch up kanan kiri atas bawah, pamer bondu dan jepitan, jauh banget dari yang namanya atlet.


Andrea dan Ren tidak menghiraukan kelakuan Zellina dan teman-temannya. Mereka menerobos.


“Eeh, Ijah-Ijah mau ke mana?” Zellina tersenyum mengejek. “Cocok banget ya ....” Zellina tidak melanjutkan ucapannya, karena teman-temannya sudah riuh tertawa.


Andrea menghampirinya. “Kamu kenapa sih, Zel? Aku sama Ren salah apa sama kamu? Jangan mulai lagi cari masalah deh. Kemarin-kemarin kita masih sabar dengan sifat kamu. Bukan karena kamu anak orang kaya, punya segalanya. Aku dan Ren tulus sayang kamu karena kamu itu sahabat kita.”


“Ndre, sabar!” Ren memegang bahu Andrea.

__ADS_1


Zellina santai saja, memeriksa kuku tangannya yang lucu pakai nail art.


“Ini sudah keterlaluan, hanya gara-gara cowok, kamu tega mengatai kita semau mulutmu. Memang kamu siapa? Puteri raja? Yang semua hamba harus menurut?” Andrea masih kesal.


Zellina masih asyik dengan kukunya.


Ren menggamit tangan Andrea. “Sudah, aku sudah lapar.”


“Sudah? Tuh temanmu lapar, di rumah tidak ada yang bikin sarapan kali ya?” Zellina melangkah pergi, diikuti teman-temannya.


Sekarang Ren yang tidak terima. Dia mengejar Zellina, lalu membalikkan tubuhnya dengan kencang.


"Aww!!" Zellina memekik sambil memegang bahu.


“Maksudnya apa?” seru Ren.


“Santai dong! Jangan kasar!” Zellina menatap tajam Ren.


“Jawab dulu, maksudnya apa ngomong begitu tadi?”


“Yang mana? Lupa ....” Zellina membalikkan badan dan berjalan lagi. Tetapi tiba-tiba berhenti, lalu berbalik menghampiri Ren.


"Jangan lupa, makan yang banyak, di rumah hanya bisa masak mie instan.”


Di depan aula, kelompok kakak kelas cantik menyambutnya. Mereka berjalan ke kantin tempat kakak kelas berkumpul. Sudut bibir kakak kelas cantik tersungging sedikit, lalu mengacungkan jempol terbalik kepada Andrea dan Ren.


“Zellina sedang terkena hasut sana sini.” Andrea berbisik.


“Sepertinya dia tahu tentang mamaku.” Ren berjalan ke kantin dengan wajah termenung.


“Ren, apa Akri tahu?” Andrea masih penasaran dengan Akri yang tiba-tiba dituduh Ren menelefonnya.


Ren duduk di tembok kelas dekat taman. “Iya, dia tahu. Makanya aku pikir dia yang sengaja mau kerjai aku.”


“Kalian sepupuan? Ren aku kok penasaran sama kalian, kalian ini sepertinya dekat tetapi sering bentrok juga. Apalagi kalau sedang permasalahkan si Zainal. Sebenarnya kalian bertiga saudaraan?” Andrea memasang wajah penasaran.


Ren membuang nafas berat. “Apa sih, Ndre, masa sudah ada si Lele di sampingmu pun masih saja penasaran dengan sesuatu.”


“Lho, kamu samakan aku dengan burung di sana, yang dijual orang, Ren?” Andrea tersenyum kecut.


“Aku bukan si Fany yang manfaatkan jinnya untuk kepentingan pribadi. Kalau tidak terdesak, aku lebih suka mengetahui dari orangnya langsung. Dale juga tidak seperti itu, menghasut sana sini, menguping kanan kiri, demi kepuasannya.”

__ADS_1


“Iya, iya, tahu ... Sudahlah, aku lapar.” Ren menarik tangan Andrea yang masih berwajah kecut, kayak cucian seminggu kalau kata ibunya.


"Kamu perintahkan si Lele menemui Mama lagi kapan?" tanya Ren.


"Aku suruh setiap hari, tetapi sambil mengajak mamamu untuk sedikit demi sedikit melupakannya. Mudah-mudahan mama kamu bisa menerima nasihat Dale."


Ren menatap Andrea dengan terharu. "Aamiin, mudah-mudahan ya, Ndre, Dale berhasil."


"Giliran lagi ada maunya manggilnya Dale, bukan Lele." Andrea menarik ujung jilbab Ren sambil berlari.


"Andreee ...."


Mereka berpapasan dengan Yadi. Andrea buru-buru masuk ke kantin, sedangkan Ren sedikit rikuh, karena Yadi tidak membalas senyumnya.


Di kediamannya, Bu Anis sedang merawat tanaman di tamannya. Walaupun matanya menatap tanaman-tanaman hias itu, tetapi hatinya entah ke mana.


Perkataan anak didiknya kemarin telah membuatnya tidak nyaman tidur, dan tidak enak makan. Seumur hidupnya baru dua kali dia merasakan hal seperti ini.


Pertama, dulu ketika jatuh cinta pada cinta pertamanya di Jawa, yang harus kandas karena cintanya harus meneruskan pendidikan di luar negeri, dan malah hidup selamanya di sana dengan wanita pribumi.


Kedua, sekarang ini, sama persis. Gelisah mengetuk-ngetuk hatinya, seperti perasaan yang menanti jawaban, tetapi tidak ada yang bisa menjawab, kecuali menatap langsung matanya.


Tidur miring dadanya berdebar, terlentang wajahnya terbayang. Tengkurap malah engap, nungging, pusing.


Bu Anis tahu jika itu perasaan cinta, setelah bertemu dengannya hatinya akan lega, lalu berbunga-bunga.


Dia menyentuh satu per satu daun aglonema yang dirawatnya.


Aku harus mencari jawaban, apakah hati ini akan penuh bunga jika bertemu dengannya, atau biasa saja? Tapi bagaimana caranya? Dalam hatinya dia bertanya.


Bu Anis kini termangu menopang dagu. Dia mencoba membayangkan Juragan gabah itu lagi, menari-nari di atas jerami dengan lagu Panen Padi. Bunga padi di selipkan lelaki itu dengan wajah memuja, seperti pemuja dewi padi.


Bu Anis tersenyum sendiri mengingat renungannya barusan. Tusuk konde yang ada di meja riasnya bersinar sebentar, seolah ikut merasakan bahagia.


bersambung


*Kira-kira, Bu Anis akan berubah pikiran apa tidak, Readers?


Tunggu jawabannya di episode selanjutnya yaa


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan rate yaa, biar Author semangat nulisnya

__ADS_1


Terima kasih*


__ADS_2