
Pagi harinya Om Azi tidak hadir di meja makan. Tante Dina terlihat biasa saja, Andrea tidak mau menyinggung apa-apa dan siapa-siapa, menyadari dirinya hanya menumpang di rumah itu.
Aku mah apa atuh, hanya titipan Tuhan yang kebetulan manis. Andrea membatin.
Dia juga baru tahu, orang gedongan, smart, dan dewasa, kalau ada masalah bersikap biasa saja. Pandai menyembunyikan perasaan.
Coba kalau Bi Cicih yang dimadu, satu kampung akan heboh karena tangisan menyayat hati siang dan malam. Belum lagi kegalauan yang akan terjadi, pasti kalah keramaian pesta padi. Gabah dihambur-hambur karena Bi Cicih ngamuk.
Suara panggilan masuk dari gawai Tante Dina. Tante Dina memberi isyarat kepada Andrea.
“Pak Singgih,” bisiknya.
Andrea tidak jadi menyuapkan roti yang sudah ada di bibirnya.
“Ada apa, Tan?”
Tante Dina memberi isyarat lagi agar Andrea diam dulu. Dia terlihat serius berbicara di telefon. Andrea menunggunya dengan sabar.
“Ndre!” Tante Dina berteriak kecil. Andrea sampai terkejut.
“Kenapa, Tante?”
“Mereka mencabut tuntutannya,” ujar Tante Dina dengan wajah gembira.
Andrea berdiri. “Benar, Tan?”
Tante Dina mengangguk, matanya berbinar. Andrea tidak kuasa menahan gembira, dia berlari memeluk Tante Dina.
“Tante, terima kasih, Tante. Aku tidak tahu kalau tidak ada Tante yang mengurus aku.” Andrea terharu di pelukan Tante Dina.
Tante Dina mengusap-usap punggung Andrea. “Sama-sama, Ndre. Tante senang kamu bebas.” Dia ikut terharu, diusapnya air mata yang bergulir di sudut matanya.
Andrea semakin erat memeluk Tante Dina, seperti dia memeluk ibunya. Hangat.
“Kamu tidak ingin mengabari teman-teman?” Tante Dina mengusap pipi Andrea. Keduanya sekarang sudah selesai meluapkan emosi.
“Mau, Tante.” Andrea bicara masih dengan mata masih berkaca-kaca. Dia segera berlari ke kamar. Memanggil Dale dengan mantranya.
“Neng bebas?” Dale yang pertama kali dia kabari.
“Iya, Dal. Dan kamu tidak usah bersaksi, karena mereka mencabut tuntutannya.” Andrea membinar, Dale juga.
“Syukurlah kalau begitu. Neng tidak usah khawatir lagi masuk bui."
“Iya, Dal. Aku lega banget. Akhirnya besok bisa masuk sekolah dengan tenang.”
“Dan Neng bisa pulang ke rumah lagi kan?”
“Tentu, Dal.” Andrea segera membereskan barang-barangnya yang sedikit itu. "Aku akan pulang sekarang juga. Aku kangen dengan rumah."
“Neng yakin?” tanya Dale.
“Maksud kamu?” Andrea mengernyitkan dahi.
“Neng yakin mau meninggalkan Tante Dina sekarang, dalam keadaan Tante Dina sedih seperti itu?”
Andrea meneruskan membereskan barang-barangnya.
“Tante Dina tidak kelihatan sedih. Dia bisa menangani masalahnya sendiri.”
Dale mengelus-elus gorden jendela. “Tetapi, ada baiknya Neng membantunya sedikit, setidaknya meringankan sedihnya. Kelihatan atau tidak, orang yang sedang sedih pasti butuh dukungan.”
Andrea memandangi Dale. Dia selama ini tidak berpikir ke arah sana. Malah makhluk gaib itu yang punya kepekaan.
“Kamu benar, Dal. Tante Dina sudah baik sekali sama aku, aku memang anak yang tidak tahu balas budi.” Andrea menekur.
“Belum terlambat, Neng.”
"Begitu ya?" Andrea berdiri. “Terus, apa yang bisa aku lakukan? Tante Dina kan tidak tahu aku mengetahui semuanya. Nanti malah mengira aku tukang nguping lagi.” Andrea ngejogrok lagi di kasur.
“Neng, Neng." Dale melilitkan gorden ke teralis, lalu menghampiri lemari pakaian, menclok di atasnya.
"Tante Dina itu tidak mungkin akan membeberkan masalahnya. Neng tinggal besarkan hatinya saja, bilang kalau Neng sangat bersedia jika Tante Dina menganggapnya seperti keponakan sendiri.”
__ADS_1
“Hah?” Andrea mendongak ke arah Dale.
“Selama ini, hanya Tante Dina yang selalu bicara kalau Neng sudah dianggap keponakannya sendiri, sedangkan Neng tidak pernah menganggap Tante Dina sebagai siapa-siapa Neng.”
Andrea terdiam. Ucapan Dale memang benar. Selama ini hatinya terlalu dibutakan curiga kepada Tante Dina. Curiga kalau dia ingin merebutnya dari pelukan ibunya.
“Kamu benar.” Andrea tersenyum.
Dale memegang perut. “Kenapa?”
“Lapar, Neng.”
“Ya sudah, cari makan dulu sana, aku mau kabari teman-teman.”
“Terus?”
“Terus mau temui Tante Dina.”
“Sip!” Dale mengacungkan jempolnya dari atas lemari.
Gigit, adalah kontak pertama yang dikirimi pesan menggembirakan itu lewat WA. Selanjutnya Ren, Dodo, lalu Zellina.
Andrea turun menapaki tangga pelan-pelan. Tante Dina sedang menikmati udara pagi di teras dengan pandangan ke taman di depannya.
“Tante belum berangkat?" sapa Andrea.
“Sebentar lagi, Ndre. Bagaimana? Sudah kabari teman-teman kamu?”
“Sudah.”
“Pasti mereka senang sekali.”
Andrea tersenyum. “Zellina malah mau bikin pesta kecil-kecilan.”
“Eh, bagus itu. Biar si Bibi siapkan.” Tante Dina kelihatan senang, kemudian terdiam. “Itu kalau kamu mau merayakannya di sini,” lanjutnya.
Andrea tahu, Tante Dina pasti sedih kalau dia pergi dari rumah ini. Dia ingin Tante Dina mengetahui, sekarang dia sudah benar-benar menganggapnya keluarga.
“Kalau Tante izinkan, aku ingin merayakannya di sini.”
“Iya, Tan.”
Tante Dina memeluk Andrea. Andrea membalas pelukan Tante Dina dengan erat.
“Boleh kok, sayang. Tante saaangat senang.”
“Terima kasih, Tante. Untuk segalanya. Aku tahu, aku tidak mungkin bisa membalas semua kebaikan Tante. Tetapi aku menyayangi Tante, seperti keluarga aku sendiri.” Andrea bicara dalam pelukan Tante Dina.
Mereka melepaskan pelukan. Tante Dina menatap wajah Andrea dengan wajah penuh kejutan.
“Tante boleh anggap aku apa saja, keponakan, teman, atau anak juga tidak apa-apa. Aku sayang sama Tante.”
“Ndre, Tante bahagia sekali.”
“Tante berhak bahagia. Mulai saat ini, aku tidak akan sungkan lagi. Kita adalah keluarga, yang sudah sepatutnya saling menjaga.”
Tante Dina membereskan anak rambut di kening Andrea. Sama seperti yang sering ibunya lakukan. Andrea jadi semakin terharu.
“Tentu saja, Ndre. Kita memang harus senantiasa saling menjaga. Dan, ada lagi kabar yang harus kamu tahu.”
“Apa, Tan?”
“Ibu kamu berangsur membaik, barusan terapisnya memberi kabar.” Tante Dina kembali semringah.
“Benarkah? Alhamdulillah.” Andrea mengusap pipinya yang basah, karena terharu, dan senang bercampur aduk. “Kapan Ibu pulang, Tan?”
“Tidak bisa secepat itu, Ndre. Tetapi kita patut bersyukur, terapinya sesuai harapan.”
Andrea tiba-tiba menunduk. “Aku tahu, rumahku juga sudah bukan milik kami. Tetapi, aku juga tahu Tante tidak akan mungkin mengusir aku dan ibu.”
“Mana mungkin Tante melakukan itu, Ndre. Kata kamu tadi kita adalah keluarga. Kamu bebas mau pulang ke mana.”
Andrea kembali memeluk Tante Dina.
__ADS_1
Pagi ini dunia terasa sedang berpihak kepadanya.
"Sekarang, kamu kabari teman-teman untuk merayakan kebebasan kamu di sini."
"Baik, Tan. Terima kasih."
Tidak berapa lama, Ren, dan Zellina datang. Disusul teman-teman sekolahnya yang lain. Andrea sampai melongo melihat mereka datang menyerbu ke rumah Tante Dina.
Tante Dina mempersilakan mereka merayakan bebasnya Andrea dari tuduhan keluarga Yadi.
“Kalian bersenang-senang, Tante berangkat ke kantor, kalau perlu sesuatu tinggal bilang si Bibi di belakang.” Tante Dina mengambil tas dan segera menuju mobilnya.
"Baik, Tante."
"Terima kasih, Tante."
"Hati-hati di jalan, Tante."
"Tante, Om mana?"
Berbagai macam ucapan keluar dari mulut teman-temannya Andrea. Tante Dina menanggapi dengan senyum menawan. Akri dan gengnya sampai terpesona.
Mereka menikmati pesta kecil di rumah besar itu, sambil melepas rindu beberapa hari tidak bertemu, karena libur tryout.
“Kalau saja Kak Yadi sampai memenjarakan kamu, aku yang akan membuat perhitungan,” kata Zainal, dengan mulut penuh makanan.
“Perhitungan apa? Matematika?” tanya Akri.
“Maksudku kasih pelajaran.”
“Iya, apa?” tanya Akri lagi.
“Matematika, hehe ....”
“Huuuhh! Kamu itu, enggak di mana, bikin kesel orang saja.” Joni menimpuk Zainal dengan kulit kacang.
“Bahas matematika, jadi ingat Bu Anis.” Tiba-tiba Fany nyeletuk. Harajuku masih menghiasi dandanannya.
“Fany?” Semua yang ada di sana serempak melihat ke arah Fany di pojokkan. Gadis itu muncul secara tiba-tiba, padahal mereka tadi tidak ada yang merasa berangkat bersama Fany.
“Heh, kamu Fany atau setan gentayangan?” tanya Joni.
“Gue juga anggota WAG kali, tahu kalian mau ke mana,” sahut Fany.
“Kirain, ujug-ujug ada, kamu kan anak kuntilanak.” Zainal menimpali.
"Itu kemarin, sekarang asli harajuku." Fany mengacungkan jarinya.
“Oiya, bagaimana kabar Bu Anis?” Andrea penasaran, dua minggu sudah dia labas tidak masuk sekolah.
Teman-temannya mengangkat bahu, karena memang tidak ada yang mengetahui berita terbaru Bu Anis.
“Kalau mau berita akuratnya, lebih baik kita ke rumahnya saja,” kata Ren.
“Boleh juga,” kata Salsa.
“Benar, kita sekalian sowan.” Akri mengangguk-angguk. “Dari tadi, enggak melihat si Inces KW, ke mana dia?” tanyanya, dengan pandangan berkeliling.
“Mojok,” bisik Dewi.
“Sama siapa? Memang Inces punya pacar?” Zainal celingukan.
Dewi menggerakkan tangannya menirukan orang lagi menelefon. “Aku dengar dia lagi sayang-sayangan.”
“Ck, pantas saja sepi. Gue ganggu ahh.” Akri ngeloyor, mencari Zellina.
Teman-temannya cekikikan, melihat Zellina yang malu-malu kucing karena ketahuan lagi menelefon mesra di kolam renang.
“Ciee, yang sudah laku. Jarang berkicau sekarang,” goda Akri.
“Akriiiii ... Emang aku burung?!” teriak Zellina. Melempar Akri dengan sendal.
Andrea terlihat bahagia, bercanda ria dengan teman-temannya yang beberapa minggu ini tidak sempat dia nikmati karena harus menyelesaikan masalah ibunya dan Dale.
__ADS_1
bersambung