
“Cepat, Pak, cari klinik terdekat!” kata Ren, dia memegangi kepala Andrea yang masih tergolek di bahunya.
“Iya, Neng.” Pak Supri segera memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil.
Gigit yang duduk satu jok di belakang sopir menggenggam tangan Andrea. Sakit di punggungnya tidak seberapa, dibanding dengan sakit di hatinya melihat Andrea tidak berdaya seperti itu.
Yadi memang berengsek, cinta macam apa yang dia rasakan untuk Andrea, sampai tega melakukan ini, batinnya.
Kalau tidak ingat di sana ada banyak orang, dia sudah memeluk Andrea. Hatinya sedih sekali, ketika melihat Andrea dijadikan tameng Yadi untuk menyerangnya.
“Psikopat!” rutuknya.
Ren menatapnya. “Kamu yang tenang, Git. Andrea baik-baik saja, kita sekarang bersamanya.” Seolah tahu apa yang ada di pikiran Gigit, Ren mencoba membesarkan hatinya.
Zellina diam saja di jok depan. Dia juga sedang sangat terpukul, melihat kenyataan, Yadi yang sangat dia puja, melakukan tindakan bodoh seperti ini.
“Ayo jalan, Pak! Kasihan teman aku, aku takut terjadi apa-apa dengan dia. Kak Yadi memang tega banget, sebenarnya apa yang ada di dalam otak dia? Dasar Joker!” Zellina misuh-misuh sendiri.
“Iya, Non. Saya lupa di mana kunci mobil.” Pak Supri meraba-raba saku bajunya.
“Pak Supri kenapa masih mencari-cari kunci mobil? Ini mobil sudah menyala ....”
“Astagfirullah,” gumam Pak Supri, dia panik melihat Andrea yang sudah seperti tidak bernyawa. Tidak bergerak sedikit pun.
Mobil melaju perlahan.
Andrea merasakan dirinya sedang bermain di sebuah taman indah. Bunga-bunga bermekaran, dengan beraneka warna.
Dia memetik sekuntum bunga lili.
Dua ekor burung pipit bertengger di ranting yang meranggas, menggerak-gerakkan kepalanya seperti dua sejoli yang sedang berbincang, lalu keduanya terbang rendah. Seolah bersepakat, mereka bersama-sama mengepakkan sayap, terbang lebih tinggi menuju awan.
“Itu adalah kita, jika telah bebas nanti.”
Suara yang dikenalnya berbisik di telinga. Andrea terpaku, sebuah genggaman lembut membuatnya merasa terbang, menyusul burung pipit yang menghilang.
“Gigit,” gumamnya.
Gigit meremas tangannya. "Ndre? Kamu sadar?"
Andrea merasakan matanya terpejam, dan aroma tubuh Gigit menyentuh otak kecilnya, untuk membuka mata.
“Ndre, kamu sadar? Ndre!” Ren memanggilnya.
Andrea terbangun.
“Andrea, Alhamdulillah sadar.” Ren berseru.
Andrea kebingungan, dia seperti masih bermimpi. Gigit benar-benar sedang menggenggam tangannya. Kepalanya terasa ringan, dia seperti tak berkepala.
“Ndre, Andrea sadar, Ren?” Zellina berteriak dari jok depan.
Dia segera mengulurkan tangan untuk menyentuh lutut Andrea.
“Aku di mana?” Andrea kebingungan. Teman-temannya ada di sana, bukankah tadi dia sendirian dalam angkot. Angkot abal-abal itu.
“Tenang, Say, kamu aman sekarang. Kita ada bersama kamu.” Zellina berbinar melihat Andrea sadar.
Andrea melirik tangannya yang masih digenggam Gigit.
Gigit menyadari itu, dia buru-buru melepaskan tangannya.
“Apa yang kamu rasakan, Ndre?” tanya Gigit.
Andrea masih lemas, tetapi dia masih merekam jelas apa yang tadi terjadi kepadanya.
“Aku tidak apa-apa, sekarang antar aku ke terminal saja!” pinta Andrea dengan suara lemah.
“Ndre, kita harus mencari klinik dulu. Kamu baru sadar dari pingsan. Entah sejak kapan kamu seperti itu, makanya kita sekarang mencari klinik dulu.” Ren bicara dengan nada panik.
“Tasku, oh ... Sshh, pasti mereka ....” Andrea mencari-cari ranselnya di punggung. Dia tidak bisa harus kehilangan gembok antiknya.
“Ini ransel kamu, Ndre.” Ren memberikan ransel yang tadi ditemukannya di lantai atas. “Ini juga ponsel kamu, aku menemukannya di parit depan ruko tadi. Sepertinya terjatuh, ketika mereka membawamu," lanjutnya.
“Ahh,” Andrea mendesah. “Teman-teman, terima kasih, kalian sudah menyelamatkan aku. Sekarang aku benar-benar harus ke terminal. Aku harus ke kampung malam ini juga.” Andrea tidak peduli kepalanya seperti meliuk-liuk. Dia teringat dengan waktu yang sempit untuk menemukan Dale.
“Ndre, ini sudah jam sepuluh. Memangnya masih ada bis ke sana malam-malam begini?” Ren menatap Andrea yang tampak kacau.
“Tenangkan dulu dirimu, Ndre, pikirkan keselamatanmu, pikirkan juga kita yang khawatir sama kamu.” Ren melanjutkan.
Semua tidak ada yang bicara, menatap lekat Andrea, kecuali Pak Supri yang matanya harus dipakai menatap jalan di depannya.
Mobil tetap melaju, tanpa tujuan pasti, jadi Pak Supri memberanikan diri untuk bertanya,
"di sana ada klinik, kita ke sana, Non?” tanya Pak Supri.
“Aku baik-baik saja, tidak usah ke sana. Baiklah, tidak usah ke terminal, aku mau cari rental mobil saja. Bisa tolong antar aku, Pak?” Andrea tetap dengan pendiriannya.
Ren memutar mata, Zellina menatap sedih Andrea.
Gigit terlihat memikirkan sesuatu.
“Baiklah, sekarang aku mau cari mobil carteran. Aku akan menemanimu,” kata Gigit.
“Tapi, Git,” seru Ren.
“Aku tahu, Andrea pasti punya alasan kenapa harus pergi ke kampung sekarang. Iya kan, Ndre?” Gigit membuka gawainya.
Andrea tidak berkata apa-apa, dia sedang tidak ingin banyak berdebat. Di kepalanya hanya memikirkan bagaimana cara agar sesegera mungkin berada di kampung kakeknya.
“Kalau begitu, tidak usah mencari rental mobil, kita antar Andrea sekarang,” kata Zellina.
“Tapi, Non,” kata Pak Supri.
“Pak Supri, tidak mau? Ya sudah, aku yang nyetir.” Zellina merengut, jiwa princesnya kembali muncul.
“Mau, Non, mau kok. Hanya saja, bagaimana dengan Papa dan Mama Non?”
“Kenapa dengan mereka? Suruh Mbak Nuri yang atur!” ketus Zellina.
Ren tidak yakin dengan pikiran Zellina. “Kamu yakin, Zell?”
“Sudah, Ren, sekarang kamu mau ikut kita apa enggak?” tanya Zellina.
Ren terdiam, dia juga bingung.
“Pak Supri jangan khawatir, aku juga bsa nyetir, kalau capek kita bisa gantian.” Gigit setuju dengan usul Zellina.
Zellina mengacungkan jempol lucu kepada Gigit.
__ADS_1
“Iya, Den, siap!” jawab Pak Supri.
Andrea menyandarkan kepalanya. “Terima kasih, Zell,” lirihnya. Dia belum butuh penjelasan apa-apa kenapa Zellina sudah kembali seperti biasa, tidak julid lagi. Saat ini yang dia butuh hanya sampai ke kampung secepatnya.
“Sama-sama, Ndre. Kamu tenang saja, kita akan sampai di sana dengan cepat. Ren, kamu jadi ikut? Kalau enggak, Pak Supri bisa antar kamu dulu?” tanya Zellina, kini jadi princes bijak sok ngatur.
Ren membuang nafas berat. “Ya sudah, aku ikut. Kita nekat bareng-bareng.”
“Nah, begitu dong, kan jelas. Ayo, Pak, kita jalan-jalan ke kampungnya Andrea.” Zellina antusias.
“Iya, Non, siap!”
Andrea memejamkan mata, bersyukur dengan keberadaan mereka saat ini.
Gigit memandanginya. “Sebaiknya kamu tidur. Kita belum tahu alasan kamu sebenarnya, kamu harus menjelaskan semuanya nanti kalau sudah baikan."
Andrea membuka mata. “Aku sudah kenyang tidur. Hanya lemas saja, sepertinya aku dibius tadi.”
“Bagaimana dengan punggung kamu, Git?” tanya Ren.
Gigit memijit-mijit pundaknya. “Lumayan,” sahut Gigit.
“Kamu kenapa?” tanya Andrea.
“Tidak apa-apa.”
“Gigit diserang anak buahnya Yadi tadi. Maaf ya, Git, aku sempat tidak percaya sama kamu tadi sore.” Ren memasang wajah menyesal.
Gigit tersenyum kecil.
“Yadi?” Andrea kebingungan.
“Iya, kamu disekap Yadi, Ndre.” Ren menggeser duduknya untuk lebih menghadap kepada Andrea.
“Kita semua kehilangan kamu, tidak bisa menghubungi kamu juga.”
“Sore tadi kita menunggu kamu di rumah sakit, tapi tidak muncul-muncul. Gigit juga mencari ke rumah, tetapi kamu tidak ada juga.” Zellina menimpali.
Andrea menundukkan mata, dia menyadari telah membuat teman-temannya khawatir dengan mematikan ponselnya.
“Aku curiga Yadi berulah lagi, karena tempo hari tidak berhasil. Dan ternyata benar.” Gigit tersenyum kecut.
Andrea menutup mukanya dengan kedua tangannya. “Ya Allah, kalian ....”
“Sudah, Ndre, yang penting kamu aman sekarang.” Ren memegangi bahu Andrea. “Maaf ya, Git, sore tadi aku sempat tidak percaya.” Ren menatap Gigit, kata-kata penyesalannya diulang lagi.
Gigit tersenyum. “Aku kan sudah bilang, tidak meminta kalian untuk percaya.”
“Kalau aku percaya, aku melihat sendiri Kak Yadi dendam sama Andrea.” Zellina nimbrung lagi dari depan. Setelah itu dia terdiam, matanya menatap lurus ke jalan. “Ndre, maaf ya, kelakuan aku beberapa hari ini,” lanjutnya.
Andrea melirik Ren.
Ren mengangguk, seakan mengerti kalau Andrea ingin tahu perubahan yang terjadi pada Zellina. Dia sudah kembali seperti dulu.
“Banyak yang telah terjadi selama kamu tidak masuk, Ndre,” kata Ren.
“Aku senang kamu sudah kembali, Zell.” Andrea mencondongkan badannya, meraih bahu Zellina. Zellina menyambut tangan Andrea dengan suka cita.
“Bukan hanya aku, Ndre. Anak-anak juga berubah sekarang. Kamu tahu? si Akri tadi boncengan sana si Zay!” seru Zellina.
Andrea tersenyum kecil. “Syukurlah, kalau berubah ke arah yang lebih baik.”
“Kenapa?” tanya Andrea.
“Bu Anis ....”
“Aku tahu, Ren.” Andrea menarik kembali badannya duduk seperti semula. “Asal kalian tahu, perjalanan kita sekarang juga ada hubungannya dengan Bu Anis.”
Ren dan Zellina terkejut. Gigit yang hanya bisa menyimak hanya bisa mengernyitkan dahi.
“Kita ke mana, Neng?” Pak Supri bertanya dari balik kemudi. Mereka sudah keluar dari kota.
“Tol Cipularang, Pak. Kita lewat Bandung saja, biar cepat.” Andrea memberi instruksi.
“Siap, Neng. Kita ke kampung yang dulu pernah Neng ceritakan?” tanya Pak Supri.
“Iya, Pak. Masih ingat saja." Andrea tersenyum simpul.
“Kalau begitu, saya bisa sekalian pulang kampung dong.” Pak Supri cengengesan.
“Terserah Pak Supri saja, yang penting cepat sampai,” kata Zellina. Tangannya mulai mencari kotak bedak di tas.
“Siap, Non!” Pak Supri semringah.
“Memang kampung Pak Supri di mana?” tanya Ren.
“Kawali, Neng.”
“Hah?” Ren baru mendengar nama kampung itu.
“Hawaii, Ren.” Zellina menyeletuk.
Mereka semua tersenyum mendengar kekonyolan Zellina.
Selesai touch up, Zellina menyetel lagu kesukaannya. Suasana sudah tidak setegang tadi, bahkan seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka menikmati lagu dengan suasana tenang.
Setelah melewati gerbang tol, mobil meluncur menembus malam. Tidak banyak kendaraan di sana, karena sudah memasuki tengah malam.
Ren dan Zellina mulai mengantuk. Alunan musik lembut membawa mereka ke alam mimpi.
“Pak Supri kalau mengantuk bilang ya, biar gantian nyetir.” Gigit bicara dari belakang.
“Belum, Den. Aden tidur saja, nanti kalau mengantuk saya minggir.”
“Panggil saja saya Gigit, Pak. Saya kan bukan Pak Raden,” kata Gigit.
“Oh, baik, Nak Gigit.”
“Kamu tidak ngantuk, Ndre?” Gigit melihat Andrea asik menikmati perjalanan.
Andrea menggeleng, dia membenarkan letak jaket yang dipakainya. “Aku sepertinya sudah kenyang tidur.” Andrea menatap luar mobil dengan pandangan sedih.
“Kamu kenapa?” tanya Gigit.
“Aku tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sama aku tadi,” lirih Andrea.
Dengan perlahan Gigit menyentuh tangan Andrea yang dingin.
Andrea melirik tangannya, dia sedikit kikuk ketika beradu pandang dengan Gigit. Dia tahu, Gigit berani melakukan itu karena kedua temannya sedang tidur.
__ADS_1
Andrea membiarkan Gigit menggenggam tangannya, seperti dalam mimpi tadi.
Cowok ini benar-benar telah membuatnya jatuh hati, tetapi dia harus bersikap sebiasa mungkin. Tidak ingin terburu-buru memperlihatkan perasaannya. Nanti kalau salah sangka, bisa sakit sekali.
“Kamu tenang saja, aku pastikan kamu tidak diperlakukan tidak senonoh. Aku mengetahui kedatangan Yadi ke ruko itu, sepertinya tidak lama setelah kamu disekap.”
Andrea kini menatap Gigit. Posisi mereka dalam mobil sangat dekat, bahkan berdempetan, sehingga Andrea bisa begitu jelas memandangi wajah Gigit.
“Terima kasih,” ucap Andrea.
Mereka jadi saling menatap. Gigit menggenggam tangan Andrea lebih erat. Wajah mereka tadi agak jauh, tetapi kini jaraknya tinggal sejengkal.
Entah siapa yang mendekat terlebih dahulu, yang pasti keduanya merasakan jantung mereka berdetak kencang, seperti ingin berlari saja menggapai satu sama lain.
“Uhukk!” Pak Supri terbatuk.
Andrea dan Gigit melonjak kaget. Mereka melepaskan tangan masing-masing. Keduanya merasa jengah, lalu membuang pandangan ke luar kaca mobil.
Panjang jalan tol dilalui dengan waktu dua jam. Selanjutnya mereka akan melewati jalan lingkar dan jalur selatan yang meliuk-liuk seperti ular.
Ren terbangun ketika tiba-tiba perutnya terasa mual.
“Ndre, aku mual.”
“Pak, berhenti dulu sebentar!" kata Andrea.
Pak Supri meminggirkan mobil di jalan yang sangat sepi. Kanan kiri jalan adalah hutan dan jurang.
Ren keluar, lalu mengeluarkan isi perutnya di pinggir jalan.
Zellina terbangun. “Ada apa?” tanyanya.
“Neng Ren mual, “ sahut Pak Supri.
“Mual? Ren ngidam?”
“Mabok,” sahut Pak Supri lagi.
Zellina turun, menghampiri Andrea dan Gigit yang sedang bersandar di mobil, memerhatikan Ren.
“Kamu mabok apa, Ren?” tanya Zellina.
“Mabuk darat,” sahut Gigit.
“Ooh, aku kira mabok oplosan.”
Ren menyusut mulut dengan jilbabnya. “Masih jauh, Ndre?” tanyanya.
Andrea mengangguk. Ren menarik nafas panjang. Sinar bulan menerangi wajahnya yang pucat.
“Aku di belakang saja deh, pengen tiduran.”
Gigit membuka pintu mobil, dan melipat jok agar Ren bisa masuk ke jok paling belakang. Ren langsung membenamkan kepalanya di bantal empuk yang ada di jok belakang.
“Awas, bantalku jangan dimuntahi, Ren!” kata Zellina.
“Bodo,” sahut Ren.
Andrea dan Gigit duduk berjauhan di jok tengah. Mereka masih merasa kikuk dengan kejadian tadi.
“Kalian tidak marahan kan?” tanya Zellina.
Andrea dan Gigit memandanginya heran.
"Kenapa?” tanya Andrea.
“Itu, duduknya jauh-jauhan begitu."
Andrea tidak menanggapi ocehan Zellina, dia kembali melemparkan pandangan ke jalan.
Ren masih gelisah. Dia tidak biasa melewati jalan berkelok seperti itu. Perutnya seperti diobok-obok. Rasanya ingin cepat sampai dan tidur cantik di kasur. Saat ini tidurnya seperti dalam roller coaster. Naik turun oleng kiri kanan tidak karuan.
Jam tiga pagi mereka baru selesai bermain roller coaster, kali ini jalanan lurus. Ren bisa sedikit nyaman.
Gigit menggantikan posisi Pak Supri yang sudah mengeluh mengantuk. Zellina menggantikan posisi duduk Gigit, biar Pak Supri bisa duduk di tempatnya. Ren masih meringkuk di jok belakang.
Andrea dan Zellina duduk saling menyandarkan punggung, mereka juga sudah lelah.
Gigit memerhatikan dari spion depan. “Kalian marahan ya? Kok punggung-punggungan?” ledek Gigit.
Zellina memajukan bibirnya ke arah Gigit.
“Ndre, masih lama enggak?” rengek Ren.
Andrea menoleh ke jok belakang. “Dua jam lagi juga sampai.”
Zellina melihat jam di tangannya. “Waduh, kita sampai pagi, dong?”
Andrea mengangguk.
“Jauh banget sih, Ndre, rumah ua kamu?” rengek Ren lagi.
“Kita tidak ke rumah Ua dulu, tapi langsung menuju gunung.”
“Whats?” Zelina dan Ren terperanjat.
Gigit juga kaget.
Pak Supri tidak kaget, karena tidak mendengar ucapan Andrea. Dia sedang tidur dengan mulut mangap, pulas sekali, duduk di tempat duduk majikan.
"Kita akan mendaki, Ndre?" tanya Zellina.
"Kalian tidak usah ikut, biar aku saja," sahut Andrea.
“Kamu pernah mendaki ke sana?” tanya Gigit.
“Belum, tetapi aku tahu gunung itu."
Gigit geleng-geleng kepala dengan kenekatan Andrea.
Ni cewek banyak banget misteri.
Ren dan Zellina berpandangan.
“Sebenarnya ada apa, Ndre?” tanya Ren.
Andrea tidak menjawab.
bersambung
__ADS_1