My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 94 Nona Tanpa Wadah Susu


__ADS_3

Selepas isya Dodo memencet bel yang terpasang di pintu gerbang rumah besar itu.


“Apa benar ini rumahnya?” gumamnya.


“Benar, Den.” Tiba-tiba seseorang bersuara. Dodo sampai terkejut.


Dia mendongak ke atas, Dale sedang duduk di pilar tinggi rumah itu, sambil makan semangka.


Kaget aku, si Borokokok ternyata ada di sana.


“Andrea mana?” tanyanya.


“Aden terus saja pencet-pencet, nanti juga ada yang keluar.”


“Memangnya odol? Bantu kek!”


“Kalau saya bantu, nanti Den Dodo dikira pencuri, masuk rumah orang tanpa permisi.”


“Iya, iya, bawel!”


Dodo memencet lagi bel yang menempel di sana. Dale benar, setelah sabar memijit, tidak berapa lama, ada suara langkah kaki mendekat.


“Mencari siapa?” Seorang pembantu perempuan bertanya dari jauh, tidak mau mendekati pagar.


“Saya Aldo Pribadi, saudaranya Andrea.” Dodo berteriak dari luar.


“Oh, sebentar, saya panggil Nyonya dulu.”


Dodo membuang nafas. Kesal dengan protokol penerimaan tamu di rumah gedongan. Bertele-tele.


Kalau di kampung, orang bertamu bisa langsung mengetuk jidat yang punya rumah. Tanpa pagar, tanpa bel, tanpa lama, kecuali orangnya tidak ada.


“Maklum, Den. Di sini kan kota, harus banyak waspada.” Dale berkata seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Dodo.


“Iya, tahu.” Dodo menyolot, gengsi diajarin jin.


Seseorang membuka pintu pagar. “Silakan masuk," katanya.


Dodo menuntun motornya masuk. “Motornya boleh masuk kan?”


“Boleh.”


“Kirain, harus tanya Nyonya dulu.”


Pembantunya Tante Dina tersenyum geli, melihat Dodo yang kesal.


Dodo diajaknya masuk. “Silakan duduk, Nyonya sedang memanggil Nona.”


“Nona?”


“Iya, Nona Andrea.”


Ceile si Andre, dipanggil Nona. Dodo ingin terpingkal membayangkan kucing hutan jadi nona.


Aku jadi ingin cepat ketemu, apa dia sekarang pakai celemek sambil bawa gentong di tangan dan kepalanya.


“Aa!” panggil Andrea dari tangga. Di belakangnya seorang wanita cukup berumur berpenampilan modis, masih terlihat cantik.


Dia berlari turun, lalu menubruk Dodo. “Aa, aku senang Aa ke sini.” Andrea terisak sambil memeluk Dodo.


Dodo mendorong tubuhnya pelan-pelan. Menatap wajah Andrea yang basah. Bibirnya bergetar, hidung dan matanya merah. Adiknya itu benar-benar menangis. Dia ikut terharu, kalau saja tidak malu, ingin sekali ikut menangis, menumpahkan semua penyesalan yang berhari-hari menyesakkan dadanya.


Dia sudah terlalu banyak menyakiti hati Andrea. Bahkan perpisahan terakhir mereka juga masih dalam keadaan bertengkar. Sekarang saatnya untuk membalas, semua perlakuannya itu.


Andrea menghapus air mata di pipinya sendiri.


"Sudah sudah, Aa ada di sini. Kamu jangan nangis lagi, jelek tau." Dodo menjawil hidung Andrea.


Tante Dina tersenyum dari kejauhan.


"Eh, wadah susunya mana?" tanya Dodo.


"Wadah susu?" Andrea meraba dadanya.


Dodo tertawa tertahan. Sifat jahilnya mulai muncul lagi terhadap adiknya itu.


"Tadi yang buka pintu gerbang, manggil kamu Nona. Aa kira kamu sudah berubah jadi nona-nona kayak di kaleng susu." Dodo mempraktekkan gaya orang membawa kaleng di kepala dan tangannya.


"Iihh, Aaaa ...." Andrea mencubit perut Dodo. Mereka saling cubit sambil tertawa.


“Sejak kapan Aa di sini?”


“Sejak kemarin.”


Tante Dina menghampiri mereka. “Jadi, ini kakak sepupunya Andrea?”


"Eh, Tante. Maaf, iya ini kakak aku." Andrea baru sadar ada Tante Dina diantara mereka.

__ADS_1


“Iya, Bu. Saya Aldo. Kakak sepupu Andrea.”


Dodo menyalami Tante Dina.


“Yuk duduk!” Tante Dina menunjuk ke kursi.


“Terima kasih, Bu.”


“Panggil saja, Tante.”


“Oh, iya, Tante.” Dodo menganggukan kepala.


Mereka duduk, Andrea tidak mau jauh-jauh dari Dodo. Tangannya menempel terus pada tangan Dodo, seolah takut ditinggalkan.


“Jam berapa dari kampung? Siapa yang mengabari Andrea ada di sini?”


Dodo memandangi Dale. Tidak mungkin juga dia mengatakan diberi tahu Dale.


“Sebenarnya saya datang kemarin, tetapi rumah Andrea kosong.”


“Oh, begitu, A?” Andrea terkejut.


“Mungkin waktu kita di Bogor, Ndre," sahut Tante Dina.


“Terus menginap di kontrakan teman.”


“Si Asep?” Andrea menebak.


Dodo mengangguk. Dia tahu, Andrea pasti masih curiga sama dia.


“Oh, begitu. Ya sudah, kalian ngobrol saja dulu, Tante ke belakang dulu.”


Dodo dan Andrea mengangguk.


“Kenapa enggak menghubungi aku, A?” tanya Andrea, setelah Tante Dina pergi.


“Si Dulale sudah cerita kan?”


“Ponsel Aa masih dipegang Ua?”


Dodo mengangguk. “Aa kabur, Ndre.”


Andrea terkejut. "Bagaimana caranya? Dibantu si Dale?"


"Ck, emang dia mau bantu orang selain kamu? tukang makan salak itu kan nurutnya sama kamu doang." Dodo melirik Dale yang sedang duduk di pegangan tangga. "Aa kabur lewat para."


"Aa bobol para kamar satu, lalu keluar lewat genteng. Tapi kasiham juga Mbu kalau tiba-tiba hujan pasti bocor." Dodo menerawang.


“Kenapa Aa begitu sama Ua?” tanya Andrea.


“Kamu bagaimana sih, Ndre. Katanya kamu senang Aa ada di sini, sekarang malah menyalahkan Aa.”


Andrea menekur. “Tapi, nanti Ua malah makin marah sama aku,” lirihnya.


Dodo menatapnya dengan pandangan pilu.


“Kamu tenang saja. Dia tidak tahu kalau Aa di sini.”


“Memangnya dia bodoh, A? Bukannya Ua juga mengirim orang-orang suruhan untuk memata-matai aku?”


“Kamu tenang saja, orang suruhannya itu si Asep, dia tidak menjalankan semua perintah Mbu kok, dia ada di pihak kita.”


Andrea menutup wajahnya. “Kenapa bisa jadi begini sih, A? Aku tidak suka keluarga kita menjadi begini.”


Dodo menyenderkan punggungnya ke kursi. “Aku juga tidak mengerti, Mbu jadi sangat serakah begitu.”


“Padahal aku hanya minta bantuan biaya operasi Ibu, A. Kalau Ua tidak mau kasih juga tidak apa-apa. Aku tidak mau kita malah jadi bermusuhan. Aku sayang sama Ua, tidak mungkin akan memaksa Ua.”


“Aku tahu.” Dodo memegang tangan Andrea. “Kita harus bisa membuat dia sadar, Ndre. Mbu terlalu terobsesi dengan harta Aki sejak masih muda.”


“Sudahlah, A. Jangan malah membuat dia lebih murka. Aku tidak apa-apa, Ibu juga sekarang sedang menjalani pengobatan alternatif. Dibiayai Tante Dina."


Dodo menarik nafas dalam-dalam, lalu menekur. “Aku malu, Ndre. Sebagai keluarga, aku tidak bisa menolong, malah orang lain yang tidak ada ikatan apa-apa dengan kita yang membantu kalian.”


Keduanya sekarang terdiam. Tante Dina datang lagi, diikuti pembantunya membawa minuman hangat.


“Mau menginap di sini?”


Dodo menoleh ke arah Andrea.


“Biar saya tinggal di rumah Andrea saja, Tante.”


“Oh, begitu. Baiklah, tidak apa-apa.”


“Aku boleh ikut pulang, Tan?” tanya Andrea. Dia masih saja berusaha untuk pergi dari rumah itu. Dia juga ingin bercerita banyak kepada Dodo, tentang rumah yang sudah bukan miliknya, tentang kasus pencemaran nama baik yang menjeratnya, dan masih banyak lagi.


“Sayang sekali, kamu di sini dulu, Ndre. Kita kan masih ada yang harus diselesaikan," kata Tante Dina.

__ADS_1


“Memangnya ada apa, Ndre?” Dodo kepo.


Andrea terdiam, tetapi tak urung dia menceritakan kasusnya kepada Dodo.


“Kurang ajar temanmu itu!” Dodo berdiri. “Di mana rumahnya, Ndre?”


“Aa! Kenapa sih jadi marah-marah begitu? Memangnya semua akan beres kalau marah-marah?”


“Andrea benar. Kasus ini sedang ditangani pengacara, jadi sebaiknya kita ikuti saja dulu prosedurnya. Biar tidak menjadi runyam.” Tante Dina bicara dengan lembut.


Dodo yang emosi segera meredam emosinya. “Kesal dengan orang-orang seperti itu, Tante. Sebaik apa sih nama mereka, sampai merasa dicemarkan begitu? Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Terus kalau Andrea benar-benar menjadi korban anaknya bagaimana?”


“Makanya, ini kita sedang berusaha mencari kebenaran.”


Andrea tidak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya dia juga masih sangat takut. Dia takut dimasukkan lagi ke dalam jeruji besi seperti tadi siang.


Karena sudah malam, Dodo berpamitan. Andrea mengantarnya sampai ke tempat motornya diparkirkan.


“Aa, mau lama kan di sini?” tanya Andrea. Dia bergelayut manja. Lupa kalau mereka selama ini selalu bertengkar.


“Kalau kamu mau, aku di sini selamanya.”


Mata Andrea berbinar. Kakaknya sudah kembali seperti dulu, ramah dan menyenangkan.


“Benar?”


Dodo mengangguk. “Eh, Ndre. Aku boleh tahu nomor kontak ... Euhh ....” Dodo menggaruk-garuk kupingnya.


“Zellina?” Tanya Andrea.


Dodo cengengesan. “Ada?”


Andrea pura-pura merengut. “Ternyata, mau tinggal di sini gara-gara dia ya?”


Dodo merangkul pundaknya. “Eh, jangan cemburu begitu. Bukannya kamu pengen Aa punya pacar, hehe.”


Andrea tertawa. “Horeee, kakakku sekarang bukan jomlo!” teriaknya.


Dodo menutup mulutnya. “Berisik! Kamu sudah tahu?”


“Apa sih yang bisa disimpan si Pecel.”


“Si Pecel?”


“Iya, pacar kamu. Dia kan orangnya suka pamer.”


“Masa sih? Duh, jadi makin kangen.” Dodo mengusap wajahnya, lalu membereskan rambut spikenya.


Andrea tidak kuat menahan geli.


“Memang Aa ada ponsel? Katanya masih disita.”


Dodo mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Sebuah kotak ponsel keluaran terbaru.


“Ada dong, masih baru,” sahutnya.


“Eh, nyolong di mana itu?”


“Enak saja, beli atuh.”


“Aku curiga, Aa nyolong duit Ua.”


“Apa sih, Ndre. Suudzon melulu. Mana nomor kontaknya?”


“Iya, iya, tidak sabaran banget. Sama kayak pacarmu tuh!”


Andrea menuliskan nomor Zellina pada ponsel Dodo.


Dodo berbinar, lalu garuk-garuk kepala.


“Kenapa?” tanya Andrea.


“Lupa, belum beli SIM card.”


Andrea menepuk jidat Dale yang ada di sebelahnya.


Dodo terpingkal melihat Dale misuh-misuh.


Dua bersaudara itu kini sudah kembali seperti dulu, akrab dan kembali saling menyayangi.


"Ndre, tentang pengobatan Bi Yuli, Aa ada uang nih, mana tahu bisa membantu." Dodo mengeluarkan uang segepok dari ranselnya.


Andrea tertegun.


"Sudah, simpan saja dulu, mana tahu kamu juga perlu." Dodo menyimpan uang di tangan Andrea. Andrea terharu, lalu memeluk kakak sepupunya itu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2