My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 99 Game Over


__ADS_3

Di ruangan besar rumah Tante Dina, Andrea mematung, menatap Gigit yang lumayan acak-acakan. Tidak ada ceria dari sorot matanya, yang ada hanya tatapan kuyu dan lelah.


Tetapi ada yang bisa dilihat dari kedua anak manusia yang belum lama ini dekat itu. Tatapan rindu, sedikit bertaburkan luka.


Ren cepat-cepat mencairkan suasana. ”Akhirnya, si anak hilang kembali,” serunya.


“Gigit tidak hilang, Ren. Dia ngumpet,” sahut Zellina. Dia sudah kembali bersama Dodo.


Ren dan Zellina cekikikan, tetapi Dodo malah memicingkan mata, mencoba menerka apa yang tengah terjadi di antara Andrea dan Gigit.


“Zell, Kak Dodo, kalian pasti lelah, sebaiknya kita ke kamar saja.” Ren mengerti, Andrea hanya ingin bicara berdua dengan Gigit.


“Kenapa? Bukannya kita juga baru ketemu Gigit lagi?” Zellina mengernyitkan dahi. “Git, kamu kenapa tiba-tiba raib dari ....”


“Zell, aku mau dengar cerita jalan-jalan kalian,” potong Ren, dia berdiri, menarik tangan Zellina. "Pasti seru."


“Ahh, seru banget, Ren. Kamu siap mendengarkan? Kak, ayo!” seru Zellina kepada Dodo, yang masih mematung, sedangkan dia sudah diseret Ren ke tangga.


“Kalian saja ya, aku di sini,” jawab Dodo.


“Aku tidak mau tanpa Kak Dodo,” sahut Zellina. Berlari ke arah Dodo, lalu menggelayut manja pada tangan Dodo.


“Tidak apa-apa, kalian di sini saja. Biar aku sama Gigit bicara di belakang.” Andrea menghampiri Gigit, menggamit tangan cowok itu.


Tangan Gigit terasa dingin, mungkin di juga grogi, atau belum makan. Apapun itu, Andrea ingin sekali membuatnya lebih hangat. Digenggamnya tangan Gigit kuat.


Dodo menyeringai. “Jangan macam-macam dengan adikku!” ujarnya kepada Gigit.


Gigit tidak melakukan apa-apa, selain mengikuti ajakan Andrea.


Andrea menarik tangan Gigit, membawanya ke teras belakang, menuju kolam renang kecil. Keduanya lama terdiam, melihat air kolam yang juga diam.


“Kamu apa kabar?" Akhirnya Andrea membuka suara.


Gigit tidak menjawab.


"Maaf kalau aku mengganggu waktumu, yang mungkin saja harus menyelesaikan hal yang lebih penting," kata Andrea lagi.


Gigit duduk di kursi besi. Dari sejak datang tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


Andrea berjalan ke pinggir kolam renang. “Sejak kamu pergi diam-diam aku terus menghubungi kamu. Tetapi kamu sepertinya benar-benar tidak membutuhkan aku. Padahal ....”


“Aku tidak mau menambah beban pikiranmu, Ndre.” Gigit memotong kata-kata Andrea. Membuat mulut Andrea mangap, seperti ikan mujair mencari udara di atas air.


“Aku mengetahui semuanya, Git.” Andrea memainkan air di kolam, setelah terlebih dulu mengatupkan mulutnya tentu.


"Baguslah," sahut Gigit. Dia juga tidak mengira, wanita elegan yang ditemuinya di rumah sakit tempat ibunya Andrea dirawat dulu adalah wanita yang tega menyakiti hati perempuan yang sudah melahirkannya.


“Bagaimana kabarnya dengan mama kamu?” tanya Andrea.


“Tidak baik.”


“Kamu tinggalkan dia sendirian?”


Gigit menyenderkan punggungnya pada kursi besi. “Aku kembali demi kamu.”


“Demi aku?” Andrea merasa jantungnya lumayan bergetar.


Lama Gigit terdiam, membuat Andrea semakin tidak enak. Bahkan dalam kerumitan masalahnya, Gigit masih memikirkannya.


“Aku mendengar kamu dibawa ke kantor polisi. Aku langsung mencari penerbangan tercepat, tetapi ketika sampai ke kantor polisi kamu sudah mendapat jaminan.”


“Kamu tahu dari mana?” tanya Andrea.


“Aku kan sudah bilang, aku mendengarnya." Gigit menatap tajam air kolam.


Andrea maaih belum paham. "Mendengar dari siapa?"

__ADS_1


"Waktu itu aku yang menelefon, ketika kamu digeruduk di rumah."


“Jadi, pagi itu ...."


“Kamu lupa menutup telefonnya.”


Andrea menekur. “Kenapa kamu meninggalkan mama kamu demi aku?” Bukannya dia yang seharusnya membantu Gigit, malah Gigit yang masih saja memikirkannya.


“Mama aku adalah orang yang bijaksana. Luka hati tidak akan mengubahnya menjadi wanita yang tidak punya empati. Ini juga atas sarannya.”


Andrea semakin menekur. Walaupun tidak kenal secara langsung dengan ibunya Gigit, tetapi dia tahu ibunya Gigit adalah orang yang sangat baik. Itu diketahui ketika kejadian ibunya koma. Orang tua Gigit sangat mengizinkan Gigit untuk membantunya, walaupun dia harus bolos sekolah dan menginap di rumah sakit.


Tetapi sayang, dibalik itu semua, kisah orang ketiga telah ternyata menunggu. Seolah bom waktu yang akan memorak-porandakan keluarga mereka.


“Beliau wanita yang berhati mulia,” kata Andrea. Gigit menekur.


"Git, aku harap kamu ...."


“Kalian di sini?”


“Tante Dina?” Andrea berdiri, tidak mengetahui kedatangan Tante Dina.


Dia melirik ke arah Gigit yang tiba-tiba membuang pandangan ke kolam ikan. Plung!


“Tante kapan datang?”


“Baru saja, Ndre. Gitara, apa kabar?" Tante Dina mencoba menyapa Gigit.


Gigit masih ingin membuang muka, ke mana saja, yang penting jauh dari muka Tante Dina.


Tante Dina mengerti perasaan Gigit, dia tersenyum kepada Andrea. "Tante mendapat kabar, ada orang tua Yadi datang ke sini. Benar, Ndre?"


“Iya, Tante.” Andrea menunduk.


“Kenapa tidak menghubungi Tante?”


“Penawaran apa?” Tante Dina dan Gigit bertanya berbarengan. Andrea sedikit lega mendengarnya, Gigit tidak jadi membuang muka ke kolam.


“Mereka akan mencabut laporan, kalau aku mau bertunangan dengan Yadi.”


“Apa?” Ibu dan anak tirinya itu kembali bertanya bareng. Andrea terharu melihat sikap mereka, bisa dengan mudah mengendalikan perasaan, demi membantunya.


"Tetapi kalian tenang saja, aku ada sebuah bukti yang akan membuktikan kalau Yadi benar-benar melakukan penganiayaan kepada aku." Andrea memandangi Tante Dina dan Gigit bergantian.


"Oya?" Tante Dina penasaran.


"Mungkin ngga kalau undang Om Singgih untuk datang, Tante? Maaf kalau aku merepotkan." Andrea memohon. "Aku akan tunjukkan buktinya ke Om Singgih."


"Oke, sekarang juga Tante kabari Om Singgih. Kalian ngobrol saja dulu, nanti Tante kembali lagi."


Tante Dina berlalu. Dari pandangan ekor matanya, Andrea melihat kelebat Om Azi, kembali masuk ke dalam ruangan.


**


Malamnya, di ruang tamu rumah Tante Dina semua berkumpul. Menyaksikan video yang diputar dari gawai Andrea.


Tante Dina mendesah. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran anak sahabatnya itu. Sok mandiri, padahal tidak. Bertindak juga suka semaunya, padahal salah.


“Kalau dari awal Andrea menunjukkan bukti ini, tentu kita bisa langsung membebaskannya.” Pak Singgih bicara.


“Kenapa kamu tidak memberitahu ini sejak awal, Ndre?” tanya Tante Dina.


“Maaf, Tan, Om, aku lupa.” Andrea beralasan, padahal dia hanya ingin melindungi Dale, dan tidak mau merepotkan Gigit yang sudah banyak masalah.


“Mungkin Andrea terlalu tertekan, Tante, jadi tidak bisa berpikir jernih.” Ren ikut bicara.


“Euuhh, kira-kira, semua yang ada di video itu akan dimintai keterangan, enggak, Om?” tanya Andrea, memastikan.

__ADS_1


“Sepertinya begitu,” kata Pak Singgih. "Kalau polisi memerlukan keterangan lebih lanjut, semua yang ada di video ini harus siap."


Andrea melirik Dale. Dale mengangkat bahu. Lalu dia melirik Gigit. Yang dilirik malah sedang fokus pada ujung sepatunya.


Setelah urusannya beres, Pak Singgih pamit pulang. "Nanti saya kabari lagi progresnya."


Tante Dina mengantar Om Singgih sampai teras.


Gigit seperti memikirkan sesuatu. Ren menepuk pundaknya. “Kenapa?”


“Ehm, baru tahu kalau di video itu ada orang yang ....” Gigit bicara ragu.


“Euh, Git, kamu mau menginap di sini?” Andrea memotong ucapan Gigit.


Gigit mengernyitkan dahi.


“Euuhh, maksud aku, kalau Tante Dina izinkan, hehe ....” Andrea lirik sana sini. Dia sengaja agar Gigit tidak meneruskan ucapannya, kalau itu terjadi semua yang ada di sana akan penasaran pada sosok Dale di video itu.


“Sepertinya aku pulang saja.” Gigit menjawab setelah semuanya hening, mengalahkan suasana kuburan.


“Kenapa tidak menginap saja?” Tante Dina muncul, mencoba tersenyum.


“Iya, Git, masih banyak yang ingin aku bicarakan.” Andrea sok butuh.


Andrea melirik Om Azi, yang sejak mengetahui Gigit ada di rumahnya mendadak kelu, tidak seperti biasanya, banyak basa-basi. Hanya usapan-usapan telapak tangan pada pahanya yang kerap terlihat, menandakan dia sedang berpikir keras, karena kebingungan.


“Lebih baik kamu ikut aku saja,” ajak Dodo. Mulai membuka diri kepada Gigit.


“Aku pulang ke rumah saja. Aku juga kan masih ada rumah. Walaupun tidak ada Ibu, aku juga harus mengurusnya, sudah lama ditinggalkan." Gigit bicara tanpa melihat,melirik, apalagi melotot ke arah Om Azi. Ayahnya itu seperti tidak pernah ada di depannya. Raib oleh kabut kebohongan yang menyelubunginya.


Andrea tidak bisa membantah, padahal dia masih ingin dekat dengan cowok itu.


Tante Dina menoleh kepada suaminya. “Sebaiknya kamu antar Gigit, Kang.”


“Tidak usah, aku bawa motor.” Gigit melenggang keluar. Tante Dina buru-buru menyusulnya. Om Azi berdiri, dengan kikuk memasuki kamar. Anaknya sendiri tidak mau berpamitan kepadanya.


Di teras, Tante Dina memohon kepada Gigit untuk memberinya waktu.


Gigit tidak bisa menolak. Dia akhirnya berhenti, menunggu apa yang akan disampaikan Tante Dina.


“Tante tahu perasaanmu. Kalau bukan karena Andrea, kamu tentu tidak akan sudi datang ke sini.”


“Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan? Bukankah sudah aku jelaskan lewat pesan kemarin siapa aku?”


“Itu yang ingin Tante bicarakan." Tante Dina mendekat.


"Kamu jangan khawatir, ayahmu pasti kembali kepada kalian.”


Gigit tersenyum sinis. “Jangan bilang kalau dia menipumu, dan sekarang ingin cuci tangan seolah tidak bersalah atas penderitaan ibuku.”


Tante Dina menunduk. “Iya, dia menipuku, makanya Tante secepatnya menyuruh dia pulang. Tante juga sudah mengatur rencana untuk bertemu ibumu. Itu juga kalau ibumu sudi."


“Aku tidak akan melarang dia pulang, tetapi aku tidak akan membiarkan ibuku menderita.”


Gigit langsung pergi, disusul pamitnya Ren, Zellina, dan Dodo, yang sejak tadi saling sikut di dekat pintu masuk.


Andrea memandangi mereka dengan sedih. Meskipun tidak mengetahui apa yang Gigit dan Tante Dina bicarakan, tetapi dia yakin, hati Gigit masih sakit, butuh obat.


Aku mau jadi panadolmu, Git, batinnya.


Malam itu Tante Dina menyuruh Om Azi pulang.


“Aku ingin kamu mengerti, terima kasih atas kebahagiaan setahun ini. Surat gugatan cerai akan segera dikirim pengadilan.” Tante Dina berlalu dari hadapan suaminya dengan air mata berderai.


Om Azi menekuri lantai. Wajah tampannya berkabut, kelabu. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Permainannya selesai.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2