My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 98 Melawan dengan Elegan


__ADS_3

Yadi tersenyum tipis. Mungkin baginya itu adalah saat kemenangannya. Bagi Andrea, itu adalah senyuman paling menyebalkan di dunia ini.


Selama ini dia telah sangat salah, dengan membiarkan perbuatannya. Padahal, sudah sangat jelas, isi kepala kakak kelasnya itu berotak kriminal.


Cowok itu tidak sekedar jahat, tetapi juga manja. Urusan seperti ini juga harus melibatkan ibunya dan polisi. Kalau Joker adalah orang baik yang tersakiti, Yadi adalah orang baik yang sakit. Sakit jiwa.


Ren memegang lengan Andrea. Memberinya kekuatan. Tidak ada satu patah kata pun dari mulutnya. Dia benar-benar percaya sekarang, Yadi akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Andrea. Dia terobsesi.


Dale hanya melihat dengan tangan dilipat di dadanya. Selama tidak ada yang mengancam jiwa juragannya, dia tidak akan melakukan apa-apa.


“Maaf, Tante. Kenapa harus melakukan itu?” akhirnya Ren membuka suara. "Mereka kan masih sekolah."


“Kamu siapa?” Mamanya Yadi mengernyitkan dahi, bukan bertanya yang sesungguhnya, hanya sebuah sindiran.


“Saya Ren, teman Andrea, Kak Yadi juga kenal saya, kami satu sekolah.”


“Kalau begitu kamu diam saja! Saya hanya bertanya kepada Andrea. Yadi juga tidak pernah menyebut nama kamu. Saya tahu siapa saja teman dekat Yadi.”


Wajah Ren memerah. Cintanya memang setengah mati kepada Yadi, tetapi kalau diperlakukan seperti itu, dia ingin melabrak mamanya Yadi, kalau saja tidak ingat dia orang tua.


Ya Tuhan, keluarga macam apa ini, batin Ren.


“Bagaimana, Andrea?” Mamanya Yadi kembali bertanya kepada Andrea, memalingkan wajah dari Ren.


“Asal kamu tahu saja, kamu sangat beruntung disukai anak saya. Bagi saya, menyukai kamu atau tidak itu urusan nanti, yang penting anak saya bahagia.”


Kebijakan yang tidak bijaksana.


“Tante sadar dengan yang Tante bicarakan?” Andrea bertanya.


“Saya ke sini tidak habis minum-minum, jadi kepala saya sangat sadar. Kamu tidak usah mengurusi saya, jawab saja penawaran yang kami berikan!" Masih dengan sikap angkuh, mamanya Yadi semakin mendekat kepada Andrea. Arom farfumnya sampai tercium Andrea.


“Benar kata sahabat saya tadi. Kami bahkan masih sekolah, belum pantas untuk memikirkan ke arah sana,” kata Andrea, melirih.


“Mau bebas apa tidak?” gertak mamanya Yadi. Seperti di rumahnya sendiri, berteriak sesuka hati. Anting-anting di telinganya bergoyang, seperti bunga lonceng tertiup angin.


Yadi hanya berdiri saja, seolah menyerahkan semuanya kepada mamanya.


Andrea menelan saliva, merasakan pahitnya kedua pilihan yang dia hadapi. Mana mungkin dia terima pertunangan dengan orang yang tidak dicintai sama sekali. Dia memang masih ingusan, tetapi bukan berarti bisa ditekan begitu saja.


Melihat ke arah Yadi, emosinya sedikit demi sedikit semakin memanas. Tidak menyangka, cowok yang dikenal bersahaja itu hanyalah seorang pecundang yang selalu berlindung di ketiak ibunya.


Andrea yakin, Yadi tidak menyintainya, tetapi lebih ke ingin balas dendam kepadanya, karena berkali-kali dia menolaknya. Sifat orang kaya manja, Andrea tahu semua itu melalui kelakuan Zellina.


“Maaf, Tante. Saya bukan menolak anak Tante yang tampan, cerdas, dan tajir ini." Andrea ingin menujuk hidung Yadi, tetapi sayang dengan telunjuknya, tidak usah kenal dengan wajah cowok itu.


"Woww, kamu sudah sangat tahu ternyata." Mamanya Yadi tersenyum sinis.


"Tetapi, saya juga bisa membuat semua tuduhan Tante itu tidak benar di depan polisi. Maaf kalau pengakuan dan buktinya nanti akan mempermalukan keluarga Tante.” Andrea menatap kedua mata Yadi dengan garang.


Mamanya Yadi menyipitkan matanya.


Ren menoleh ke arah Andrea. Dia tahu apa yang Andrea maksud.


“Heh, memangnya apa yang bisa kamu perbuat?“ tanya Yadi, tidak kalah garang. Sifat aslinya keluar.


“Yang jelas, aku tidak akan berbuat licik seperti cara kamu selama ini.” Andrea berang.


“Jaga omongan kamu ya, anak saya tidak pernah terlibat apa-apa.” Mamanya Yadi menunjuk wajah Andrea. “Kamu yang telah mengarang cerita," lanjutnya.


Diperlakukan seperti itu, Andrea tidak bisa diam saja. Dale juga mulai bereaksi, tetapi Andrea menahannya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Selama ini, saya tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang kelakuan buruk anak Tante. Bahkan kepada sahabat-sahabat saya." Andrea bicara dengan nada menekan. Mamanya Yadi sedikit terkejut.


"Mam, jangan dengarkan omongannya. Dia sedang membela diri saja." Yadi memegang tangan mamanya.


"Oh, kamu lupa? Atau anak buah kamu tidak laporan? Si Atang, lelaki bodoh yang hanya punya otot doang itu orang suruhan kamu kan?" Andrea melipat tangan.


Yadi menelan ludah.


Apa videonya masih ada? bukannya ponselnya hilang dari tasnya? Yadi membatin gentar. Dia teringat video yang diceritakan Atang. Mereka tidak menemukannya ketika mencoba menyekap Andrea dulu.


"Saya bisa buktikan, Tante. Bagaimana cara dia akan memaksa saya untuk menerima cintanya." Andrea menatap mamanya Yadi, setelah tahu gertakannya sudah membuat Yadi ketar-ketir.


"Itu benar, saya mengetahuinya sendiri." Ren menimpali.


Mamanya Yadi tersenyum sinis. "Ngarang terus."


Andrea menarik nafas dalam-dalam. "Terserah Tante mau percaya atau tidak. Barang bukti yang akan bicara."


"Saya keliru, tidak menyerahkannya kemarin ke polisi. Selama ini saya menitupi kelakuannya. Itu saya lakukan demi nama baik Yadi. Saya juga tidak tahu dia dilaporkan masyarakat, karena memang saya harus mengurus urusan yang lebih penting dari pada mengurus kelakuan dia yang kampungan.” Andrea menarik nafas sebentar, lalu melanjutkan ucapannya, “tetapi saya punya buktinya. Bukti itu saya simpan.”


“Kamu mengancam?” tanya mamanya Yadi, berang.


“Maaf, Tante. Karena Tante tidak memberi saya pilihan yang baik.” Andrea berusaha melunak. Bagaimana juga dia orang lebih tua, seumur ibunya.


"Bertunangan dengan anak saya itu terlalu baik." Dikasih lunak Mamanya Yadi malah semakin menyebalkan.


"Baik untuk siapa? Untuk Yadi?" Andrea kembali berseru.


“Kamu pikir bisa melawan kami?” bentak mamanya Yadi lagi. Tidak menyangka akan sesulit itu menekan Andrea, yang dianggapnya hanya bocah ingusan tidak tahu apa-apa.


“Lihat saja nanti, siapa yang akan malu di depan polisi,” sahut Andrea.


“Saya sih biasa saja, orang tua saya bukan orang terpandang, atau pejabat. Tidak akan ada wartawan atau biang gosip mengejar-ngejar say. Tidak tahu kalau dengan keluarga Tante yang terpandang itu." Andrea tersenyum tengil.


“Kalau aku bilang, kamu mau apa? Menyuruh anak buah kamu untuk menculik aku lagi?" seru Andrea ke arah Yadi.


Yadi yakin, Andrea masih punya rekaman videonya.


"Mam, dia masih ada videonya." Yadi berbisik kepada mamanya.


Mamanya Yadi marah dengan nafas memburu, menatap tajam kepada Andrea.


Selang beberapa saat, Yadi diseret mamanya untuk pulang.


“Bagaimana dengan pertunangan aku, Mam?” Yadi merengek.


"Apa tidak ada gadis lain yang lebih baik? Gadis urakan seperti itu kamu sukai."


"Aku hanya ingin dia, Mam." Yadi merengek.


"Jangan membuat malu keluarga! Atau kamu Mama kirim ke Australia!"


"Mam, kenapa jadi ke Australia?"


Yadi dan mamanya berdebat sampai memasuki mobil, pemandangan yang sungguh tidak enak dilihat.


Andrea menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya terasa lunglai, karena tidak menyangka bisa berkata seperti itu kepada Yadi dan mamanya.


“Astaga, apa yang ada dalam pikiran aku?”


Ren tidak bicara apa-apa, di juga merasa terpukul. Kecewa dengan sikap Yadi, yang kekanakan.

__ADS_1


“Bagus, Neng.” Dale berseru. “Sebaiknya Neng segera memberikan bukti ini kepada polisi sebelum Yadi bertindak nekat lagi, mencari bukti yang Neng simpan.”


“Aku capek,” lirih Andrea. Ren mendekatinya. “Aku kangen sama Ibu.”


“Ndre,” lirih Ren. Dia mengusap punggung Andrea. Andrea menutup muka dengan kedua tangannya. "Sebaiknya kita ke kamar."


Ren menuntun Andrea ke kamar.


Gawai Andrea berbunyi. Di layar muncul nama Tukang Kacang Rebus.


Andrea segera mengangkatnya.


“Neng, ini saya, sekarang di sini sedang ada orang yang menitipkan motornya.” Terdengar suara tukang kacang dari seberang telefon, setengah berbisik.


“Bapak bisa enggak berikan ponselnya kepada dia?” Andrea berkata lirih. Entah mengapa, ada sesuatu yang hangat dalam dadanya, mengingat Gigit dekat dengannya.


“Oh, jangan, Neng, ini ponsel satu-satunya, saya beli kredit lagi.”


“Maksud saya, minjamin sebentar, saya mau bicara sama dia. Tolong ya, Pak, bilang saja Andrea ingin bicara." Andrea memelas.


“Ooh, boleh boleh.”


Tidak lama ponsel ditutup tukang kacang.


“Lho, kok ditutup?” Andrea memandangi gawainya.


“Siapa?” tanya Ren.


“Tukang kacang, Gigit ada di sana sedang mengambil motornya.”


“Tinggal telefon balik juga, Ndre,” kata Ren.


Andrea segera menelefon balik. Lama kupingnya menyimak lagu Terajana, nada sambung pribadi tukang kacang rebus.


Andrea sampai mengantuk menunggunya.


Akhirnya tersambung.


"Hallo, Assalamualaikum."


Suara berat Gigit menyapa dari sana, membuat jantung Andrea berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang.


“Git.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Andrea seperti mati gaya, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Membayangkan raut wajah Gigit juga sudah membuatnya sedih. Dia tahu Gigit sedang kacau saat ini.


“Iya, Ndre.”


“Kamu baik-baik saja?”


“Iya,” sahut Gigit.


“Aku ....” Andrea menghentikan ucapannya. Tidak ada suara terdengar dari Gigit. Andrea tahu, cowok itu menunggu apa yang akan dia sampaikan. “Aku tahu semuanya.”


“Semua apa?"


“Bisa kita ketemu?”


“Maaf, Ndre, aku ....”


“Ini tentang ayahmu.” Hening. “Aku sekarang tinggal di rumah istri kedua ayahmu.”


Hening lagi.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2