My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 21 Kebaperan yang Hakiki


__ADS_3

“Baiklah kalau begitu, saya memberi waktu kepada Bu Anis untuk beristirahat dan memantapkan keputusannya lagi. Jika berubah pikiran, Bu Anis bisa kembali mengajar di sini. Terus terang saja, kami masih membutuhkan tenaga Anda, namun jika tidak berubah pikiran, saya anggap benar-benar mengundurkan diri. Dan mohon maaf untuk honor bulan ini saya tidak bisa berikan karena pengunduran diri ini atas keinginan Anda sendiri.” Bu Kania bicara sangat bijaksana, tetapi tegas dan lugas, langsung menuju sasaran.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak mempermasalahkan itu. Rejeki dan jodoh sudah ada yang mengatur.”


Bu Kania jengah juga dengan kata-kata ‘jodoh’ yang dilontarkan Bu Anis. Mengingat mereka adalah dua orang single yang tengah bersaing memperebutkan hati Pak Bayu sang guru Pra karya.


Yang satu perawan tua, yang satu lagi janda ditinggal mati. Sedangkan Pak Bayu, duda keren beranak dua.


“Oke, silakan Anda pikirkan lagi.” Bu Kania mengakhiri pembicaraan.


Bu Anis keluar dari ruangan kepala sekolah, setelah sebelumnya tiga orang kupinger blingsatan untuk sembunyi di balik pot besar.


“Udah belum ngupingnya? Ayo doong kita ke toilet!” bisik Zellina, sambil terus saja menggerak-gerakkan kakinya menahan kebelet.


“Siapa yang mau ke toilet?” tanya Andrea.


“Iih, bukannya kalian mau ke sana?”


“Kagak. Kebiasaan banget deh, Zel kalau mau ikut tuh nggak tanya-tanya dulu.” Andrea nyolot.


“Duuh, gimana doong? Aku kebelet niiyy ga berani ke sana sendirian, takut digodain jin kayak Bu Anis.” Zellina tetapi merengek.


Kebetulan, Jastin anak kelas sebelahnya yang sedikit lebay melewati mereka.


"Cewek-cewek sedang apa di sana?" tanya Jastin, tidak lupa membenarkan letak jambulnya.


Andrea yang merasa harus bertanggung jawab atas kekacauan ini segera memanggil Jastin untuk mengurus teman princesnya itu.


“Jas, mau ke toilet? Bareng sama Zellina, ya.”


Dengan senang hati Jastin mengangguk, diusap-usapnya jambul jambu mete di kepalanya.


“Silakan, Princes,” kata Jastin.


Zellina malu-malu kucing, gerakan langkah kakinya makin kenceng menahan pipis. Jastin berlari-lari kecil mengimbangi.


"Ya sudah, sekarang kita kasih tahu teman-teman. Kita pikirkan untuk menghentikan kepergian Bu Anis." Ren melangkah gontai.


Sekilas Andrea melihat Bu Kania senyum-senyum sendiri di ruangannya seperti orang baru dapat lotere.


“Kamu lihat Bu Kania deh, Ren. Sepertinya senang Bu Anis hengkang.”


“Masa sih?” Ren ikut mengamati dari kaca jendela.


“Lihat saja, mungkin gosip selama ini benar, Bu Kania dengan Bu Anis bersaing dalam mencuri hati Pak Bayu.”


“Ah, kamu malah ngurusin gosip, Ndre.” Ren berjalan untuk kembali ke kelas.


Andrea melihat sekali lagi ke arah Bu Kania, lalu cekikikan. Dia menyusul Ren, dirangkulnya pundak sahabatnya itu.


"Kamu sendiri, kenapa sih, masih jutek aja sama Zellina?" tanya Andrea.


"Ngga kok."


"Kalau ada apa-apa, kamu ngomong aja. Ngga enak tau, meski rada oon, Zellina itu sahabat kita. Kita selalu bersama sejak SMP."

__ADS_1


"Nahh, kamu sendiri, nganggap aku sahabat ngga? Kok Zellina terus yang dibela." Ren melepaskan tangan Andrea dari bahunya.


"Lhoo, kok jadi aku yang disalahkan? Ren, Ren ... Tunggu!" Andrea menyusul Ren yang mempercepat langkahnya. Masalah semakin melebar saja. Andrea mengikat rambutnya yang mulai bikin gerah.


“Bu Anis beneran mau mengundurkan diri kawan-kawan, kita tadi dengar sendiri.” Ren memberi pengumuman di depan kelas, didampingi Andrea.


Tumben banget kali ini semua mendengarkan. Termasuk Akri dan gengnya, mereka melepaskan dulu Zainal yang sedang mereka kelitik perutnya.


“Beneran?” tanya Akri.


Ren dan Andrea mengangguk.


Akri memegang kepalanya dan terhuyung ke kursi, lalu terduduk lemas. Sekelas mendadak baper ketika melihat Akri si pembuat onar menjadi baper.


Hampir semuanya kini baru sadar, Bu Anis adalah guru yang terbaik, cara mengajarnya membuat mereka jadi terpaksa pintar Matematika.


Beliau juga guru bijaksana, tidak semena-mena menggunakan kekuasaannya sebagai wali kelas untuk bertindak diluar kewajaran.


Bu Anis marah, karena muridnya memang harus dimarahi, Bu Anis menghukum karena muridnya memang bersalah. Kalau selama ini kelas mereka paling sering mendapat gebrakan jidar kayunya, itu juga karena kelas mereka paling ribut dan susah diatur. Maklum saja, mereka dari kumpulan murid sisa-sisa di sekolah swasta itu, jauh dari sebutan kelas unggulan.


“Terbayang jidar panjangnya yang selalu menggelegar akan jadi kenangan yang paling dirindukan.” Akri bergumam masih dengan terduduk lesu di pojokan. Meremas rambutnya. Entah sedang drama atau betul-betul dari dalam hati, yang jelas Akri mendadak puitis. Kini semua baru menyesal, ketika akan kehilangan guru killer mereka.


Kelas akhirnya riuh dengan berbagai macam ekspresi, ada yang senang, kecewa, pura-pura sedih, bahkan ada yang menantang jin sekolah.


“Ini semua gara-gara jin kurang kerjaan, sok ... mana siah ... keluar siah!” salah seorang berteriak-teriak seperti kesurupan, melihat berkeliling. Teman sebangkunya memegangi.


“Cicing siah!” bentaknya.


“Saha maneh?” tanya teman sebangkunya.


”Goblok, aing saha??” lanjutnya, lalu terhuyung dan lemas. Dia benar-benar kesurupan. Beberapa temannya membawa ke luar mau di bawa ke toilet, nyeuceuh mukanya, sebelum ada kesurupan masal.


Zainal tidak kalah lebay, mulanya menangis tersedu-sedu. Ren menenangkannya dibantu Andrea. Tiba-tiba Zainal meraung sambil menarik-narik rok Ren.


“Kamu kenapa sih? Kau ikut aku!” gertak Ren, hilang kesabaran.


Zainal menolak, malah masuk ke kolong. Ren kewalahan mempertahankan Roknya yang hampir merosot ditarik-tarik.


“Mau dibawa ke mana Ren?” tanya Andrea, khawatir juga dengan Zainal.


“Ke emaknya. Dia mulai tantrum nih, hanya emaknya yang bisa menangani.”


“Emang emaknya siapa?”


“Bu Kania,” jawab Ren, lalu menarik Zainal dari kolong. Akri yang melihat itu segera membantu. Kesedihannya mendadak raib, berganti muak dengan kelakuan Zainal yang kekanak-kekanakan.


“Sudah diajarin juga jadi cowok tulen, masih saja cengeng, heran ....” Akri merutuk. Zainal makin meraung di kolong meja.


Andrea baru tahu kalau Zainal itu anaknya Bu Kania, selama ini Ren tidak pernah cerita. Ren dan Akri juga selama ini sangat peduli padanya, yang satu peduli dengan cara membuli yang satu lagi membela. Bela dan buli setiap hari. Ada apa dengan mereka?


Aahh, bodo amat, batin Andrea. Pusing dengan kekacauan ini, Andrea melangkah ke bangkunya. Merebahkan kepala ke meja.


Hanya Fany yang cuek, dia asyik baca buku di pojokan sambil ngemil tahu gejrot.


Seorang guru yang lewat hanya geleng-geleng kepala melihat keributan itu. Siswa kelas lain juga tidak terpengaruh, kembali dengab aktivitas masing-masing. Sudah biasa dengan kelakuan kelas angin ribut itu.

__ADS_1


Andrea terdiam, tidak tahu harus berbuat apa kalau sudah begini. Dale juga sedang dihukum, tidak bisa diminta bantuannya.


Semua ini juga gara-gara dia.


Tiba-tiba Zellina datang, teriak-teriak sudah seperti orang dikejar setan.


“Ada apa Zel?” tanya Andrea.


“Aku dikejar cowok sekelasnya Jastin Beser,” jawab Zellina sambil terengah-engah.


“Kenapa?”


“Tadi keterusan ngikutin dia ... aku jadi masuk toilet cowok ....”


Andrea menepuk jidat. "Terus, pipisnya udah?”


“Udah ... euhmm ... pernah, tapi lupa.”


Klokk!


Sesuatu menggondok di leher Andrea. Dalam keadaan seperti ini Zellina masih saja membuat gondok.


Ren yang masih menarik-narik Zainal tidak peduli dengan celotehan Zellina, sementara teman-teman sekelasnya yang lain tertawa melihat kelakuan Zellina.


Tok tok tok!


Suara kaca jendela diketok.


Pak Iwan melongok, untung kerbaunya ngga ikut melongok.


“Ada apa ribut-ribut?”


“Hallooo, Pakde!” Zellina menyapanya. Pak Iwan dadah-dadah dari jendela.


“Pak Iwaaaann, Bu Anis mau pindaaang, ehh ... pindaaaah, huahuauaaa ....” Zainal yang masih di kolong berteriak.


“Dasar tukang ngadu,” bentak Akri.


“Haaaaaahh, beneran??” Pak Iwan terkejut, dipandangi wajah anak-anak di kelas itu satu per satu.


Suasana mendadak hening, lalu setelah beberapa lama terlihat ada rona duka dari wajah Pak Iwan. Tanpa berkata-kata Pak Iwan melepas satu kancing kemejanya, dia berlalu menjauhi jendela kelas, lalu duduk di bawah pohon cengkeh di sisi sawah.


Pak Iwan menatap hamparan sawahnya yang luas sambil memeluk capingnya, melamun, seperti terpukul. Pekerjanya memandangi dengan heran, kerbaunya asyik leyeh-leyeh di kubangan yang dibuat khusus untuknya.


Seluruh penghuni kelas melongok dari kaca jendela, berdesakan persis penumpang kereta api kelas ekonomi. Semua heran, semua bingung. Apa yang terjadi dengan Pak Iwan?


Fany beranjak dari duduknya, lalu berjalan dan berhenti di samping Andrea yang sedang ikut melihat kelakuan Pak Iwan. Tahu gejrot ditusuk-tusuk, seperti sedang menusuk boneka santet.


“Hai, Fan!” sapa Andrea, merasa aneh juga disamperi Fany yang hari ini merias wajahnya sedikit pucat, mirip kuntilanak depresi.


“Lu kudu tanggunga jawab!” kata Fany, pelan.


“Tanggung jawab?” tanya Andrea.


“Kekacauan ini kan ulah jin peliharaan kakek lu.” Fany bicara lagi, pelan, tanpa ekspresi, datar.

__ADS_1


selamat membaca, doain bisa up terus yaa ...


__ADS_2