My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 71 Tersentuh Penyusup Subuh


__ADS_3

Gigit kembali menemui Ren dan Zellina di air terjun pertama. Dia membiarkan Andrea menyelesaikan misinya seorang diri, toh setelah dilihat dari rute perjalanan, air terjun selanjutnya tidak terlalu jauh.


Cewek tomboi dan keras kepala seperti Andrea terlalu tangguh untuk dikasihani. Dia hanya sedang merasa kecewa, karena Andrea tidak mau memberi tahu alasan yang sebenarnya kenapa melakukan ritual semacam itu.


Waktu sudah menunjukkan jam sebelas siang, air terjun utama semakin ramai pengunjung. Mereka sengaja membasahkan tubuhnya di terjangan air terjun. Ada juga yang hanya swafoto tanpa ingin berbasah-basahan sedikit pun. Bahkan yang berfoto dalam basah juga banyak.


“Mana Andrea?” Ren berlari menghampiri Gigit.


“Aku mau bicara, Ren!” Gigit menggamit tangan Ren. Membawanya duduk di tempat yang agak sepi.


“Ada apa?”


“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Andrea.”


“Kenapa tidak menanyakannya sendiri?”


“Oh iya ya, nanti dia akan menjelaskannya dengan gamblang.” Gigit menyindir dengan senyum dipaksakan.


Ren terdiam.


“Dari awal aku merasa ada yang ganjil dengan maksudnya mencari tujuh sumur di gunung, tetapi aku tidak banyak bertanya. Sekarang aku melihatnya sendiri dia mengambil air dari setiap air terjun, apakah dia sedang berbuat syirik? Menyekutukan Allah dengan memercayai perintah dukun?” tanya Gigit.


“Git! Kamu berpikir Andrea seperti itu?” Ren menatap Gigit dengan wajah tidak percaya.


“Makanya jelaskan dong, biar aku enggak menebak-nebak dan menuduh seperti itu.”


Ren kembali terdiam.


Gigit beranjak, merasa tidak ada gunanya bertanya kepada Ren. Dia keluar dari tempat itu dengan wajah menekuk.


Baru kali ini Ren melihat Gigit terlihat kecewa, mungkin karena dia merasa Andrea sudah berbuat di luar batas yang diperbolehkan ajaran agama.


“Wah, Gigit marah, berabe kalau dia malah pulang sendiri. Siapa yang akan membawa kita balik? Kamu di mana sih, Ndre?” Ren bicara sendiri. Dia memerhatikan punggung cowok yang sedang menanggung kecewa itu semakin menjauh.


Zellina menyapa, tetapi hanya dibalas lambaian tangan oleh Gigit.


“Kenapa dia?” tanya Zellina, ketika Ren menghampirinya.


“Sebaiknya kita cari Andrea, sepertinya Gigit marah.”


“Marah kenapa? Memang Andrea ke mana?” Zellina celingukan.


Ren segera membaca rute perjalanan ke air terjun lainnya di sebuah papan pengumuman. “Dia ke air terjun lain.”


“Telfon saja! Aku lelah kalau harus ke atas." Zellina memberi saran sambil mengurut-urut kakinya.


Ren segera mengeluarkan gawainya, lalu memasukkannya lagi dengan wajah kecewa.


“Kan ponsel Andrea mati.”


“Oh, iya.” Zellina mengamati langit. "Sepertinya sudah siang. Kapan kita akan di sini? Meskipun menyenangkan, tidak pusing dengan pelajaran, tetapi aku sudah rindu pulang. Ketemu anak-anak."


"Mudah-mudahan sore ini kita bisa pulang, Andrea berhasil membereskan misinya."


Ren juga melihat langit.


”Di sini tengah hari juga masih dingin ya," kata Zellina.


“Itulah gunanya pohon tetap ada, biar dunia adem.” Ren duduk di batu besar.


“Di tempat kita memang tidak ada hutan, jadinya panas.” Zellina ikut duduk di sebelah Ren.


“Tempat kita dataran rendah, Zell, yang ada sawah. Tetapi tidak kalah bermanfaat, bisa menghasilkan pangan untuk dunia. Manusia tidak hanya butuh udara bersih, tetapi juga makan.” Ren menerawang, menyaksikan air terjun yang sepertinya tidak pernah berhenti jatuh.


"Ho oh, kalau musim panen gatal semua." Zellina memeletkan lidah.


"Jelas, sekolah kita kan paling dulu diserang kupu-kupu sawah." Ren tertawa, Zellina juga ikut tertawa, ketika ingat hampir semua teman-temannya kena racun serangga sawah.


“Kalau ingat sawah, aku jadi ingat Pak Iwan. Kalau ingat Pak Iwan, aku jadi ingat Bu Anis. Zell, sebaiknya kita bantu Andrea. Malah duduk-duduk di sini.” Ren menarik tangan Zellina yang baru saja mau bedakan.


“Ke mana?”


“Ikut saja!”


Mereka tergopoh-gopoh, saling berpegangan tangan melewati jalan berbatu untuk naik ke air terjun ke dua.


“Kalian mau ke mana?” Sebuah suara mengejutkan mereka. Seorang cowok ganteng menatap mereka dengan wajah ramah, model rambut spiky yang menghiasi kepalanya membuat wajahnya terlihat lebih jenjang dan enak dipandang.

__ADS_1


“Eh, Kakak, ada di sini?” Ren merasa kejutan mendapati Dodo ada di sana.


Dodo tersenyum. “Setelah kalian berangkat, saya baru sadar, kalian tentu tidak punya pemandu. Eh, iya, kita belum sempat kenalan. Saya Aldo Pribadi, panggil saja Dodo.” Dodo mengulurkan tangan.


Ren menyambutnya. “Mauren, panggil saja Ren. Ini Zellina.”


Zellina diam saja, Ren menyenggolnya.


“Oh, Zellina.” Zellina juga menerima uluran tangan Dodo. Dodo menatapnya.


Tuhan benar-benar sedang mempunyai mood baik ketuka menciptakan dia, semakin dekat, dia semakin cantik. Apakah seperti ini kecantikan bidadari itu? Dodo membatin.


"Kakak sendirian?" tanya Ren.


"Bersama teman, tetapi mereka sedang ngopi. “Kalian mau ke mana?” tanya Dodo lagi.


“Ehm, mencari Andrea.” Ren menjawab.


“Dia meninggalkan kalian di sini? Keterlaluan si Andre.”


“Bukan, enggak kok, dia tidak meninggalkan kita, hanya sedang ada keperluan saja dulu.” Ren tersenyum. Benar-benar beruntung Andrea punya kakak sepupu seganteng ini, batin Ren.


“Oh, kalau begitu, kalian mau lihat-lihat ke air terjun lainnya? Mari diantar.” Dodo menawarkan diri.


Ren dan Zellina saling pandang. Mereka bingung harus bagaimana.


“Jauh? Soalnya Zellina agak capek," tanya Ren.


“Enggak, dekat kok. Di sana pemandangannya lebih memesona. Biasanya ada orang camping juga, karena kawasannya lumayan lapang.


“Bagaimana, Zell?” Ren bertanya kepada Zellina yang dari tadi cuek saja.


“Terserah kamu. Kalau mau pergi silakan saja, aku mau mencari Gigit.” Zellina berjalan meninggalkan mereka.


“Zell!” Ren berlari mengejar.


Dodo memerhatikan mereka.


“Kamu jangan begitu, Gigit tidak tahu ke mana, Andrea juga, nanti kalau kamu pergi sendiri, kita semua berpencar. Ngga akan selesai-selesai saling cari. Sebaiknya kita ikuti saja kakak sepupunya Andrea, dia orang sini, kita bisa minta bantuan dia kalau ada apa-apa.” Ren membujuk.


“Aku tidak suka sama dia,” ketus Zellina.


Zellina memajukan bibirnya beberapa centimeter.


“Ayo!” Ren menarik tangannya.


“Maaf, kak. Ayo! aku juga penasaran dengan tempat ini.”


Dodo tersenyum, dia mengayunkan tangannya. Memberi kesempatan kepada cewek-cewek untuk berjalan di depan.


Mereka mulai mendaki, mengikuti rute dan arahan Dodo.


Zellina berkali-kali terpeleset karena jalanan yang licin dan berbatu. Ren yang kebagian membantunya, karena Dodo berjalan agak jauh di belakang mereka.


“Sebaiknya Kak Dodo di depan deh, biar kita bisa mengikuti jalanan yang baik. Maklum, Kak, Princes jadi-jadian ini biasa jalan di mol.” Ren cengengesan.


Zellina membersihkan sepatunya yang kotor.


Dodo tersenyum. Di sebuah tanah mengundak dia naik terlebih dulu, lalu mengulurkan tangannya kepada Zellina.


Zellina ragu, tetapi akhirnya dia terima uluran tangan Dodo.


Bahkan kulitnya pun, selembut sutera. Ah, apa sih, kenapa jadi lebay begini. Dodo mengutuk dirinya sendiri yang sedang kejatuhan asmara.


Ren sampai ketinggalan, lupa ditolongnya.


"Maaf, hehe." Dodo cengengesan, giginya terlihat berderet rapi.


Ren tidak masalah.


Mereka akhirnya sampai atas.


“Indahnya ....” Ren bergumam, dia takjub dengan air terjun yang ke dua itu. Meskipun lebih kecil dari yang pertama, tetapi keindahannya tidak kalah memukau.


Zellina mencoba jongkok meraih air yang mengalir di selokan kecil dekat kakinya.


Selokannya terlalu dalam, sehingga dia hampir terperosok, kalau saja tubuhnya tidak segera ditahan oleh Dodo. Mereka jadi berpelukan.

__ADS_1


Zellina yang terkejut menatap mata Dodo, sedangkan Dodo hanyut dalam kenikmatan persona mata indah seorang Princes. Jantungnya berdetak kencang, seperti sedang berlari pagi. Dia ingin seribu tahun dalam posisi itu. Kalau saja Ren tidak berdehem-dehem.


Dodo melepaskan pelukannya. Zellina memalingkan wajah dengan gugup.


"Hati-hati," lirih Dodo.


“Kamu tidak apa-apa, Zell?” tanya Ren.


Zellina menggeleng, jantungnya masih berdetak kencang.


“Eh, kalian masih mau melihat air terjun selanjutnya?” Dodo mengalihkan kegugupannya.


“Sepertinya aku enggak, kalian saja. Aku menunggu di sini.” Zellina mulai tidak nyaman dengan Dodo.


Ren merasakan itu. Dia juga merasa heran dengan sikap Zellina. Biasanya dia paling cari perhatian terhadap cowok, tetapi dengan Dodo dia beda.


“Kamu benar capek?” tanya Ren.


“Iya, kan tadi sudah bilang, aku di bawah saja." Zellina merengut.


“Sebaiknya duduk dulu.” Dodo mencari tempat yang enak untuk duduk. “Di sana, lebih enak sepertinya.” Dodo menunjuk batu lebar.


“Yuk, Zell!” Ren menuntun Zellina. Zellina menurut saja, mengikuti Dodo yang sudah lebih dulu ke sana.


Tiba-tiba beberapa orang bergegas naik. Mereka tampaknya petugas pengelola wisata air terjun.


“Ada apa, Kang?” tanya Dodo.


“Ada laporan, seorang pengunjung masuk jurang di air terjun puncak," jawab salah seorang dari mereka.


“Siapa?”


“Kurang tahu, sepertinya perempuan. Ada yang mendengar rintihannya. Kalau mau membantu, kami senang sekali."


“Andrea,” pekik Ren. Dodo menolehnya. “Andrea sedang ke sana, Kak.”


“Sendirian?” tanya Dodo.


Ren mengangguk dengan wajah khawatir.


“Ngapain? Tidak dengan cowoknya?”


Ren menggeleng. “Tadi Gigit keluar. Dia bukan cowoknya, Kak. Kita semua hanya teman.”


“Tenang, Ren. Belum tentu juga dia.” Zellina mencoba tidak panik.


“Bagaimana kalau dia?” Ren malah balik bertanya.


Dodo melihat pengelola mulai mendaki. Dia beranjak.


“Sebaiknya kalian tunggu di sini, saya akan melihat ke atas.” Dodo membuka jaket kulitnya. “Titip ini, boleh?”


Ren menerima jaket Dodo. Dodo bergegas menyusul pengelola wisata, diiringi tatapan Ren dan Zellina.


“Lihat, dia tidak seburuk yang kamu pikirkan.” Ren berbisik kepada Zellina.


Zellina cukup tersentuh oleh kesigapan Dodo mencari Andrea. Walaupun begitu, dia tidak mau mengakuinya di depan Ren. Dia mencibir. “Paling mau cari perhatian kita, biar tidak dicap tukang menyusup kamar cewek subuh-subuh."


“Kamu kenapa? Biasanya paling getol kalau lihat cowok ganteng.” Ren menatap heran.


“Ganteng dari Semarang? Cowok tengil begitu dibilang ganteng, matamu di mana, Ren?”


“Di sini.” Ren menunjuk pantatnya.


“Pantas saja, penglihatanmu hanya sampai dengkulnya.” Zellina mencibir.


Ren menyimpan jaket Dodo di batu. Zellina meliriknya.


Sebenarnya dia juga merasa deg-degan ketika dekat dengan Dodo. Tatapannya terasa lain, membuat darahnya mendesir. Tetapi dia tidak mau berharap lebih, peristiwa cinta bertepuk sebelah tangan terhadap Yadi masih membekas di hatinya. Sekarang pun dia masih belum bisa melupakan Yadi, cowok idola penuh kepalsuan yang potretnya masih tersimpan di dalam ponselnya.


“Kok melamun?” Ren mencolek bahunya. Zellina terkejut.


“Di tempat kayak begini jangan banyak melamun, kamu tidak ingat peristiwa kemarin?”


Ren dan Zellina mulai lirik kanan kiri. Tenda yang tadi berdiri sekarang sudah tidak ada lagi, orang-orang yang tadi menikmati air pun, tidak ada, tidak kelihatan perginya. Mereka menghilang tanpa disadari.


Di sana tinggal mereka berdua, ditemani deru air jatuh yang menciptakan embun-embun dingin di sekelilingnya. Ren dan Zellina berpelukan.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2