My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 83 Kehilangan Gigit


__ADS_3

Malam merangkak semakin larut, ketiga remaja itu tidak ada yang bisa memejamkan mata.


“Zell,” panggil Andrea.


“Hmm ....”


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Andrea, dengan mata masih menerawang langit-langit kamar hotel.


“Memangnya kenapa?” Zellina tidak mengerti pertanyaan Andrea.


“Kan Aa Dodo tidak jadi datang ke sini.”


Zellina membenarkan letak selimut di dadanya. "Tidak apa-apa," sahutnya.


"Tumben banget, kamu mengerti. Ada hikmahnya juga ya, kesambet di bukit," sambar Ren.


Zellina menutup mulut Ren dengan tangannya. Ren megap-megap.


“Aku percaya sama dia, Ndre. Di tidak mungkin akan mengingkari janjinya. Kamu juga tahu itu kan?” Zellina memiringkan badannya, menghadap ke Andrea. Membelakangi Ren yang bersungut-sungut ria.


Andrea menarik nafas. “Tentu saja, Zell. Aku sangat mengenal dia. Dia adalah kakak yang sangat baik. Yahh, walaupun kadang suka sedikit menyebalkan. Aku percaya dia benar-benar sayang sama kamu.”


“Kenapa?” Mata Zellina berbinar.


“Karena, dia bukan orang yang mudah jatuh cinta. Padahal banyak cewek yang mengejarnya.”


Zellina terdiam. “Masa?” tanyanya, sambil mengalihkan kembali wajahnya ke langit-langit. Matanya seketika berubah meredup, wajahnya merengut. Seperti bulan purnama, disamperi awan kelabu.


Andrea menolehnya. “Kamu kenapa?” tanyanya heran. “Belum apa-apa sudah cemburu saja."


“Dia banyak yang suka. Bagaimana aku tidak cemburu, gerutunya."


Andrea tersenyum geli.


"Ndre, ceritakan dong tentang dia.” Zellina kembali menghadapkan wajahnya kepada Andrea.


“Cerita apa?”


“Apa saja, tentang masa kecilnya, kesukaannya, kebiasaannya.” Zellina menyimpan kepalanya pada lengannya.


“Ah, cari tahu saja sendiri. Kamu kan pacarnya.” Andrea berbalik, memunggungi Zellina.


“Duh, Ndre, kamu kan tahu, kita lagi tidak bisa terhubung. Ua kamu kenapa ya? Sampai tega mengambil ponselnya demi melarang anaknya pergi.” Zellina meraih bahu Andrea.


Andrea terdiam sebentar. “Mana aku tahu, mungkin Ua tidak mau ditinggal sendiri.”


“Tinggal ikut saja.”


“Dia sudah tua, Zell, mana boleh kena angin malam.” Andrea bicara lirih, masih dalam keadaan memunggungi Zellina. Dalam hatinya, dia merasa sedih sekali mengingat perbuatan Bu Nisma terhadapnya.


Kalau saja kamu tahu, Zell. Kita semua hampir saja mati karena dia, batinnya.


“Eh, tapi aku bingung sama kamu, kok bisa tahu semua itu, kamu dapat kabar dari siapa?” tanya Zellina.


“Aku punya telepati.” Andrea menjawab sekenanya.


“Benarkah, Ndre?” Mata Zellina terbelalak.


“Iiiihh ... Kalian, berisik saja sih, aku mau tidur!” Ren berseru, dari tadi dia mencoba tidur, tetapi malah ikut menyimak obrolan kedua sahabatnya itu.


Zellina bangun. “Kamu mau tidur tinggal tidur saja, Ren, tutup kupingmu sama headset!” Dia melempar Ren dengan bantal.


“Ngga boleh, tidur pakai headset, nanti meledak kupingku.” Ren melemparkan kembali bantal Zellina, tepatnya batal hotel.


“Biarin, meledak sekalian, kuping kamu sensitif banget sih, kayak tes kehamilan. Orang lain juga biasa saja kalau aku ngomong." Zellina kembali merepet.


Andrea tetap membelakangi kedua teman yang sedang saling omong tidak jelas itu. Bukan tidak mau ikut campur, atau seru-seruan lagi, tetapi dia sedang berusaha mencegah air matanya untuk tidak menderas.


Dia teringat ibunya, tentu dia harus mencari cara lain lagi untuk mencari uang. Janji Uaknya untuk membantunya sudah dianggap tidak akan ditepati.


Tanpa bisa dicegah, hangat di sudut matanya menyibukkan jarinya untuk terus menghapus, manjadi ingus.


Di balik kebahagiaannya mendengar Zellina jadian dengan sepupunya, ada sesuatu yang menganga dalam hatinya malam itu. Luka yang terluka lagi, entah kapan akan menghilang.


“Ndre! Kamu jangan tidur dulu, Ndre!” Zellina mengguncang-guncang punggung Andrea. “Iiihhh ... Ndre, tolong hubungkan aku dengan Kak Dodo dengan telepatimu!”


Andrea pura-pura mendengkur. Zellina misuh-misuh, lalu merebahkan badannya sekaligus, sehingga kasur besar itu bergoyang seperti perahu di atas gelombang.


Ren juga membelakanginya, Zellina menghentak-hentakkan kakinya sendiri.


**


Bandung pagi hari, dingin masih menyergap setiap sudut hotel. Pak Supri mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka.


Ren membuka pintu. “Pak Supri, ada apa?”


“Euhh, ini, Neng. Anu ....”


“Ada apa, Pak?” Andrea muncul di belakang Ren, dengan wajah bantal.


“Den Gigit tidak ada di kamarnya. Yang ada ini.” Pak Supri menyerahkan sebuah kertas.


Andrea mengambilnya.


Pak, aku pulang duluan, bilang ke yang lainnya. Gigit


“Kenapa?” tanya Andrea.


“Saya juga tidak tahu, Neng. Pas bangun, dia sudah tidak ada.” Pak Supri menggaruk-garuk kepalanya.


Ren dan Andrea berpandangan.


“Tapi semalam masih ada kan?” tanya Andrea.


“Setelah makan malam saya langsung tidur, jadi tidak tahu Den Gigit keluar kapan.”


“Ya sudah, nanti kita hubungi dia. Pak Supri siap-siap saja, kita pulang pagi ini juga.” Ren mencoba membuat semuanya biasa saja.


Memang tidak ada yang harus dikhawatirkan sih, perjalanan mereka hanya tinggal satu atau dua jam lagi. Gigit pasti sudah memikirkan matang-matang. Tanpanya, mereka akan baik-baik saja.

__ADS_1


“Non Zellina mana, Neng?” tanya Pak Supri.


“Masih bobo cantik, Pak. Pak Supri tenang saja, nanti kita yang bangunkan, mandikan, suapi ....” Ren tersenyum.


“Memangnya Nona saya bayi, Neng?” Pak Supri tersenyum lucu.


“Memang dia bayi, Pak. Bayi boneka santet,” kata Ren.


Pak Supri terkejut, lalu terkekeh. Dia segera pamit menghangatkan mobil.


“Jangan lama-lama, Pak. Nanti mobilnya gosong!” seru Ren.


Pak Supri tertawa.


Sebuah pintu kamar terdengar membuka. Ren buru-buru masuk dan menutup pintunya, takut dilempar sendal sama penghuni kamar yang lainnya.


“Gigit kenapa ya? Kok enggak pamit sama kita?” Ren mengecek gawainya, mencari tahu ada pesan dari Gigit yang belum dia baca.


“Dia kirim pesan?” tanya Andrea.


Ren menggeleng. Dia mencoba menghubungi Gigit. “Tidak aktif.”


“Ada apa, selir-selir?” Zellina bangun, bertanya masih dengan mata terpejam. Rupanya percakapan semalam masih terbawa mimpi.


“Ayo bangun, Zell, kita pulang sekarang!” Ren beranjak, hendak ke kamar mandi.


“Enak saja, aku dulu, tadi sudah pasang pemanas.” Andrea berlari.


Ren mengelus dada, melihat kelakuan Andrea. “Cepat! Aku mulas.”


“Tunggu, sejam ....”


Ren merengut, Zellina tidur lagi sambil duduk.


"Benar-benar nih putri pemalas," gumam Ren, dia menyeret kaki Zellina.


**


“Gigit ke mana?” Zellina mencari-cari Gigit, ketika mereka sudah duduk manis di dalam mobil, bersiap pulang.


“Sudah pulang, Non.” Pak Supri yang menjawab.


“Lho, kapan?”


“Tidak tahu, saya membaca suratnya tadi subuh.”


"Ciee, Pak Supri disurati cowok." Ren malah meledek. Pak Supri bergidik.


“Naik apa?” tanya Zellina lagi.


“Naik kapal pesiar,” jawab Ren. “Sudahlah, Pak. Ayo kita jalan, biar cepat sampai, aku kangen Mama.” Ren menyenderkan kepalanya ke jok.


Andrea meliriknya. “Oh iya, aku sudah cerita belum?”


“Apa?” tanya Ren.


“Mama kamu sudah dibawa pulang.”


Andrea menaikkan kedua alisnya. “Info akurat,” sahutnya.


Ren berbinar. Dia yakin Andrea tahu dari Dale. Dia langsung menghubungi papanya. Tetapi tidak diangkat.


“Kok, papaku tidak bilang?” tanyanya.


“Mungkin dia mau kasih kejutan, atau lupa kamu anaknya,” ledek Zellina.


Ren menjulurkan lidahnya. “Pak Supri ayo cepat jalan, aku sudah tidak sabar nih ....”


“Muntah lagi, enggak, Neng?” tanya Pak Supri, sambil cengengesan.


“Pak Supriiiiii ....” Ren berteriak.


“Iiihhh, Ren itu teriakan aku!” jerit Zellina.


“Bodoooo ....” seru Ren lagi.


Andrea menutup kuping.


Gigit, kamu ke mana? Tiba-tiba hatinya sangat kehilangan.


Mobil meluncur di jalan tol, meninggalkan cerita suka dan duka selama perjalanan ke kampung, menuju kediaman mereka yang ditinggalkan tanpa permisi.


Ren yang diantar pulang lebih awal. Papa dan mamanya menyambut dengan penuh suka cita di teras. Ren tidak henti-henti menciumi mamanya itu, yang terlihat lebih segar dan semakin cantik.


Andrea sangat terharu melihat sahabatnya sudah bisa melewati kepiluannya sekarang. Tinggal dirinya, yang entah kapan bisa sebahagia dulu. Tragedi sepertinya masih saja menerpa hari-harinya.


Selanjutnya mobil menuju rumah Andrea, dia tidak ada yang menyambut. Sisa oleh-oleh yang sebagian habis dimakanin di jalan mau diturunkan.


"Tidak usah, Pak. Bawa saja, buat dimakan sama teman-teman Pak Supri di rumah," kata Andrea.


"Huss, tidak boleh begitu, Neng, ini oleh-oleh itu amanat, harus dibawa sampai rumah."


"Oh, begitu ya? Ya sudah, sebagian saja, deh. sebagian lagi bawa ya."


"Siap, Neng!" Pak Supri menurunkan sebagian oleh-oleh.


Di depan pagar, Andrea melambaikan tangan kepada Zellina.


“Terima kasih, Zell,” serunya.


“Iya, Adikku, sama-sama.” Zellina berkali-kali melayangkan cium jauh untuk sahabatnya itu, terlihat jelas hatinya sedang bahagia.


Andrea melemparkan senyum, sambil geleng-geleng kepala. "Teteh Unzel, awas ya kalau tidak ngasih jajan!" teriaknya.


Zellina menjulurkan lidahnya.


“Kita langsung pulang, Non?” tanya Pak Supri.


“Iya, Pak, aku ingin rebahan, penat rasanya.” Zellina menggulir-gulir layar gawainya. Melihat lagi kemesraan dia dengan kekasihnya, Dodo.

__ADS_1


Sesekali dia senyum sendiri.


“Non kelihatan bahagia sekali,” kata Pak Supri.


Zellina mendekap gawainya di dada. “Sangat, Pak. Aku sangat bahagia. Pak Supri jangan sirik ya,” ancamnya.


“Saya tidak mungkin akan sirik, Non, malah saya senang Non bahagia.”


“Iya, aku tahu, terima kasih, Pak Supriyyyy.”


“Sama-sama, Non. Ngomong-ngomong, Non bahagia kenapa?”


“Ah, Pak Supri mah kepo.” Zellina mendelik. “Eh, tapi enggak apa-apa deh, aku kasih tahu.”


“Kenapa, Neng?”


“Aku jadian sama Kak Dodo.”


Pak Supri tertegun. “Non yakin?”


“Iya, memang kenapa, Pak Supri?”


“Jadian sama cowok kampung?” Pak Supri keceplosan, dia segera menutup mulutnya.


“Lho, memangnya kenapa? Kak Aldo kan keren, meskipun dia orang kampung.”


Pak Supri terdiam, lalu bicara, “iya sih, dia memang cakep, keren lagi, meskipun tinggal di kampung. Tetapi, pasti Papa sama Mama Non tidak setuju,” gumam Pak Supri.


Dia sangat tahu bagaimana kehidupan keluarganya Zellina. Mama dan Papanya tentu akan menginginkan calon menantunya itu yang satu derajat dengan mereka. Kalau tidak jebolan sekolah luar negeri, minimal artis lokal.


“Oh My God, Pak Supri, memangnya aku butuh persetujuan mereka? Please, selama ini juga mereka bertindak tidak meminta persetujuan aku.” Zellina terlihat kesal.


“Maksud saya ....”


“Sudah deh, Pak, jangan bikin aku illfeel, aku sedang merasa bahagia.” Zellina kembali menggulir-gulir potret di gawai.


Pak Supri terdiam, dia merasa apa atuh, hanya remah peyek yang hampir tengik.


**


Andrea menghambur kepada ibunya yang sedang menonton televisi, ditemani Bi Cicih.


Dia memeluk dan menciumi sambil menangis. Ibunya terlihat berbeda, semakin pucat dan kurus. Sorot matanya kuyu.


“Neng?” Bi Cicih yang kaget, mangkok bubur di tangannya hampir saja jatuh.


Yuli tertegun, memandangi Andrea dengan heran. “Kamu siapa?” tanyanya.


Andrea semakin menangis. “Ibuuu, maafkan aku, ibu jangan lupa dong sama aku,” isaknya. Air matanya tidak berhenti berjatuhan. Dia sibuk menghapusnya, tetapi air matanya tetap tidak bisa ditahan, malah semakin banyak.


“Kamu siapa?” tanya Yuli lagi, wajahnya kebingungan.


“Ibu!” Andrea berseru, dengan tangis yang semakin keras.


“Neng, sudah! Ibu tidak apa-apa. Nanti juga ingat, kadang memang suka begitu. Sama Bibi juga kan begitu.” Bi Cicih meraih tangan Andrea. Di juga ikut menangis.


“Waktu di rumah sakit ibu tidak lupa sama aku, Bi,” ujar Andrea.


Bi Cicih membawanya ke ruang tamu. “Bibi juga tidak tahu, kata dokter itu akibat tumornya. Kalau tidak segera diangkat, memorinya akan semakin terganggu.”


Andrea menghempaskan tubuhnya di kursi.


“Bagaimana, Neng?”


Andrea menggeleng. “Ngga tahu, Bi. Aku juga bingung.”


Bi Cicih menatap Andrea dengan pandangan mata prihatin. Dia tahu, Andrea ke kampung untuk meminta biaya operasi kepada uaknya.


“Ndre!” seru Yuli, yang tergopoh-gopoh menghampirinya. Dia tampak berbeda dengan yang tadi.


Andrea berlari memeluknya lagi. “Kapan kamu datang? Ibu kangen, sayang!” Yuli mengusap-usap rambutnya.


“Aku juga kangen sama Ibu. Maafkan aku ya, Bu, meninggalkan Ibu tanpa bilang-bilang.” Andrea bicara pelan.


Yuli mendorong tubuh Andrea dari pelukannya, netranya menatap putri semata wayangnya itu.


“Bi Cicih bilang, kamu ke rumah Ua, ada apa? Kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi? Kamu baik-baik saja kan, Ndre?"


Andrea menuntun ibunya yang masih lemah untuk duduk.


“Iya, Bu, aku ke rumah Ua, untuk ....” Andrea menghentikan ucapannya. Dia ragu, tidak mungkin untuk menceritakan maksud sebenarnya ke ibunya, nanti malah jadi ke pikiran, apalagi dia malah akan dicelakakan uaknya.


“Untuk apa?” tanya Yuli.


“Camping, anak-anak ingin camping ke gunung, Bu.” Andrea mengarang cerita.


Yuli mengeluarkan nafas berat. “Kalau hanya mau camping, kenapa kamu tidak bilang dulu? Ibu kan khawatir."


“Kan ponsel aku mati, Bu, aku belum memperbaikinya. Anak-anak sudah tidak sabar.” Andrea menggenggam tangan ibunya.


“Ibu baik-baik saja kan?” tanyanya.


Yuli tersenyum, lalu hidungnya mengendus-endus. “Bi Cicih, lagi masak apa?”


Bi Cicih terkejut. “Ngga lagi masak apa-apa, Bu,” sahutnya, sambil ikut mengendus-endus udara.


“Kok, bau batu bara begini?” Yuli mengendus-endus baju Andrea.


“Iih, Ibuuu ....” Andrea malah memeluk ibunya lagi.


Yuli menutup hidung.


Bi Cicih senyum-senyum, lalu berjalan ke dapur, sambil menyusut air matanya. Selama ini dia saksi, bagaimana Yuli begitu menyayangi Andrea. Berjuang membesarkan anaknya itu seorang diri, dalam keadaan sakit sekalipun tetap bekerja. Dia sering sekali diminta meringankan sakit Yuli dengan mengerik punggungnya, yang semakin lama semakin menipis, kurus.


Bulan ini pun dia belum digaji, karena majikannya itu sering lupa, atau mungkin karena tidak ada uang juga.


Namun dia tetap setia, karena baginya mereka bukan hanya majikan yang memberinya pekerjaan, tetapi juga keluarga, seperti majikannya menganggap keberadaan dia selama ini.


“Bi Cicih jangan sungkan kalau ada apa-apa, Bibi sudah saya anggap keluarga saya,” kata Yuli waktu itu, waktu dia sedang kesulitan menebus ayam jagonya yang digadaikan suaminya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2