My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 52 Tidur Tampan Sang Pangeran


__ADS_3

Atas saran Pak RT, Andrea menghubungi uaknya di kampung. Bu Nisma terdengar panik di seberang telefon, dan berjanji akan segera berangkat menemui Andrea.


“Terima kasih, Ua.” Andrea menutup sambungan telefon.


“Ua saya akan segera datang, Pak.” Andrea memberi tahu Pak RT.


Pak RT terlihat lega, dia tidak tega melihat Andrea menanggung semua ini sendirian.


“Kalau begitu, Bapak dan Bapak-bapak semua pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi ya,” kata Pak RT, menepuk bahu Andrea.


“Iya, terima kasih.”


“Ini siapa?” Pak RT baru sadar, dia tidak mengenali Gigit, dan belum berkenalan karena panik.


“Saya Gitara, Pak, teman Andrea.” Gigit menyalami Pak RT.


“Masih mau di sini?”


“Iya, Pak, biar saya menemani Andrea dulu.”


“Ah, baguslah. Terima kasih ya, Gitara.” Pak RT menepuk lengan Gigit juga. Dia memang hobi menepuk-nepuk orang.


"Andrea jangan khawatir, rumah kalian akan kami kontrol setiap saat. Nanti Bapak juga akan menyuruh seseorang menghubungi ... Eh, siapa itu yang bekerja di rumah?”


“Bi Cicih,” sahut Andrea.


“Iya itu, Bapak akan suruh seseorang menghubungi Bi Cicih. Atau kamu punya nomor kontaknya?”


Andrea menggeleng. “Adanya di ponsel Ibu. Ponselnya ada di rumah.”


“Ya sudah, enggak apa-apa, nanti Bapak usahakan cari alamatnya.”


Andrea mengangguk.


Pak RT dan bapak-bapak tetangganya berpamitan.


Andrea semakin resah, dia ragu apakah bisa menjalani ini semua tanpa mereka. Dia menatap Gigit yang berdiri membelakanginya, untuk melepas Pak RT.


“Kamu juga sebaiknya pulang saja, Git. Ini sudah malam, ibu kamu pasti khawatir.” Andrea berkata lirih.


Gigit menghampirinya. Setelah moment Andrea menangis di pelukannya, dia semakin yakin, Andrea membutuhkannya.


“Aku temani kamu di sini, sampai saudara kamu datang.”


Andrea tiba-tiba teeharu sekali. Tidak menyangka Gigit akan seperhatian itu kepadanya. Dia menyeka air mata dengan satu tangannya. Gigit membantu menyekanya, dengan ragu.


Andrea tersipu malu, baru kali ini dia begitu diperhatikan seorang cowok. Ternyata sangat menenangkan. Sedih yang menggunung, sedikit meluruh oleh kehangatan di hatinya.


“Aku mau mencari musala, belum salat isya.” Andrea menarik diri dari aura hangat perasaannya.

__ADS_1


“Baiklah, biar aku yang menjaga ibumu di sini. Kita bergantian.”


“Terima kasih ya, Git.”


Andrea menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai.


Sejuknya air wudu, mengalirkan kesegaran baru untuk tubuhnya. Dia ingat ajaran orang tuanya, tentang keajaiban doa, dan ketenangan hati. Hanya dengan bersimpuh di hadapan-Nya, semua akan terasa ringan. Sebagai manusia beriman, hanya dengan mendatangi Sang Pencipta dengan doa-doa khusyuk, hati bisa tenang, itu yang sering diajarkan kakeknya.


Selama ini dia belum pernah menghadapi keadaan seperti itu. Terakhir menangis sedih itu ketika kakeknya meninggal, sedihnya berlarut-larut, karena kakeknya satu-satu tempatnya merasa paling aman.


Dia sendiri tidak ingat ketika ayahnya berpulang, sehingga perasaan sedihnya tidak sesakit ketika kakeknya pergi.


Walaupun begitu, dulu masih ada ibu yang memberinya kekuatan.


Kini, kesedihan itu benar-benar dia telan sendiri. Ibunya sedang terbaring tak berdaya. Dia hanya punya Allah sebagai harapan, tempat bersimpuh, dan mengadu. Andrea juga bermunajat, memohon untuk kesembuhan ibunya, dia belum siap jika harus kehilangan orang tua yang disayanginya lagi.


Musala rumah sakit tidak sepi, ada beberapa orang di sana yang mungkin saja bernasib sama dengannya. Mereka khusu berdo'a.


Setelah menyelesaikan salat dan doanya, dia sedikit merasa tenang. Sedihnya mungkin belum sirna, tetapi sudah tidak menangis lagi.


Andrea kembali menemui Gigit.


“Sudah?” tanya Gigit.


Andrea mengangguk. Mereka kembali melihat Yuli dari kaca pintu. Peralatan medis yang menempel di tubuhnya membuat hati Andrea semakin teriris-iris, sakitnya berlapis-lapis.


“Ibuku sakit, Git. Dia mengidap tumor otak.” Andrea berkata lirih.


“Aku tidak tahu, selama ini dia terlihat baik-baik saja.”


“Dia menyembunyikannya darimu?”


Andrea mengangguk, lalu berjalan menjauhi pintu ruangan, menghempaskan badannya di kursi tunggu. Gigit menyusulnya.


“Atau mungkin aku saja yang tidak peka.” Andrea menutup mukanya. “Aku anak durhaka, Git, aku malah membuat Ibu sedih dan banyak pikiran.”


“Memangnya kamu berbuat apa? Bukannya tadi kalian kelihatan akur-akur saja?”


“Aku sudah menuduhnya berbohong.” Andrea menyandarkan punggungnya. “Kamu ingat Tante Dina yang bertemu kita di toko buku?”


Gigit mengangguk. “Iya, aku kan sempat berkenalan.”


“Waktu itu dia bilang tidak ada tugas untuk Ibu ke Bogor, tetapi Ibu tiga hari menginap di Bogor, dia bilang kepadaku tugas kantor.” Andrea membuang nafas.


“Sore tadi Ibu mengatakan kalau besok dia ada tugas kantor lagi, tiga hari menginap. Aku permasalahkan itu, karena ingin tahu alasan sebenarnya. Mungkin karena itu juga, ibuku banyak pikiran dan jatuh pingsan.” Andrea menunduk.


“Sudah, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu, Ndre. Kamu kan tidak tahu kalau ibumu sakit.”


“Aku tidak tahu untuk apa Ibu sering ke luar kota. Tetapi akhir-akhir ini dia memang kelihatan lelah dan pucat. Dia juga sempat mimisan kemarin, tetapi bilangnya sudah sering seperti itu dari kecil.”

__ADS_1


Andrea menyeka wajahnya dengan tisu. Mereka lama terdiam.


Gigit melihat jam di tangannya. “Aku sekarang ke musala, kamu enggak apa-apa sendirian?”


“Ngga, apa-apa,” sahut Andrea.


Gigit pergi mencari musala. Andrea menekur sendirian. Beberapa kali dia melihat ibunya, lalu duduk lagi, tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Gigit datang, ditangannya ada dua botol air mineral. Wajahnya terlihat segar.


“Kamu mau minum?”


Andrea menerima botol dari Gigit, dan minum. Segar menjalar ke tenggorokannya.


Gigit membuka jaketnya, lalu melipatnya, dan menyimpan di pangkuannya.


“Sebaiknya kamu tidur,” kata Gigit, sambil menepuk-nepuk jaketnya, seperti menyuruh anak kecil tidur.


Andrea menggeleng, dia tidak mungkin tidur di pangkuan Gigit begitu saja. Dia takut kalau lagi tidur dia dipeluk, atau dicium Gigit karena khilaf.


Gigit tersenyum, dia berdiri dan menyimpan lipatan jaketnya di kursi.


“Ya sudah, di situ saja.”


“Ngga, Git. Aku mau menjaga Ibu.” Andrea beranjak, dia kembali mengintip ibunya dari kaca pintu. Dia belum dibolehkan perawat untuk menemani ibunya di dalam.


Gigit kembali duduk, dia menyandarkan punggung dan kepalanya ke sandaran kursi, lalu mulai memejamkan mata. Membiarkan jaketnya terlipat begitu saja di dekatnya.


Andrea terenyuh dengan kesetiaan Gigit. “Kamu baik banget, sih, Git,” gumamnya.


Dia melihat sekeliling ruang tunggu yang sepi, yang terdengar hanya suara alat-alat medis dari ruangan ibunya.


Pelan-pelan Andrea mendekati cowok itu, memerhatikan wajahnya yang sedang tertidur tampan. Ketegasan wajahnya kentara ketika tidur, tampan yang nyaris sempurna untuk mata cewek-cewek seusianya. Hidungnya mancung asia, matanya yang terpejam membentuk sodetan panjang di bawah alisnya yang tebal hitam.


Kalau tadi dia takut dengan membayangkan dipeluk atau dicium Gigit ketika tidur, sekarang dia malah ingin mengecup kening cowok itu, sebagai tanda terima kasih.


Tanpa sadar Andrea menjulurkan tangannya, ingin menyentuh rambut di kening Gigit.


Jarinya hampir saja menyentuh rambut Gigit, ketika kedua mata Gigit terbuka. Gigit terbangun, mengernyitkan dahi karena jari tangan Andrea dekat sekali dengan wajahnya.


Andrea terkejut bukan kepalang, dia menarik tangannya, lalu pura-pura mengambil jaket Gigit.


“Ini, kamu pasti dingin. Pakai saja, Git! Aku bisa tidur sambil duduk,” ucapnya, sambil menyerahkan jaket ke Gigit.


Gigit yang masih mengantuk menerimanya, lalu memakainya dan kembali tidur.


Andrea buru-buru duduk, melipat tangan di dada, mengikuti gaya Gigit, dan segera memejamkan mata.


Apa-apaan sih, kenapa aku malah akan membelainya? Bodoh, bagaimana kalau ketahuan? Rutuk Andrea dalam hati.

__ADS_1


Dia berusaha tidur, seperti Gigit yang terlihat lelap sekali, tetapi dia tidak bisa tidur, karena hatinya gelisah, mengingat ibunya.


bersambung


__ADS_2