
Andrea mengeluarkan ide. Gigit menyetujuinya.
“Ayo bicara!” Andrea memijit kamera on.
Atang menunduk. Gigit mengangkat dagunya agar Atang melihat ke arah kamera.
"Ayo, buat pernyataan! Apa mau masuk bui?" Gigit menggertak.
Atang menggeleng cepat, dia mulai membuka mulut.
“Saya Atang, dengan ini menyatakan, telah melakukan aksi teror penculikan, dan ancaman lewat pesan terhadap Nona Andre ....”
“Andrea,” tukas Gigit. Dia gemas melihat Atang bicara pelan sekali.
Dale dadah-dadah ke arah kamera. Andrea tidak melihatnya, dia fokus ke muka Atang.
“Iya, Andrea. Sekarang meminta maaf, mengakui kesalahan saya. Itu semua saya lakukan atas perintah Tuan Yadi Sanjaya.” Atang kembali menunduk.
"Sekali lagi, perintah siapa?" Gigit bertanya.
"Tuan Yadi Sanjaya," jawab Atang, dengan wajah masih menunduk.
Andrea mematikan kameranya. “Bagus.”
"Susah terekam semua, Ndre?" tanya Gigit.
"Beres."
“Saya tidak akan dibawa ke kantor polisi kan?” Atang memasang wajah memelas. Dia meringis, jempolnya sakit sekali diborgol tali plastik, tetapi kuat sekali.
“Tergantung, bagaimana reaksi bosmu nanti.” Gigit berdiri. “Pernyataan kamu sudah di rekam, jika berani macam-macam lagi, ini akan jadi bukti. Bagaimana, Ndre? Beres?” Gigit melihat Andrea sedang memeriksa hasil shooting instannya.
Andrea mengacungkan jempolnya. “Yuk pulang,” ajaknya.
Mereka meninggalkan Atang yang kusah-koseh sendirian di tempat parkir.
“Tolong saya dulu,” teriak Atang.
“Bodo amat,” kata Gigit.
Dale menimpuknya dengan kulit jeruk bali. Atang terkejut, melihat-lihat sekeliling yang sepi. Dia merintih-rintih minta tolong.
“Siapa itu Yadi Sanjaya?” Gigit bertanya setelah mereka kembali menerobos malam untuk pulang.
Andrea terdiam, dia juga masih tidak percaya dengan semua ini. Yadi yang begitu baik, berprestasi, terkesan low profil, bisa melakukan hal yang sejahat itu.
“Dia kakak kelas aku.”
“Apakah dia yang waktu itu kamu hindari?”
“Iya.”
“Dia menyukaimu ya, Ndre?”
“Iya.”
“Kamu tidak menyukainya?”
“Iya.”
“Kamu lebih menyukaiku?”
“Iya. Eh, apa an sih?” Andrea mencubit pinggang Gigit. Andrea baru tersadar, dia dikerjai Gigit.
“Lagian, iya iya saja terus.”
“Kebablasan.”
“Ngga apa-apa kok, aku kan memang banyak yang suka.”
“Ikh, pede sekali.”
Gigit terkekeh, memecah heningnya malam di jalan yang panjang membentang.
__ADS_1
Andrea diam saja. Dia sedih, kenapa Yadi tega berbuat seperti itu. Padahal selama ini mereka cukup dekat, dan merasa sudah mengenal satu sama lain.
"Neng, saya pergi ya, ngutan dulu."
"Iya," jawab Andrea.
"Aku enggak tanya apa-apa, Ndre." Gigit terkejut Andrea jawab iya lagi.
"Sori, masih suka berkata iya," jawab Andrea.
Gigit menyangka Andrea sedang melamun. Di depan ada sebuah mobil pick up yang mengangkut jerami kering. Muatannya sampai menjulang, menghalangi pandangan. Gigit melambatkan laju motornya.
"Kamu tahu itu jerami mau dibawa ke mana, Ndre?"
"Ke kumbung jamur kali."
"Bukan."
"Ke mana?"
"Ke tempat orang-orang mencari jarum."
"Garing," sahut Andrea.
Gigit senyum-senyum. "Hiburan, Ndrew, biar kamu enggak sedih."
"Siapa yang sedih?"
"Oh, enggak ya? Aku kira kamu sedih meninggalkan si Otong mewek-mewek di parkiran."
"Atang."
"Ah, aku mah panggilnya Otong saja. Atang kebagusan."
"Sebenarnya aku memang sedih sih, tidak menyangka ada yang berniat jahat sama aku, salahku apa coba, Git?"
"Kamu tidak bersalah, Ndre, santai saja. Yang salah itu cinta."
"Kok cinta?"
"Mungkin karena dia buta." Akhirnya Andrea kembali bercanda.
"Iya lah, kalau cinta melek, tidak mungkin si cantik jatuh ke pelukan si buruk rupa."
"Iya juga ya," sahut Andrea.
Mereka sampai di rumah Andrea. Belum terlalu malam, sehingga lampu rumahnya masih menyala terang.
Andrea membukan helm dan menyerahkannya pada Gigit.
“Ndre,” panggil Gigit.
“Hmm ....”
“Apa yang akan kamu lakukan besok?”
“Sekolah.”
“Maksudku, pada si Sanjaya itu.”
“Entahlah, nanti aku pikirkan lagi. Yang jelas, aku sudah punya bukti sifat buruk dia dibalik topeng baiknya."
“Kamu jangan gegabah ya, harus dipikirkan matang-matang. Kalau butuh aku, hubungi saja.”
“Terima kasih ya, Git. Kamu membantu sekali malam ini."
“Masa? Sudah beberapa kali juga.”
“Giiiit, aku serius.”
“Iya, sama-sama, Ndre.” Gigit memutar motornya. “Oiya, lupa,” lanjutnya. Andrea menatapnya. “Kamu besok ....”
Prang!!
__ADS_1
Terdengar suara benda jatuh dari rumah Andrea. Andrea segera berlari memasuki pagar. Gigit mematikan mesin motornya, ingin tahu apa yang terjadi.
“Bu, Ibu!” Andrea memanggil ibunya sambil membuka pintu. Tidak ada yang menyahut.
Andrea segera ke ruangan dalam. “Ibuuuuu ...!” Dia mendapati ibunya tergeletak di lantai. Sebuah guci keramik pajangan hancur berantakan.
Gigit segera turun dari motornya, ketika mendengar Andrea berteriak memanggil ibunya. Dia segera masukke dalam rumah.
"Ndre? Kenapa Ibumu?"
Pertanyaannya dijawab wajah cemas oleh Andrea.
Gigit mengangkat Yuli ke sofa, dibantu Andrea.
“Buu, bangun, Bu!” Andrea menciumi ibunya.
“Git, ibuku kenapa?” Andrea mulai menangis, dia gemetar, melihat ibunya tidak merespon panggilannya.
Gigit memeriksa pergelangan tangan ibunya Andrea.
“Sepertinya di pingsan, kamu cari pertolongan, Ndre. Kita bawa ke rumah sakit.”
Andrea berlari ke depan, tetapi balik lagi. Dia mencari gawai ibunya, mencari nomor telefon Pak RT. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa, mereka tidak punya sanak saudara.
Sambil menangis, Andrea meminta bantuan Pak RT.
Yuli dibawa ke rumah sakit memakai mobil tetangga, diantar Pak RT dan dua orang tetangga Andrea. Andrea terus menemani sambil menangis. Gigit mengikuti dari belakang.
Yuli dibawa ke ruangan UGD, selanjutnya mereka membawa ke ruang ICU.
Andrea hanya bisa melihatnya dari pintu kaca.
“Keluarganya Bu Yuli?” suster bertanya.
“Ini anaknya, Sus.” Pak RT memegangi pundak Andrea.
“Dokter ingin bicara.”
Andrea memandangi Pa RT.
“Ayo, Nak, Bapak temani,” kata Pak RT.
Gigit mengangguk ketika Andrea melihat ke arahnya, seakan memberi kekuatan kepada Andrea. Suster mengantar mereka menghadap dokter.
Di ruangan dokter Andrea gelisah, rasanya seperti akan mendapatkan vonis yang sangat berat untuk dia tanggung. Ibu yang selama ini menjadi penyangga hidupnya sedang tidak berdaya, dan dia harus menghadapi semua ini sendirian.
Pak RT memperkenalkan dirinya, juga Andrea.
“Tidak ada keluarganya yang lebih dewasa?” tanya Dokter.
“Tidak ada, Dok, suaminya sudah lama meninggal.” Pak RT berkata pelan, melihat ke Andrea.
“Ooh, saya sudah tahu kalau itu. Baiklah, Saya mau memberi tahu, Bu Yuli saat ini koma.” Dokter berhenti ketika melihat Andrea menutup wajahnya.
“Nak Andrea tidak mengetahui kalau selama ini Ibu sakit?” tanya dokter.
Andrea menggeleng. Tangisnya tidak bisa ditahan.
“Jadi, Bu Yuli sakit apa, Dok?” Pak RT mewakili Andrea untuk bertanya.
“Bu Yuli terkena tumor otak.”
Tubuh Andrea tiba-tiba lemas, dia merasa telah dijatuhi vonis mengerikan, yang akan dia tanggung seumur hidupnya.
“Stadium berapa, Dok?” tanya Pak RT lagi.
“Stadium satu. Sebenarnya beliau sudah sering kontrol ke sini, ketika awal didiagnosis tumor, tetapi selama dua bulan ini, beliau tidak datang untuk kontrol. Kami sudah menyarankan untuk segera operasi pengangkatan tumornya. Mungkin beliau belum siap.” Dokter menjelaskan.
Andrea menunduk, dia tidak bisa berkata apa-apa sampai mereka ke luar ruangan.
Gigit menyambutnya. Andrea menangis sesenggukan di dada Gigit. Ternyata selama ini ibunya menyimpan sendiri penyakitnya itu.
Dale sendiri sedang loncat sana loncat sini di hutan, mencari buah matang, tidak mengetahui keadaan juragannya yang sedang ditimpa musibah. Sinyalnya juga mampat kalau Andrea sedang bersama Gigit.
__ADS_1
*bersambung
Terima kasih telah mampir membaca, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, vote, dan memberi rating yaa...😊🙏🙏*