My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 17 Bertemu Gigit


__ADS_3

Senin pagi.


“Ndre, hari ini berangkat ngangkot ya." Yuli menyela kenikmatan sarapan Andrea.


"Kenapa?"


"Ibu ada acara ke luar kota tiga hari." Andrea memandang wajah ibunya yang terlihat lelah.


"Kamu jangan pergi-pergi melulu, jagain rumah. Bi Cicih Ibu suruh nginep untuk menemani. Kalau naik angkot, harus berangkat lebih pagi biar tidak kesiangan, terus pulangnya jangan mampir-mampir takut kemalaman, kan ngga ada yang jemput ke jalan depan,” kata ibunya lagi di sela makan pagi.


Andrea cepat-cepat mengangguk, lalu minum.


“Iya, Bu. Sekarang sudah siang, Andrea harus berangkat. Selamat bertugas ya Ibu, hati-hati di sana, jangan terlalu capek, tuh lihat wajah Ibu, lelah banget, nanti banyak kerutan lho ....” Andrea mencium tangan dan pipi ibunya, sambil nyengir, langsung berlari ke luar. Dia mengerti dengan pekerjaan ibunya, sebagai karyawan dia tidak bisa menolak tugas yang diberikan atasan.


Andrea juga sudah biasa dengan ibunya yang kalau mau ada tugas ke luar kota pasti wejangannya panjang sekali dan itu lagi itu lagi. Kalau tidak dihentikan bisa terus saja bicara.


Dan benar saja, tidak mendengarkan terus wejangan pun Andrea memang sudah kesiangan. Walaupun dia sudah setengah lari dari rumah ke jalan besar sampai betisnya pegal, angkot sudah jarang yang lewat. Andrea memejamkan mata, membaca mantra.


Dale muncul, sambil makan salak.


“Pagi-pagi makan salak, nanti sembelit lho.”


“Sembelit itu apa, Neng?”


“Gak bisa boker.”


“Boker?”


“Hadeuuhh, sudah sudah! Aku lupa kamu itu Jin, mana pernah boker. Gimana dong? aku belum dapat angkot. Sekarang upacara, pelajaran pertama Bu Anis lagi ....”


“Sebentar, tunggu di sini ya, Neng!” Dengan sekali kedip, Dale menghilang.


"Lho?" Andrea pikir dia akan diajak menghilang, ternyata menghilang sendirian.


”Ck, ajak-ajak kek,” gerutunya.


Tidak berapa lama, sebuah motor mendadak mati mesin tepat di depan Andrea. Dale di belakangnya.


Cowok itu membuka helm. Setelah diperhatikan, pengendaranya adalah cowok yang kemarin hampir menabraknya.


Andrea mulai memasang wajah jutek. Malas berurusan sama cowok berandalan, mendingan berurusan sama Akri sekalian.


Cowok itu memasang wajah kebingungan. Dia berusaha menyalakannya lagi dengan grogi, di depan Andrea. Tetapi motornya tidak mau menyala.


Cowok itu beberapa kali melirik, Andrea tetap cuek. Dale asyik makan salak di dekatnya.


“Eh, kamu yang kemarin itu ya? ... Belum berangkat?” tanya cowok itu, setelah sadar cewek di depannya adalah orang yang mau dia tabrak di gerbang perumahan.


Andrea masih cuek, melihat-lihat ke arah biasa angkot datang.


Ngapain juga Si Dale menghentikan motor cowok liar itu. Andrea misuh-misuh dalam hati, sambil melotot ke arah Dale.


Dale nyengir kuda. "Ikut dia saja, Neng biar cepat," ujar Dale, tangannya membetulkan sesuatu pada motor cowok itu.


Cowok itu mencoba menstater motornya lagi, dan kali ini berhasil. Dia tersenyum menang, lalu memakai helm, dan melajukan motornya, setelah sebelumnya tersenyum kepada Andrea.


Beberapa detik kemudian dia mundur lagi. Motornya berhenti lagi. Dale menariknya.


"Kenapa sih ni motor?" gumamnya.


Andrea geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dale.


Cowok itu melihat lagi ke arah Andrea. Merasa perlu mengantarnya.

__ADS_1


"Jam segini sepertinya sudah jarang angkot lewat, sudah pada ngetem di pasar. Saya antar, yuk!" Cowok itu menawarkan bantuan.


Dale tersenyum. "Sudah, Neng ikut saja daripada kesiangan," kata Dale.


Andrea menatap Dale, tetapi dia tidak bisa nyemprot jin usil itu di depan cowok itu, nanti malah dianggap stres.


"Anggap saja sebagai permintaan maaf atas kejadian kemarin.” Cowok itu membenarkan letak helmnya.


“Kita searah?” Andrea membaca label di baju cowok itu, tempat sekolahnya mereka bahkan berlawanan arah. Cowok itu melirik label bajunya, lalu tersenyum.


“Tidak apa-apa, setelah nganterin kamu bisa putar balik,” jawabnya sambil menyerahkan helm lain ke Andrea. Gayanya tidak seperti anak sekolah yang bandel.


Andrea tidak bisa menolak, karena dia juga terdesak waktu. Meskipun dalam hatinya masih menaruh kesal dengan cowok yang hampir membuat dirinya terluka itu.


“Eh, tau ngga? Sepertinya tadi motor ini ditarik sesuatu, tidak bisa dikendalikan.” Cowok itu mencoba mengajaknya ngobrol.


Andrea diam saja, tidak mau begitu saja membuka diri kepada yang baru kenal.


"Entahlah, seperti ada yang menarik dan memberitahu bahwa ada cewek cantik sedang menunggu angkot....” lanjutnya.


Andrea masih terdiam, tapi dalam hatinya berbunga. Ada cowok yang memuji dirinya, padahal dia tahu sekali kalau yang mengendalikan motor cowok itu si Dale, karena dari tadi juga jin itu mengikutinya dari belakang, lari pagi sambil makan salak yang tidak habis-habis. Andrea belum sempat menyuruhnya pergi.


“Kok diam saja, masih marah ya?” Tanya cowok itu setelah sampai di sekolah Andrea.


“Terima kasih, sudah kasih tumpangan." Andrea mengembalikan helm. Wajahnya berusaha cuek, berprinsip.


“Eh iya, belum kenalan, aku Gitara Pratama, panggil saja Gigit.” Gigit menjulurkan tangannya. Andrea baru sadar mereka belum berkenalan.


“Andrea,” sambutnya dengan wajah dingin. Andrea memutar badan sambil membenarkan letak tas punggungnya.


“Sama-sama, Andrea.”


Gigit menyalakan motornya sambil tersenyum dan berlalu dengan memutar arah.


Andrea yang sudah berjalan ke dalam gerbang sekolahnya segera mundur dan melongokan kepala ke jalan, melihat punggung Gigit yang sudah ngebut menjauh dengan motornya mengejar waktu.


Ren yang sudah menunggunya di pintu gerbang terbatuk-batuk.


Andrea terkejut, tidak melihat Ren sejak awal. “Baru datang juga, Ren?”


“Sudah lumutan lagi, aku menunggu kamu. Siapa itu?” Ren menyelidik.


“Namanya Gigit, aku juga baru kenal.”


“Anak motor?”


“Ngga tau,” jawab Andrea. “Tapi kemarin sempat mau nabrak aku lagi balapan dekat perumahan.”


“Apa? Kamu mau saja diajak boncengan? kalau kejadiannya sama aku, akan aku kasih pelajaran dulu dia.” Ren menyeringai, dia masih alergi sama cowok motor, inginnya ngajak berantem terus.


Ren pernah trauma dengan geng motor. Dulu, kakaknya adalah anggota geng motor, lalu meninggal karena tawuran dengan geng motor lain. Itu salah satu pencetus keinginan Ren menjadi jago bela diri.


Andrea buru-buru menyeret Ren sebelum Ren melampiaskan kemarahannya sama siapa saja cowok yang lewat. Dia juga tidak mau Ren malah menaruh dendam kepada Gigit, walau bagaimanapun, cowok itu sudah berjasa menyelamatkannya dari kesiangan.


“Ayo masuk, bentar lagi upacara!” ajak Andrea.


Mereka setengah berlari memasuki kelas, dan tanpa disadari Dale terus saja mengikutinya.


“Kamu mau ikut belajar?” bisik Andrea kepada Dale.


“Kenapa, Ndre?” tanya Ren.


“Oh, ngga apa-apa, Ren, duluan saja! Tali sepatu aku lepas.” Andrea pura-pura berjongkok.” Ren melihatnya aneh, dia berjalan duluan.

__ADS_1


“Boleh kan, Neng?” tanya Dale.


“Oh iya, boleh, tapi bantu aku belajar ya, sekarang ada pelajaran Bu Anis,” bisik Andrea.


“Siap, Neng.”


“Tapi jangan bikin takut orang ya, jangan segala disentuh, nanti segala rupa terlihat beterbangan.”


“Siap, Neng. Tenang saja, saya mah berpengalaman."


“Oke, bagus.” Andrea memgacungkan jempolnya. Dale mengikuti.


Dari kejauhan dia melihat Zellina.


“Zel!” Andrea memanggil. Zellina terus berjalan. “Selesai upacara, kita mau ke kantin.”


“Kenapa lapor sama aku?”


“Mana tahu kamu mau ikut.” Andrea mencoba merayu.


Zellina berhenti berjalan, memandangi wajah Andrea dan Ren bergantian. “Kalian mau ganti penghianatan kemarin?”


“Maksud kamu apa, Zel?” Ren melangkah, mendekatkan wajahnya kepada Zellina. Emosinya tentang geng motor masih meluap.


“Pikir aja sendiri!” Zellina mengenakan topi sekolahnya sembarangan, lalu berjalan menjauh. Ren kesal, Andrea memegangi tangannya.


“Ren, kamu kenapa sih? Sama si Inzel aja baper.” Andrea juga heran dengan sikap Ren. Biasanya dia yang paling memaklumi tingkah Zellina.


“Kamu ngga dengar tadi dia bilang kita penghianat?”


“Kupingku bukan pajangan, Ren.”


“Terus, mau saja dibilang penghianat?”


“Kamu merasa berhianat?”


Ren mendengus. “Ya ngga lah,” ketusnya.


“Kenapa baper?”


“Terserah!” Ren berjalan meninggalkan Andrea, mereka berjalan berjauhan.


Untuk pertama kalinya mereka berbaris berjauhan ketika upacara. Andrea yang kebagian baris di belakang memandangi Yadi yang kali ini menjadi petugas pembaca Pembukaan Undang-Undang Dasar. Lalu bergantian melihat Ren dan Zellina.


Persahabatan mereka sedang diuji, oleh satu lelaki.


Akri yang berdiri di belakang berusaha menendang kaki Andrea melihat Andrea diam saja ketika harus memberi hormat.


“Aww ....” teriak Akri. Sepatunya seperti menendang baja.


Andrea menoleh, Dale ada di dekatnya, memandangi Akri sambil melipat tangan di dada.


“Dia mau menendang kaki, Neng.”


Andrea melihat Akri meringis dengan tangan di kening. "Kenapa, lu?"


“Hormat, Andre!”


“Ogah amat hormat sama lu!”


“Bukan sama gue ....”


“Ekhemm ....” sebuah deheman familiar terdengar. Andrea segera kembali berdiri tegak lalu bersikap hormat, kepada pembina upacara yang akan kembali ke tempatnya. Bu Anis memandanginya dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Dale terpesona.


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini ... Yuk lanjut!


__ADS_2